Ternyata Ibu Benar

Tri Yudani

 

Aku masih terisak-isak memeluk guling, saat kulihat jarum jam telah menunjukkan pukul 02.00 dini hari.

Sore tadi Ibu menyeretku pulang dengan kasar sekali. Ibu sudah mengintaiku lama.Ternyata itu yang dilakukan Ibu ketika aku ketemu Mas Yanto, pacarku.

Mas Yanto, laki-laki ganteng itu, begitu membuatku terpana, aku jatuh cinta, aku tidak berdaya. Waktuku habis memikirkannya. Sehari 24 jam otakku berkutat tentang dia. Ediaaannnn……..memang.

Pikiranku melayang, mengingat pertemuanku yang pertama dengan Mas Yanto. Di kantin sekolah, yah di kantin sekolah itulah aku bertemu dia. Dia kakak kelasku, aku kelas satu dan dia kelas tiga.

“Dik, kelas satu ya..”

“Ya..” Jawabku malu-malu.”

“Kenalkan Dik, ” Yanto “.

“Kamu adiknya ..Bayu ya , aku kenal kakakmu , Dik “

“Oh…mmm…..ya”. Aku masih gugup menjawab lantaran hatiku berdeba-debar tak karuan.

“Besok aku main ke rumahmu ya.?”, Katamu lagi.

“Ya..ya…..”. Aku mengangguk -angguk setuju.

Woooo…….alangkah senangnya hatiku, rasanya jiwaku melayang-layang ke langit saat itu. Mas Yanto yang ganteng, yang ketua OSIS, yang aktivis sekolah mau ngapel ke rumahku!

Aku itu perempuan yang pemalu dulu, aku merasa banyak kekuranganku. Aku selalu minder. Aku merasa jelek, miskin, gendut, ah pokoknya penuh keburukan. Belum lagi profesi ibukku yang cuma penjual nasi pecel!!

Akhirnya aku jadian dengan mas Yanto.

Hari-hariku kulalui penuh ceria. Duniaku sungguh terasa indah. Surat-surat cintanya terus berdatangan. Kata-kata mesranya memabukkan. Oh…aku jatuh cinta. Sungguh indahnya………….

Tapi, ada satu hal yang aku tak mengerti, bapakku tidak menyukai Mas Yanto. Aku tidak mengerti alasannya.Tatapan mata bapak selalu tidak enak kulihat. Bapak tidak pernah bicara, tetapi bapak menyimpan rasa tidak suka.

Aku tak peduli, aku masih muda, aku berhak mencintai siapa saja. Cinta tidak bisa dilarang. Itu selalu yang jadi prinsipku ketika itu.

Tahun demi tahun berlalu. Tidak terasa hampir lima tahun kami bersama. Aku tidak pernah bosan. Semakin hari aku justru semakin cinta Mas Yanto.

Pikiranku melambung tinggi, harapanku besar. Alangkah bahagianya seandainya…seandainya aku menjadi istrinya kelak.

Sampai..pada suatu hari, bagai disambar petir di siang bolong,  ibuku menyeretku masuk ke dalam kamar.

Ibu mengintimidasi aku.

“Indrie…..mulai detik ini putuskan hubunganmu dengan Yanto !! “

“Lo..kenapa ?….Aku mencintainya !!

“Dengar ya….dengar !! Kita tidak selevel dengan dia, dia anak penguasa, orang tuanya pejabat, sedang kita, kita ini kere!!

Orang tuanya tidak suka sama Ibu dan Bapak!!” Ibu terus saja mengoceh sambil tangannya menunjuk-nunjuk mukaku.

Meskipun aku sudah dilarang aku tetap tak perduli, aku tetap jalan. Aku backstreet.

Bagaimana aku mau mutusin. Cinta itu soal hati. Hatiku sungguh tidak bisa berpaling.

Pertemuan-demi pertemuan tetap aja jalan.Kami sering janjian.

Cinta yang sembunyi-sembunyi sungguh indah sekali.

Menginjak tahun kelima, mas Yanto melanjutkan studinya ke Surabaya. Dia diterima di perguruan tinggi ternama. Dia mulai jarang ke rumah. Suratnyapun tak datang.

putus cinta

Aku mulai gelisah…..

Aku menangis…..

Aku bingung apa salahku.

Akhirnya pertanyaanku terjawab. Setelah aku surati dia, dia membalas.

“Dik, maafkan aku , aku merasa hubungan ini tidak bisa kita lanjutkan.”

“Diarrr…………bagai disambar petir di siang bolong aku membaca surat itu.”

Apa salahku, mengapa, mengapa kau putuskan aku..?? Tidakkah kau tahu, aku sangat mencintaimu. Aku perempuan yang paling mencintaimu di bumi ini.  Airmataku bercucuran, sepanjang hari, sepanjang malam, sepanjang masa mengingat itu.

Sampai hari ini aku tidak tahu alasannya. Cuma yang menjadi catatanku ternyata Ibu benar, Bapak benar, bahwa mas Yanto tidak benar-benar mencintaiku.

 

15 Comments to "Ternyata Ibu Benar"

  1. Indriati See  23 April, 2013 at 14:44

    Mati satu tumbuh seribu begitulah “cinta” … anyway, saya sependapat dengan orang tua Indrie karena sering perbedaan status sosial menjadi kendala dalam hubungan cinta walaupun kita juga harus percaya bahwa cinta tak akan lari kemana …

    *Inspiratif

  2. J C  9 March, 2013 at 21:51

    Pengalaman pribadi juga mirip. Waktu pacaran dengan mantan yang dulu, awalnya Papa dan Mama masih ok, sambil menjajaki. Setelah beberapa saat, orangtua mulai menentang dan akhirnya benar-benar tidak setuju. Selama beberapa tahun backstreet, namun akhirnya masing-masing sadar dan pisah baik-baik. Tidak ada untungnya dan tidak ada baiknya jika bersikeras jalan…

    Dari pengalaman-pengalaman selanjutnya, aku menyaksikan banyak pasangan yang tanpa restu orangtua, namun terus bersikeras jalan membina rumah tangga, lebih banyak yang tidak baik. Memang ada beberapa yang memang baik, ada beberapa yang sangat baik karena memang akhirnya orangtua kedua belah pihak merestui.

    Aku percaya banget restu orangtua sangat mutlak untuk membina keluarga…

  3. Linda Cheang  9 March, 2013 at 20:46

    masalah klasik dan klise… tapi masih saja terjadi di jaman kiwari

  4. [email protected]  9 March, 2013 at 15:16

    hahaha ya Mas Djoko Paisan sambungannya nanti dulu ya tak mikir dulu hehe

  5. Dj. 813  8 March, 2013 at 20:32

    Suwun mbak Tree…
    Ternyata hari ini malah sudah tayang…
    Ditungu lanjutannyaya….
    Salammanis dari Mainz…
    Tternyata Dj. yang benar….. hahahahahahaha….!!!!

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.