Dicari: Koruptor Pemalu

Kang Putu

 

“Koruptor adalah pemfitnah paling ulung di negeri ini. Sangat jarang — karena meskipun ada hanya segelintir — pelaku korupsi yang mau mengakui kejahatannya. Koruptor lebih sering mengelak, bersembunyi, kabur dan berusaha lari dari tanggung jawab. Jika perlu, menyelamatkan diri dan melemparkan banyak fitnah.”

* dari “Penetapan Status Anas: Percayalah kepada yang Telah Terbukti” (Kompas, Senin, 25 Februari 2013, halaman 3).

“KORUPSI harus ada batasnya kalau masih ingin hidup terus. Batasnya adalah bahwa korupsi tidak boleh terlalu besar sehingga menghambat pembangunan ekonomi. Kalau korupsi berkembang sampai ke titik sehingga misalnya petani-petani tidak dapat lagi menanam beras karena tidak ada pupuk yang tersedia sehingga harga-harga melambung tinggi, maka tidak hanya pemuda-pemuda di kota yang akan beraksi tetapi juga pemuda-pemuda di desa. Ini berarti revolusi rakyat atau revolusi sosial. Jadi kalau para koruptor pintar (dan di Indonesia mereka memang cukup pintar) saya kira mereka tidak akan melanggar ‘kode etik’ ini. Koruptor-koruptor yang pintar tidak akan menghancurkan bangsa tetapi mereka akan membiarkan bangsanya tetap hidup walaupun sangat kurus keadaannya.”

***

Kalimat-kalimat berbau sinisme itu saya comot dari kliping yang telah menguning buram, tulisan Arief Budiman dua puluh tahun silam (Kompas, 8 Agustus 1970), setelah menemui Presiden. Tentu Anda ingat, dia merupakan salah seorang pentolan aksi-aksi mahasiswa dan pemuda yang getol menyoroti “kegiatan” korupsi pada tahun-tahun awal “Orde Baru”.

Dan sekarang, setelah hampir seperempat abad berlalu, sorotan terhadap korupsi kembali marak, kendati belum menimbulkan aksi-aksi mahasiswa. (Anda pasti berharap, para mahasiswa tak usah beraksi. Soalnya, menurut Anda, aksi mahasiswa berpeluang ditunggangi “unsur-unsur destruktif”, yang bakal mengail ikan di lumpur politik yang keruh. Padahal, aksi mahasiswa…, ah, bukan ini yang mau saya kabarkan.)

Saat ini, jagat perkorupsian memang lagi horeg, terutama bagi para koruptor dan calon koruptor. Sebab, tampang mereka (yang bisa dibuktikan korupsi) bakal ditayangmalukan di televisi. Dengan harapan (?): mereka malu! Istri dan anak-anak mereka malu. Sanak-famili mereka malu. Kawan-kawan dan para tetangga mereka malu. Para atasan mereka malu (?). Lantas, lewat upaya malu-maluin itu disemogakan kegiatan korup-mengorup berkurang, bahkan sirna.

Tapi mungkinkah?

Bagaimana, misalnya, kalau ternyata justru rasa malu itulah yang mendorong seseorang berkorupsi-ria? Malu lantaran vila dan mobilnya belum sebanyak dan sebagus si A punya. Malu lantaran kebun di belakang rumah tidak cukup lebar buat main golf sekeluarga kayak si B. Malu lantaran deposito di Bank Entah-Berantah belum lagi cukup untuk membeli sebiji-dua biji pulau bak si C. Malu lantaran belum mampu menambah koleksi perusahaan, dan sebagainya, dan seterusnya.

Bagaimana pula kalau ternyata bagi mereka berlaku semboyan: menebar malu dahulu (hingga no problem ditelevisikan) agar kelak bisa menuai deposito + saham (yang pat-gulipat-seribu-kiat tetap selamat). Karena, rasa malu toh bisa dikelola sedemikian rupa sehingga tidak perlu malu manakala dipermalukan. Lagi pula, kita toh bangsa yang mudah melupakan perbuatan yang memalukan, kendati barangkali tidak mudah memaafkan.

Lebih-lebih lagi, para koruptor sudah pasti makin pintar hingga tak hendak melanggar “kode etik” perkorupsian. Bukankah mereka belum sampai membiarkan bangsa ini tetap hidup walau dalam keadaan sangat kurus? Apalagi, bukankah prediksi yang realistis (?) dari Profesor Doktor Soemitro Djojohadikusumo perihal pertumbuhan ekonomi Indonesia yang bakal mencapai 7 persen tahun ini membuktikan bahwa bangsa kita tidak dalam keadaan “sangat kurus”? Perkara masih ada 30.000.000 jiwa manusia Indonesia yang berada di bawah garis kemiskinan, toh (berbakal optimisme: peningkatan nilai dan volume ekspor nonmigas, peningkatan kesempatan dan lapangan kerja, peningkatan kualitas pendidikan, dan sebagainya, dan seterusnya) akhirnya makin susut, bahkan kalau mungkin menjadi nol. Insya Allah.

Jadi, apa artinya malu? Apa sih beratnya menanggung malu?

***

“Itulah akibatnya kalau kebijakan yang diterapkan acap tidak (atau justru sebaliknya?) didasari pemahaman terhadap tata nilai dan etika yang melingkupi pola interaksi manusia dengan dunia di luar dirinya. Lagi pula, Prut, kekuasaan (politik dan ekonomi) tidak diperuntukkan bagi semua orang. Cuma ada satu raja di satu negara. Dan segala sumber daya, tanah, air, adalah milik sang baginda. Rakyat tidak mempunyai hak pribadi karena mereka sendiri milik penguasa,” ujar seorang mantan koruptor.

“Dengan kata lain, Anda ingin menyatakan bahwa para koruptor di negeri ini sudah berlaku bak raja-raja kecil hingga tidak seyogianya mereka memahkotakan rasa malu?”

“Tidak.”

“Tapi bukankah Anda menyatakan bahwa korupsi memang ditoleransi dalam iklim dan budaya politik di negeri ini?”

“Tidak. Aku cuma menginginkan agar kamu tidak melihat penayangan para koruptor di televisi dari aspek efektivitas budaya malu semata-mata. Tapi lihatlah, mereka sudah kelewat batas belum? Apakah korupsi yang mereka lakukan sudah sedemikian besar hingga menghambat pembangunan ekonomi? Apakah mereka sudah melanggar ‘kode etik’ perkorupsian? Apakah mereka terbukti, membuktikan diri, atau dibuktikan korupsi? Atau barangkali mereka terpaksa korupsi?”

“Jadi, maksud Anda, penayangan para koruptor di televisi dimaksudkan sebagai bukti bahwa kegiatan mereka memang tidak menghambat pembangunan ekonomi? Bahwa para koruptor memang tidak perlu malu? Bahwa tidak perlu ada orang yang merasa bersalah tatkala korupsi?”

“Kluprut, Kluprut…. Kalau sampai ada orang yang tidak merasa bersalah tatkala korupsi, jelas itu salah. Dan, sampai di sini, apakah kamu tidak melihat ada dua kesalahan? Pertama, korupsi. Kedua, kamu memang masih teramat muda, masih mahasiswa!”

 

Februari 1990

* dari Gunawan Budi Susanto, Kesaksian Kluprut (Semarang, Yayasan Sastra Merdeka: 1996).

pret!

 

10 Comments to "Dicari: Koruptor Pemalu"

  1. Bagong Julianto  9 March, 2013 at 17:08

    Koruptor Pemalu kayaknya susah dicari tapi kalau yang kemaluannya besar sepertinya ini memang jadi salah satu ciri Koruptor.

  2. uchix  6 March, 2013 at 20:12

    Suka comment pak DJ

  3. juwandi ahmad  5 March, 2013 at 21:55

    yah..nanamya koruptor pak, apapun gayanya, tetap saja sama: “Selalu ada alasan untuk nambah kare….!” malu dan tahu diri adalah penghalang kekuasaan…..

  4. Dewi Aichi  5 March, 2013 at 20:36

    Judul dan gambarnya lucu he he..

  5. Dewi Aichi  5 March, 2013 at 19:26

    Kang Putuuuuu…ta mungkin ta mungkin…coba tanya sama pak Mungkin…

  6. Dj. 813  5 March, 2013 at 16:49

    Dimana-mana dan tidak hanya di Indonesia…
    Koruppsi sudah sejak dulu, sekarang dan akan selalu ada…
    Kadang kita juga tidak sadar dan hanya melihat yang besar saja.
    Sedang kalau kita bekerja dan saat kerja masih mainan internet di kantor.
    Apakah itu bukan korupsi waktu…???
    Padahal kita digaji untuk kerja, tapi kadang kita nyuri waaktu untuk main-main.
    Kadang bahkan bangga dan bercerita kepada kawan…..

    Di Jerman, beberapa bulan lalu, ditahun 2012, seorang pegawai di PHK,
    karena di dia menge Charge HP nya di kantor.

    Atau sorang pegawai Roti, saat kerja dia makan roti, juga di PHK.

    Nah bagaimana dengan kita yang di jam kerja,main internet atau bahkan keluar dari kantor dan
    jalan entah kemana…???
    Apakah kita juga punya malu…???

    Marilah kita malai dari diri sendiri, baru ke orang lain.
    Kuman diseberang lautan, dapat dilihat.
    Sedang balok didepan mata tidak kelihatan…

    Salam Sejahtera dari Mainz.

  7. Handoko Widagdo  5 March, 2013 at 15:37

    Ketika tertangkap mereka malu mengakui kejahatannya kok.

  8. Silvia U  5 March, 2013 at 13:17

    Dimana mencari koruptor yang malu? Bahkan banyak orang2 yang malah bangga mendapatkan pasangan/besan/menantu yang sudah jelas2 koruptor.

  9. J C  5 March, 2013 at 12:28

    Walah, mission impossible kalau mau cari koruptor pemalu…

  10. James  5 March, 2013 at 11:07

    SATOE, Dicari Koruptor Benalu

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.