Apa Ya Sebabnya, Apa

F. Rahardi

why

apa ya sebabnya
kata-kata itu kok penting
dikumpulkan dan dibundel jadi kamus
begitu aku bertanya pada yang ahli
tidak pernah dijawab
aku pun kemudian pulang dan dingin

apa to sebabnya
maling ayam kok dipukuli
apa toh salahnya
sopir oplet kok dicacimaki
begitu tanyaku pada yang berwajib
aku dijawab
lalu pulang dan ngantuk

sebabnya apa to
he, sebabnya apa
aku kok selalu takut
was-was saja
akan ada kejadiankah
aku tidak bertanya pada siapa-siapa
dan bersetubuh

tuli semua
orang-orang ini
apakah rusak kupingnya
yang kiri
apakah terganggu
yang kanan
tidak bisa dipakai
aduh oom, aku cinta

yang bersangkutan harap hadir
yang berkepentingan supaya maklum
yang bertanggungjawab siapa sih
ada kejadian kok diam
apakah sulit berkata
atau sedih
begitu aku menuduh khalayak ramai
semua ramai dan semrawut

memang sulit hidup bersama
di asrama misalnya
tidur malam jam sepuluh
di penjara misalnya
mereka main bal
dan aku sebenarnya ingin sekali bertanya
atau ke surga atau ke neraka ya
aku ini kelak kalau mati
dijawab tegas
aku letih dan rematik
apa sebabnya, apa sebabnya
jawablah
mengapa matahari terlambat
mengapa kata-kata
kalau dibendel menjadi kamus
rahasia apa gerangan
yang tersimpan di sana
rahasia gaibkah
aku bertanya-tanya begitu pada diriku
tidak dijawab
aku mencret di sawah
dan tersenyum

apa ya sebabnya
apa to yang sebenarnya
telah terjadi pada diriku
selama ini
jawablah

sebabnya saja
aku ingin tahu
ini kok begini
itu kok begitu
sedang yang lain kok
tidak sama
begitu aku bertanya pada yang tahu
dijawab
tapi lucu dan tidak masuk akal
aku meringis

maka akhirnya aku bertanya
pada yang maha tahu
apa to sebabnya diriku ini
kok begini
dan tidak begitu
hanya sepi
maka aku pun kesepian
dan muntah-muntah.

3 Peb. 75
Pernah dimuat di Majalah Horison, Juli 1977

7 Comments to "Apa Ya Sebabnya, Apa"

  1. Asia  27 February, 2013 at 03:00

    duh gak tahu yah apa sebabnya…tanyain ke rumput bergoyang aja deh
    lucu puisinya

  2. J C  26 February, 2013 at 05:41

    Hehehehe…

  3. EA.Inakawa  25 February, 2013 at 05:12

    Mas F.Rahardi : sunyi yang membuat muntah itu lebih baik daripada SEPI yang lebih menakutkan…..salam sejuk

  4. matahari  23 February, 2013 at 21:40

    Why pasangannya selalu because….

  5. Dewi Aichi  23 February, 2013 at 21:40

    Pak F Rahardi he he he…saya cekikikan baca ini, sebenarnya hal sederhana sekali, tapi karena dikemas dalam tulisan yang seperti ini oleh pak Rahardi, jadinya sangat luar biasa, sebuah karya sastra luar biasa….gayanya saya sukaaaaa…

    Salam hangat dari Brasil untuk pak F Rahardi.

  6. Dj. 813  23 February, 2013 at 17:53

    Walah…
    Kok akhirnya pakai mntah.muntah sagala ….

  7. James  23 February, 2013 at 16:25

    SATOE, why

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.