Seruling Pakde Mitro

Kang Putu

 

“Nggendheng, Gus. Itulah yang kulakukan setiap kali berhadapan dengan sesuatu yang tak terlawan,” ujar Pakde Mitro.

“Siapa bisa menyalahkan wong edan? Orang pun tak bakal memedulikan orang gila nimbrung dalam perhelatan berbekal suling bambu bulukan ini bukan?” tuturnya sembari terkekeh.

“Saat ngedan, Gus, aku bisa mengandalkan suling ini agar tetap hidup. Hari ini ada pertunjukan wayang di Desa Tempelan, besok tayuban di Mlangsen, lusa kelenengan di Jetis. Ke sanalah aku datang dan memainkan sulingku. Lalu aku bisa makan enak. Gratis.” Dia menyeringai. Tampak giginya yang menghitam oleh asap rokok kelobot tembakau kedu yang ampeg.

Itulah pengakuan Pakde Mitro yang terpatri dalam benakku. Dari dialah aku belajar tentang makna hidup. Belajar menyikapi secara cerdas kekerasan yang melembaga di masyarakat. Kekerasan yang memberangus setiap jiwa yang bersikap kritis. Kekerasan yang tak senantiasa maujud secara fisik, tetapi justru jauh lebih melukai jiwa.

Dia mengajari aku cara tetap hidup tanpa kehilangan kewarasan. Meski, cara yang dia tempuh membuat orang lain menyimpulkan lelaki tua itu gila. Nggendheng, ya berlagak gila, itulah senjata paling ampuh yang acap dia terapkan.

Ah, di mana kusimpan seruling bambu pemberian Pakde Mitro? Sembari duduk menghadap komputer di kamar kerja, aku mengingat-ingat kapan kali terakhir meniup seruling itu.

seruling

Seruling itu selalu kutiup sebisaku, sembari diam-diam menekap perasaan, setiap kali mendengar kabar ada seorang tetangga, kawan, atau siapa pun yang kukenal di kampung halamanku meninggal. Entah kenapa bunyi tak beraturan dari tiupan seruling itu meluruhkan kedukaan yang kurasakan setiap kali mendengar kabar kematian. Siapa pun yang mati. Apalagi jika dia mati terbunuh.

Dulu, dua puluh lima tahun lalu, setelah menerima seruling itu, berhari-hari, berminggu-minggu aku berlatih meniupnya. Namun tak pernah menghasilkan suara seindah tiupan Pakde Mitro. Setiap kali dia meniup seruling, suara ngaluk-ngaluk amat merdu segera mengisi gendang telinga siapa pun. Saat itulah orang-orang tak lagi memedulikan kegilaan Pakde Mitro. Siapa pun pasti sepakat suara seruling itu sedemikian merdu, sehingga tak ada dalang atau penabuh gamelan yang merasa terganggu setiap kali Pakde Mitro nimbrung dalam pergelaran mereka.

Karena itu pula setiap dalang, setiap penabuh gamelan, setiap pesinden, dan ledek tayub selalu berharap Pakde Mitro nimbrung dalam pementasan mereka. Pergelaran wayang, kelenengan, atau tayub tanpa suara seruling Pakde Mitro pastilah cemplang, ampang. Kehadiran Pakde Mitro dan suara serulingnya pun menjadi sesuatu yang mutlak dalam setiap pergelaran. Orang-orang rela hati memberi tahu kapan dan di mana ada pertunjukan. Itulah sumber informasi yang membuat Pakde Mitro selalu tahu ke mana mesti menyeret langkah agar bisa mengisi perut.

Jika pagi hari atau selepas magrib dia berjalan menyeret-nyeret kaki kanan yang menggembung jadi sarang cacing filaria di jalanan depan rumah kami — dia selalu melewati jalan itu — aku akan mendekat dan bertanya, “Pakde, ada wayang di mana?”

Dia kaget. Namun sejenak kemudian dengan suara lirih menjawab, “Dalang Surono main di Kunden, Gus.” Lalu dia kembali menyeret langkah pelan-pelan, tanpa memandangku. Bagian bawah kain sarungnya menyapu aspal jalanan. Sobek di beberapa bagian. Tangan kanan menggenggam seruling bambu. Erat-erat. Seolah-olah khawatir ada anak bengal tiba-tiba merebut seruling itu. Padahal, tak bakal ada anak senakal apa pun berani mendekat. Bahkan sekadar mengetahui dia hendak lewat pun anak-anak keburu lari berhamburan.

Kelak, aku tahu, hampir setiap orang tua di kampung kami selalu menakut-nakuti anak-anak yang rewel atau bandel bakal diseret Pakde Mitro ke rumahnya yang muram dan tersembunyi di pojokan desa dekat pekuburan. Mereka bilang, Pakde Mitro akan membeset kulit dan membelek daging tubuh anak-anak itu. Lalu, Pakde Mitro akan memuntir dan mematahkan tulang kaki atau lengan anak-anak nakal untuk dijadikan seruling.

“Lihat, Mbah Gondo Mambu lewat. Suling di tangannya itu tulang anak-anak nakal yang tak mau menurut bapak-ibunya. Suling itu berganti-ganti setiap kali dia menyeret seorang anak ke rumahnya. Ayo diam! Atau kusuruh dia membawamu?” Begitulah ucapan seorang ibu kepada si anak yang segera mengatupkan bibir rapat-rapat setelah menangis tanpa henti begitu melihat dari kejauhan Pakde Mitro melangkah tersaruk-saruk.

Mbah Gondo Mambu? Julukan itu nyaris menenggelamkan namanya. Ganda, ngganda, bau, berbau. Wajar, karena Pakde Mitro amat-sangat jarang mandi. “Saben mambu banyu, awakku pating clenut, Gus. Lagipula cuma Marem wong edan sing sregep adus,” ujar dia.

Marem adalah perempuan yang amat sering mampir ke sumur keluarga kami. Di sumur itulah perempuan paro baya itu mandi bertelanjang bulat, setelah mencuci dan menjemur semua pakaian yang selalu dia gendong dalam buntalan besar.

“Aku bukan Marem, Gus. Aku Mbah Gondo Mambu,” ucapnya sembari tersenyum kecut. Mambu berarti bau, basi, atau gila.

Begitu mendengar dari Pakde Mitro ada orang nanggap wayang kulit, wayang krucil, tayuban, atau kelenengan, pada malam-malam ketika Ibu telah tidur terjerat kepenatan amat-sangat, aku merunduk-runduk dan menyelinap keluar rumah untuk menonton. Aku selalu bergairah menonton wayang. Apalagi jika sang pengendang Djojo Kroak. Wuah, tontonan itu pasti ramai. Begitu menatap kelir yang terbeber dan jajaran anak wayang di batang pisang dan suara gamelan, segala kepempatan hidupku seperti melenyap dalam dunia dongeng yang mengasyikkan. Aku menenggelamkan diri ke lautan pesona kisah para Pandawa atau kejenakaan Umarmaya-Umarmadi dan melupakan sejenak kepapaan hidup kami sekeluarga sepeninggal Bapak.

Mataku nanar menatap layar monitor komputer yang berkeredip. Pendaran cahaya di keremangan kamar kerja membuat mataku pedih. Aku memejamkan mata, menyandarkan kepala ke sandaran kursi. Di mana seruling bambu itu?

Seruling itulah satu-satunya penaut emosional dengan Pakde Mitro. Seruling itu pula yang acap kali jadi lorong perjalanan ke masa lalu yang menyerikan. Masa lalu memerihkan yang senantiasa menyadarkan aku bahwa ada sesuatu yang terenggut dari kami, tanpa mampu berbuat sesuatu. Itulah kematian Bapak. (Ah, di mana jasadnya dikuburkan?) Perkara itu harus kami tanggung sampai sekarang. Sekadar mengingat pun seperti menorehkan luka baru di atas borok tak kunjung kering. Selalu.

Pakde Mitro adalah wujud lain seorang bapak. Paling tidak di mataku. Dia lebih beruntung karena tak terbunuh dalam pertikaian politik pada paro kedua 1960-an. Awal tahun 1966, priayi kecil, pegawai negeri di sebuah instansi pemerintah, itu dipecat tanpa pensiun. Orang berbisik-bisik, dia tersangkut Gestapu. Setiap Senin dan Kamis dia diharuskan melapor ke Kantor Kodim/Laksusda. Entah berapa lama.

Sejak saat itulah dia kehilangan mata pencaharian. Meski dia mau bekerja sekasar apa pun, tak ada orang bersedia mempekerjakan. Bahkan ketika dia soroh bahu dalam sambatan pun tak ada orang bersedia menerima. Padahal, perut lapar harus ditangsal. Dia sendiri masih mampu menahan lapar, menahan haus. Namun perut istri dan keenam anaknya?

Mencuri? Tak mungkin! Ajaran moyangnya kadung mengakar, menjadi sikap hidup yang tak tergoyahkan: pantang colong jumput, ngecu, mbedhor. “Lebih baik mati berkalang tanah ketimbang laku cidra, Gus,” ucapnya.

Tak terelakkan, Mbokde Mitro harus bekerja untuk menghidupi enam anak yang nedheng-nedhenge semega. Setiap hari perempuan itu harus berkeliling, menyusuri setiap lorong kota, menjajakan sayur mayur atau apa saja yang laku dijual. Dia menggendong dhunak di punggung dan kedua tangan menjinjing anting. Beban tak ringan itu harus dia sandang setiap hari, sepanjang hayat, agar semua anak bisa makan, bisa berpakaian, dan bersekolah.

Dan Pakde Mitro? Lelaki itu kehilangan kepengkuhan. Dia merasa seperti kain rombeng yang cuma pantas jadi lap, yang tak semestinya disampirkan di sembarang tempat. Diam-diam, dia makin kehilangan kepercayaan pada diri sendiri, makin kehilangan rasa hormat dari anak-anaknya. Karena itulah, selepas magrib dia selalu keluar rumah. Dia berjalan ke mana pun kaki melangkah, menyusuri malam. Bahkan ketika hujan lebat mengguyur. Tak ayal, ketika dia pulang pintu rumah pun telah tertutup rapat.

Mula-mula Pakde Mitro tidur di emperan rumah, di atas lincak bambu tanpa alas, tanpa selimut. Sekali-dua kali dia tidur di mana pun ketika kakinya tak lagi kuat melangkah atau hujan menghalangi kembali ke rumah.

Ketika pintu rumah tak pernah lagi terbuka, dia membangun gubuk mirip sarang binatang di bawah kerimbunan bambu di pojok pekarangan bersebelahan dengan pekuburan desa. Setiap malam dia keluar dari sarang, menyeret langkah, dalam kembara yang menggigilkan. Sembari berjalan dia suntak rasa ngungun, rasa tak berdaya, rasa tak berarti, rasa tersia-sia yang terus-menerus menggayuti benak dalam tiupan seruling bambu. Dia melebur dalam seluruh bebunyian yang membuncah.

Ketika tanpa terasa langkahnya menyeruak keramaian pertunjukan wayang, dia terperenyak, kaget. Takut-takut dia mlipir, menjauh. Namun tak seorang pun memedulikan. Dia terduduk di rerumputan. Jauh dari kerumunan. Pelan-pelan dia selaraskan tiupan seruling dengan suara gamelan. Dia pun tenggelam dalam keasyikan, terbenam dalam pukauan nada seruling yang menyelinap, datang dan pergi, seiring dengan pergantian adegan wayang. Dia lepas semua kepempatan melalui tiupan seruling itu. Nada seruling mengeras, cepat, saat gamelan merancak rampak. Lalu memelan, pedih menyayat, saat gamelan mengulem lirih.

Suara seruling! Aku terjengat. Serentak aku bangkit dan separo berlari keluar kamar. Ah, Kinan meniup-niup seruling itu sebisanya.

“Bapak ngampil, Nduk.”

Moh! Aja!” kata gadis kecilku itu.

Hara to, kemarin kau yang memberikan suling itu kepadanya kan?” sahut istriku seraya meneteki Titis, si bungsu.

“Nduk, Sayang, Bapak ngampil sekedhap.”

Moh!” Kinan menepis tanganku yang terjulur.

Ringg…. Riiing…  Kusambar telepon di dekat pesawat televisi. “Yak, halo?”

“Gun, Pakde Mitro seda. Baru saja. Dikuburkan besok siang,” ujar Mbak Tiek, kakak sulungku di Blora. “Kalau bisa, pulanglah. Kau saja yang dia sebut-sebut sebelum meninggal. Wis ya.”

Aku tergugu. Pukul 22.00. Belum larut benar. Tiba-tiba…, prakk! Kinan memukulkan seruling itu ke permukaan ubin. Pecah.

“Kinaaan! Bocah kok…” Mulutku terkatup begitu menyadari kedua anakku menjerit kaget mendengar teriakanku, lalu menangis keras-keras. Istriku mendelik. Marah.

Aku terduduk lemas. ”Pakde Mitro seda, Wuk,” gumamku. Nyaris tak terdengar, lantaran tangis kedua anakku keras bersipongang.

 

Patemon, 21 Ramadan 1427 Hijriah

 

 

Catatan:

Nggendheng, ngedan: berlagak gila, berlagak edan.

Wong edan: orang gila.

Ampeg: menyesakkan dada.

Ngaluk-ngaluk: mendayu-dayu.

Cemplang, ampang: sumbang.

Ganda, ngganda: bau, berbau.

Saben mambu banyu, awakku pating clenut: setiap kali terkena air, tubuhku ngilu.

Wong edan sing sregep adus: orang gila yang rajin mandi.

Soroh bahu: urun tenaga.

Sambatan: membantu tenaga secara sukarela, tanpa upah.

Colong jumput, ngecu, mbedhor: mencuri, menjambret, merampok.

Laku cidra: perbuatan tercela.

Nedheng-nedhenge semega: lagi doyan makan.

Dhunak: keranjang bambu yang digendong di punggung.

Anting: keranjang bambu kecil yang ditenteng.

Suntak: curah, mencurahkan.

Mlipir: berjalan sembunyi-sembunyi untuk pergi.

Ngampil: pinjam.

Moh: emoh.

Aja: jangan.

Hara ta: kata seru, yang menunjukkan keheranan; bisa juga sebagai celaan.

Sekedhap: sebentar.

Seda: meninggal.

Wis ya: sudah ya.

 

7 Comments to "Seruling Pakde Mitro"

  1. juwandi ahmad  8 March, 2013 at 21:40

    ha ha ha ha……..hanya orang orang yang top yang mampu ngedan, nggendheng dan ngenthir….dan agaknya, kang putu amsuk dalam daftar….

  2. EA.Inakawa  8 March, 2013 at 05:45

    kang Putu, saya selalu senang membaca artikel sampeyan,terima kasih atas kisah hidup pakde Mitro ini, salam sejuk

  3. Handoko Widagdo  7 March, 2013 at 20:10

    Kang Putu, cerita tragis dan berakhir bersama dengan serulingnya.

  4. Dj. 813  7 March, 2013 at 15:18

    Kang Putu…
    Matur Nuwun kang…
    Cerita yang mengharukan…
    Dj. juga sering main suling, perlahan, kalau malam sendirian…
    Salam Sjahtera dari Mainz.

  5. [email protected]  7 March, 2013 at 13:51

    miris….

  6. Dewi Aichi  7 March, 2013 at 09:08

    Cerita pedih Kang, banyak sekali orang yang bernasib seperti pakdhe Mitro. Tapi apakah dulu begitu ya masyarakat tidak menerima seseorang yang dianggap . diduga PKI/gestapu. Bener-bener dahsyat, merasuki pikiran masyarakat, sehingga orang seperti pakdhe Mitro disisihkan.

  7. Dewi Aichi  7 March, 2013 at 08:43

    Percobaan, komentar..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.