Mimpi Jadi Ikan

Fidelis R. Situmorang

 

Semalam aku mimpi jadi ikan. Berenang bebas di lautan luas tanpa dipusingkan dengan kemacetan yang sering bikin tensi darah jadi tinggi. Bertukar senyum dengan udang dan cumi-cumi, bertegur sapa dan saling melambaikan sirip dengan sesama ikan lain.

Di tengah jalan, eh, air, aku bertemu Deni Manusia Ikan yang sedang duduk termenung seperti seorang filsuf.

“Mikirin apa, Bro?” sapaku kepadanya.

“Aku ingin jadi sebenar-banarnya manusia,” jawabnya pelan. “Bosan hidup setengah-setengah seperti ini.”

“Sebenar-benarnya manusia? Seperti apa itu?”

“Seperti manusia-manusia di atas sana, bisa merayakan cinta dan kebahagiaan setiap hari.”

deni-manusia-ikan

“Apa pada makhluk seperi kita ini tidak ada cinta dan kebahagiaan?”

“Kiiiitaaa?” Deni mengernyitkan keningnya.

“Oh, maaf. Maksudku pada ikan seperti aku ini?”

Deni tak segera menjawab. Dia memandang luas lautan seperti sedang berpikir. Di dekat kami melintas seekor lumba-lumba yang sedang menyusui anaknya.

“Sepertinya ada, tapi itu berbeda. Cinta pada manusia sulit sekali dijelaskan, hanya bisa dirasakan. Sesuatu yang tidak bisa disimpan, harus selalu dibagikan dengan orang lain. Sesuatu yang membuat dunia jadi lebih indah.”

Tiba-tiba kepalaku terasa gatal. Tapi siripku yang pendek tidak bisa sampai ke bagian kepalaku yang gatal.

“Tolong garuk kepalaku, Bro,” pintaku kepada Deni.”Tiba-tiba gatal nih.”

Deni lalu mengaruk kepalaku dengan lembut.

“Lihat kan…! Tangan manusia bisa sangat berguna untuk kebaikan, bisa menghilangkan gatal-gatal dalam hidup. Tangan manusia adalah anugerah bagi kehidupan ini. Apa yang tidak bisa dilakukan oleh makhluk lain bisa dilakukan oleh manusia.” Kata Deni. “Eh, maaf ya, bukan ingin membandingkannya dengan kamu…”

“Iya… Nggak apa-apa…”

“Aku ingin menjadi manusia yang sebenar-benarnya,” katanya lagi.

“Apa kamu sudah dengar apa yang dilakukan tangan-tangan manusia belakangan ini kepada sesamanya di atas sana?”

“Belum. Ada apa, Bro?”

“Di Suriah, manusia menggunakan tangannya untuk membunuh bayi-bayi lucu dan anak-anak kecil, hanya untuk melemahkan posisi lawan politiknya. Di India, orang-orang dewasa menculik anak-anak kecil dan menjadikan mereka pengemis. Malah ada anak-anak malang itu yang dicabut matanya hingga buta atau dipatahkan tangan dan kakinya supaya bisa menjatuhkan banyak rasa iba para penderma yang melihatnya. Di Indonesia, ada tangan-tangan yang bersatu-padu menjadi sindikat perdagangan bayi.”

Deni terkejut memandangku. “Yang benar, Bro? Jangan karena kecemburuanmu kepada manusia, lalu bicara hal-hal yang tidak benar tentang mereka.”

“Itu benar, Bro…”

“Kamu tahu dari mana?”

“Aku baca di Selat Malaka Post dan Samudera Hindia Daily.”

“Mana, aku mau lihat!”

“Ketinggalan di rumah karangku, Den… Ayo, kita beli aja yang baru,” kataku mengajak Deni ke kios koran Pak Tongkol. Deni lalu membeli Tampomas Post dan membacanya. Tak lama kemudian ia mengeleng-gelengkan kepalanya.

“Ternyata benar ya, Bro…” ujar Deni menatap mataku dengan pandangan mata tak percaya.

“Ada berita apa lagi di situ, Den?”

“Ini ada yang aku cari. Tentang manusia yang sebenar-benarnya. Sebentar, aku baca dulu.”

Deni membacanya sambil menggaruk-garuk kepalanya.

“Di sini,” kata Deni, “ada pertengkaran tentang manusia yang sebenar-benarnya, antara kelompok atheis fundamentalis dan kelompok agama fundamentalis.”

“Seru ya?”

“Panas! Kelompok fundamentalis agama bilang, orang-orang atheis bukanlah manusia yang sebenar-benarnya. Mereka adalah anak-anak iblis yang menjadi sumber murka Tuhan yang turun dalam berbagai malapetaka dan bencana di bumi.”

“Terus…”

“Orang-orang atheis bilang, orang-orang beragama bukanlah manusia yang sebenar-benarnya. Mereka adalah orang-orang yang melarikan diri dari kenyataan-kenyataan hidup. Orang-orang anti ilmu pengetahuan yang hidup dari mitos dan rela berperang untuk mempertahankan mitos-mitos itu. Padahal ada ribuan agama yang berbeda-beda di dunia ini. Mereka yang merendahkan manusia lain dan menggunakan tangannya memukul kepala sesama manusia karena perbedaan nilai-nilai adalah bukan manusia yang sebenar-benarnya manusia…” Deni berhenti sebentar.

“Kok yang dibahas kelompok-kelompok fundamentalis? Pasti itu koran liberal.” kataku. “Terus, Den…?”

“Aku jadi bingung, Bro…”

“Bingung kenapa?”

“Jadi manusia yang sebenar-benarnya itu seperti apa ya?”

“Mungkin manusia bisa menjadi manusia yang sebenar-benarnya jika ia dilahirkan kembali.”

“Dilahirkan kembali? Seperti apa itu?” tanya Deni melemparkan pandangannya ke arah sekumpulan anak lumba-lumba yang sedang bermain kejar-kejaran. “Manusia yang sebenar-benarnya… kelahiran kembali… makin bingung aja aku nih…”

“Atau mungkin manusia yang sebenar-benarnya itu sebenarnya tak pernah ada. Tapi cuma kecongkakan tersembunyi yang dibalut kata-kata bagus, yang padahal bertujuan untuk merasa lebih manusia daripada manusia lainnya.”

“Menurutmu begitu?”

“Mana aku tahu, Den… Aku kan cuma ikan,” jawabku mengelengkan kepala.

Deni menatapku bingung.

“Kenapa kepalamu goyang-goyang? Gatel lagi? Sini, aku garuk…” kata Deni kepadaku, lalu menggaruk kepalaku dengan lembut.

“Ada bentolan di kepalamu. Apa karena gatal?”

“Bukan, Den, itu tahi lalat.”

“Oh…” Deni manggut-manggut.

 

9 Comments to "Mimpi Jadi Ikan"

  1. Fidelis R. Situmorang  25 February, 2013 at 06:18

    @Om Dj: Hehehe… Pasti tahi lalat yang bagus ya, Om

    @J C: Wah, kok bisa kelewatan komennya…
    Makasih, Om…

  2. Dj. 813  25 February, 2013 at 03:20

    Fidelis R. Situmorang Says:
    February 25th, 2013 at 02:22

    @Om Dj: Sama-sama terima kasih, Om… Seneng selalu dapet sapaan Om Dj. Kok bisa kebetulan juga ada tahi lalatnya ya…
    Penasaran juga apa Om anoew ada tahi lalat di kepala juga…
    —————————————————————————————–

    Hahahahahahaha….
    Entah dimana mas anoew saat ini, mungkin sedang bikin tai lalat dikepala ya….
    Hahahahahaha….!!!!
    Salam,

  3. Fidelis R. Situmorang  25 February, 2013 at 02:22

    @Mas James: Hahaha… Aku juga lupa nama ikannya

    @Bu Matahari: Hehehe…. Makasih ya, Bu…. Tahi lalatnya nggak kelihatan, ketutupan alis

    @Om Dj: Sama-sama terima kasih, Om… Seneng selalu dapet sapaan Om Dj. Kok bisa kebetulan juga ada tahi lalatnya ya…
    Penasaran juga apa Om anoew ada tahi lalat di kepala juga…

    @Hennie Triana Oberst: Makasih, Mbak…

    @Mbak Dewi: Hehehe…. Nggak nyindir kok, Mbak, cuma mau ikutan nanya aja…

  4. Dewi Aichi  22 February, 2013 at 09:16

    Menarik sekali ceritanya…kali ini bernada sindiran ya ? Tapi penyampaiannya enak sekali…..jadi suka bacanya.

  5. Hennie Triana Oberst  21 February, 2013 at 22:11

    Bang Fidelis, tulisannya mengena sekali.

  6. J C  21 February, 2013 at 21:34

    Wah, wah, ini renungan yang dalam tapi disampaikan dengan enak sekali…

  7. Dj. 813  21 February, 2013 at 19:39

    Bung Situmorang…
    Terimakasih untuk cerita ikannya…..
    Kok sama ya…
    Kepala Dj. juga ada tahi lalatnya….
    Apa kepala mas Anoew juga ada tahi lalatnya….???

    Salam,

  8. matahari  21 February, 2013 at 17:13

    Tulisan yang bagus dan penuh perenungan..ide ide nya keren….kadang lucu..kadang menyindir….Yang pasti sekarang saya tahu bang Fidelis ada tahi lalat di kepala…

  9. James  21 February, 2013 at 12:22

    SATOE, Mimpi Jadi Ikan (Duyung ???)

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.