Tak Ada Pesta Cawir Metua

Handoko Widagdo – Solo

 

“Bang cepat pulang. Bapak telah berpulang,”  sms itu muncul tiba-tiba di layar iPadku. SMS itu berasal dari adik lelakiku yang tinggal di kampung. Aku segera saja membangunkan Shailee, istriku. “Dear, kita harus ke Medan, papa meninggal.” Shailee menggeliat manja. Dia memang selalu menggeliat manja setiap aku membangunkannya setelah aku selesai mengerjakan tugas-tugas kantor di kamar tidur kami. Namun kali ini dia tidak bermanja lama. Sejenak kemudian matanya telah memancar bagai mentari di tengah hari. Mata itu menunjukkan bahwa kesadarannya telah sepenuhnya pulih dari kelelapan tidur. Dia segera berkemas untuk berangkat.

Salju turun deras sepanjang perjalanan dari Sussex ke Bandara Heathrow. Sinar mobil kami memantul dari butiran-butiran salju menjelma menjadi kunang-kunang di kegelapan malam. Di Heathrow, pesawat-pesawat yang parkir kedinginan berbalut salju, bagai sekawanan paus yang terdampar. Meski terlihat enggan, beberapa pesawat meninggalkan tempat parkir dan membumbung ke angkasa yang sudah mulai dipendari sinar mentari subuh.

Shailee dan Ruhit segera saja kembali tertidur. Dengkuran kecil terdengar dari mulut mungil anakku yang baru 2 tahun. Aku sendiri sulit untuk tidur kembali. Penyesalan berkecamuk dalam otakku. Mestinya aku meluangkan waktu untuk pulang saat Natal kemarin. Sebab bapak sudah tidak sehat. Penyakit diabetes telah menggerogotinya. Bapak sempat bertelepon menanyakan apakah saya bisa pulang. Sebab bapak ingin melihat menantunya yang berasal dari Nepal, yang belum pernah ditemuinya. Bapak juga ingin bertemu dengan Surbakti kecil, yang fotonya telah saya kirim ke Berastagi. Bapak masih berharap bahwa pernikahan kami dirayakan secara adat, meski pernikahan resmi sudah kami lakukan di catatan sipil Sussex 3 tahun yang lalu, tanpa ada satupun keluarga kami yang datang. Bapak berkata bahwa Shailee akan menjadi beru Sembiring saat kami menikah secara adat. Saya bilang bahwa saya akan berusaha untuk pulang. Tapi saya tidak berani berjanji, sebab pekerjaan memang sedang menumpuk. Riset benih pisang yang bisa ditanam di wilayah bersalju harus segera selesai sebelum tahun baru.

north_smtr2Bandara Kualanamu menyambut kami. Bandara ini modern dan luas. Sangat berbeda dengan Bandara Polonia yang terjepit di tengah keramaian kota. Gerbang bandara terhubung langsung dengan jalan tol, sehingga tidak perlu berebut dengan angkot dan betor (becak motor) yang berjejalan di ujung pintu keluar Polonia.

Ada yang berubah di sepanjang jalan Deli Serdang menuju Tanah Karo. Jika 15 tahun lalu lahan-lahan masih terisi sawit dan karet, kini kebanyakan lahan telah beralih menjadi kebun anggur, jeruk dan sayur. Semua kebun berpagar rapi dengan papan nama perusahan tertampang di setiap petak lahan. Tak terasa sudah 15 tahun saya tak kembali sejak berangkat studi, kemudian bekerja dan menikah di negeri Margaret Thatcher.

Saat melewati Sibolangit, perut kami memberontak. Makanan terakhir yang kami santap  adalah sarapan pagi di pesawat Garuda yang menerbangkan kami dari Singapura ke Medan. Kami mampir ke resto Manado yang menempati lahan bekas jambore nasional. Meski ini adalah resto Manado, tapi resto ini adalah waralaba yang pusatnya di Amsterdam. Saya sengaja memilih restoran Manado karena saya bisa mengenalkan paniki kepada Shailee. Kami memang sering bertukar cerita tentang masakan-masakan tradisional yang kami santap sehari-hari. Adalah mudah untuk menemukan dal dan momo di Brighton atau London, tapi paniki – daging codot, jelas tak ada. Ini adalah kesempatan bagi Shailee untuk mencicipinya. Sebab dia begitu penasaran bahwa daging kelelawar bisa dimakan. Saat SMA dulu, saya sering mampir di Sibolangit untuk membeli barang dua ekor kalong hidup ketika pulang weekend. Kini, tak ada lagi abang-abang yang menjajakan kalong si kelelawar besar pemakan buah.

Ketika kami sampai, Bapak sudah berbaring di dalam peti. Meski tampak teduh dan berwibawa, namun ada semburat kegelisahan di ujung bibirnya. Bapak memakai jas yang selalu dipakainya ke gereja. Jas itu masih ada, meski sudah 15 tahun aku tak melihatnya. Alkitab tua yang biasa dibawanya ke gereja diletakkan di dadanya. Tak kulihat banyak pelayat. Hanya anak-anak, menantu, beberapa jemaat gereja dimana bapak berbakti dan tetangga-tetangga yang berkabung di sisi peti mati Bapak. Tak ada sangkep enggeluh yang rapat. Tak ada pula ratapan dan nyanyian. Suasana begitu sunyi.

”Bang, dimana akan kita kuburkan jenasah Bapak?” Pertanyaan adikku membuyarkan lamunan saya. Rumah dimana jenasah bapak dibaringkan adalah satu-satunya milik kami yang tertinggal. Tak ada halaman sama sekali. Ladang telah terjual untuk membiayai kami sekolah dan mengongkosi biaya rumah sakit bapak tahun-tahun terakhir hidupnya. Saya memang beberapa kali kirim uang, tetapi sebagai keluarga muda yang hidup di negeri jauh, kami tak bisa memberi banyak.

batak_-_rumah_adat_karoTak ada pesta besar cawir metua meski bapak telah menjadi bulang. Adalah lazim di adat kami, jika seseorang meninggal ketika semua anaknya telah menikah dan bercucu akan dipestakan di jambur, sebelum jenasahnya dikubur di ladang keluarga. Sangkep enggeluh akan berapat mengatur acara penguburan. Anak beru akan mendukung pelaksanaannya. Namun bapak tak bisa dipestakan. Jambur telah berubah fungsi menjadi pasar lelang komoditas buah dan sayur. Jambur menjadi sangat sibuk. Tak bisa lagi kami membuat pesta. Bahkan tempat pemandian umum di jambur, dimana biasanya kami warga kampung mandi bersama, juga telah ditutup. Lagi pula, membuat pesta semacam itu sekarang ini harus dibiayai sendiri. Tidak ada lagi anak beru yang secara sukarela mendukung biaya pesta. Semua sudah sibuk mengurus keluarga masing-masing. Tak ada lagi kalimbubu, anak beru dan senina. Sangkep ngeluh sudah tak berlaku lagi.

”Bang, jangan diam saja Bang. Abang kan anak pertama. Kemana kita mengubur bapak? Ini udah dua hari Bang.” Sekali lagi pertanyaan adik saya yang disampaikan dengan lembut menggelegar di telinga. Dari jendela aku lihat salib diatas kuburan kakekku merana di tengah kebun jeruk. Pagar kawat berduri kebun jeruk itu memutuskan kami dengan kubur kakek. Salib yang terbuat dari seng itu kini telah berkarat dan posisinya miring. Nama kakek sudah tak terbaca. Dulu, salib itu selalu kami cat menjelang Natal.

”Apakah kita bisa minta ijin ke perusahaan untuk menguburkan Bapak di samping makam kakek?”

”Itu tidak mungkin Bang. Saya sudah menyampaikannya ke manajemen. Mereka menolaknya,” Bastian Tarigan, ipar kami menyahut. ”Kau kan pegawai di situ, cobalah sekali lagi,” pintaku. ”Apalah saya ini Bang. Saya hanya satpam Bang. Itupun karena Bapak dulu meminta kepada perusahaan untuk mempekerjakan saya saat perusahaan membeli lahan kita. Bapak juga memberi syarat supaya kuburan kakek tidak dibongkar.”

”Atau dikremasi saja?” Tiba-tiba Shailee memberi usul saat kami semua terdiam. Mendengar usul Shailee, tangis ibu pecah kembali. ”Dia bukan Cina nak. Bapakmu itu orang Karo. Dia marga Surbakti. Karo-karo. Pantanglah bagi orang Karo membakar mayat.” Aku segera menenangkan ibu dengan memeluknya dan membisikkan bahwa itu hanya usulan Shailee yang di negaranya mayat biasanya dibakar.

”Jadi bagaimana Bang? Kau kan lulusan luar negeri Bang. Masak mengubur bapak saja kau tak bisa?”

Rumah Adat Karo

Salib di atas kuburan kakek tiba-tiba tumbang. Kini yang tersisa adalah papan nama perusahan multi nasional yang menanam jeruk di bekas ladang sayur kami. Papan itu besar, bercat dasar putih dengan tulisan nama perusahaan berwarna merah menyala dan gambar jeruk Berastagi yang ranum.

 

Jakarta, 16 September 2012.

 

Catatan:

  1. sangkep enggeluh adalah sistim kekerabatan masyarakat Karo yang berdasarkan rakut sitelu (tiga kaki tungku) terdiri atas (1) kalimbubu, yaitu pihak yang dihormati, (2) senina, adalah kerabat semarga atau saudara seibu atau senenek, dan (3) anak beru, adalah pihak yang menghormati kalimbubu. Seseorang bisa berposisi berbeda sesuai dengan relasinya dengan pihak lain.
  2. Cawir metua adalah upacara/pesta penguburan bagi seseorang yang semua anaknya telah menikah dan punya cucu. Adalah sebuah kebanggaan jika seseorang telah menjadi bulang (kakek) yang telah menyelesaikan tugasnya.

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

65 Comments to "Tak Ada Pesta Cawir Metua"

  1. efrida barus  26 July, 2013 at 11:19

    senang sekali bisa membaca cerpen ini lagi pak…

  2. Handoko Widagdo  26 July, 2013 at 06:21

    Elnino, saat cerpen ini saya tulis saya sedang di lahan calon Bandara Kualanamu.

  3. elnino  25 July, 2013 at 19:58

    Membaca ulang cerpen ini, lebih terasa lagi kesan tragis tersisihkannya tradisi oleh sesuatu yg dinamakan pembangunan. Btw waktu cerpen ini ditulis, bandara Kualanamu sudah selesai dibangun atau masih dalam proses pak? Canggih nih, sudah menghidupkan Kualanamu jauh sebelum bandara ini resmi dioperasikan hari ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.