Pandi

Yuni Astuti

 

Alkisah, di ponpes ada dua orang santri yang cukup aneh. Yang pertama sebut saja namanya Pandi. Dia selalu memanggilku Umu dan memanggil Abah ke suamiku. Ngaku-ngaku jadi anak kami ceritanya. Ribut luar biasa, pede tingkat tinggi, SKSD sama siapa saja, nyaris putus rasanya tuh urat malunya.

Yang kedua, Adam. Dia sangat lucu sebenarnya. Hobinya makan, dan tidur. Kalau makan bisa sampai 5 episode, serasa ngga ada kenyangnya. Males banget kalau disuruh mandi. Akur dan klop sama Pandi. Bagaikan Giant dan Suneo deh.

Suatu hari, kami rihlah ke suatu tempat di Jawa Barat. Bersama ustad lainnya, kami nyarter angkot. Karena lokasi jauh, kami membayar cukup mahal ke angkotnya, 50 ribu per orang. Dua anak itu, harus dipaksa paksa biar bayar… Juga saat masuk, pinginnya dibayarin aja. Termasuk makan dan permainan lainnya, pengen dibayarin. Mereka berdua, pingin naik ATV. Haha. Dengan gaya mereka naik tapiiiiii langsung nabrak pembatas lintasan dan jalannya nabrak-nabrak trus….

Kejadian yang menggelikan adalah, saat pulang. Kami lapar, tapi ga bawa bekal. Sebenarnya Pandi lebih bagus kalau lapar soalnya pasti diem. Kan asik tuh. Daripada ngedengerin celotehannya tentang segala macam kan berisik tuh. Sepanjang jalan dia ngoceh minta makan, lalu diem…. Minta makan lagi, diem lagi. Kelemahan Adam adalah kalau lapar, jadi mukanya melas banget kalau lagi lapar….

Kasihan juga, kami turun di warung bakso. Liat daftar harga, mahal bangeeet…. 12ribu/porsi, karena udah telanjur ya udah makan aja deh. Setelah itu, kami ngumpulin uang buat bayar….

Si Pandi gak mau bayar. Malah ngasihnya 2ribu. Payah ah, harganya kan 12ribu. Dia ngotot katanya ga punya uang lagi. Nambahin gopek,

“Tu gopek doang, tinggal tambahin nol satu jadi 5ribu”

“Bayar sini”

“Ga ada lagi….”

Kami berdebat di warung itu, rame. Dia bukannya bayar malah ngelak aja. Akhirnya dia mau bayar 5ribu. Sama aja kayak Adam. Sedangkan Khoirul 10ribu. Subsidi silang itu, lumayan teratasi…. (tips: kalau rihlah bawalah bekal agar tidak jajan di jalan. Muaaahaaal).

Abis makan, kenyang to? Pandi dan Adam berkicau lagiiiii. Berisik banget tau….!

Dengan bangga, Pandi berkicau

“Kita untung ya Dam, makan mie ayam enak cuma 5ribu. Ga kayak Irul tuh masa 10ribu? Kita untung yaa…. Hehe, kan ada Pak Dealer Sule dan Bu Dealer”

Disambut tawa adam yang menggelegar “hahahahahahahaaa. Iya kita untung banget. Heuheuhuaahahahahaaa” dih ketawanya kayak jin di film-film gitu.

“Kita untung Dam, untung!”

Sesampainya di depan perumahan Adam, gerimis…. Aku naik becak. Pandi mengejar di belakang, mendorong mamang becak.

“Bang, abang capek gak?”

“Nggaak”

“Abang, anaknya berapa?”

“Banyak”

Pandi yang bayarin becaknya 5ribu, lalu nagih ke aku. “dah, itu buat bayar sisa mie ayam aja Pandi”

“Nggak bisa”

hutang

“Lagian katanya antum ga punya uang kok masih ada?”

“Itu kan buat jajan ana. Bayar sini tadzah, ntar di akherat ustadzah ditagih: manaaa utang ke pandi”

“Antum juga dong. :manaaa utang makan mie ayam…..”

Dan Pandi pun terdiam tak berkutik. Merasa bersalah. Hueheeeee

 

9 Comments to "Pandi"

  1. Evi Irons  27 February, 2013 at 18:43

    Udah dicari di fb tapi gak ketemu jg di fb

  2. Evi Irons  27 February, 2013 at 18:40

    Saya Jadi malu, Dulu kalau teman-teman ajak beli makanan saya selalu gak ikut Atau bilang gak punya duit, ya udah deh saya temanin kamu aja tapi akhirnya mereka yg traktir, herannya setelah itu kita gak pernah ketemu lagi, maunya ingin membalas traktir.

  3. J C  26 February, 2013 at 05:43

    Walah ini ndableg atau gimana ya?

  4. EA.Inakawa  25 February, 2013 at 05:50

    Tapi jangan salah……kelak kediua anak ini akan jadi DERMAWAN, anak anak yang bertuah, salam sejuk

  5. Hennie Triana Oberst  24 February, 2013 at 20:49

    Sulit juga berhubungan dengan orang seperti ini, maunya dibayari terus.

  6. Dj. 813  24 February, 2013 at 18:47

    Hallo Yuni….
    Terimakasih untuk ceritanya…
    Memang kabiasaan yang jelek ( mungkin ), kalau saling ingin dibayari.
    Olehnya harus dibiasakan, beli kalau ada uang, kalau tidak, ya jangan maksa.

    Ibu Matahari….
    Kita ketemu lagi disini.
    Kebetulan, kita punya pendapat yang sama.
    Setiap orang harus memikul salibnya sendiri dan jangan orang lain yang harus menanggung.

    Jadi ingat saat pertama kali Dj. mudik bersama Susi dan Junior 1978.
    Saat sampai dirumah kaka, malam kami ngobrol sampai malam dan karena besoknya kami
    harus meneruskan perjalanan, maka kaka Dj, kasi amplop ke Susi ( uang sangu, untuk keperluan dalam
    perjalanan ).
    Saat itu Susi tidak kenal budaya ini, maka setelah dilhatnya itu uang, maka dia bertanya, untuk apa…???
    Dj. katakan itu hadiah dari kaka untuk perjalanan besok.
    Susi tidak mau dan dia kembalikan, kaka Dj. yang jadi heran dan bengong….
    Setelah kaka ipar ( wanita ) membujuk Susi, agar diterima, kan kalian belum punya rupiah.
    Maka dia terima, tapi itu uang, sama sekali tidak dia pakai belanja.
    Juga saat di Surabaya dirumah kaka yang lain, bahkan di Malang dirumah saudara, Susi selalu dapat amplop.
    Tapi dia selalu bilang, untuk liburan ini, kami sudah menyiapkan semuanya dan kami ada cukup.
    Jadilah mereka selalu bengong dan adik dj, yang antar kami kemana-mana, malah bilang…
    Sudah kasikan aku saja…. hahahahahahaha….!!!

    Olehnya, satu saat Susi bisa mengerti, setelah Dj. ceritakan, bahwa saudara Dj. tidak selalu berada, ada juga
    yang kekurangan. Nah itu uang juga bisa diberikan kepada saudara yang kekurangan. mereka akan sangat senang.
    Kadang saudara yang kurang punya juga menanti uluran tangan kita.
    Puji TUHAN….!!!
    Susi bisa mengerti dan dia selalu menabung sedikit demi sedikit, jadi kalau mudik, ada dana untuk saudara yang
    yang kurang unya, juga anak-anak asuh.

    Sedang untuk Dj.
    Buudaya ngutang ini adalah budaya yang paling jelek.
    Membiasakan orang tidak berusaha untuk berjuang, dalam menghadapi hidup ini.

    Salam manis dari Mainz.

  7. matahari  24 February, 2013 at 15:06


    Dua anak itu, harus dipaksa paksa biar bayar… Juga saat masuk, pinginnya dibayarin aja. Termasuk makan dan permainan lainnya, pengen dibayarin. “

    Saya suka eneg melihat orang yang pelit…mengharap semua orang yang bayarin ..padahal punya uang …Saya tidak masalah membayar apapun tapi kurang suka kalau dimanfaatin …semua orang bekerja berat untuk mendapatkan 1 euro sampai 2000 euro 3000 euro…dstnya ….uang tidak jatuh dari langit..karena itu saya risih dibayarin karena orang yang membayarin juga harus kerja berat untuk mendapatkan uang…yang terbaik menurut saya adalah…bayar masing masing…tapi budaya ini belum terbiasa di Indonesia…kalau di LN sudah sangat biasa….bukan karena pelit tapi karena semua orang telah sadar bahwa mencari uang tidak gampang dan tidak sopan kalau mengharap orang yang bayarin …kecuali kita diundang makan…tentu yang mengundang yang bayar…itu juga saya dan suami selalu pilih menu termurah karena bagaimanapun kita ini masih orang Indonesia yang penyegan…dan suami juga seorang yang sangat pengertian….tidak suka memanfaatkan situasi…

  8. James  24 February, 2013 at 14:48

    Hutang, Katimu Punah

  9. James  24 February, 2013 at 14:47

    SATOE, Hurang

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.