Perayaan Tahun Baru Imlek 2564 Nasional

Josh Chen – Global Citizen

 

“Aku kirim undangan ke tempatmu ya, ada 2 undangan dari Matakin untuk perayaan Imlek tanggal 19”. Demikian bunyi pesan yang masuk ke handphone sore itu dari seorang rekan kerja. Penasaran undangan apa, segera setelah selesai meeting, saya balik ke kantor dan membuka amplop coklat yang tergeletak di meja. Isinya dua lembar undangan bernuansa merah dari Matakin – Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia untuk perayaan tahun baru Imlek 2564 tingkat nasional bertempat di Plenary Hall Jakarta Convention Center. Tanggalnya 19 Februari pukul 16:00.

20130219_194554

Hhhmmm…lumayan juga. Di bagian atas tertempel stiker bertanda khusus yang kemudian saya tahu ternyata adalah kode tempat duduk. Ternyata mendapat tempat duduk yang sangat strategis persis di tengah panggung beberapa kursi di belakang tamu utama hari itu – RI-1 dan RI-2. Malam itu saya memberitahu istri dan mengatur waktu masing-masing untuk acara tanggal 19 Februari itu.

Di hari H, kira-kira pukul 14:30 kami meluncur memasuki jalan tol menuju Jakarta. Perjalanan cukup lancar tidak ada hambatan berarti, sedikit tersendat di bundaran Semanggi yang sudah biasa terjadi jam berapa saja. Mendekati lokasi acara terlihat banyak sekali aparat gabungan dari berbagai institusi. Sampai di tempat, kami melewati pemeriksaan keamanan yang cukup ketat. Jajaran panitia menyambut para tamu mulai dari pintu masuk sampai ke Plenary Hall. Para panitia memberikan salam kiongciu (拱手) atau soja atau lazim juga disebut bai-bai (baca: pai-pai) menangkupkan kedua tangan di depan dada dan mengucapkan beberapa ucapan selamat tahun baru: “sin cun kiong hi” (新春恭喜)atau “xin nian kuai le” (新年快乐), ada juga yang mengucap singkat “kiong hi” saja.

Memasuki ruangan acara, ternyata sudah lumayan penuh juga. Tertulis di undangan untuk hadir 30 menit sebelum acara mulai. Di deretan depan agak menyamping tampak wajah-wajah ‘selebriti’ politik: Dahlan Iskan, M. Nuh (Menteri Pendidikan Nasional), Ketua DPR, dan masih banyak lagi. Para ushers berseragam batik menyambut dan mengantarkan kami ke tempat duduk sesuai kode di undangan.

IMG_0850

Di panggung tertulis besar-besar tema perayaan hari itu: “Rasa MALU Besar Artinya bagi Manusia” disertai huruf kanjinya “知 恥 尚 德” (zhī chǐ shàng dé). Tema yang sungguh mengena dan bermakna untuk situasi bangsa saat ini. Kunci tema hari itu terdapat di dua huruf pertama “知恥” (zhī chǐ, dibaca: ce je, dengan bunyi ‘e’ seperti dalam kata benar). Arti harafiahnya adalah “tahu malu”. Huruf 恥 sendiri berarti ‘ashame’, terdiri dari dua karakter telinga () dan hati (), yang berarti rasa malu yang berasal dari nurani, mendengarkan dengan hati!!

Tiba-tiba terdengar tepuk tangan yang meriah. Ternyata mantan Ibu Negara – Ibu Sinta Nuriyah Wahid memasuki ruangan dari pintu VVIP dengan rombongan kecilnya. Sontak para menteri berdiri menyambut. Setelah Ibu Sinta menempati tempatnya, para menteri bergantian menyalami dan menyapa. Terlihat raut muka para menteri yang sangat hormat dan segan terhadap Ibu Sinta Wahid. Belum tuntas kehangatan menyambut Ibu Sinta Wahid, tepuk tangan kembali membahana. Sosok yang belakangan banyak menghiasi media massa nasional (dan juga internasional) memasuki ruangan. Wakil Gubernur DKI Jakarta – Basuki Tjahaja Purnama yang akrab disapa Ahok memasuki ruangan. Berbusana batik nuansa keemasan dengan pengawalan minim, melambaikan tangan ke hadirin yang sebagian berdiri menyambutnya. Ahok menyalami para menteri dan tentu saja menyalami Ibu Sinta Wahid. Terlihat mereka berdua sumringah tersenyum.

IMG_0017

Pukul 4 kurang 5 menit, MC mengumumkan: “hadirin yang terhormat, Bapak Presiden Republik Indonesia dan Ibu, Wakil Presiden Republik Indonesia dan Ibu memasuki ruangan, hadirin dimohon berdiri”. Tepuk tangan memenuhi udara mengiringi rombongan RI-1 dan RI-2 memasuki ruangan.  Tanpa basa-basi lagi, MC melanjutkan: “menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya”. Dan berkumandanglah Indonesia Raya dalam ruangan. Perasaan haru biru membuncah di dada, sungguh berbeda yang saya rasakan ketika dulu upacara bendera semasa SD dan SMP, bahkan ketika SMA sekalipun. Berdiri di dalam ruangan merayakan sesuatu yang “haram besar” 15 tahun lalu dan masa-masa sebelumnya, diiringi lagu kebangsaan dan dihadiri berbagai lapisan masyarakat, etnis serta agama (nampak banyak hadirin yang berbusana Muslim), tak dapat disangkal mengaduk perasaan ke tingkat yang paling hakiki.

Kemudian acara demi acara berlangsung cepat dan efisien. Sambutan panitia yang disusul pidato Presiden SBY, paduan suara, pembacaan puisi, tari-tarian dan lagu lagi silih berganti.

IMG_0024

IMG_0025

IMG_0020

IMG_0027

IMG_0028

IMG_0029

IMG_0031

IMG_0034

IMG_0036

IMG_0037

IMG_0039

IMG_0041

IMG_0042

IMG_0044

IMG_0046

IMG_0075

IMG_0076

IMG_0077

Puncak acara sore itu adalah pertunjukan barongsai dari kelompok Kong Ha Hong yang beberapa kali menyabet kejuaraan dunia. Kong Ha Hong membawa nama Indonesia ke kancah internasional, menjuarai berbagai even, bahkan mengalahkan para peserta dari negeri asal barongsai – Tiongkok. Kong Ha Hong juga mencatatkan rekor di Guinness Book of Record sebagai barongsai dengan lompatan terjauh dalam kejuaraan barongsai tiang.

IMG_0060

IMG_0062

IMG_0063

IMG_0072

Satu catatan menarik adalah busana yang dikenakan paduan suara dan penyanyi adalah busana bergaya kebaya encim. Dengan desain baju dan kebaya yang sangat khas corak serta perpaduannya.

IMG_0086

Perayaan Imlek nasional ini sudah yang ke 14 kalinya. Dimulai pada tahun 2000 masa pemerintahan Gus Dur yang mendobrak segala belenggu diskriminasi etnis Tionghoa di Indonesia dan dilanjutkan oleh Megawati dan SBY. Di masa pemerintahan SBY sudah 9 kali diadakan perayaan Imlek nasional ini. Demikian bagian dari pidato SBY. Kemudian SBY melanjutkan pentingnya rasa solidaritas nasional, kebersamaan dan rasa malu untuk kehidupan berbangsa dan bernegara.

Acara ternyata sangat efisien. Pukul 17:15, MC mengumumkan bahwa acara sudah selesai. Rombongan RI-1 dan RI-2 naik ke panggung berfoto bersama para petinggi MATAKIN dan seluruh pendukung acara hari itu. Saya tidak tahu apakah di negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura ada perayaan Imlek secara nasional seperti ini, yang bisa dibilang “semi kenegaraan”.

IMG_0094

IMG_0098

IMG_0099

IMG_0102

Acara yang mengesankan. Pertama kali kami menghadirinya dan menikmati keseluruhan rangkaian acara dengan hati puas. Perjalanan pulang kami tempuh dengan waktu yang lebih lama daripada waktu berangkat.

 

 

About J C

I'm just another ordinary writer. Seorang penulis lepas dengan ketertarikan bidang: budaya, diversity, fotografi, ekonomi dan politik.

Arsip Artikel Website

35 Comments to "Perayaan Tahun Baru Imlek 2564 Nasional"

  1. myrna basuki  21 March, 2013 at 22:48

    salam kenal pak JC,
    pak, saya seorang freelancer fotografer. saya ingin mengenal lebih tahu tentang budaya dan adat istiadat tentang tionghoa dan kakak saya sedang mengajukan proposal thesis. kalau bapak berkenan apakah saya bisa menghubungi bapak ? terima kasih.

  2. Nur Mberok  26 February, 2013 at 12:43

    Wah telat…………. Itu tulisan dekorasinya bagus banget …..

    Tingkatkan budaya malu……!!

    Congratz and happy chinese new year wkwkwk telat rapopo ya…

  3. Lani  25 February, 2013 at 23:54

    32 AKI BUTO : the sooner the better……….jgn nunggu lama2, negeri ini semangkin tambah amburadullllllll……….

  4. J C  25 February, 2013 at 22:11

    Silvia: tengkyu tambahan informasi dari negeri tetangga Malaysia dan Singapore…

    Dewi Aichi: halah, halah…filang-filing…

    Kang Anoew: di mana saja sami mawon, tetep K U P U…

    Lani: taon piroooo??

    tante Jenny: amiiiiinnn…ikut mengaminkan harapan tante…

    mas Juwandi: sampeyan dan Kang Anoew saja RI-1 dan RI-2…mantaaaappp…

    Jon: lha yo itu yang paling njelehi banyak kaum POKOKE…

  5. jl  23 February, 2013 at 23:30

    Acara macam ini memang baik …tp lebih baik kalo dipraktekkan di kehidupan sehari hari sehingga kaum minoritas tidak merasa tertindas dinegara sendiri.
    Di Singapore ato Malaysia tanpa acara macam ini masyarakatnya lebih toleran terhadap umat agama yg lain bahkan dibandingkan kita yg katanya ber Bhinneka Tunggal Ika.
    Barusan sy dr Penang , disana ada mesjid, gereja , klenteng dan kuil hindu sekaligus disatu ruas jalan. Bahkan rasanya jumlah kelenteng rasanya kok banyak banget dibandngkan masjid. Disini mau beribadah aja ada yg ribut apalagi mau bangun rumah ibadah. Budaya pokoke sing nomer satu hahhaha

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.