Betang Dayak Iban dan Tamambaloh Kapuas Hulu (2)

Christiana Budi

 

Jangan Ambil Hutan Adat Kami

Pembaca Baltyra kita ketemu lagi untuk melanjutkan seri betang Dayak Iban dan Tamambaloh seri pertama, kali ini menceritakan perjuangan masyarakat Dayak Iban dalam menjaga kelestarian hutan adat yang mereka miliki.

Satu hal yang sangat istimewa dari suku Dayak Iban komunitas rumah betang Sungai Utik ini adalah  perjuangan mereka untuk melindungi wilayah hutan adat mereka untuk menjaga kelestarian alamnya.

Wilayah Sungai Utik  merupakan wilayah yang masih sangat asri dengan kehidupan masyarakat di Betang, berladang dan menoreh karet. Kehidupan mereka sangat tergantung dengan kelestarian sungai dan hutan adat yang mereka miliki.

Saat berkunjung ke betang Sungai Utik saya sempat berbincang-bincang dengan tokoh masyarakat Sungai Utik Apay Janggut. Apay Janggut alias Bandi merupakan Tuai rumah (kepala rumah Panjang), tokoh masyarakat adat dan pejuang lingkungan dari Betang komunitas Dayak Iban Sungai Utik. Apay Janggut sudah terkenal sebagai pejuang lingkungan yang cukup disegani dan sudah melalang buana serta serta melakukan perjuangan di tingkat nasional dan dunia.

betang 2 (1)

Beliau menceritakan kepada saya tentang bagaimana memperjuangkan wilayah hutan adat Sungai Utik agar tidak menjadi wilayah HPH dan dikuasai oleh perusahaan. Saat menceritakan ini beliau baru pulang dari sebuah konferensi di lingkungan di Surabaya, saat itu ada pencetusan tentang pentingnya perlindungan hutan adat bagi masyarakat lokal, dan beliau menceritakan dia berkomentar kenapa baru saat ini ada pencetusan kenapa tidak dari dulu, sedangkan kami sudah berjuang dari dulu untuk hutan adat kami.

Foto-foto di bawah ini adalah saat Apay Janggut menjelaskan tentang beberapa tokoh nasional sebagai pejuang lingkungan dan adat yang digambarkan dalam kalender antara lain dari NTT, Jawa, Papua, Kalimantan dll termasuk Apay Janggut sendiri.

betang 2 (2)

betang 2 (3)

betang 2 (4)

betang 2 (5)

betang 2 (6)

Hutan adat Sungai Utik seperti yang saya tuliskan bahwa dari hutan adat mereka Sungai Utik merupakan salah satu wilayah penghasil madu alami dari hutan dan menjadi populasi pohon engkabang. Ekosistem hutan di hutan adat ini saling mendukung, pohon engkabang dan pohon yang menghasilkan bunga merupakan makanan bagi lebah sehingga jika hutan rusak maka madu pun akan hilang dari hutan, dan  jika ekosistem terganggu maka manusia juga yang akan terkena akibatnya. Selain hal tersebut pohon engkabang merupakan tanaman langka yang hampir punah, mempunyai nilai ekonomis (dari akar-buah memberikan nilai ekonomis bagi masyarakat) dan sejarah.

Dalam menjaga dan melindungi kelestarian hutan adat mereka dari serbuan perusahaan kelapa sawit dan hutan industry, masyarakat dengan bantuan lembaga-lembaga intrenasional dan nasional melakukan pemetaan wilayah adat mereka. Mereka membentuk sebuah tim yang memang anggotanya adalah masyarakat asli Sungai Utik untuk melakukan pemetaan, anggota tim bukan dari luar wilayah. Alasannya adalah “kami yang  lebih tahu wilayah kami, jadi kami yang akan melakukannya, ajar kami untuk melakukannya dan kami pasti bisa melakukannya”. Sungguh sebuah semangat pemberdayaan yang sangat indah dari sebuah komunitas local. Foto di bawah ini adalah tim pemetaan dari Sungai Utik.

betang 2 (7)

Di bawah ini adalah foto dari hasil pemetaan tim dari komunitas Dayak Iban Sungai Utik untuk memperjuangkan wilayah adat mereka.

betang 2 (8)

Pada tahun 2008, masyarakat adat di Sungai Utik mendapatkan  penghargaan dari menteri kehutanan Republik Indonesia atas upaya mereka untuk mempertahankan hutan adat dan kearifan lokalnya.

betang 2 (9)

Saat ini peta wilayah masyarakat adat Sungai Utik terpajang di beranda dalam betang Sungai Utik. Sehingga bagi pengunjung yang datang bisa melihat dan belajar tentang kearifan yang  dipunyai komunitas Dayak Iban Sungai Utik.

Sungguh perjuangan yang luar biasa saat ini dimana terjangan perusahaan sawit dan hutan industry serta hak HPH yang semakin mengerikan untuk kelestarian lingkungan. Kita patut berbangga dengan komunitas Dayak Iban Sungai Utik dalam perjuangan mereka. Sampai saat ini Apay Janggut tetap akan berjuang bersama masyarakat Sungai Utik untuk mempertahankan kelestarian Hutan mereka, agar jangan mengambil hutan adat mereka, seperti yang dibilang Apay Janggut bahwa:

“Kami tidak minta lebih dan tidak mau kurang, selama di Hutan Masih ditemukan buruan dan obat, di lubuk masih ada ikan dan di huma masih berpadi itulah Hutan Lestari” (Apay Janggut)

 betang 2 (10)

Apay Janggut  alias Bandi

Apay Janggut dan Komunitas Dayak Iban merupakan satu contoh, semoga akan muncul lagi Apay Janggut yang lain untuk menjaga kelestarian hutan dan wilayah Indonesia.

 

Christiana Budi,

Sungai Utik-Kapuas Hulu, 15 December 2012

 

12 Comments to "Betang Dayak Iban dan Tamambaloh Kapuas Hulu (2)"

  1. julaw  5 August, 2013 at 08:50

    Manah meh kita Iban Kalimantan oleh ngetan ke kampung jerung, enggai ke abis lengis punas baka kampung kami menoa Sarawak ditu. Kampung kami abis AMBI Tai Mamut, YB Iban kami enda nemu bejaku, ISU’. Idup kaban Iban Kalimantan. OOOOhhhaaaa……

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.