Peta Buta

Faizal Ichall

 

Pada awal kutemukan peta itu aku anggap sebagai jalan perubahan, sebagai arah dimana aku melangkah.

Aku memujanya mungkin terlalu berlebihan, seperti hal-nya Tuhan peta menjadi berhala di hidupku, bagaimana tidak… Peta ku bingkai, kurawat dan kubersihkan lebih baik dari kecintaan ku pada diriku.

lost-direction

Kemudian ku telusuri setapak demi setapak setiap liuk dan alur yang terlukis pada peta, kemudian aku menemukan keganjilan pada setiap jalan yang kutapaki karena telah mengikuti arah dari peta itu.

Sepatu yang biasa ku kenakan berteriak kepadaku, “Hey…kita sudah pernah melewati jalan ini, dan masih ingatkah kau tuan? Itu puluhan tahun yang lalu, saat kita hanya berjalan tanpa arah dan peta, ya…perjalanan dengan semua egoisme dan keingin-tahuan kita tentang jalan ini.”

Aku tersentak, kemudian mengamati sekitar, ternyata benar kata sepatu ku, aku sudah pernah berjalan di arah ini, kemarin lalu mungkin aku sampai kesini karena rasa ingin tahu tetapi kali ini karena peta yang sok tahu.

Saat itu senja terlihat merona di pipi Losari, seperti malu hati melihatku menyadari waktu, ku buka lipatan peta yang telah aku kantongi sesudah disaat kutemukan keganjilannya, kubuka lebar-lebar, kugenggam dengan kedua tangan ku, yang kanan, kiri, lantas kuhadapkan lembaran peta ke arah matahari terbenam.

Kelebatan sinar sinar halus yang menerobos di celah-celah awan memberikan efek menakjubkan pada lembaran peta itu, aku melihat satu titik kecil yang kemudian membesar, makin membesar dan meloncat keluar dari lembaran peta, bersamaan itu pula peta raib dari genggaman tanganku.

Berdiri di hadapanku seorang pria berwajah entah, memperkenalkan dirinya padaku bahwa dia adalah jelmaan dari peta, peta yang kupuja sebagai penunjuk arah.

Sebagai pria yang mengaku peta, kesombongan adalah daging yang menjadi jasadnya, dia merasa paling menguasai arah, paling benar tentang arah.

Sebagai pria yang mengaku peta, kemurahan dan kesetian adalah darah yang mengaliri hatinya, karena empatinya pada orang yang sedang dilanda kesulitan dan kesetiannya dalam mendampingi kesulitan.

Secara peta yang menjadi pria, kadangkala dia masih butuh orang lain untuk menceritakan sebuah medan lalu merubah dirinya menjadi peta untuk medan itu, atau butuh seseorang yang memahami alam, yang selalu waspada di jalan, karena dia tidak mampu menggambar dirinya tentang detail rintangan alam, binatang buas maupun tumbuhan yang beracun bila dimakan.

Secara peta yang menjadi pria, aku iba terhadapnya, mencontoh aksi guna mendapatkan reaksi, karena peta membutuhkan mata untuk melihatnya.

Saat ini, kularang pria itu menjadi peta kembali, kukatakan padanya,

“Mari sama sama melakukan perjalanan, setelahnya kita bercerita menggunakan peta, lalu biarkan keturunan kita menjadikannya kitab suci, karena Tuhan maha mengetahui.”

Walau pernah menjadi peta buta, tak kan kulupakan dia, karena orang buta tak kan pernah mampu membaca peta buta.

 

Salam

-Ic*

 

6 Comments to "Peta Buta"

  1. Bagong Julianto  9 March, 2013 at 16:58

    Peta buta bicara dalam diam.
    ABCnya adalah mata kita.
    Kediamannya adalah hati dan pikiran kita.
    Peta buta skalanya adalah relasi antara kita.

  2. juwandi ahmad  5 March, 2013 at 22:04

    Apa yang disebut sebagai kebenaran, tuhan, dan semacamnya adalah seperti cermin yang jatuh dari langgit, pecah, berserakan…….setiap orang mengambilnya dan banyak yang menganggap bahwa bagian serpihan adalah keseluruhan………terimakaih artikelnya…..

  3. Dewi Aichi  5 March, 2013 at 19:41

    mas Faizal, sebenarnya pesan apa yang ingin anda sampaikan kepada pembaca ? Tentang nurani? atau kesombongan? aku kurang paham..

  4. Dj. 813  5 March, 2013 at 17:12

    Ini orang buta yang menjadi peta….
    Atau orang buta membaca peta…???
    Salam,

  5. J C  5 March, 2013 at 12:26

    Peta buta = nurani? Nurani yang melek atau yang buta? Hhhhmmm…sangat menarik artikel ini. Dalam sekali…

  6. James  5 March, 2013 at 11:08

    SATOE, Peta Ijo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.