Pengen Cantik

Wesiati Setyaningsih

 

Cantik itu mahal. Benar-benar mahal. Bukan masalah uangnya, tapi pengorbanannya. Rasa sakit yang mesti ditanggung, waktu yang dihabiskan untuk penyembuhan atau prosesnya, semua itu butuh kesabaran yang luar biasa.

Saya punya jerawat batu di masa remaja di dahi antara dua alis, yang sampai sekarang tidak mau hilang. Semakin usia saya bertambah, rasanya semakin besar saja dan itu mengganggu pemandangan setiap kali saya menatap wajah saya sendiri di cermin. Karena dekat rumah sekarang ada klinik kecantikan dokter kulit kosmetik langganan adik ipar dan kakak ipar saya, iseng saya mencoba ke sana.

Seorang teman kantor yang sudah pernah ke sana memberi saran,

“Datang aja dulu hari Rabu, dokternya ada. Kalo hari lain adanya dokter lain.”

Karena kebetulan hari Rabu saya mengajar sampai jam sepuluh seperempat lalu setelahnya saya mengajar ekstra bahasa Inggris jam dua, saya pikir saya punya waktu untuk berkunjung ke klinik tersebut. Maka ke sanalah saya pagi itu.

Sampai di sana sudah ada tiga orang yang menunggu. Seorang bapak tua, ibu-ibu setengah umur dan gadis muda. Saya duduk di samping bapak tua yang duduk sendirian. Mungkin karena kesepian, bapak itu menyapa saya,

“Rumahnya mana?”

“Saya tinggal dekat sini,” kata saya.

Lalu bapak itu bercerita kalau dia ke situ karena ada tahi lalat di hidung yang tiba-tiba dalam dua minggu ini membesar. Oleh dokter lain, dia disarankan untuk ke situ. Minggu lalu dia sudah diberi tindakan. Ada semacam alat yang digunakan untuk membakar tahi lalat itu, baunya sampai seperti daging terbakar. Selama empat hari wajahnya tidak boleh kena air jadi dia harus keramas di salon. Dia digodain tetangga-tetangganya karena tiba-tiba rajin ke salon.

“Tetangga saya tanya, kok sekarang rajin ke salon. Saya bilang, iya nengok. Istri saya yang cemburu. Habis kapsternya di situ janda-janda.”

Saya tertawa geli. Bapak itu saya tanya, usianya 70 tahun. Agak lucu kalau usia segitu istrinya masih cemburu.

Akhirnya bapak itu masuk lebih dulu karena memang dia datang paling awal. Dia mengatakan dia datang jam sembilan. Saya sampai di situ hampir jam sebelas. Setelah dua pasien lagi, saya dipanggil.

Di dalam saya bertemu dokter laki-laki tua. Dia menanyakan alasan saya datang. Saya memperlihatkan jerawat yang membesar di dahi saya.

“Ini lemak,” lalu dia menyebutkan istilah kedokterannya,”faktor usia. Ini nanti saya ambil, sebentar kok. Paling dua puluh menit. Ini ada juga tahi lalat, diambil sekalian aja.”

tahi-lalat2

Saya setuju saja. Sudah lama saya ingin tahi lalat saya di pipi kiri diambil karena kadang-kadang gatal. Saya takut kalau lama-lama jadi berbahaya.

Akhirnya ada 3 tahi lalat yang diambil sekalian, jadi 4 ‘hal’ yang akan diambil dari wajah saya. Saya pasrah saja ketika diminta tiduran di tempat tidur. Perawat datang mengukur tensi saya.

“Ibu sudah makan?”

“Pagi sudah,” kata saya.

“Siang?”

“Belum.”

Saya tidak sempat makan siang dulu karena saya berangkat ke klinik itu jam setengah sebelas. Belum waktunya makan siang.

“Berapa tensi saya?” tanya saya curiga.

“100/70,” katanya.

Itu memang rendah. Tapi tekanan darah saya biasanya memang rendah. Paling tinggi 110/90. Lebih dari itu saya pusing.

Perawat lain datang dan memberitahukan akan memberikan anestesi lokal.

What? Anestesi lokal berarti disuntik dong? Pikir saya panik.

Dan benar. Dia mengambil suntikan dan mulai menyuntikkan di sekitar tahi lalat di pipi kanan. Sakit, jelas. Tidak cuma sekali tapi empat kali di satu titik. Suntikan yang kedua dan berikutnya tidak sesakit suntikan yang pertama. Lalu dia mulai menyuntik di daerah lain. Empat tempat di wajah saya sekarang mulai terasa kebas. Kemudian saya ditinggal sendirian.

Saya kedinginan karena ketakutan dan karena AC yang dingin. Beginilah situasi di ruang operasi. Beberapa kali saya operasi, situasi yang menyiksa adalah rasa takut dan AC yang dingin karena untuk menjaga alat-alat yang ada di situ agar tidak mudah rusak.

Agak lama ditinggal sendirian dalam ketakutan dan kedinginan. Akhirnya beberapa perawat datang dan ngobrol di sekitar saya. Dalam hati saya ngomel-ngomel. Saya ketakutan mereka enak-enak bercanda sendiri di sekitar saya.

Enggak sopan banget, deh, omel saya dalam hati.

Namanya orang panik, apa saja salah.

Akhirnya dokter datang. Mulailah dia menyayat tahi lalat di pipi kiri. Tidak terasa apa-apa karena sudah dianestesi. Lalu dijahit. Begitulah seterusnya. Sampai di titik ketiga, seorang dokter muda datang dan dokter yang menangani saya menyerahkan saya pada dia sambil memberikan instruksi. Selesai dengan empat titik, dokter tua tadi berkata pada dokter yang muda,

“Itu di dahi masih ada dua lagi diambil sekalian aja. Toh ini benangnya masih.”

Appaa? Itu berarti disuntik anestesi lagi, dong! Pekik saya dalam hati makin panik luar biasa.

“Bu, ini ada dua lagi, diambil sekalian ya. Yang dua ini gratis, dikasi gratis sama dokter..,” kata dokter yang muda.

Saya mengutuk dalam hati. Yang di dahi itu tidak terlalu terlihat karena tidak tampak kalau saya pakai jilbab. Apa peduli saya? Tapi saya tidak bisa apa-apa. Perawat kembali menusukkan jarum suntik dan menyuntikkan anestesi di dua tempat lagi di dahi saya. Sakit minta ampun, sebagian karena memang sakit, sebagian lagi karena saya sebenarnya menolak. Lalu dua tempat itu diperlakukan sama seperti empat titik sebelumnya.

Selesai dengan dua titik tadi, perawat memberi plester pada tempat-tempat yang tadi habis dioperasi. Sebelum pulang saya dipesan untuk kontrol lagi dan mengambil jahitan. Benak saya berputar-putar.

Mengambil jahitan? Jadi muka saya seperti apa saat ini?

Menengok ke jam tangan, waktu sudah menunjukkan jam dua kurang sepuluh, sebentar lagi waktunya ekstra bahasa Inggris. Mana saya belum makan siang. Sebelum berlari pulang, saya tengok wajah saya di cermin.

Plester di sana sini. Saya benar-benar kaget. Apa kata murid-murid saya nanti? Tapi saya sempat sms saya akan datang agak telat karena sedang di dokter kulit, murid-murid saya tidak terlalu kaget ketika saya masuk kelas.

Beruntung hari Kamis libur, sementara hari Jumat dan Sabtu digunakan untuk kegiatan dalam rangka ulang tahun SMA 9. Jadi saya lumayan lega, karena setidaknya saya tidak mengajar dan harus bediri di depan kelas. Beban perasaannya benar-benar luar biasa.

Kamis malam karena bingung besoknya masuk kantor atau tidak, saya sms teman saya meminta pertimbangan. Saya ceritakan hal yang saya alami.

“Sumpah saya nggak nyangka bakal begini, bu. Tadinya saya cuma mau konsul saja. Ternyata langsung dioperasi. Sekarang saya bingung. Plester dibuka, wajah saya kaya Frankenstein. Enggak dibuka, plesternya di mana-mana. Gimana ini?”

Teman saya malah membalas,

“Aku ‘kemekelen’ dik. Sudah besok nggak usah masuk dulu. Toh enggak ada pelajaran. Sehatkan diri dulu di rumah.”

Akhirnya, Jumat pagi itu saya tidak masuk kantor dengan perasaan yang sangat tidak enak. Saya senang ngantor. Kalaupun tidak ngantor, karena saya sakit parah, bukan karena wajah berantakan seperti ini. Saya kepikiran murid-murid anak wali saya yang harus membersihkan kelas  dalam rangka lomba kebersihan tanpa saya temani. Saya benar-benar sedih.

Ini pelajaran buat saya. Apa sih penderitaan saya karena jerawat bandel yang bertahun-tahun di dahi saya? Tidak ada. Pikiran saya sendiri yang mengatakan saya jelek karena jerawat itu. Bahkan tidak ada seorang pun yang mengatakan saya jelek karena jerawat itu. Besok lagi saya harus belajar lebih banyak untuk mampu menerima diri saya sendiri.

Beruntung saya begini karena memang ini proses yang harus saya lalui. Setelah ini nanti juga saya akan baik-baik saja. kalaupun ada bekas jahitan, tidak apa lah. Tidak terbayang orang-orang yang sudah sampai operasi plastik dan akhirnya wajahnya berantakan. Ngeri. Sudah sakit, hasilnya tidak sesuai keinginan. Sudahlah, mending menerima diri apa adanya saja. Kapok saya.

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

24 Comments to "Pengen Cantik"

  1. Lani  10 March, 2013 at 14:27

    WESIATI : balasanmu udah aku baca dan udah balas balik………..walah dalah nek dipajang disini………rasanya kok kurang sreg yo…………hehehe, plg tdk kamu udah tau gmn kisahku dizaman duluuuuuuuuu

  2. wesiati  10 March, 2013 at 13:33

    mbak lani. baru aja tak buka… terima kasih banyak ya… mbokya ditulis sini aja gapapa jane. biar banyak yang tau. toh cuma segitu. tapi tulisane guedi2… hahahaha…

  3. Dj. 813  10 March, 2013 at 05:59

    Mbak Weeees…
    Matur Nuwun mbak..
    Lha Dj. malah dereng nate ngunjuk wedang tape….
    Menawi Tape, injih niku, namung didamel tape goreng, sampun eco sanget.
    Suwun,
    pareng, sampu ndalu bade tilem rumiyin.

  4. Lani  10 March, 2013 at 04:03

    WESIATI : aku wes japri……….udah ditrima belon??????

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.