Love The Way You Live

Faizal Ichall

 

Ada cerita bagus tentang seorang anak kecil yang sedang berjalan di tepi sungai.

Dia melihat seekor buaya yang terjebak dalam jaring, buaya berkata:

“Kasihanilah aku, bantulah aku agar terbebas dari jaring ini. Aku mungkin terlihat jelek, jahat dan ganas, tapi itu bukan salah dan kemauanku, karena aku memang dibuat seperti ini. Tapi apapun penampilan luarku, aku memiliki hati seorang ibu, aku terjebak seperti ini karena sedang berusaha mencari makan untuk anak-anak ku”

Anak itu menjawab;
“Jika saya membantu kamu, nantinya kamu akan menerkam dan memangsa saya.”

Buaya bertanya;
“Apakah kamu berpikir aku akan melakukan hal itu terhadap seseorang yang telah menyelamatkanku?”

Akhirnya si anak menolong buaya itu, dan tepat seperti perkiraan sebelumnya, setelah buaya itu terbebas sedikit dari perangkapnya, buaya itu langsung menerkam anak itu.

Saat terjepit di antara dua rahang buaya si anak berkata;
“Jadi inikah yang aku dapatkan atas perbuatan baikku terhadapmu?”

Buaya menjawab;
“Yah, jangan tersinggung nak, ini adalah cara dunia, ini adalah hukum kehidupan.”

Tidak puas atas jawaban dari buaya, anak itu meminta izin sebelum buaya membunuhnya untuk menanyakan pembenaran atas jawaban buaya kepada mahluk lain yang berada di sekitar tepi sungai itu.

Anak itu melihat seekor burung yang sedang bertengger di cabang pohon dan berkata,
“Burung, apakah buaya berkata benar?”

Burung itu berkata,
“Buaya benar. Lihatlah aku, suatu hari aku pulang dengan makanan untuk anak-anakku, Bayangkan ketakutanku, saat aku melihat seekor ular merayap di pohon. Aku benar-benar tak berdaya menolong anak-anakku. Aku terus berteriak dan berteriak, tapi sia-sia. Buaya benar, ini adalah hukum kehidupan, ini adalah cara dunia ini.”

“Lihat,” kata buaya.

Tapi si anak berkata,
“Izinkan saya bertanya pada yang lain.”

Buaya berkata,
“Yah, baiklah, silakan.”

Ada keledai tua yang lewat di tepi sungai.

“Keledai,” kata anak itu,”(…..) apakah yang buaya katakan itu benar?”

Keledai mengatakan,
“Buaya ini cukup tepat. Lihatlah aku.. Aku sudah bekerja keras untuk majikanku sepanjang hidupku dan dia nyaris tidak memberiku cukup makanan. Sekarang aku sudah tua dan tidak berguna, ia telah berbalik melepasku , dan di sini aku berkelana di hutan, menunggu beberapa binatang buas menerkam diriku dan mengakhiri hidupku. Buaya berkata benar, ini adalah hukum kehidupan, ini adalah cara dunia ini..”

“Lihat,” kata buaya. “Mari kita pergi! Aku harus memberikan dirimu untuk makanan anak-anakku.”

Anak itu berkata, “Beri aku satu kesempatan lagi, satu kesempatan terakhir, Izinkan aku mengajukan satu pertanyaan pada makhluk lain, ingatlah betapa baiknya aku bagi kamu?”

Lalu buaya berkata,
“Baiklah, ini kesempatan terakhir kamu.”

Anak itu melihat seekor kelinci lewat, dan dia berkata, “Kelinci, apakah buaya buaya berkata benar atas (…)?”

Lalu kelinci duduk berjongkok dan berkata kepada buaya,
“Apa kamu berkata demikian pada anak ini? Tunggu sebentar, sepertinya hal ini harus didiskusikan untuk mencari pembenarannya.”

“Baiklah, silahkan” kata buaya.

Tetapi kelinci berkata,
“Bagaimana kita bisa membicarakannya kalau anak itu di mulut Anda? Ia harus mengambil bagian dalam diskusi.”

Buaya mengatakan,
“Kau cerdik, Saat aku melepaskan dia, dia akan kabur.”

Kelinci berkata,
“Saya pikir kamu lebih cerdik, Jika ia berusaha untuk lari, mengapa tidak kamu kibaskan saja ekor mu, dan itu akan membunuhnya.”

“Cukup adil,” kata buaya, dan ia membebaskan anak itu.

Saat anak itu dilepaskan, kelinci berkata,
“Lari!”
Dan anak itu berlari dan kabur.

Lalu kelinci berkata kepada anak itu, “mengapa tidak anda pergi ke desa dan memanggil semua orang di desa untuk menangkap buaya itu, lihat sebagian tubuhnya masih terperangkap, bukankah kulit buaya memiliki harga yang mahal jika dijual.”

Itulah yang anak itu lakukan. Dia pergi ke desa dan memanggil semua kaum pria.

Mereka datang dengan kapak, tongkat dan tombak lalu membunuh buaya itu.

Anjing peliharaan anak itu datang juga, dan ketika anjing itu melihat kelinci, anjing itu mengejar, menangkap dan memegang kelinci itu, dan menggigit kelinci itu.

Anak itu datang di tempat kejadian terlambat, dan dia menyaksikan kelinci itu dalam keadaan sekarat, katanya, “Buaya itu benar, ini adalah cara dunia, ini adalah hukum kehidupan.”
[…]
~Anthony de Mello 

Life-reality

Tidak ada penjelasan yang tepat untuk kita dapat memberikan dan menjelaskan segala penderitaan, kejahatan, penyiksaan, kehancuran dan kelaparan di dunia!

Realitas tidak bermasalah, kita adalah masalah.

 

2 Comments to "Love The Way You Live"

  1. Dewi Aichi  12 March, 2013 at 08:40

    Dongeng yang sarat makna….itulah dunia….siapa yang cerdas, dialah yang menang, siapa yang kuat dialah yang menang, tapi bukan berarti yang banyak itu yang benar….belum tentu…

    thank you mas Faizal…ceritanya cukup apik…

  2. Dj. 813  10 March, 2013 at 17:24

    Teest…..

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.