Surat untuk Ibu

Vianney Leyn

 

BriefAdrian-Clark

Ibu tersayang….
Pada semilir angin yang membelai bulir-bulir salju
kuucapkan selamat pagi, siang, sore, malam atau situasi apa saja ketika ibu membaca suratku ini.
Mungkin ibu merasa terkejut akan ucapan selamat
yang mengatasnamai setiap putaran waktu;
tapi itulah kekuatan cinta yang menembus batas ruang dan waktu, yang hadir pada setiap waktu dan tempat meski terdakang
manusia tak menghendakinya.

Aku tahu perasaan ibu, tentang rindu yang terus mengalir di nadi untuk berjumpa, untuk berkumpul kembali dalam rumah
di dusun kecil itu sambil menyanyikan „dolo-dolo“ di tepian tungku yang mungkin telah lama sepi.
Tetaplah yakin pada Sang Waktu dan jangan mempersalahkannya. Ia punya andil buat kita, dialah yang memisahkan kita, dan dia juga kelak akan mempertemukan kita.

Aku juga mengerti tentang kekhwatiran ibu yang begitu kuat akan keadaanku disini. Pesanmu untuk selalu „jaga diri dan jaga agama“ masih tetap kuingat.

Memang betul bahwa sudah begitu banyak orang disini yang meninggalkan gereja atau tidak lagi percaya pada Dia, Sang Pencipta. Jangan khawatir bu, karena aku tidak akan memunggung dari kiblatku untuk percaya pada Dia Sang Pemberi Hidup,
yang selalu kudengar dari guru agama di Sekolah Dasar dan juga dari ibu sendiri.

Ibu tersayang,
rasanya malam-malamku kian berat untuk kutimang di pelupuk mata jika mengingat segala gelisah dan kecemasanmu; dan hari-hari terlalu lama untuk kujengkali matahari sambil memanggul cahyanya. Cukup kirimkan aku doamu agar malam yang indah dan akhir yang sempurna tetap menjadi milik kita.

Dan gunduk rindumu, rindu kita akan kujadikan alas kepalaku
untuk bermimpi di relung rembulan malam ini,
bukannya mengganjal mata kita untuk berjejak.

Dan aku juga masih punya harap dan idealisme yang kental untuk tunjukan kepada dunia, bahwa matahari bukan hanya terbit di timur, tetapi juga di barat. Itu mimpiku bersama malam yang jatuh di ujung hari.
Tapi kini aku harus bangun mengejar matahari.

 

5 Comments to "Surat untuk Ibu"

  1. kodirun  1 June, 2013 at 20:05

    Cinta ke Ibu adalah cinta ketiga setelah cinta kita kepada Alloh, Rosululloh. Ibu bukanlah segala-galanya, karena yang Maha Segalanya hanyalah Alloh yang Maha Pemurah yang telah melahirkan Ibu kita dan kit sendiri.

  2. J C  26 February, 2013 at 05:51

    Aku jadi ingat masa-masa ketika jauh sekali dari rumah dan menulis surat untuk mendiang Papa dan Mama, masih suka menulis tangan, bukan diketik. Dan orangtua juga lebih suka membaca surat dengan tulisan tangan serta membalasnya dengan tulisan tangan juga…

  3. EA.Inakawa  25 February, 2013 at 05:53

    Vianney Leyn : lupa yaaa….. MATAHARI kan ada disini di Baltyra, thx yaaa artikelnya, salam sejuk

  4. Dj. 813  24 February, 2013 at 18:13

    Ibu adalah segalanya dalam hidup ini.
    Salam,

  5. James  24 February, 2013 at 14:47

    SATOE, Surat Untuk Ibu

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.