Kisah Suatu Masa (2): Dan Pergilah Kami ke Kali

Anastasia Yuliantari

 

Alarm berbunyi tak lama setelah pagi menjelang. Suara kokok ayam masih terdengar bersahut-sahutan. Mungkin mereka ayam-ayam yang kesiangan, atau kami yang bangun terlalu pagi, yang jelas mata masih terasa berat harus terjaga sedini ini. Bagi teman-teman yang muslim dan muslimah seperti dua temanku ini, pasti mereka bangun untuk sholat subuh. Di sekeliling kami masih terdengar lantunan ayat-ayat suci dari surau. Di kampung ini terdapat lebih dari satu surau, kami akhirnya akan tahu setelah program penyuluhan dilakukan beberapa minggu setelahnya.

Dwi dan Sekar segera bangun dan melipat selimut yang mereka pakai. Aku masih berbaring-baring sebentar karena menunggu mereka selesai sholat. Rumah tempat kos kami masih sepi, hanya suara keretekan api yang membakar kayu terdengar dari dapur. Si ibu pasti telah memasak untuk sarapan kami bertujuh. Suaminya yang tak jelas benar pekerjaannya, bila tak mau dibilang pengangguran, belum bangun. Demikian juga dua orang anaknya yang masih belum bersekolah.

Sepertinya kantuk akan kembali datang, maka aku segera bangun dan menyusul mereka ke dapur, tempat sebuah balai-balai diletakkan di tengahnya. Di atas balai-balai itu kedua temanku sedang bercakap dengan pemilik rumah.

“Jalan saja terus, dik sampai ke dekat tempat tandon air.” Terang perempuan berwajah cantik itu sambil menunjukkan arah, tangannya yang memegang pisau bergerak-gerak agak berbahaya sehingga kedua temanku berdiri agak menjauh.

“Oh, sungainya dekat tandon air itu?” Sekar menegaskan.

“Ya, lewat di sebelahnya, terus turun. Pakai jalan setapak.” Lanjutnya.

Kelihatannya gampang. Maka kami bergegas mengambil alat mandi masing-masing untuk segera pergi ke kali.

Perkiraan bahwa sungai hanya beberapa ratus meter ternyata memang benar, tapi beberapa ratus meter yang panjang. Kami sampai meragukan mata kami sendiri tentang tandon air yang menjadi penunjuk arah. Jangan-jangan sudah terlewati tanpa sengaja, atau bentuknya kecil saja, sebangsa bak di kamar mandi sehingga tak terlihat dari jalan. Setelah keraguan semakin membesar maka terpaksa kami bertanya pada seorang lelaki yang berdiri sambil berselubung kain sarung di depan rumahnya.

“Di mana letak sungai tempat orang biasa mandi, ya Pak?” Tanya Sekar.

Lelaki itu memandang kami penuh rasa ingin tahu sebelum pandangannya membentur kaos dengan tulisan KKN di dada sebelah kiri.

“Oh, sudah dekat, dik. Nanti akan ada tandon air di kiri jalan, adik lewat saja jalan setapak di sebelahnya, jalan itu menuju sungai.”

Ah, ternyata tandon air itu memang ada, dan jaraknya lumayan jauh dari rumah kos kami.

“Terima kasih, Pak.” Ucap kami bersama-sama.

Di belakang kami terdengar percakapan. Suara perempuan muncul dengan pertanyaan, “Sapa?” Yang dijawab oleh si bapak yang tadi kami tanyai, “Nak-kanak KKN.” Logat maduranya demikian kental.

Jalan setapak menuju sungai ternyata adalah tebing setinggi kurang-lebih 20 meter. Cukup curam di beberapa bagian, dan dibentuk tangga yang pasti licin bila hujan. Kami bertiga yang tak terbiasa melangkah di jalan setapak securam itu berjalan sangat perlahan, merambat dengan berpegangan pada pagar kebun yang terbuat dari pohon singkong dan bambu. Tak lupa doa-doa dirapalkan agar selamat sampai di bawah. Beberapa orang yang berpapasan dengan kami menertawai, tak hanya itu mereka membuat komentar-komentar meledek yang membuat orang-orang yang sudah berada di sungai ikut tertawa. Wah, mungkin tempat ini bukan lingkungan yang terlalu bersahabat buat kami.

Setelah sampai di tepi sungai, hal pertama yang terlintas di benak kami adalah ke mana musti mandi? Pertanyaan yang aneh karena sungai itu panjang mengular dan tentunya di mana pun bisa dipergunakan untuk mandi, tapi masa kami harus mandi bercampur baur dengan dengan lawan jenis, sih? Hal ini lebih parah daripada mandi di bak yang berisi air got kemarin sorenya.

Setelah saling pandang sambil kebingungan karena melihat lelaki dan perempuan santai berendam-rendam sambil sabunan (bersabun), kami memilih untuk duduk-duduk dulu sambil saling mengungkapkan kegelisahan.

Salah seorang perempuan setengah baya yang telah selesai mandi dan membawa cucian baju dalam ember yang dijunjung di kepala mendekat. “Mau mandi, dik?” Tanyanya dengan bahasa Madura. Kami serempak mengiyakan. “Kalau perempuan mandi di sana, dik. Sebelah sini untuk laki-laki.” Tunjuknya beberapa meter di depan kami. “Ke sana juga boleh,” Tangannya menunjuk cerukan sungai yang berbelok ke bawah rumpun bambu, “Tapi tak banyak yang mandi di sana.”

Nah, justru itulah yang kami cari. Tak nyaman rasanya mandi bersama banyak orang. Kan tempat ini bukan tempat sauna dan kami bukan bidadari, jadi masih ada rasa sungkan untuk sembarangan terjun mandi di kali.

Tempat itu pun ternyata tak begitu nyaman, sedikit teraling tapi masih juga bisa terlihat oleh orang-orang yang mandi di bagian lain sungai. Apalagi letaknya malah lebih berdekatan dengan lokasi mandi laki-laki. Otomatis kami kembali mandi basah-basahan alias dengan sarung, walau sekarang nyebur di kali.  Peristiwa yang akan kami ingat untuk hari-hari selanjutnya.

Teman lelaki kami lebih kreatif, mereka mengeksplorasi wilayah kali sampai ke ujug-ujungnya dan membawa kabar gembira. “Mata air di bawah rumpun bambu itu tak pernah dipakai mandi, padahal airnya bersih banget.” Ujar mereka beberapa hari setelahnya.

“Tempatnya juga teraling batu besar.” Kata Budi menjelaskan.

“Kalau ada tempat seperti itu mengapa orang-orang kampung mandi di sungai, bukan di mata air itu saja?”

“Tempatnya agak angker katanya. Mungkin tidak benar-benar angker, tapi karena dikelilingi pepohonan bambu yang lebat dan juga pohon besar lainnya maka orang-orang tidak mau ke sana.” Iwan melontarkan teori dengan antusias.

Akhirnya setiap kali mandi, kami pergi ke mata air itu. Namun jangan dikira tempat itu langsung aman bagi kami. Beberapa orang entah sengaja atau tidak sengaja kemudian berusaha lewat di tempat itu saat kami, para perempuan, sedang mandi. Karena merasa tak akan ada gangguan maka kami terjun saja ke kali tanpa basah-basahan. Tentunya kami merasa sangat terusik bila ada orang yang melintas saat kami sedang mandi. Untuk memecahkan masalah itu, mungkin itulah gunanya jadi mahasiswa, kami selalu pergi ke sungai berkelompok. Perempuan mandi lebih dulu, sementara lelakinya berjaga di balik batu yang juga merupakan jalan setapak terakhir sebelum mata air. Setiap ada orang hendak melintas mereka akan bilang, “Bede nak-kanak KKN mandi.” Ada anak KKN yang sedang mandi. Otomatis si oknum tidak akan melanjutkan perjalanannya.

kali

Apakah tidak takut justru para anak lelaki yag akan mengintip kami? Pernah juga wacana ini kami lontarkan, dan dengan tersinggung mereka menjawab, “ Kita ini saudara, merasa senasib dan sepenanggungan harus berjalan ke sungai ratusan meter dari rumah, masa sih masih tega berbuat tidak senonoh begitu?” Ya, syukurlah karena mereka benar-benar seperti penjaga bagi kami para perempuan selama KKN.

Nah, setelah kami selesai, gantian para lelaki yang mandi. Mereka tak mewajibkan kami menunggu, bahkan ada yang kasihan melihat kami kerepotan harus membawa cucian naik lebih dari 20 meter ke jalan kampung.

Mereka juga memberi saran perkara sabun mandi yang kadang terlepas dari genggaman selama mandi dan kotor terkena tanah di tebing sungai. “Pakai sabun cair saja kayak punyaku, nih.” Ridwan menunjukkan merk sabun cair satu-satunya yang beredar di pasaran saat itu. Hmm, ide yang baik juga. Hanya harganya mahal sekali untuk kantong mahasiswa.

Lain lagi komentar Putu, “Kita mandi, nih percuma saja. Saat selesai mandi dan mendaki  menuju jalan kampung, sampai di atas sudah keringatan lagi.” Apalagi daerah tempat kami KKN memang suhunya lebih panas dari Jember.

Namun tindakan, karena tak banyak komentar, yang lebih signifikan datang dari Daddy. Setiap kali pulang ke rumah dari tempat KKN, dia akan membuka ranselku dan menyuruh asisten rumah tangga kami untuk merendam pakaianku.

“Kenapa, sih Dad? Itu pakaian bersih, lho.” Kataku.

Mbok coba didelok nang mburi kana.” Cobalah di lihat di belakang sana.

Dan, alamaaaakk…air rendamannya  jadi hitam keabuan pekat sekali, persis seperti langit yang akan dihantam badai.

Wah, kalau tidak ingat berkewajiban untuk melakukan KKN, kayaknya saya lebih suka tinggal di rumah saja.

 

23 Comments to "Kisah Suatu Masa (2): Dan Pergilah Kami ke Kali"

  1. juwandi ahmad  14 March, 2013 at 22:15

    ha ha ha..ra tulus piye to?

  2. elnino  13 March, 2013 at 18:10

    KKN = Klinter Klinter Nggolek. Bagus tuh kalo dapat nilai A + (plus pacar )
    Nek bab iki pasti mas Juwandi ra lulus..
    KKN, sedikit sengsara tapi berkesan

  3. juwandi ahmad  8 March, 2013 at 22:39

    nek rodo gede nuthul….

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.