Pesta Cerai

Wesiati Setyaningsih

 

Sudah lama saya mendengar tentang pesta perceraian di luar negeri. Maka ketika seorang teman menceritakan hal ini di tempat dia tinggal di Brasil, saya tidak terlalu heran. Di Indonesia, perpisahan adalah hal yang harusnya disesali, ditangisi, kalau perlu dikutuk habis-habisan. Itulah kenapa di Indonesia, pesta perceraian itu tidak masuk akal. Bagaimana bisa merayakannya? Melakukannya saja begitu beratnya. Lebih baik hancur lebur daripada harus bercerai.

Lihat saja apa yang terjadi pada mbak Londri. Namanya Sukini, orang memanggilnya mbak Ni, tapi karena Izza memanggilnya mbak Londri, kami semua jadi ikut memanggilnya mbak Londri. Dia membantu menyelesaikan pekerjaan rumah di rumah kami di siang hari.

Ketika awal membantu di rumah kami, dia tiba-tiba sudah bermasalah dengan suaminya. Pagi-pagi ketika masih bekerja di keluarga lain, suaminya datang menjemput dan meminta ijin menikah lagi. Seorang perempuan sedang hamil karena hasil perbuatannya menuntut dinikahi. Bukan hanya marah pada suami, mbak Londri juga marah habis-habisan pada perempuan itu. Dia tumpahkan amarahnya dengan curhat pada saya dan ibu saya.

Semua kata-katanya menjelek-jelekkan perempuan itu sebagai pelacur, padahal perempuan itu adalah pembantu rumah tangga. Dia lupa bahwa selama ini suaminya memang suka main perempuan. Lelaki itu bahkan pernah terkena penyakit kelamin karena gemar berkencan dengan pelacur. Dari sejarah pernikahannya sendiri, mbak Londri dinikahi setelah dia menceraikan istri pertamanya yang minta cerai karena sering dipukul. Selama menikah dengan mbak Londri, dia juga masih sering memukul. Belum lagi dia juga suka membentak mbak Londri dan tidak memberi nafkah sama sekali. Kalau dia punya uang dari kerjanya yang serabutan, dia pakai untuk mabuk-mabukan.

Kalau mau mengupas, sebenarnya sudah tidak ada untungnya mbak Londri mempertahankan pernikahannya. Tapi herannya, kalau kami menyarankan bercerai, dia malah bertahan. Dia menggunakan komentar tetangga-tetangganya yang mengatakan, “yo kamu rugi kalau kamu yang mengajukan cerai. Nanti kamu yang ragad (keluar biaya). Belum lagi nanti kamu tidak dapat nafkah.”

Saya tidak habis pikir. Kalau dari pertimbangan saya, lebih baik keluar biaya yang penting bisa keluar dari situasi yang menyakitkan seperti itu. Kalau alasannya tidak dapat nafkah, bukankah selama ini juga sudah tidak dinafkahi dan dia mampu menafkahi dirinya sendiri? Cuma, apa mau dikata. Kami tidak bisa mempengaruhi jalan pikiran orang lain tanpa seijin dia sendiri.

Waktu berjalan. Tuhan sebenarnya sedang menyelamatkan mbak Londri ketika malah suaminya yang menuntut cerai. Sejak menikah lagi dia memang ingin sekali bercerai. Dia meneror mbak Londri, tapi mbak Londri tidak berani apa-apa. Mbak Londri pindah kost membawa anak lelaki tunggalnya tapi tidak berani menggugat cerai.

Entah kenapa ketika suaminya menggugat cerai, mbak Londri tetap saja marah, sakit hati dan berharap suaminya kembali padanya. Kami, saya dan ibu saya, sudah selalu menguatkan dia bahwa selama ini dia juga sudah seperti janda yang hidup sendiri. Dia menghidupi dirinya sendiri dan anaknya, tanpa nafkah dan perhatian suami, belum lagi tiap kali dia disakiti dengan kata-kata yang menyakitkan. Harusnya bersyukur dengan situasi ini. Kadang-kadang dia mulai menyadari, tapi besoknya ketika datang, dia bercerita sambil marah-marah lagi.

Proses cerai berjalan, suaminya berjanji memberi uang melahirkan sebesar dua juta dan nafkah per bulan lima ratus ribu. Saya agak ragu janji itu bisa dipenuhi karena selama ini saja mbak Londri tidak mampu menuntut suaminya memberikan nafkah. Apalagi kalau mereka sudah bercerai, pasti akan dengan mudahnya suaminya melarikan diri dari tanggung jawab. Nyatanya suaminya membayar satu juta, tapi tidak membayarkan uang bulanannya.

Akhirnya surat cerai terbit setelah proses tiga kali sidang yang singkat dan terkesan buru-buru, karena seperti kata mbak Londri, “pripun nggih (gimana ya), sehari itu bisa ada 60 orang yang sidang. Mana bisa pak hakim bicara panjang lebar. Padahal saya maunya mengungkapkan isi hati saya.”

Dengan hati sedih dia mengambil surat di pengadilan agama. Namun ternyata waktu mengambil surat cerai itupun banyak sekali orang yang punya tujuan sama dengan dia. Dari yang masih sangat muda, menurut mbak Londri, “sak mbakyune mbak Dila niku” (kira-kira lebih tua sedikit dari Dila, anak saya yang kelas dua SMA), sampai yang sudah paruh baya. Dia menggumam heran, “buat apa ya sudah tua begitu kok malah cerai?”

Kata mbak Londri, sang istri yang juga sudah separuh baya yang mengajukan cerai. Saya bilang, “yah mungkin mumpung masih sempat, dia pengen bebas, to. Daripada seumur hidup ngurusin orang yang nyebelin.” Mbak Londri tertawa.

Setelah surat cerai di tangan, sekarang keluhan mbak Londri ganti lagi. Kata ibu saya yang tiap hari sempat ngobrol dengan dia, dia sering bilang, “hidup kok sengsara begini ya bu?”

Oleh ibu saya disanggah, “Sengsara gimana to? Wong sudah cerai dari suami yang kaya gitu kan itu harusnya bersyukur. Kamu itu diselamatkan. Lagian wong ya badan sehat, bisa kerja, dikasi anak sebagai amanah, itu kan berkah. Disyukuri. Jangan liat sengsaranya. Kalo gitu caranya enggak ada syukurnya lagi nanti dalam hidup.”

Kalau sudah dibegitukan ibu saya, biasanya dia menyadari dan berkata, “inggih nggih bu.. Wong yo sehat, duwe duit dewe.”

“Lha yo,” kata ibu saya, “wong yo punya celengan tanah segala.”

Diam-diam dia sebenarnya punya tanah yang dia beli dari hasil keringatnya. Saat proses cerai tanah ini sempat diminta suaminya untuk jadi gono gini, tapi akhirnya mbak Londri berhasil mempertahankannya.

Apa yang dilakukan mbak Londri ini mungkin mewakili pandangan banyak wanita Indonesia : predikat janda lebih mengerikan daripada disakiti begitu rupa. Tapi apa sebenarnya penjabaran kata ‘sakit’ itu? Apakah sama antara kata ‘sakit’ menurut saya dan menurut dia? Jangan-jangan kata sakit hati menurut dia berbeda dengan apa yang saya pahami.

***

Tentang pesta perceraian tadi, sepertinya itu sebuah cara yang realistis. Cerai ya cerai. Sudah begitu saja, tanpa ketakutan apa-apa, tanpa emosi apa-apa. Tidak cocok ya berpisah. Untuk apa bertahan tapi saling menyakiti? Kenapa takut diomongin orang yang Cuma komentar tadi tidak paham? Entah di luar negeri ada juga orang yang suka menghakimi seperti di Indonesia atau tidak, saya tidak tahu situasi budayanya. Tapi di Indonesia, semua orang seolah paling tahu kehidupan itu seperti apa. Jadi ketika ada orang yang berniat cerai, semua orang mengadili.

Yang jelas perayaan cerai dimaksudkan untuk mengumumkan kepada para teman dn relasi bahwa mereka sudah bercerai. Jadi apapun yang terjadi pada mereka berdua, tidak perlu disangkutpautkan lagi.

Menurut cerita teman saya tadi, pengundang pesta cerai itu adalah dua orang yang sudah tidak muda lagi. Dalam pesta mereka akan datang membawa pasangan masing-masing yang selama ini sudah tinggal bersama.

Memang kehidupan orang asing, meski sudah paruh baya, bisa saja mereka hidup bersama tanpa nikah. Hal yang sangat tabu untuk di Indonesia. Di sini, lebih baik beristri banyak dan tersebar di banyak tempat asalkan menikah meski itu siri sekalipun. Itu tetap lebih baik daripada orang yang hidup bersama tanpa nikah meski mereka menganut komitmen monogami sekalipun. Agak rancu memang.

Di Indonesia, tipuan, kebohongan dan kemunafikan itu tetap jauh lebih indah. Sebagaimana bahasanya yang banyak menggunakan ungkapan-ungkapan eufimisme yang memperhalus, kehidupan juga seperti itu. Semua harus tampak halus dan indah sehancur apapun di dalamnya.

pesta-cerai

Apa yang terjadi dengan pesta cerai itu sebenarnya adalah, ketika kesadaran mulai muncul, orang sudah memandang semua dari sudut obyektif. Memang cerai, ya kenapa mesti ditutup-tutupi? Orang lain yang mengetahui ada pasangan yang cerai harusnya tidak usah berkomentar apa-apa karena mereka bukan pelaku yang mengalami sendiri. Tidak adil berkomentar atas hal yang tidak mereka ketahui dengan persis.

Jadi pesta perceraian? Jangan-jangan memang seharusnya dirayakan.

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

17 Comments to "Pesta Cerai"

  1. Mega Vristian  4 March, 2013 at 10:06

    Menyukai tulisan ini sekaligus komentar-komentarnya. Salam hangat.

  2. EA.Inakawa  2 March, 2013 at 08:58

    ogah ach main main kawin cerai………mending kawin benaran aja yaaa, salam sejuk

  3. Hennie Triana Oberst  28 February, 2013 at 23:01

    Wesiati, mereka merayakan kebebasan mungkin ya. Terima kasih tulisannya, Wes.
    Kalau bercerai itu dari yang aku lihat di sekelilingku, semua akan jadi korban, baik suami istri dan anak-anak mereka. Tapi kalau sudah tidak cocok lagi mau bagaimana, mempertahankan hidup bersama seumur hidup juga bukan jalan yang terbaik.

    Di sini banyak juga pasangan yang sudah tidak cocok memutuskan untuk berpisah walaupun mereka tidak resmi cerai dengan surat. Masing-masing hidup dengan jalan sendiri, tetapi kebutuhan materi tetap dipenuhi baik kebutuhan istri maupun anak.
    Aku lebih setuju dengan pilihan ini daripada orang yang poligami seperti banyak di Indonesia. Karena di situasi mereka, para istri tidak memiliki kebebasan untuk kemungkinan memiliki pasangan baru.

  4. Dj. 813  28 February, 2013 at 19:09

    Mbak Weeees…
    Cerita yang sangat menarik dan memang harus hati-hati memberi komentar.
    Dj. sangat setuju dengan komentar ibu Matahari.
    Maaf kalau Dj. bilang, banyak kaum ibu di Indonesia, jga bahkan kaum adamnya, yang hidup seperti katak dalam tempurung. Selalu menganggap lingkungannya yang paling benar dan tidak lihat, bahwa diluar tempurung, juga
    ada yang lebih indah.
    Selalu membanggakan, bahwa kehidupan suami istri di Indonesia, yang paling benar.
    Apalagi kalau sudah dibumbui dengan agama. Sehingga banyak kaum wanita yang direndahkan.
    Di madu dan anehnya ya mau saja, mungkin karena tidak ada jalan lain dan ketergantungan ekonomi.
    Seperti ibu Matahari tuliskan, banyak masyaralat Eropa yang hidup bersama tanpa menikah, yang mana
    jelas dianggap haram oleh agama. tapi berpoligami halal hukumnya. Itu sangat aneh.
    Ini ( menurut Dj. , maaf kalau salah ), karena banyak manusia yang “hanya” beragama yang memegang doktrin, tapi tidak ber TUHAN.
    Coba kita bayangkan, kapan itu doktrin dibuat, bagaimana keadaan mannusia saat itu dan dimana…???
    Katakan tahun 400 SM ( sesudah Mahesi ), apa kita bisa bayangkan,bagaimana manusia hidup saat itu.
    Olehnya mereka jelas memerlukan doktrin tersebut. Dan sekarang kita hidupß di tahun 2012, tapi masih memegang doktrin tersebut, tanpa berubah sama sakli.
    Dulu, belum ada pesawat, mobil,sepedapun belum ada, yang ada hanya onta dan keledai.
    Bahkan di tahun 1400 an, Eropa masih sering merasa diri paling benar, olehnya ada perang salb dan sebagainya. Nah itu dulu bung. sekarang 2013 dan manusia sudah lebih cerdas.
    Masakan kita akan hidup dengan memusuhi yang tidak seiman dengan kita dan menganiaya hak wanita seperti jaman purba…???
    Wanita sudah ada yang jadi pilot, ada yang jadi president, ada macam-macam keahlian yang mereka raih.
    Lha kok di Indonesia, masih mau di nr. 2, 3, atau 4 kan….???
    Hi… !!! where we are…??? Wo sind wir denn…???
    Marilah kita berpikir dewasa, jangan mau di kungkum oleh manusia yang hanya karena napsu berahi, tapi mengatas namakan agama, demi menutupi kesalahannya.

    Ayo, kaum hawa, jangan mau di kecilkan….!!!

    Salam Sejahtera dari Mainz.

  5. matahari  28 February, 2013 at 18:09

    Sebelum saya berkomentar..saya harus membaca tulisan ini beberapa kali karana saya tidak mau salah berkomentar…Mohon maaf kalau saya toch akhirnya berkomentar salah…mungkin karena salah baca dan salah mengerti…Kesimpulan saya…suami mbak Laundry ternyata sebelum dengan mbak Laundry telah pernah juga menikah…artinya”bakat terpendam”suami telah diketahui sebelum menikah dengan Mbak Laundry dan sesudah dengan mbak Laundry kembali minta jin nikah karena selingkungan hamil.( bisa jadi selingkuhan lebih dari satu tapi tidak hamil???jadi untuk suami mbak Laundry…saya sebut saja Pak MW alias Washing Machine…karena hamil..harus tanggung jawab…)

    Mbak Laundry sepertinya tidak mau dicerai karena lebih memikirkan rasa malu dicerai…atau karena hasutan tetangga megenai biaya yang akan dia keluarkan kalau dia yang menuntut cerai dan juga mbak Laundrynya sendiri masih ingin bertahan…(Entah kenapa ketika suaminya menggugat cerai, mbak Londri tetap saja marah, sakit hati dan berharap suaminya kembali padanya)

    artinya ada sesuatu didiri MR WM yang membuat mbak Laundry masih mau bertahan…apa itu?We all don’t know karena kita tidak melihat kehidupan mereka 24 hours/day…kita hanya melihat dari jauh..mendengar curhat beliau yang hanya versi satu orang pula..Apa saya salah baca atau salah mengerti tapi dialinea 9…sepertinya mbak Laundry hamil lagi padahal dalam situasi gontok2an dengn Mr MW…artinya? You all know….tidak perlu dibahas disini…atau yang dimaksud..Mr WM memberikan uang melahirkan 2 juta untuk kehamilan anak pertama mereka dulu ?…yang juga disebut sebut ditulisan atas? Atau mereka akhirnya punya 2 anak?
    Mbak Laundry ini mungkin type wanita yang apapun kejadian seburuk apapun jangan sampai cerai karena mungkin alasan malu…kelihatan dari komentarnya terhadap orang orang yang juga ngajukan perceraian…(Dia menggumam heran, “buat apa ya sudah tua begitu kok malah cerai?”)

    Berikut saya kutip Aline dalam tulisan diatas:
    “Memang kehidupan orang asing, meski sudah paruh baya, bisa saja mereka hidup bersama tanpa nikah. Hal yang sangat tabu untuk di Indonesia. Di sini, lebih baik beristri banyak dan tersebar di banyak tempat asalkan menikah meski itu siri sekalipun. Itu tetap lebih baik daripada orang yang hidup bersama tanpa nikah meski mereka menganut komitmen monogami sekalipun. Agak rancu memang.”

    Saya fikir kita di Indonesia sering memandang negatif dengan pasangan yang tidak menikah di LN misalnya tapi hidup seatap…karena kita berfikir mereka tidak diberkati di gereja..tidak dinikahkan di KUA…dll (pandangan kita selalu terfokus ke agama dan adat istiadat kita).Pada kenyataan yang saya lihat di LN…ada banyak sekali pasangan hidup bersama tanpa menikah dan pasangan ini sama sama setia.. hidup berbahagia…tidak ada bedanya dengan orang orang yang menikah secara syah…….karena serumah tanpa menikah resmi .. bukan berarti diluaran bebas dengan orang lain….( walau pasti ada yang juga melakukan itu tapi tetap saja namanya selingkuh karena hidup sama tanpa menikah juga perlu surat dari pemerintah..artinya secara pemerintah mereka syah…kalau tidak ada surat surat syah dari pemerintah akan sangat repot kalau dikemudian hari ternyata berpisah…)

    sementara di negara kita..hidup tanpa menikah itu pada umumnya karena telah punya istri syah…artinya suami berselingkuh .suami berbohong ke anak istri….sembunyi sembunyi melakukan …ada juga yang terang terangan tapi istri malu kalau diketahui orang lain)….dan berbohong ke istri dan kita tidak bisa pungkiri bahwa ini juga banyak dilakukan kaum wanita…artinya..selingkuh dan cerai bukan selalu karena dari pihak pria saja..…ada sangat.banyak wanita juga punya selingkuh… mereka menghidupi selingkuhannya…berbohong ke suami dan anak anak…sering kejadian para selingkuhan kurang secara ekonomi ..bahkan masih student dan mencari istri istri yang kurang dihargai suami atau kurang harmonis dalam pernikahan..dirumah istri hidup berpura pura seperti istri setia agar anak dan suami tidak tahu….Mana yang lebih sakit…kita dibohongi atau…kita hidup sama tanpa nikah tapi bahagia dan saling setia?

    . Banyak kaum suami menceraikan istri..bukan karena istri selingkuh…tapi karena istri yang sangat bossy..cerewet…kasar..…istri yang terlalu pro kekeluarganya dan memusuhi keluarga suami…atau istri yang kurang meladeni suami..kurang dandan…istri yang tidak bisa mengatur keuangan…gila shopping…hutang sana sini…dll…

    Alinea diatas foto “james Bond”menembak “lady Marmalade”saya sangat setuju:

    “Di Indonesia, tipuan, kebohongan dan kemunafikan itu tetap jauh lebih indah. Sebagaimana bahasanya yang banyak menggunakan ungkapan-ungkapan eufimisme yang memperhalus, kehidupan juga seperti itu. Semua harus tampak halus dan indah sehancur apapun di dalamnya.”
    Pesta cerai…bisa jadi lebih membuat lega dari pesta pernikahan…karena sewaktu menikah kita hanya berkhayal yang indah indah…ternyata kita menikah dengan seorang monster..atau dengan seorang bandot…atau menikah dengan seorang tante girang…menderita lahir batin….dan hidup tersiksa…ingin lepas tapi tidak bisa…dan ketika terlepas…dengan cerai…kita sangat bahagia….kalau ada baju pengantin yang lebih putih dari warna putih..kita akan kenakan itu karena terlalu lega dan untuk kaum pria yang terlepas dari istri yang judes..kejam…selingkuh…bossy dll juga akan merupakan sebuah kelegaan begitu resmi bercerai… pesan tuxedo dengan warna super super super hitam….lebih gelap dari malam kliwon jam 24.00

  6. J C  28 February, 2013 at 16:53

    Aku sangat menghargai perempuan seperti mbak Londri yang akhirnya berani mengambil sikap! Lepas dari urusan cerai bagaimana, memang masih banyak sekali golongan lelaki yang modelnya kayak ex-suami mbak Londri.

  7. wesiati  28 February, 2013 at 15:55

    mbak Nur : ha mbuh kuwi. hehehe…aku sih pesta apa aja ga pati seneng. mending diteri bancakan gelem. hahahah…

    Jenny : yah, namanya hidup. demikianlah.

    mas Handoko : aku mau bikin pesta menempati rumah baru aja… !! kali habis itu nanti ada baby shower party. hahahaha……

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *