Wisata Banjir

Bambang Priantono

 

Setiap musim hujan, banjir selalu menjadi bahan cerita yang paling populer. Keluhan seputar banjir selalu cetar membahana (kata Syahrini), mulai dari obrolan di alam nyata sampai di aneka status/kicauan di alam maya sana. Banjir membawa makna yang berbeda bagi setiap orang. Entah sebagai gangguan kecil yang menghambat aktivitas keseharian, seperti kalau kita sedang berkendara dan harus melewati daerah berbanjir kemudian kendaraan kita mogok tepat di tengah banjir. Atau juga sebagai bencana besar yang mengakibatkan kita harus mengungsi dan terkadang memakan korban jiwa.

banjir01

Kota Semarang, sebagaimana kota-kota besar lainnya masuk kategori rawan banjir. Terlebih posisi kota bawah (Semarang terbagi dua wilayah, kota atas dan bawah) yang berada di bawah lautan, potensi banjir itu jadi dua, baik dari mampetnya saluran air maupun kiriman dari lautan alias rob. Saking seringnya banjir, sampai-sampai kota Semarang populer dalam lagu Jangkrik Genggong yang dilantunkan Waljinah. Bait Semarang Kaline Banjir sudah begitu melekat, bahkan kalau saya bertemu kenalan baru dan menyebut saya berdomisili di Semarang, sontak rekan tadi akan berkata : Oo, Semarang kaline banjir ya? Kalau sudah begitu saya cuma mesem ngguyu.

Yang saya bayangkan, Semarang kan tidak punya sungai besar. Saya ingatnya malah ada Banjir Kanal Barat dan Banjir Kanal Timur. Mungkin saya perlu blusukan lebih dalam lagi agar bisa hapal nama-nama kali di Kota Semarang yang secara plesetan kadang disebut kota Katropolitan ini. Soal banjir, memang Semarang juga termasuk dalam kawasan itu. Beberapa titik yang bila hujan deras sekali pasti banjir juga lumayan banyak, contoh saja Kawasan Simpang Lima, Kota Lama, Bubakan, sampai kawasan Jalan Majapahit. Pendeknya sering merata, khususnya kawasan kota bawah.

banjir03

Sabtu ini kebetulan saya ketamuan sobat yang sudah seperti saudara sendiri. Saat menjemput dia pukul 20.00 WIB hari Jumat (22 Februari), hujan turun dengan sangat lebat. Saking lebatnya sampai kami harus berteduh di Halte SMA 5. Tapi baru beberapa saat duduk di sana, petugas halte menyuruh kami pergi, sementara payung hanya satu dan itu kecil sekali ukurannya. Kami dengan berhujan-hujanpun berteduh di warung nasi goreng di depan Paragon sampai kira-kira pukul 23.00 WIB. Hujan begitu deras, bonus angin. Saya sampai berpikir…apa ini dampak Cap Go Meh? Kata sobat tadi malah Cap Je Mek…hahahahaha. Yang jelas, kami baru sampai ke kost-kostan menjelang tengah malam.

Sebenarnya ada rencana pergi bersama komunitas blusukan. Cuma berhubung kondisi sedang hujan dan menurut informasi beberapa titik di Kota Lama banjir, maka acara diundur pada minggu berikutnya. Sekitar pukul 8.00 WIB, saya dan sobat keluar rumah untuk menuju kawasan Pecinan. Tujuan awalnya adalah Klenteng Tay Kak Sie yang lebih dikenal dengan Klenteng Gang Lombok. Bagian depan Klenteng dipenuhi lumpur, mungkin semalam banjir, dan bagian dalam Klentengpun sedang dibersihkan. Kawasan ini sih tidak heran kalau banjir, karena sungai kecil di depannya sangat dangkal dan kotor. Kami tidak lama berada di situ, dan kemudian melanjutkan lagi perjalanan ke arah Kota Lama.

Kawasan Jalan Pekojan juga terlihat becek, suasana sangat ramai karena banyak aktivitas meski cuaca nampak mendung. Tapi perjalanan sebenarnya justru ketika kami berjalan ke arah Kota Lama. Perempatan dari Pekojan sudah menggambarkan suasana itu. Ada truk mogok dan sedang diperbaiki, kemudian saya dan sobat menyaksikan banyaknya sepeda motor yang mogok plus banyak tukang servis motor dadakan yang memanfaatkan momen itu. Suasananya sangat dramatis, dan tentunya tidak lupa jepret-jepret suasana tersebut.

Makin ke arah Gereja Blenduk, genangan air kian nampak dan benar saja..kawasan Kota Lama banjir hingga sebatas betis. Banyak sekali sepeda motor yang mogok dan diperbaiki di depan gedung Marba. Sementara saya lihat juga genangan air tampak tinggi di dekat Polres Semarang Utara, belakang gedung Spiegel. Suasananya sangat dramatis, karena banyak sekali motor yang mogok. Siwil Art, tempat kenalan saya juga tutup, mungkin karena kebanjiran sehingga tidak bisa datang.

banjir02

Setelah beberapa saat di situ, dan melihat suasana Kota Lama yang banjir, kami pergi ke arah Bubakan. Ternyata di Bubakanpun banjirnya jauh lebih parah. Bahkan di Bundaran Bubakan yang dulunya jadi terminal, banjir sampai mencapai batas lutut dan di titik tertentu nyaris mendekati pantat. Kami melihat banyak orang yang kerepotan, dari yang motornya mogok, sampai anak-anak sekolah yang melewati genangan air dan sebagian naik becak agar tidak kena air. Kami juga berjalan melintasi banjir dan jadilah wisata banjir Semarang buat teman saya. Memang cuacanya sedang tidak bersahabat, tidak menentu dan sering hujan angin.

banjir04

Genangan air bercampur oli kami rasakan saat berjalan menuju Jalan Ronggowarsito, kemungkinan besar dari motor-motor yang mogok tadi. Licin sekali, dan kamipun harus melewati sampah-sampah yang menggenang, termasuk bangkai belalang (masih untung bukan tikus atau ular). Dan kalau dipikir-pikir memang lucu juga pengalaman kali ini. Sobat saya ini datang ke Semarang mau refreshing, eh malah harus ‘menikmati’ wisata banjir yang sedemikian rupa. Alhamdulillah masih belum mencapai 3 meter. Wong banjir 10 cm saja sudah menyusahkan, bagaimana kalau sampai 1 meter ke atas? Apa harus Semarang kaline banjir ini terus dikumandangkan? Memang mengatasi masalah banjir ini bak mengurai benang kusut. Sulit, tapi harus terus diusahakan. Tak hanya melibatkan pemerintah setempat, namun juga kesadaran warganya sendiri dalam menjaga lingkungannya agar tidak kebanjiran.

Seru, tapi juga bikin gatal-gatal dan prihatin.

 

Bambang Priantono

24 Februari 2013

 

About Bambang Priantono

kerA ngalaM tulen (Arek Malang) yang sangat mencintai Indonesia. Jebolan Universitas Airlangga Surabaya. Kecintaannya akan pendidika dan anak-anak membawanya sekarang berkarya di Sekolah Terpadu Pahoa, Tangerang. Artikel-artikelnya unik dan sebagian dalam bahasa Inggris, dengan alasan khusus, supaya lebih bergaung di dunia internasional melalui blognya dan BALTYRA.com.

My Facebook Arsip Artikel

14 Comments to "Wisata Banjir"

  1. imelda palmas  2 March, 2013 at 04:11

    Teman ku org malaysia yg sdh WNI bilang bedanya Indonesia dan Malaysia adalah: orang indonesia tak tahu piara barang/bangunan sejarah, Malaysia, barang2 ex penjajahan masih tetap di rawat dg baik…Begitu pula dg negara2 di Amerika Selatan sisa penjajahan tetap apik dan bagus. Padahal negara berkembang sama seperti Indonesia. Mungkin gedung2 kuno itu dpt di miliki oleh swasta akan lebih dijaga dg baik…mungkin ?

  2. Jl  1 March, 2013 at 08:59

    Imelda: itulah bedanya indonesia dan tetangga sebelah , kalo dirawat world herritage mestinya gak cuma malaka dan penang

  3. Jl  1 March, 2013 at 08:56

    Kok ora ketemu aku mas Mbang secara hari itu aku nembus banjir di depan poltabes dan jalan kaki dr mberok sampe bandarharjo

  4. Hennie Triana Oberst  1 March, 2013 at 03:26

    Anak-anak seneng nih kalau banjir begini, bisa berenang walaupun di air yang kotor.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.