Cinta Emak yang Sungguh Berat

Juwandi Ahmad

 

Sampai sekarang dan terlebih dulu, ketika saya masih SMA dan mahasiswa, setiap kali pulang kampung ke Sumatera dan menjelang kembali pulang ke Jogja, bapak dan terlebih lagi mak begitu sibuk. Dan saya selalu gagal memberi mereka pengertian. Beragam oleh-oleh disuruh bawa pulang ke Jogja: duku satu peti, kardus-kardus besar penuh sembako: gula, kopi, teh, sarden, susu kaleng, sirup, minuman kaleng, aneka kue produksi sendiri, roti kaleng, indomie, daging goreng ayam jago, ikan gabus panggang, daging sapi goreng, macam-macam. Sampai-sampai saya harus menyortir makanan yang menarik dan tidak menarik untuk kubawa.

Dan tentu saja dengan perdebatan. Semuanya dikemas rapat seperti barang siap ekspor. Masih ada tas plastik besar berisi telur rebus, ayam goreng, nasi, buah, dan aqua sebagai bekal untuk dimakan di dalam bus. Dan tentu saja antimo dan satu pak kantong plastik hitam untuk berjaga-jaga menghadapi siksaan dewa mabok. Belum lagi koper besar berisi baju dan buku-buku yang saya bawa dari Jogja sekedar untuk bacaan di rumah. Dan yang lebih gila: beras dengan berat hampir satu kwintal. Ampun! Saya berkeras menolaknya, dan tetap saja gagal. Selalu saja ada alasan dan petuah aneh dari bapak dan mak yang sungguh teramat susah diterima nalar dan logika. Namun kemudian, apa yang mak lakukan membuatku bukan hanya menyerah, tapi juga membanjiriku dengan keharuan.

Seperti biasa, mak selalu bangun sebelum subuh. Dan di pagi buta, jam 3 pagi, aku melihat mak begitu khusuk seorang diri membersihkan beras dengan tampah. Orang-orang di kampungku menyebutnya napeni beras: memisahkan beras dari kotoran, las atau gabah yang tak tergiling dan juga menir untuk mendapatkan bulir-bulir beras kualitas terbaik. Aku melihatnya dengan perasaan campur aduk. Aku menyerah, dan beras itu akhirya kubawa dengan penuh cinta. Kecintaan, ketulusan, dan perhatian mak terlalu banyak, dan itu seringkali membuatku tak enak hati.

Sungguh tak nyaman dibanjiri perhatian seorang ibu. Ketika pulang kampung, setiap hari mak akan bertanya padaku, mau makan apa hari ini, ingin apa, memaksaku ke tukang jahit untuk membuat baju dan celana baru, dan beragam hal yang membuatku terharu dan menangis dalam hati. Meskipun tanpa harus begitu, saya sudah sangat menyayangi mak, menghormati mak, dengan dada yang terasa penuh, dengan tenggorokan yang terasa serak. Begitulah mak, yang tidak pernah sekolah, tak bisa membaca, tak bisa menulis. Bahkan bahasa Indonesianya sangatlah kacau, campur aduk tidak karuan. Seluruh hidup dan waktunya yang hampir tujuh puluh tahun benar-benar habis tercurah hanya untuk melayani suami, mengurus anak, memasak, dan bersih-bersih. Ada banyak kisah tentang mak yang saya banyak belajar dari padanya.

Setelah perjalanan lebih dari satu hari satu malam, saya tiba di Jogja. Taksi berhenti di depan kost. Teman-teman kost menghampiri. Mereka geleng-geleng kepala dengan apa yang kubawa dan bagaimana membawanya. Dan tak lama kemudian, kardus-kardus besar penuh makanan di bongkar. Peti berisi duku dicongkel. Dan terlihat wajah-wajah sumringah penghuni kost.

 

14 Comments to "Cinta Emak yang Sungguh Berat"

  1. juwandi ahmad  13 March, 2013 at 20:39

    He he he he….emak memang hebat…..boleh di adu..ha ha ha

  2. juwandi ahmad  13 March, 2013 at 20:38

    Kalau tulisan yang pendek pendek begini, asalnya dari status facebook….tidak ditulis secara khusus untuk baltyra…….

  3. Dewi Aichi  13 March, 2013 at 20:37

    He he he he….emak memang hebat…

  4. juwandi ahmad  13 March, 2013 at 20:36

    Walah wes tekan kene to tulisanku kuwi…..Wah jan telat iki aku….! Wes pokok’e kuwilah mamakku….cerita asli, 100% pengalaman pribadi he he he….

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.