A Loy (1) – Kisah Nyata dengan Anak Majikan

Mega Vristian

 

Gadis itu diam-diam sering memandang wajah saya. Entah sudah berapa kali dia bertanya, mengapa saya orang Indonesia. Bukan orang Hong Kong. Mengapa saya harus meninggalkannya. Lalu pipi kuningnya merona merah menahan amarah. Mata sipitnya menggenang air mata. Perlahan lengkingan tangisnya pecah.

a_mothers_love

Kisah ini bermula, ketika saya tiba di bandara Kai Tak, Hong Kong. Kurang lebih sembilan belas tahun yang lalu, di bulan Agusus..keadaan bangunan bandara tidak berbeda jauh dengan bandara di tanah air, Petugas Imigrasi bandara lumayan ramah, menanyai saya yang tidak fasih berbahasa Inggris. Perbedaan menyolok  adalah di bandara Hong kong tidak ada calo-calo seperti di Indonesia, berlagak bersikap ramah tapi memeras.

Seorang lelaki seumuran saya kurang lebih empat puluh tahunan. Berambut coklat agak botak. Tubuhnya tegap kekar  boleh dibilang pendek tapi tidak terlalu pendek, menemui saya. Dia menunjukkan kertas hijau tertempel foto saya. Kertas kontrak kerja yang saya tandatangani di PJTKI, yang akhirnya membuat saya sampai di hadapan lelaki ini. Seorang nyonya bermarga Leung yang mengontrak saya. Tentu Nyonya itulah yang menyuruhnya menjemput saya. Entah apa lelaki dia suaminya.

Sepanjang perjalanan kami diam, saya lebih banyak berjalan menunduk di sampingnya. Jalannya begitu cepat, saya sering tertinggal. Saya lihat orang-orang di sekitar kami juga berjalan cepat, seperti mau menyusul dukun bayi. Dengan bahasa isyarat dia menyuruh saya, berjalan di sampingnya lagi. Kemudian kami masuk dalam antrian menunggu bis. Heran juga dengan calon penumpang yang berjajar rapi antri membentuk barisan memanjang.

Bis yang kami tunggu datang. Dalam bis, saya hanya melihat sopir tidak ada kondektur. Sebelum kami duduk, dia menempelkan selembar kartu ke sebuah alat berbentuk empat persegi panjang, yang terletak dekat sopir. Setelah kartu menempel ke alat tsb, menimbulkan bunyi “Tut” . Dia melakukan dua kali dengan kartu berbeda tapi serupa warnanya, yaitu warna pelangi.

Saya heran, para penumpang punya kesadaran sendiri menempelkan alat pembayaran itu dan juga ada yang memasukkan uang koin tempat yang sudah disediakan. Sopir mengawasi dengan santai. Saya berusaha mencari kondektur, mungkin akan turun dari tingkat dua bis ini. Tapi ternyata sampai bis berjalan, tidak saya temukan orang yang patut disebut Kondektur Bis.

Kemudian hari saya ketahui alat pembayaran yang berbunyi “Tut” itu bernama Otopus. Selain bisa digunakan untuk pembayaran tranpotasi juga bisa digunakan untuk belanja di toko-toko tertentu. Bentuknya  seperti KTP ada yang berbentuk jam tangan.

Saya bingung, risih dan malu, ketika lelaki itu duduk di samping saya. Tentu saya tidak bisa menolak. Saya tenangkan perasaan saya. Bukankah ketika naik bis, sering sebangku dengan orang yang tidak saling kenal. Dia lalu asik mengobrol di telpon, entah dengan siapa, sebab saya tidak memahami bahasanya.

Ternyata bahasa Kantonis yang saya pelajari ketika di penampungan PJTKI, tidak ada hasilnya. Terbukti ketika diam-diam sudah saya tajamkan pendengaran  untuk menangkap apa yang dibicarakannya tapi sia-sia. Satu kalimat pun tidak bisa saya pahami.

Bis  yang saya naiki, terus menyelusuri ruas jalan di hadapan saya. Melewati  kota-kota dengan bangunan-bangunan  apartemen  kokoh menjulang ke langit. Jemuran pakaian terlihat berkibar di jendela-jendela  apartemen. Mungkin besok saya juga melakukan menjemur dan mengelap kaca di salah satu apartemen tsb, apartemen rumah majikan tentunya.

Para penumpang  acuh satu sama lainnya. Mereka kebanyakan asik dengan hpnya. Tapi saya menangkap  ada juga orang yang memandang saya dengan tatapan aneh.  Entah keanehan apa yang dia lihat pada diri saya. Saya tidak berani lama-lama menatapnya. Saya segera mengalihkan pandangan.

Tanpa sengaja di kaca jendela terlihat sangat jelas wajah, seorang perempuan polos tanpa make up berwajah tirus pucat berminyak. Berambut pendek  model lelaki. Sangat tidak cosok dengan bentuk wajahnya yang persegi dengan tonjolan rahang di kanan kiri pipinya.  Perempuan itu mengenakan hem warna putih berkrah hitam. Berjaket hitam. Celana panjangnya juga hitam. Duduk memangku tas  plastic warna hitam pula bertuliskan “PT BINA MANDIRI”. Saya sangat kaget! Saya amati, oh! Itukan diri saya sendiri.

Tiba-tiba dada saya sesak, ini bukan mimpi sebab saya belum tidur atau tertidur. Saya sudah berada pada tempat asing, segalanya serba asing. Saya tidak punya siapa-siapa dan cuma membawa  seratus ribu rupiah saja. Di dalam tas yang saya bawa, hanya ada dua stel baju dan celana  bahan kaos untuk kerja. Ada juga satu stel gaun panjang sepertiga  betis warna coklat muda dengan baju atasan model jas berwarna cokla kotak-kotak. Saya  memasukkannya di tas, setelah acara pemeriksaan tas. Semalam sebelum diterbangkan ke Hong Kong. Tentu tanpa sepengetahun ibu asrama yang sangat judes dan cerewet di penampungan PJTKI. Gaun itu, kesukaan suami, dia selalu memuji saya cantik, dengan gaun tsb.

Delapan dus bedak penghilang bau badan, merknya sudah ditentukan PJTKI dan harus dibeli di PJTKI juga.  Memberatkan  isi tas yang saya bawa. Bedak itu setiap hari harus dipakai, sebab orang Hong Kong, tidak suka bau keringat. Ketika seorang kawan, protes. Tidak mau membeli bedak, ingin memakai penghilang bau keringat produk lain, dia malah diancam tidak akan diterbangkan. Saya merasa aneh sebetulnya, melihat persediaan bedak di PJTKI, sampai nyaris memenuhi gudang yang lumayan besar.

Yang sangat saya sesalkan adalah larangan untuk membawa Mukenah dan Alquran. Katanya orang Hong Kong, sangat takut melihat orang memakai mukenah apalagi berwana putih. Saya sempat ngotot, untuk membawa Mukenah warna lain. Tapi dengan berbagai alasan, pihak PJTKI tetap tidak memperbolehkan. Dilarang juga membawa Alquran, tujuan ke Hong Kong intinya hanya untuk kerja titik! Begitu berulang yang dikatakan ibu asrama. Saya teringat pesan teman yang sudah lebih dahulu ke Hong Kong, diam-diam bisa sholat dengan menggunakan perlengkapan sholat darurat dulu, dengan sprei misalnya.

Bahkan foto anak saya yang saya selipkan di buku pelajaran bahasa Kantonis, dirampasnya. Dengan alasan foto anak atau keluarga jika ikut dibawa, gampang menjadi cengeng, menangis. Orang Hong Kong sangat tidak suka melihat orang sedih apalagi sampai menangis! Sehingga ketika pengambilan foto untuk keperluan menjadi pembantu ke Hong Kong, harus tersenyum.  Saya ingat, susahnya untuk bisa tersenyum walau hanya sesaat untuk keperluan pengambilan foto. Ketika bayangan perpisahan yang panjang dengan suami, anak dan orang tua, juga sikap menyakitkan pihak PJTKI, yang suka membentak-bentak. Untuk bisa menghasilkan foto dengan ekpresi wajah ceria dengan senyuman sampai dilakukan pemotretan berulang kali.

Lok ce a!,” suaranya keras mengagetkan saya.

Mungkin artinya turun, sebab dia beranjak dari duduknya. Saya lihat beberapa orang juga sudah berjalan mendekati pintu bis.

Saya kembali mengikuti langkah kakinya lagi, juga masih dengan tanpa obrolan sepatah kata pun.  Kali ini dia bersiul-siul, lagu asing tentunya di telinga saya.  Entah kami sudah berapa kami menyeberangi perempatan. Berjalan di deretan pertokoan. Badan saya mulai terasa panas, berkeringat, akibat berjalan cepat dan jaket yang saya kenakan. Saya lihat ke atas, matahari garang! Pantas rasanya dari sekian orang yang saya temui di jalan berbaju minim, hanya saya yang berjaket. Jadi teringat ini musim summer!

bersambung

 

8 Comments to "A Loy (1) – Kisah Nyata dengan Anak Majikan"

  1. Linda Cheang  9 March, 2013 at 21:16

    berlanjut…

  2. Hennie Triana Oberst  8 March, 2013 at 21:30

    Mbak Mega, kisah nyata yang diceritakan dengan indah.
    Panjangin dikit ya untuk seri berikutnya, asyik banget…ikut terhanyut membacanya.
    PJTKI nya kerjasama dengan pabrik bedak pasti ya.

  3. ivan  8 March, 2013 at 06:24

    jadi penasaran…!!!!!????

  4. J C  7 March, 2013 at 18:12

    Pembukaan serial yang apik sekali. Aku yakin serial ini pasti akan mengaduk perasaan…

  5. Dj. 813  7 March, 2013 at 16:02

    E… lagi asik-asiknya baca, taunya dipotong…
    Ditunggu llanjutannya…
    Terimakasih dan salam.

  6. [email protected]  7 March, 2013 at 13:43

    lanjut……
    gak pake lama *nuntut*

  7. dev  7 March, 2013 at 12:46

    Ini kisah nyata mbak Mega ya?

  8. Dewi Aichi  7 March, 2013 at 10:26

    Waduhhhh..mba Mega…seperti itukah? Saya jadi ingat semua apa yang diceritakan Ary Hana…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.