Dari Dapur Hingga ke Pagelaran Seni Hong Kong

Mega Vristian

 

Mengintip Kiprah BMI Hong Kong

Minggu 24 Februari kemarin, saya terpaksa bangun lebih awal dari minggu-minggu sebelumnya. Disebabkan akan ikut dua sahabat saya, Ririe dan Anggi, untuk menghadiri acara Chinese New Year Ethnic Minorities Show, yang diadakan oleh Tsing Ching Assosiation – Hong Kong, Support Service Center for Ethnic Minorities, Yuen Long Town, Hong Kong, Bertempat di Tuen Mun. Kebetulan pihak penyelenggara menyediakan Bis, antar jemput bagi peserta dan pendukungnya. Sedihnya kami harus sudah siap jam 8.30 di Causway Bay. Dari tempat tinggal saya di Mong Kok west, kurang lebih berjarak tempuh tiga puluh menit, dengan Shiupa atau mini Bis,  lalu dilanjut dengan MTR(Mass Transit Railway).

kiprah-bmi (1)

Yang jadi masalah jika harus berangkat pagi-pagi, setiap libur saya dan beberapa teman mesti menyelesaikan tanggung jawab kerja dulu. Kalau saya mengurus cucian dan merapikan rumah. Sedang teman lain menyiapkan sarapan buat majikannyanya. Bahkan bagi kawan-kawan yang memiliki bos manula ( menjaga nenek/kakek), mereka biasanya menyediakan makanan untuk makan siang, ada juga yang harus membuat Sup ala Hong Kong, yang direbus hingga tiga jam. Jadi kebayang mesti bangun pagi sekali.

Sebenarnnya semua itu dilakukan dari kesadaran kami masing-masing. Pemerintah Hong Kong, tidak ada peraturan hukum yang mengatur jika libur harus menyelesaikan sebagian pekerjaan dulu peraturan yang ada bahwa semua Buruh Migran berhak mendapatkan libur 4 kali dalam sebulan.

Keluar dari setasiun kereta api atau MTR, Causway Bay, saya berjalan cepet menelusuri ruas jalan Kingston Street, tempat mangkalnya Bis jemputan. Ada rasa kawatir ketinggalan, mengingat saya tidak tau di mana tempat akan diadakannya acara, kali pertama ini saya akan menghadiri Ethnic Minoritas Show. Walau sebenarnya sudah sering diadakan.

Alhamdulilah, ternyata hanya beberapa yang sudah datang, mereka para penari dan anggota kelompok seni/organisasi dari kalangan buruh migrant Indonesia ( BMI), yang mewakili Indonesia dalam pentas seni dan budaya ( pagelaran tari dan pameran kebudayaan). Acara ini juga dikuti oleh Negara, Philipina, Thailand, Neval, Srilangka  dan India.

Hampir semua yang datang, membawa banyak barang, perlengkapan pentas tentunya. Sebagian sudah berdandan cantik siap manggung,  yang lainnya berdandan separuh jadi, dalam arti sudah memakai baju tari tapi belum merias wajah, begitu sebaliknya. Ririe dan Anggi, datang bersamaan, bawaan mereka pun seperti orang mau pindah rumah. Dua koper berisi baju-baju tari dan alat rias, ini untuk pentas beberapa tarian.Perlu diketahu baju-baju tarian itu dari uang mereka sendiri atau uang iuran kas. Satu tas besar besar  berisi makanan, nasi beserta lauknya, Ririe yang memasak.

Bar subuh aku ora turu maneh, langsung masak, agar bau masakan tidak ditiup angin ke kamar majikan, uap masakan kuusir keluar jendela dengan kipas” katanya sambil tertawa lalu menyodorkan tas berisi masakan ke saya.

“ Masih pagi sudah bikin keributan di dapur, bosmu apa gak marah, Rie?,” tanya saya sambil mengikutinya naik Bis.

Oralah! Bos wis paham, akukan berprofesi ganda sebagai babu lan artis.
kiprah-bmi (2)

Saya dan teman-teman didalam Bis, tertawa mendengar jawabannya. Ririe, BMI  asal Jawa Tengah, ini aktif menggeluti bidang seni tari dan menulis, karyanya sudah banyak dibukukan.

Cerita Anggi, BMI asal Kepanjen, Malang, Jawa Timur, juga menarik untuk disimak. Setiap sebelum  liburan dia mengurus tiga bosnya yang sudah berusia manula, berusia 83 hingga 102 tahun. Menyiapkan sarapan dan menemani olah raga tiga bosnya itu tentu melakukan olah raga yang berbeda Anggi, dengan sabar gentian menemami mereka.

Anggi boleh dibilang seniwati ( menggeluti bidang tari) senior di kalangan BMI, hoby berkeseniaanya sudah dimiliki jauh sebelum menjadi BMI. Dia pernah menjadi ketua Sanggar Budaya dan sekarang aktif menghidupkan kelompok seni dan sastra Sekar Bumi.

Bis kemudian meninggalkan Causway Bay, menuju Tuen Mun. Lumayan jauh juga sekitar 45 menit, jika jalanan tidak macet. Keadaan di dalam Bis, sangat ramai, mereka berdandan sambil bersenda gurau, ada juga yang bernyanyi. Bis nyaris penuh, itu pun disedikana 2 Bis. Mereka yang ikut lumayan banyak, perwakilan dari dari Organisasi/komunitas seni BMI: Sekar Bumi, Golpindo ( Golongan Olah Raga Putri Indonesia), Singo Umboro, Puspita Jaipong, Bajing Loncat Meifo dan Sanggar Budaya.

kiprah-bmi (3)

Sampai di Tuen Mun, panggung terbuka pementasan  megah berhias indah dengan nuansa perayaan Chinese New Year. Dany, panitya acara dari perwakilan Indonesia dan Mr Johnny, dari perwakilan pihak penyelenggara Hong Kong, menyambut dengan ramah kedatangan kami. Acara ternyata sudah dimulai, terlihat beberapa sambutan pidato yang dilakukan oleh warga Hong Kong. Penonton pun lumayan  banyak, walau belum memenuhi kursi yang disediakan. Sementara teman-teman melanjutkan persiapan pementasan, saya mengambil posisi duduk yang paling strategis untuk melakukan pemotretan.
kiprah-bmi (4)

Acara pementasan tari dibuka oleh tarian daerah asal Philipina berjudul “ Nesude”  kemudian dilanjut tarian dari Golpindo – Indonesia. Begitu bergantian pementasan seni tari dari Indonesia, India, Philipina, Srilangka, Neval  dan Thailan.

Lengkapnya ini nama organisasi/ komunitas, beserta nama judul tarian dari kalangan buruh migrant Indonesia di Hong Kong :

Sekar Bumi : Incling, Rampak, Rereogan.

kiprah-bmi (5)
Singo Umboro: Jatilan, Jaranan, Warok, Rumingkang.

kiprah-bmi (6)
Kelompok Bajing Loncat : Bajing Loncat,  Girang-Girang, Mawar Biru, Cinta tak terpisahkan.

Puspita Jaipong  : Banda urang, Goyang Karawang, daun Pulus

kiprah-bmi (7)
Golpindo  : Tari tradisional yang ditampilkan Poco-Poco, dan Goyang Karawang,

 

Sanggar Budaya  : Tari Bali.

kiprah-bmi (8)
U Get Dancer ;“ Cindil” Paduan seni tari Bali dan Jawa.

kiprah-bmi (9)
Hari beranjak semakin siang, kursi yang tersedia penuh,  tidak mampu memuat penonton yang kian berdatangan. Sambutan masyarakat Hong Kong terhadap acara tsb sangat baik, terlebih pada pementasan tari-tarian yang berasal dari Indonesia.

Diantara kesibukan saya mengaksikan pementasan dan melakukan dokumentasi acara. Saya sempat mendengar obralan seorang perempuan seumuran dengan saya sedang membujuk ayahnya yang kira-kira berusia delapan puluhan, yang terlihat asik menonton.

“ Papa kita pulang dulu ya, ini sudah lewat jam makan siang,” ucapnya dalam bahasa Cantonese tentunya.

“ Ogah! Masih ingin nonton! “

“ Tapi kita belum makan”

“ Setiap hari kapan saja kita bisa makan, tapi untuk nonton pertunjukkan ini belum tau kapan ada lagi, aku suka tarian Indonesia”

Perempuan itu gagal membujuk ayahnya, pulang. Dalam hati saya tiba-tiba merasa sangat terharu bangga, tarian Indonesia di sukai masyarakat Hong Kong. Selain mementaskan aneka tarian, dari Indonesia juga melakukan pagelaran busana tradisoanal Kemanten jawa dan mengadakan pameran kebudayaan yang diwakili oleh Golpindo dalam tenda yang disediakan oleh panitia.

kiprah-bmi (10)

Hingga pihak penyelenggara acara, mengumumkan bahwa acara sudah selesai, ternyata penonton masih belum beranjak pergi. Mereka malah ada yang mendatangi peserta dari Indonesia, menanyakan tentang kapan latihan menari dan baju-baju tari siapa yang membeli. Ketika saya dan rombongan menuju Bis, yang siap mengantar kami kembali ke Causwa Bay, para penonton mengucapkan selamat jalan. Lagi-lagi saya merasa terharu.

kiprah-bmi (11)

Dalam Bis menuju pulang, ada yang langsung tidur,ada yang riang bernyanyi-nyanyi, ada yang sibuk membersihkan sisa make up di wajahnya dan ada yang mengeluh, akan segera kembali ke dapur, setiba di rumah majikan. Sebab tugas kerja mencuci piring dan membersihkan dapur yang super berantakan akibat digunakan masak oleh sang majikan,  untuk makan malamnya. ketika ditinggal libur oleh pekerjanya, sudah menanti.Begitu pula dengan saya kembali ke rumah, keadaan rumah seperti diterjang badai. Ampun berantakan banget. Tapi meski capek seharian, libur digunakan untuk melakukan kegiatan, para buruh migrant Indonesia di Hong Kong, merasa lega, setidaknya sudah ikut berusaha mengharumkan nama Indonesia.

kiprah-bmi (12)
Catatan : foto koleksi pribadi, dokumen Sekar Bumi dan Dokumen Golpindo.(*)

 

 

14 Comments to "Dari Dapur Hingga ke Pagelaran Seni Hong Kong"

  1. Handoko Widagdo  5 March, 2013 at 06:56

    Mega dan BMI ini memang kelompok yang luar biasa.

  2. Dewi Aichi  5 March, 2013 at 02:15

    sama seperti Uchix, mengagumkan, boleh dibanggakan…bravooooo mba Mega..

  3. uchix  4 March, 2013 at 23:15

    Luar biasa, like this

  4. Hennie Triana Oberst  4 March, 2013 at 23:03

    Suasana kebersamaan seperti ini yang jadi penghibur dikala jauh dari sanak keluarga nun jauh di tanah air sana ya, mbak Mega. Hebat memang BMI Hong Kong, walaupun sibuk masih bisa membagi waktu untuk hal positiv seperti ini.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.