Andai Dia Pujangga Malam

Atra Lophe

 

Adalah dia seorang pujangga. Menulis dalam kata tanpa harus menggerakkan jari-jarinya. Tanpa harus memenyelipkan pena di antara ibu jari dan jari telunjuknya. Matanya tidak tertuju pada satu titik saja. Sebab baginya, kata-kata itu tidak perlu menari di atas kertas. Tetapi, menjadikan udara sebagai alas sekaligus perantara agar sampai ke telingaku.

Begitulah dia. Rambutnya sebahu, dikucir dengan rapi. Kedua matanya dikawal sebuah kacamata berwarna cokelat. Giginya panjang, rapih dan  sedikit menguning. Mungkin itu adalah efek nikotin bandel yang tak mempan dengan sikat gigi. Alisnya tebal. Sedangkan tangannya menjepit sebatang rokok, mengisapnya perlahan. Lalu, asap-asap membumbung tinggi mengitari wajahnya. Seperti awan yang mengitari matahari. Iseng, sekedar menghalangi cahaya. Dan menghilang tak berbekas.

Kata-kata-pujangga

Bibirnya tipis. Berkali-kali rokok itu keluar masuk ke mulutnya. Seperti melakukan ritual yang sama tanpa merasa bosan. Sedangkan pada sudut lain aku menatapnya tanpa terkedip. Sambil berandai-andai.  Andai saja saat itu aku bisa disulap menjadi sebatang rokok, aku akan memilihnya sebagai konsumen. Dan aku akan mengulum bibirnya. Mengecap rasa lidahnya. Pada saat yang bersamaaan aku menjadi asap. Menari bebas di dalam rongga mulutnya. Akan kubersihkan semua nikotin bandel yang menempel di sela giginya. Lalu, aku berjalan ketenggorokan, hingga paru-paru. Kemudian kembali keluar dan menghirup udara. Oh tidak, aku akan menetap di dalam tubuhmu. Dari paru-paru aku akan berjalan melewati jantung,lambung, pankreas dan sampailah aku di hatimu. Menetap di sana selamanya.

Tersadar dari pengandaian, kudapati kau sedang memegang secangkir kopi. Isinya hampir habis. Sebentar lagi ampasnya pun hampir mengering. Bibirnya menyunggingkan senyum. Sementara jari tangannya memainkan ujung gelas. Sebuah bunyi pun tercipta. Membentuk melodi indah nan mempesona. Kembali aku berandai. Berada dalam sebuah ruangan bersamamu. Kau dibaluti jas berwarna silver. Sedangkan aku mengenakan gaun merah mawar. Kita berdansa dan bercumbu di bawah lampu yang lelah tuk bercahaya lagi. Remang-remang. Tangan kita saling mengapit, lalu syair-syair indah puisi seorang pujangga memenuhi ruangan. Seperti suara dubbing film holywood, kita sebagai pemeran visual.

 

 Bagiku, Tak ada malam yang tak berbintang,

Sebab kau disini.

Semilir angin mengusap kata

Bagai fatamorgana

Kita tersesat dalam kegelapan malam

ingin menemukan kata.

dalam kamus kelabu.

Berharap masih ada kata.

 

Lampu kian remang. Sementara bisikan serangga malam memekikan telinga. Senda tawa semakin menjauh. Dalam sekejap ruangan itu kosong. Betapa terkejutnya aku ketika kudapati kepalaku tergeletak diatas meja, dialasi kedua tangan. Mata samar-samar. Ah, aku ketiduran. kemudian, tersadar dari tidur singkatku aku membuka mata perlahan. Langsung pandanganku tertuju pada kursi yang tadi ditempatinya. Tak ada siapa-siapa. Hanya sebuah gelas kosong dengan ampas kopi yang mengering. Ia menghilang. Kemanakah dia?

Dalam detik yang bersamaan, hatiku sakit. Entah karena luka lama yang tergores kembali atau karena ada luka baru yang menumpuk di atas luka lama. Semuanya tak jelas. Sebab, apa bedanya luka lama dan luka baru jika keduanya tetap dinamakan luka dan memberikan perih dengan kualitas yang sama? Pengandaian ini terasa menyakitkan. Entah karena aku percaya pada sinkronisitas atau bukan. Tidak ada yang kebetulan bahwa aku memilih dia sebagai objek pengandaianku. Karena, dalam pengandaian itu aku menitipkan harapan yang sama besarnya. Pada dia yang lain, dulu.

Aku sesenggukan dalam remang dan kedinginan malam. Membayangkan betapa aku terluka. Kadang menangis memang bisa membuatmu jauh lebih baik. Seiring luka yang mulai mengering dengan tangis, aku mulai menyusuri logika. Mungkinkah aku jatuh cinta?

“Ah, saat ini hidup terlalu mengejutkan untuk menentukan apa pun” batinku.

Malam kian runtuh. Duhai kau pujangga malam, kemanakah angin membawamu?

 

About Atra Lophe

Berasal dari Indonesia Timur dan penulis lepas dengan fokus masalah sosial seputar kehidupan.

My Facebook Arsip Artikel

5 Comments to "Andai Dia Pujangga Malam"

  1. atra lophe  25 February, 2013 at 17:50

    kk EA : hahahhaha setuju. hanya secangkir saja…
    salam.

  2. atra lophe  25 February, 2013 at 17:49

    bang J C: seseorang bang… Pada suatu malam di suatu tempat..hehhehe

  3. EA.Inakawa  22 February, 2013 at 22:51

    Atra : Hanya secangkir kopi teman paling setia yg mampu memberikan inspirasi kepada sang Pujangga Malam…..
    Ko JC : sang pujangga malam itu pastinya……. Kang Anoew.
    salam sejuk

  4. J C  22 February, 2013 at 20:53

    Hhhhmmm…siapakah gerangan dia si pujangga malam?

  5. James  22 February, 2013 at 12:49

    SATOE , Pujangga Malam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.