Menyamakan Gelombang

Juwandi Ahmad

 

Dan saya kira, itulah gelombang yang paling tepat untuk kita.
Gelombang yang membuka tabir kemanusiaan. Gelombang yang membawa kita
duduk bersama, bicara, dan juga tertawa. Sungguh, kita yang tak lain debu kosmik
alam semesta ini, tanpa kesamaan gelombang: tak akan pernah miliki kisah,
tak akan temukan makna bersama.

menyamakangelombang (1)

Tujuh bulan sudah saya menjadi bagian dari warga Baltyra. Dan saya sungguh gembira bahwa tiba-tiba saja saya mendapati orang-orang yang entah bagaimana begitu mudah dekat dan akrab, terlebih setelah perjumpaan demi perjumpaan yang sungguh berkesan. Ada sebentuk pencerahan yang menegaskan keterikatan manusiawi yang disana saya sungguh berterima kasih kepada kehidupan. Itu menggugah sisi sentimentil dalam diri saya. Selain tentu saja kegilaan, keliaran, kekenthiran, dan kekoplak’an yang terus merangkak naik. Saya sudah berusaha keras untuk tidak terjerumus di dalamnya. Meminjam pengakuan palsu seorang Joseph, “Saya ini sosok yang alim, tenang, pendiam, nggak neko-neko.” Namun godaan ternyata lebih besar dari kesanggupan saya untuk menolaknya. Setan-setan di Baltyra terlalu kawak untuk saya taklukkan. Dan tak ada pilihan untuk dapat bertahan selain menyamakan gelombang. Hanya dengan begitu, saya mungkin akan terselamatkan dari godaan Anung, Joseph, Sekar, Jonathan dan yang lain-lain. Sungguh, perlu doa-doa khusus sebelum berbincang dengan orang-orang ini. Celakanya, doa-doa saya itu selalu gagal. Dan saya mendapati diri sudah terjangkiti kegilaan dalam taraf yang berbahaya. Karena itulah, saya tidak dapat lagi menahan diri untuk tidak menulis tentang sesuatu yang lebih bersifat pribadi.

Saya ingin kembali pada pertengahan September dua ribu dua belas. Dewi menghubungi saya melalui inbox, meminta ijin untuk mengambil tulisan saya yang saya posting di dinding Facebook. Katanya tulisan saya unik dan menarik, dan dia memintanya untuk dimuat di Baltyra. Apa itu Baltyra? Sama sekali saya tak tahu. Katanya sebuah website. Tentang apa? Budaya, politik, sastra, agama? Apapun itu, saya berterima kasih, Dewi mengapresiasi tulisan saya. Dan terlebih dengan bahasanya yang sopan, halus, dan meyakinkan. Saya iyakan saja dan menunda banyak bertanya. Beberapa hari kemudian muncullah tulisan perdana saya di Baltyra, Innoncence of Muslims, yang mengulas tentang film kontroversial yang mengguncang dunia Islam. Itulah awal mula saya menjadi warga Baltyra.

Seperti yang pernah saya bilang, seandainya ucapan terima kasih hanya boleh diperuntukkan kepada satu orang saja, maka kepada Dewi lah ucapan terima kasih itu harus saya alamatkan. Karena Dewi dan Baltyra, tulisan-tulisan yang biasanya saya pajang di dinding Facebook menjadi lebih nyaman dan menarik untuk dibaca. Dulu tulisan saya terlampau sering mendapat kritik. Bukan hanya karena isinya, tapi juga cara saya memajang tulisan itu. Belumlah lama saya sadari bahwa memajang artikel yang panjang lebar di dinding Facebook adalah ketidaknormalan. Dan bila bukan karena dorongan dan bantuan Taufik barangkali sampai hari ini saya belum memiliki account Facebook. Ketika tulisan saya muncul di Baltyra, salah seorang teman saya berkomentar, “Akhirnya kawan kita satu ini, takluk juga oleh teknologi.” Begitulah, Baltyra telah memberi ruang yang lebih leluasa dan nyaman bagi saya untuk menulis, berdiskusi dan menjalin persahabatan dengan banyak orang yang kepada mereka saya banyak belajar: Joseph yang sungguh toleran, Iwan yang begitu bernas, Mpek Dul dan Paisan yang kaya pengalaman, Itsme yang mengguncang nalar, Dewi, Sekar, dan Anung yang serasa saudara yang menyenangkan. Dan banyak lagi.

menyamakangelombang (2)

Orang bilang bahwa mengerti memberi jalan untuk memahami. Dan memahami memberi alasan untuk memaklumi, memaafkan, dan menerima. Kehidupan mengajarkan bahwa tidak setiap orang dapat sejalan dan merasa nyaman dengan kita. Karenanya perlulah belajar untuk dapat diterima dan menerima. Karenanya pula, sebagai warga baru saya menganggap penting untuk belajar tentang apa dan bagaimana ide Baltyra, siapa dan seperti apa para Baltyrans. Saya mesti kenali gaya bicara orang-orangnya. Dan pada saat yang sama, menjajaki alam pikir makhluk-makhluknya. Naluri psikologi saya bekerja. Saya cek Facebooknya. Saya selidiki foto-fotonya. Saya cermati tulisan dan coment-comentnya. Sejalan dengan mottonya, Dari Nusantara untuk Dunia. Artikel-artikelnya amat kental dengan ke-Indonesia-an dan ke-global-an. Membentang dari kuliner, sastra, budaya, sejarah, keagamaan, filsafat, politik, sosial, pendidikan, sampai beragam laporan perjalanan. Dan cukuplah untuk membuat kesimpulan sementara.

Lebih jauh sebagai warga baru, saya tetap berusaha berlaku sopan dan juga santun. Menghindari segala perkataan dan pernyataan yang mungkin menyinggung, menyakiti, mengintimidasi. Orang-orang menyebutnya etika. Dan etika adalah kepalsuan yang diinginkan, basa-basi yang disepakati, dan kepura-puraan yang diterapkan. Di atas etika, ada karakter, yang spontan, polos, apa adanya. Itulah watak atau perwujudan paling orisinil dari nalar batin kita. Apa yang kita sebut menjadi diri sendiri adalah juga belajar menjadi orang lain, dan terlebih berkaitan dengan keberadaan diri-diri yang lain. Saya merasa perlu untuk belajar membuatkan ruang hati dan pikiran bagi orang lain agar orang lain juga membuatkan ruang hati dan pikiran untuk saya. Buah dari semua itu adalah pemahaman dan kenyamanan. Keduanya adalah perbendaharaan mahal yang menjadi bahan dasar bagi keakraban, keterdekatan, persahabatan, dan persaudaraan. Bila sudah begitu, gurauan dan bahkan ejekan akan dirasakan sebagai ungkapan sayang. Dan itulah puncak persahabatan, dimana setiap pribadi nyaman menjadi diri sendiri di tengah-tangah diri yang lain yang juga menjadi diri mereka sendiri. Disinilah kita dapat merayakan perbedaan, kekonyolan, dan kekenthiran bersama-sama. Di sinilah kita dapat menerima dan menikmati keunikan setiap pribadi.

menyamakangelombang (3)

Dan lebih jauh lagi, saya berupaya agar orang-orang yang berbincang dengan saya merasa nyaman, tentram. Berada dalam kondisi psikologis yang positif. Sebut saja itu etika sebagai warga baru. Namun yang lebih dalam dari itu adalah bahwa hanya dalam kondisi psikologis seperti itulah seseorang akan mudah menerima kita. Perbincangan yang nyaman, menyenangkan, dan menentramkan lebih jauh menimbulkan efek meditatif yang menempatkan kita pada gelombang alpha, dengan frekwensi antara delapan sampai tiga belas hertz. Itu gelombang yang sangat baik dimana seseorang dapat memasukkan orang lain dalam pikiran bawah sadarnya dalam bentuk kesan atau gambaran yang sangat kuat. Dan hal itu, secara alamiah akan mengingatkan, menuntun kita pada kenyataan.

Seperti yang pernah saya katakan bahwa orang akan sangat sulit menerima gagasan, ide, pengetahuan dan kehadiran kita bila ia berada dalam kondisi yang tidak nyaman, tidak senang, tertekan, marah, benci, merasa tidak dihargai, tidak dipahami, dilecehkan, dijatuhkan dan semacamnya. Ini persis seperti menuang anggur dalam cawan yang tertutup. Di setiap akhir suatu perbincangan, diskusi, atau debat, pada akhirnya yang paling diingat atau membuat orang terkesan bukanlah pengetahuan kita yang luas, tapi kesantunan yang membuat orang lain merasa nyaman, merasa dihargai, merasa diterima. Hal ini membuat kita tetap bernilai di mata orang lain, bahkan bila mereka sama sekali tidak setuju dengan pandangan kita. Bila kita masih dianggap bernilai, maka orang masih bersedia menerima kehadiran kita dan mendengarkan pendapat-pendapat kita. Dan bila seseorang masih bersedia menerima kehadiran dan mendengarkan pendapat kita, maka perubahan sikap, pergeseran pandangan, dan perubahan perilaku masih mungkin terjadi. Atau dengan kata lain, masih mungkin untuk membangun dalam pikiran seseorang tentang bagaimana kita ingin dipandang dan diperlakukan. Menarik bahwa apa yang saya kemukakan itu, sembilan puluh sembilan persen saya temukan di Baltyra. Atau dengan kata lain, orang-orang Baltyra membuat saya merasa nyaman. Berada dalam kondisi psikologis yang positif.

menyamakangelombang (4)

Dari sekian banyak warga Baltyra, pertama-tama dengan Dewi saya mengungkapkan harapan untuk bertemu. Dan dari sekian banyak warga Baltyra, Dewilah yang pertama-tama mengungkapkan harapan untuk dapat bertemu saya. Kami sama-sama ingin bertemu. Gelombang jiwa terhubung sudah. Kita berada pada frekwensi yang sama. Dan terbukti. Saya benar-benar dapat bertemu Dewi dengan efek sistemik yang mencengangkan. Saya dapat bertemu Sekar, Tia, Ki Ageng, Probo dan Alfred. Dan setelah Dewi, Anung adalah sosok kedua yang mengharapkan pertemuan dengan saya, dan saya mengharapkan pertemuan dengannya. Kami sama-sama ingin bertemu. Gelombang jiwa terhubung sudah. Kita berada pada frekwensi yang sama. Dan terbukti bahwa pada akhirnya saya juga dapat bertemu Anung.

Menyenangkan bahwa pada akhirannya saya, Dewi, Sekar, Anung, Tia, Probo, Meita, Mastok, Jonathan, Wesiati, Priantono, Ikha, dan Awan dapat bertemu, berkumpul bersama-sama. Semua itu adalah efek gelombang sistemik dari perasaan dan pikiran yang tenang, nyaman, bebas dari beban, kekhawatiran, dan kecemasan. Dari perspektif pengalaman saya, Dewi telah berperan sebagai penghubung yang amat canggih. Lebih dari yang diharapkan alam semesta. Dewi menjadi penghubung gelombang banyak jiwa. Dan terpujilah engkau Dewi di antara para Baltyrans yang tidak lain adalah debu kosmik alam semesta. Gabriel, Alfred, Sekar, Tia, Ki Ageng Probo, Effy, Ama, Meita, Mastok, Jonathan, Wesiati, Priantono, Ika dan Awan, orang-orang ini beberapa bulan yang lalu adalah sebentuk keghaiban, dan karena gelombang seorang Dewi, mereka menjadi ada dan nyata dan pengalaman saya. Dan karenanya pula, ada banyak sosok dalam benak dan pikiran saya saat ini: Joseph, Iwan, Paisan, Mpek Dul, Lani, Itsme, Cornelya, Silvia, Elnino, Dian, Prayitno, dan banyak lagi.

Sampai sedemikian jauh, tanpa terasa saya sudah terjangkiti kegilaan, keliaran, kekenthiran, dan kekoplak’an yang terus merangkak naik. Di Baltyra, saya selalu menyaksikan bahwa percikan ketidakwarasan dari jiwa orang-orang yang waras lebih mengejutkan daripada bangkitnya kewarasan dari jiwa orang-orang yang tak waras. Karena itu, saya lebih terpuaskan dengan menyebut account Facebook Baltyra sebagai ndalem pakenthiran. Itu lebih simbolis, metaforis. Apa itu ndalem pakenthiran? Tanyakan saja di post coment. Percayalah saudara-saudara: Anung, Sekar, Dewi, Joseph dan Jonathan yang pernah menjadi pemenang ajang pencari bakat Koplak Idol akan menjawabnya dengan tuntas, lebih dari yang kalian harapkan. Kalau kurang puas, percayalah ada banyak yang berpengalaman. Ada banyak pula yang sudah veteran.

menyamakangelombang (5)Dulu, Dewi dan Anung menyangka bahwa saya orang yang serius dan tentulah susah diajak bercanda. Pergumulan dengan Baltyrans mengalir dari kesopan-santunan etik, namun perlahan menjadi encer, ringan, dan mengalir begitu saja. Dari gagasan yang agak berat sampai pembicaraan pengundang sahwat. Dari hal hal lucu sampai hal-hal saru. Dari kesantunan berkata-kata, sampai ejekan yang mengundang tawa. Dari kewarasan yang terjaga, sampai kegilaan yang dirayakan. Dan gambaran Dewi, Anung dan belakangan Sekar tentang saya sedikit demi sedikit berubah. Mereka tersadar bahwa saya tak kurang gilanya dari mereka. Dewi bilang, “Wah, nggak nyangka teryata Mas Juwandi kenthir juga. Mas Juwandi Edan tenan. Ngakak aku.” Saat itulah saya bilang bahwa saya ”sekedar menyamakan gelombang.” Dan bahwa sebenarnya, saya tak suka bicara neko-neko, saru-saru, menu utama tubuh kita, persetubuhan, dan teman-temannya. Sekali lagi meminjam deskripsi diri seorang Joseph, ”Saya itu alim, tenang, pendiam, nggak neko-neko.” Dan itulah gambaran diri saya yang sebenarnya. Sungguh! Saya tak bohong. Adapun untuk deskripsi diri seorang Joseph itu jelas sebentuk fitnah. Dan celakanya, penegasan diri saya itu tak berhasil. Anung tak percaya. Dia melancarkan tuduhan bahwa saya rileks juga bicara seks dan kranjingan yang nyrempet-nyrempet. Saya sangat kecewa dan sedih sebab tuduhan Anung benar adanya.

Sejak saat itulah hampir tak ada perbincangan tanpa menyajikan menu semriwing. Namun menarik bagi saya bahwa perbincangan semriwing tentang seks, kesaruan, dan sejenisnya dikemukakan dengan cara yang cerdas atau katakanlah agak cerdas: simbolis, metaforis. Saya belum pernah menemukan ungkapan vulgar yang apa adanya. Atau barangkali saya saja yang tidak tahu bahwa sesungguhnya itu vulgar? Begitulah, karena simbolis, metaforis, maka saya yang alim, tenang, pendiam, dan tak punya pengalaman tentang hal-hal begituan, sekedar mengira-ngira. Namun belakangan saya sadar bahwa perkiraan saya itu justru lebih liar dan vulgar dari yang dipikirkan para Baltyrans. Ampun Tuhan!

menyamakangelombang (6)

Dan tak ada koki terbaik tentang hal itu selain Anung. Itulah Anung, pengusaha kuliner dengan menu semriwing nomer wahid. Strategi marketingnya tak konvensional: ada service delivery. Wisata kuliner dengan menu semriwing spesial ala Anung benar-benar penuh sesak dengan pengunjung. Di antara pelanggan tetapnya adalah Sekar, Dewi, dan lurah kita sendiri: Joseph. Dan banyak lagi, tak lagi dapat dihitung jari. Kalau saya hanya sesekali. Itu pun ketika suntuk. Dan hanya melihat dari jauh, mendengar dari emperan, merasakan diam-diam. Bahkan belumlah lama saya tahu siapa itu Si Sonny Keple. Sungguh tak menyesal saya terlambat mengetahuinya. Horor! Nikmatilah sendiri, sekawan, seperjuangan. Aku no follow-follow. Namun, bila ada bentuk yang lain, sudilah kirimkan untuk saya.

Si Anung lebih dari pengusaha kuliner dengan menu semriwing nomer wahid tapi juga penyiksa, penganiaya yang amat berjaya. Ketika ada dia, teraniaya dan tersiksalah saya. Ada saja caranya yang membuat saya terinspirasi bunuh diri. Dulu, ketika muncul foto saya, Dewi, Sekar, Tia, dan Probo, Anunglah orang pertama yang begitu jeli ungkap ukuran. Kemudian ketika muncul foto saya, Alfred, dan Sekar, ulahnya kian menggila. Dan celakanya, pengunjung ndalem pakenthiran berkongsi, berkonspirasi menghajar saya. Karena itu, di antara para Baltyrans, saya masih menyimpan dendam tak terpuaskan. Pada siapa? Anung, Sekar, dan Joseph! Dan adapun Alfred, telah saya maafkan, saya ampuni. Mengapa? Dia terlalu baik untuk disakiti. Tapi ketiga orang ini, Anung, Sekar, dan Joseph, sungguh terlalu berbahaya. Terlampau riskan untuk dimaafkan.

Anung Si Pendekar Berjengot ini selau muncul dalam pikiran saya sebagai anak kecil, yang super mbeling. Berkulit hitam kecoklatan, tak berbaju, tak bercelana, dengan bibir tipis lancip yang sungguh temapok. Ada saja caranya yang membuat saya tersiksa, teraniaya. Dan ketika saya melempar sandal ke arahnya, dengan gesit ia menghindar. Bayangkan tingkahnya saudara-saudara. Dia malah mledhing, sodorkan pantat ke arah saya sambil berkata riang gembira, “Nggak kena-nggak kena.” Edan. Jabang bayik. Samber nggelap!

Dan Sekar Si Perayu Ulung juga tak kalah menyakitkan. Ketika jantung hati saya mengkap-mengkap, tercabik-cabik, tahan sekarat, ia datang dengan senyuman dan gemulai tubuh yang bikin degh-deghan. Apa yang dikatakannya? “Sudah tenang. Sini-sini tak kemuli. Ini lo ada rok mini.” Ampun Tuhan! Rasa sakit mendadak hilang. Namun, besoknya, ia runtang-runtung dengan Si Anung dan kirim pelet untuk si Alfred. Bedebah! Dan Juga Si Joseph, pinter banget bikin prahara, merekayasa hura-hara. Bila Baltyrans sudah bersuka cita menghajar saya, datanglah pesan indahnya, “Aku no follow-follow.” Benar-benar jailangkung kelas kakap. Datang bawa prahara, pulang tanpa dosa. Ingin sekali saya menghajarnya. Namun sayang. Konon katanya, Si Joseph berperawakan tinggi besar. Sungguh sebuah mimpi buruk. Tak yakin saya dapat meng-KO Laksmana Cheng Ho.

Satu-satunya penolongku hanya Dewi Pao, yang lembut, penyayang, dan penuh kasih. Namun, Dewi Pao tak kalah menderita dibanding saya. Di hadapan Anung, Sekar dan Joseph, ia seperti biola tak berdawai. Melihat saya ndepipis, nylekuthis di pojok’an, Anung, Sekar dan Joseph kian menggila, berpesta, berpoco-poco, ndangdutan koplo. Setan!

menyamakangelombang (7)Begitulah orang-orang mengisi perbendaharaan psikologis kita dengan kehadiran, kekonyolan, kekenthiran, keakraban, dan kedekatan yang unik yang kita mesti jeli menangkap sisi menarik. Tuhan tidak menciptakan dua Dewi dalam hidup ini. Ia hanya mencetak satu Anung, menjadikan satu Joseph, dan membuat satu Sekar. Di jagad raya ini, diantara milyaran debu kosmik alam semesta: hanya ada satu Dewi, hanya ada satu Anung. hanya ada satu Joseph, dan hanya ada satu Sekar. Tuhan terlalu kreatif sehingga tak pernah menciptakan manusia yang benar-benar sama. Sungguh, tak mungkin saya menyia-nyiakannya. Meski sesungguhnya saya ragu apakah Tuhan benar-benar serius menciptakan mereka? Bahkan saya menduga, menciptakan mereka telah menjadi suatu penyesalan bagi Tuhan. Lihatlah saudara-saudara, dari hari ke hari, mereka telah membuat Tuhan mati gaya. Dan tentu saja itu prestasi luar biasa.

Demikianlah wujud penyamaan gelombang yang terbukti lebih dari cukup bahkan sangat kuat untuk menjadi alasan bagi kita untuk benar-benar hadir dalam dunia nyata. Perjumpaan demi perjumpaan dengan Baltyrans meyakinkan saya bahwa Baltyra bukan sebatas dunia maya. Ia benar-benar ada dalam kenyataan, dalam keakraban, kemeriahan, den kerenyahan yang mengesankan. Sungguh, hidup dan kehidupan ini terlampau singkat untuk dapat menampung persaudaraan, cinta, dan kasih sayang anak-anak manusia. Dan karenanya, selagi sempat perlulah untuk terus menjaga, merawat, dan mensyukurinya.

Dan saya kira itulah gelombang yang paling tepat untuk kita. Gelombang yang membuka tabir kemanusiaan. Gelombang yang membawa kita duduk bersama, bicara, dan juga tertawa. Sungguh, kita yang tak lain debu kosmik alam semesta ini, tanpa kesamaan gelombang: tak akan pernah miliki kisah, tak akan temukan makna bersama. Sungguh, dalam remah-remah kengakak’an, kesoakkan, kekoplak’an, kekenthiran, dan dalam perbincangan sederhana yang seakan tak penting, ada percikan pemikiran, ada perasaan yang membuncah, dan ada tarikan spiritual. Dan kita telah meng-ada bersamanya, dalam kehidupan yang singkat dan dalam sistem jagad raya yang kompleks ini. Sungguh patutlah berterima kasih kepada Tuhan yang telah mempertemukan dan menunjukkan keunikan, keindahan, dan keharuan manusiawi di banyak tempat!!

 

100 Comments to "Menyamakan Gelombang"

  1. juwandi ahmad  20 March, 2013 at 20:21

    ha ha ha ha ha…….genah nyatane kuwi kang……

  2. anoew  16 March, 2013 at 03:25

    Artikel ini jelas-jelas fitnah. Mosok saya disebut-sebut sebagai inspirator bunuh diri pentulisnya?

    *ikutan Kang Josh, minopolopolo*

  3. juwandi ahmad  13 March, 2013 at 23:09

    ha ha ha ha..soak,,ki sedulure amoh….wes angel dandani kuwi…..

  4. Dewi Aichi  13 March, 2013 at 22:55

    ha ha ha ha ha….aku baca kata “soak” kok gimana gitu, kayaknya lebih parah daripada kenthir.

  5. juwandi ahmad  13 March, 2013 at 21:34

    he he he he……kalau tidak terjangkit malah kita yang bisa bisa malah soak ha ha ha

  6. Yuli Duryat  13 March, 2013 at 21:17

    Hahaha ada-ada saja, bener kata Mas Juwandi kok sulit untuk tidak terjangkit kalau masuk Baltyra….

  7. juwandi ahmad  13 March, 2013 at 20:42

    Nur Mberok: ha ha ha ha iyo mbak kuwi nyender nang omahe njenengan..ha ha ha…tak sawang sawang kuwi foto paling apik he he he..yo nesok royaltine tak kirim: doa..! ha ha ha. Yuli Duryat: he he..itu tandanya, sampean sudah menyamakan dengan gelombang kenthir ha ha ha. Thank you sudah baca.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.