Endah Raharjo
Deringan ponselku menghentikan cerita Rudi.
“Hello….”
“Masih tidur?” Suara Tim
“Aku sedang sarapan dengan Rudi.”
“Aku sarapan di kantor. Kalian cepat ke sini. Banyak yang harus kita beresi hari ini. Larry dan Arianne siang ini ingin bertemu.”
Kami buru-buru mengemasi barang dan meninggalkan restoran.
“Naing Naing sekarang di mana?” tanyaku, mendahului Rudi masuk lift.
“Aku tidak tahu. Setelahnya, sampai malam aku ikut staf JPA, memotret apa saja yang kuanggap penting untuk liputan.” Rudi menekan angka 9, menuju kantor kami. “Tim pasti bad mood hari ini. Waktu aku mau pergi dia bilang akan mengatur semuanya, terutama keamanan kita,” jelasnya. “Oh, ya. Kamu sudah setting speed dial untuk bodyguard kita?” Rudi mengingatkanku. Itu perintah Tim demi keamanan kami. “Tujuh, ya. Semua sama. Tujuh,” tegasnya.
Sambil menyusuri koridor ku-setting ponselku. Setiba di kantor Tim masih sarapan. Ia juga bekerja dengan laptopnya, tangannya sibuk berpindah-pindah dari keyboard ke pisau-garpu. Ia menyilakan kami menyeduh kopi atau teh kalau mau.
Dalam kerisauannya, ia pasti meluangkan waktu potong rambut kemarin. Dengan rambut pendek-rapi seperti itu, telinganya terlihat seperti sepasang radar. Jangan-jangan ia bisa mendengar detak jantungku, batinku, menahan senyum.
“Aku tadi belum sempat ngopi. Kamu mau?” Rudi menuang air mineral ke dalam teko listrik untuk dijerang. Aku mengangguk, mengucap terima kasih.
“Bagaimana muhibahmu ke Petchaburi?” tanya Tim, menyelidik. Ia menelpon petugas layanan kamar agar mengemasi bekas sarapannya.
“Mungkin aku jatuh cinta,” candaku.
“Perempuan mana yang tidak jatuh cinta pada lelaki sehebat dia,” celetuk Rudi.
“Mr Rittinondh layak dapat piala the sexiest yet most treacherous man on earth. Hmmm….” Aku berhenti sebentar, pura-pura tak menghiraukan dua pasang mata yang tertancap ke wajahku. “Dia minta dipanggil Ronn saja. Awalnya aku canggung. Tapi lama-lama aku dibuatnya jatuh-bangun….”
“Mia. Get serious.” Tim mengibaskan tangan kanannya. “Banyak kerjaan menunggu.”
“Hey…. Santai dikit, kenapa?” tukasku. “Aku sudah tahu peristiwa kemarin dari Rudi. Kamu tak perlu cerita lagi. Menurutku bersikap tegang seperti itu tidak membantu.” Aku cengengesan, masih bercanda. Semua dokumen titipan Ronn kuletakkan di meja Tim. “Laporannya nanti sore,” ujarku, sembunyi-sembunyi kuamati raut muka bosku. Ia terlihat gusar.
“Thanks,” katanya, matanya hanya melirik dokumen itu. “Ada hal penting yang harus kita putuskan hari ini. Kalau bisa sebelum tengah hari.” Ia menatapku. “Pasti ada sesuatu yang terjadi di Petchaburi. Setelah Naing Naing, aku tak mau ada kejutan juga dari kamu.” Mata coklatnya lekat ke mataku.
Lelaki Kaukasia beranak satu ini menurutku punya firasat kuat. Seperti pepatah Jawa itu, weruh sak durunge winarah, perasaannya tajam, bisa merasakan atau mengetahui hal-hal yang belum terjadi.
Rudi menaruh dua cangkir kopi ke meja, salah satunya untukku. Tim mengikuti, ia baru selesai menyeduh kopinya sendiri. Kami duduk melingkari meja, masing-masing dengan kopi di tangan.
“Jadi kamu sudah cerita ke Mia perkara kemarin?” tanya Tim pada Rudi. Yang ditanya mengangguk. “Situasi kita buruk. Aku sudah bicara lagi dengan Ruth. Ia sangat kecewa. Selama ini manajemen tahu, kegiatanku memindahkan pengungsi ke negara ketiga tidak pernah konflik dengan pekerjaanku. Tapi kali ini semua berantakan. Aku pasti akan mendapat sanksi dan diinvestigasi. Bisa-bisa aku dipecat.” Ia berhenti sebentar. Kami saling memandang.
“Aku hanya bisa menyalahkan diriku sendiri. Seharusnya aku bisa membaca perilaku Tong Rang yang kerap menghilang di luar jam kerja. Aku hanya menduga… awalnya… dia gay. Aku jarang berasumsi dan tidak suka intervensi kehidupan pribadi teman kerjaku; kecuali bila mereka mengeluhkan sesuatu lebih dulu. Pekerjaan kita juga tidak memerlukan profil khusus, tidak ada background check menyeluruh dari manajemen untuk jadi anggota tim penelitian. Aku tahu Tong Rang diadopsi. Sebelum Arianne cerita, secara umum aku sudah tahu kisahnya. Tapi aku sungguh tidak mengira ia menyembunyikan sesuatu yang fatal seperti ini.”
Aku dan Rudi bungkam, memandang Tim dengan santun. Ia tak butuh nasihat kami, hanya butuh didengarkan, ingin mengurangi beban pikiran.
“Sudahlah…. Berkeluh-kesah tidak ada gunanya. Buang-buang waktu saja.” Ia letakkan cangkir ke meja, menyandarkan punggung ke kursi. Tertawa kecil dan melihat Rudi.
“Maaf, liputan Stella dan Aron kubatalkan. Naing Naing sudah kuberi tahu tadi malam. Kuminya dia menjauhi kita. Aku tidak mau ada pihak-pihak yang mengaitkan lembagaku dengan penyerbuan yang dilakukan Tong Rang. Semalam dia sudah meninggalkan Bangkok. Peliputan ini hanya atas dasar kesepakatan, tidak ada kontrak. Seperti yang sejak awal kujelaskan. Kalian yang dapat untung bila liputan kalian laku.”
Rudi mengangguk-angguk.
“Ijinku sudah kucabut. Semua akses untuk memperoleh informasi sudah ditutup. Aku sudah menghubungi Father Sap, JPA, kontakku di imigrasi Thailand, dan semua pihak yang berurusan dengan proses ini.”
“Aku mengerti,” kata Rudi. “Kalau tidak dibatalkan, mungkin aku yang akan mundur. Kali ini aku belum siap menghadapi risikonya.”
“Moga-moga lain kali ada kesempatan lagi,” hiburku, memandang Rudi. “Sekarang Naing Naing di mana?” tanyaku pada Tim.
“Aku tidak tahu. Dia kularang menghubungi kita sampai situasinya jelas. Tidak lewat surel, apalagi telepon. Kalian jangan coba-coba menghubunginya kecuali mau mengundang bahaya….”
Aku dan Rudi mengangguk. Aku belum genap dua minggu mengenal jurnalis peliput konflik di perbatasan Myanmar dengan Thailand, China, dan India itu. Aku tidak punya urusan dengannya, dan bahaya adalah hal yang ingin kuhindari.
“Sekarang urusan proyek penelitian kita. Draft sudah kukirim. Ruth sudah kuberi salinannya. Aku masih nunggu laporan wawancara dari Mia. Foto-foto sudah lengkap. Honormu sudah kulunasi,” Tim melihat Rudi. “Tolong semua foto disimpan ke DVD. Dipisah-pisah sesuai lokasi dan tanggal pemotretan. Kalau bisa besok pagi sudah siap.”
“Baik. Terima kasih,” sahut Rudi.
“Honormu akan kutransfer sore ini.” Ia ganti memandangku. “Kalau laporan wawancaramu bisa siap sore ini, aku lebih senang.”
“Akan kuusahakan.”
“Arianne dan Larry mengundang kita makan siang.”
Aku dan Rudi kembali mengangguk. Kami bertiga kembali diam. Terdengar bunyi bel pintu.
“Housekeeping. Apa mereka tidak baca tanda ‘don’t disturb’ di pintu?” gumamku.
“Tolong bilang suruh kembali nanti sore. Atau tunggu kita panggil seperti biasa,” pinta Tim pada Rudi.
Sambil menarik ke atas celana jeans-nya Rudi berjalan ke pintu. Ia pasti lupa memakai ikat pinggang.
Bersamaan suara handel pintu dibuka, terdengar bunyi dobrakan, disusul teriakan. Tim melompat, kursi yang ia duduki terpental. Sekejap kesadaranku hilang.
“Dial seven! Mia! Dial seven!” pekik Tim, berlari menuju pintu.
Kuraih salah satu ponsel di atas meja entah milik siapa. Kutekan angka 7 dan aku berteriak ‘Help’ sekeras mungkin, berkali-kali.
Suara berdebum dan berderak berbaur raungan dan bentakan jadi satu. Bising sekali, serupa dentuman jantungku. Kudengar seruan Tim, menyuruhku menjauhi pintu. Aku meringkuk di balik sofa, ingin menyelipkan tubuhku di bawah kolongnya yang sempit itu. Jantungku makin keras berdetak, seolah hendak mendobrak tulang-tulang rusukku. Kemudian terdengar letusan senjata api. Aku melolong, menjerit, dan entah apa lagi.
“Braaakkk!”
Suara langkah-langkah kaki berlari menjauh.
“Rudi! Rudi!” teriakan Tim bercampur erangan.
Suara langkah-langkah kaki berlari mendekat.
“Oh. Rudi….”
“Mr. Rosenberg. It’s us. Fat and Hommer. Open the door, please….” Suara lelaki dan gedoran di pintu.
Suara pintu dibuka. Terdengar rintihan Rudi. Jelas suara Rudi. Meskipun ketakutan, aku merasa lega. Ia tidak mati.
“Kakiku…,” erang Rudi, lemah. Kudengar suara laki-laki dan perempuan; yang laki-laki memberi aba-aba untuk mengangkat tubuh Rudi. Lalu langkah-langkah berat beriringan mendekati sofa. Aku masih terperonyok di belakang sofa.
“Mia…?” Suara Tim.
Sambil berpegangan pada punggung sofa aku berdiri. Kakiku gemetaran. Juga seluruh tubuhku. Kulihat darah berlelehan dari kaki kiri Rudi. Wajahnya lesi, matanya terkatup, mulutnya meringis menahan sakit. Ia berhenti mengaduh. Napasnya memburu, dadanya kembang-kempis, dua tangannya mengepal dan gemetar.
“Kakinya tertembak.” Tim mendekatiku, menuntunku duduk. Ada luka gores di lengan dan pipi kanannya.
“Are you okay, Miss?” tanya si perempuan, yang dipanggil Fat, sama sekali tidak sesuai untuk tubuh tinggi-langsing dan kencang itu. Aku mengangguk berulang-ulang. Ia lalu menghampiri Rudi. Katanya sepatunya tak boleh dibuka karena tidak tahu seperti apa lukanya.
Si laki-laki, Hommer, menelpon seseorang, minta van disiapkan sedekat mungkin dengan gerbang belakang. Ia berjongkok di sisi sofa, menghadap Rudi. Dari belakangnya bisa kulihat cetakan otot-otot punggungnya pada kaus polo hitamnya.
Tim menelpon seseorang. Dari lorong terdengar aneka suara bersahutan, derap kaki, disusul ketukan di pintu. Kulihat daun pintunya koyak dan serat-serat kayu pelapisnya mencuat. Mungkin pipi dan lengan Tim tergores serat-serat itu.
Manager dan sekuriti hotel muncul tergopoh-gopoh. Aku terlongong, kebingungan.
*******
February 28th, 2013 at 11:47
Waaah… ini Nyi Dalang telat…


James: DOEA…. dooooorrrr…!
Pampres: ngelanjutin sambil terengah-engah
Inakawa: waaaah… sambil ngunci semua pintu dan jendela juga
Yu Lani: lhaaa…. kalo maunya Mia yang nlusup bukan mata-mata… tp mau Nyi Dalang bedaaaa…
JC: kayaknya Juragan satu ini pingiiiiiiiiin banget Mia jadian sama Ronn **piye carane yo…**
Pak DJ: heheheheee… yg nyasar di tempat saya cuka ayam dan kucing kampung, Pak
February 26th, 2013 at 23:23
Ini cerita, semakin lama, semakin tegang saja…
Hati-hati mbak Endah, jangan sampai ada peluru nyasar…
Salam,
February 26th, 2013 at 20:43
Waduuuhhh ini benar-benar ada adegan “hot”, kena tembak maksudnya.
Ternyata Mia mengaku bahwa memang dia prindang-prinding waktu ketemu dan ngobrol dengan Ronn…
February 26th, 2013 at 15:01
ER : wadoooooooooh……..ada mata2 nlusup kekamar mrk to?????? Rudi sampai kena tembak……..
February 26th, 2013 at 14:42
aduhhhhhhhh, kalau situsasi begini endah pasti nulisnya sambil tiarapppppppp yaaa, peace……..
February 26th, 2013 at 13:50
makin seru….
lanjut….
February 26th, 2013 at 11:40
SATOE, Tembak Ditempat