Latihan Tari di Kraton Yogyakarta Kembali Diselenggarakan

Probo Harjanti

 

Setelah 12 tahun vakum, gladhi beksa (latihan tari) rutin di kraton Yogyakarta kembali diselenggarakan. Kegiatan latihan tari ini terbuka untuk umum, bertempat di bangsal Kasatriyan,  Kraton Yogyakarta. Untuk mengikuti latihan ini, calon peserta harus  mendaftarkan diri sebagai anggota Pamulangan Hamong Beksa Kraton Ngayogyakarta (nama resmi bebadan yang nantinya bakal dipakai).  Itu, bisa dilakukan setiap hari Minggu sebelum jam latihan (10.00 s/d 12.00 WIB). Pamulangan Hamong Beksa Kraton Ngayogyakarta ini yang melaksanakan kegiatan latihan tari tersebut, di bawah naungan Kridha Mardawa sebagi induknya organisasi tari di Kraton.  Di atasnya ada lagi, Kawedanan Hageng Punakawan yang membawahi semua bebadan yang mengurusi beraneka kegiatan yang diselenggarakan Kraton Yogyakarta, yang dikomandani . Drs. GBPH. H. Yudaningrat, M.M Rayi Dalem Sultan HB X.

persiapan latihan IMG_0645

Latihan tari di Kraton Yogyakarta, tentunya harus mengikuti paugeran (aturan/ ketentuan) yang berlaku. Dalam hal ini, terutama untuk busana latihan. Ada pun ketentuan untuk penari kakung berbusana pranakan, nyamping (kain jarit), dan memakai udheng (penutup kepala), nantinya saat menari harus ngliga (lepas baju/pranakan dilepas). Sedangkan penari perempuan dengan ukel tekuk (gelung tekuk/ sanggul  gaya Yogyakarta) polosan, tanpa asesori, kebaya kartini, nyampingan seredan. Untuk motif nyamping, tidak boleh memakai motif barong gurdha, parang ageng gurdha, dan kawung ageng. Ketentuan motif ini berlaku untuk putra mau pun putri.

Sambutan masyarakat tari sangatlah bagus, terbukti dengan banyaknya yang hadir mengikuti latihan mau pun yang sekedar datang menonton selama latihan. Selain mereka yang khusus datang menonton latihan, kegiatan ini juga dinikmati wisatawan yang sedang mengunjungi Kraton Yogyakarta. Jadi, setiap Minggu ada dua kegiatan yang terkait dengan tari, yakni:  pentas tari klasik di Bangsal Sri Manganti pukul 10.30 sampai selesai, dan latihan tari di Bangsal Kasatriyan. Keduanya menggunakan iringan gamelan secara langsung, bukan rekaman.

bersama senior latihan Srimpi Pandhelori

Dengan iringan  gamelan langsung, penari dan calon penari sekaligus angon rasa, jadi mengolah raga dan mengolah rasa sekaligus. Juga belajar tata krama, bagaimana kita naik pendapa, laku dhodhok, dan lain-lain. Sayang beberapa wisatawan domestik mau pun manca sering seenaknya saja naik undhak-undhakan tanpa melepas alas kaki.

Mbarep saya termasuk salah satu peserta gladhi tersebut. Meski dia kecapekan karena persiapan pergelaran untuk Tugas Akhir dan les-les menjelang Ujian Nasional yang menyita waktu dan tenaga, dia tetap semangat untuk mengikuti latihan. Pagi-pagi saya antar ke rumah salah satu pelatih tarinya (teman juga sih), untuk digelung tekuk. Saya sendiri sudah malas berurusan dengan rias-merias, mungkin karena hampir 10 tahun ‘dipaksa’ mengajar bahasa Jawa, dan belasan tahun tidak merias untuk pentas, akhirnya saya jadi malas dan mungkin juga tangan saya sudah kaku. Biar tidak ribet, saya bawakan tikusan, supaya tidak usah disasak yang memakan waktu dan merusak rambut. Kesibukan  yang menyebabkan saya belum bisa beli tikusan dan sanggul yang lebih bagus, tikusan dapat pinjam, dan sanggul milik anak saya sendiri.

Selesai sanggulan kami meluncur menuju Kraton, setelah sempat ngampiri teman di Taman Sari. Kami lewat Magangan Kulon, tempat yang mengingatkan saya saat pertama kali ketemu sosok Tia Yuliantari. Mbarep saya mengatakan bahwa perasaannya tidak karu-karuan, terharu bisa ikut latihan, ingin nangis katanya. mBarep dan teman saya meninggalkan sendal di tempat parkir, lalu nyeker menyusuri pasir yang hangat. Saya sendiri tetap memakai alas kaki, karena saya tidak bersanggul dan berkebaya. Dari area ini penutup kepala tidak boleh dipakai, ini berlaku intern, bukan untuk wisatawan.

di antara tiang IMG_0619

Menari atau pun latihan tari di Kraton, memang menimbulkan kesan tersendiri. Sebuah tempat yang ‘tidak biasa’ dan ada aura mistis, hingga orang tak bisa bicara dan bersikap sembarangan. Orang rela menjadi abdi dalem (dengan berbagai peran) di Kraton meski ‘gaji’ tidak seberapa, hanya semacacm penanda bahwa yang bersangkutan adalah abdi dalem. Menjadi kebanggaan tersediri menjadi bagian dari keberadaan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Gaji atau kekucah itu oleh sebagian orang tidak dibelanjakan, hanya disimpan, katanya merasa ayem dengan itu.

tari Sari Tunggal

Semoga semua kegiatan menjadi titik kebangkitan seni tari Indonesia…

 

56 Comments to "Latihan Tari di Kraton Yogyakarta Kembali Diselenggarakan"

  1. Yantie Wahazz  11 August, 2017 at 19:44

    Salam kenal, Mbakyu …. Jujur saja saya sedang mengumpulkan bahan untuk membuat sebuah novel berbau religi yang menggunakan setting budaya. Jadi tulisan ini sangat berarti. Jadi saya ijin copas, untuk bahan acuan saya membuat cerita, agar memiliki ruh dan sedikit riil.

  2. tuya  9 July, 2015 at 15:57

    Kalau misalnya saya mau ikut latihan tari, apakah masih bisa? Apakan ada nomor yang bIsa saya hubungi? Trims ^_^

  3. Yeni Suryasusanti  26 June, 2013 at 08:25

    Wahhhhh…… Bugucan, makasih artikelnya… ntar kalo suatu saat ke Yogya lagi, aku mau nonton ah… Latihannya dibuka untuk dilihat umum ya? Setiap hari Minggu jam 10-an ya?

    Aku paling suka lihat orang nari tradisional, tari apa pun… masing2 punya greget tersendiri dan bisa membuat perasaan gimanaaa gitu… Perasaan nggak aku temukan saat aku menonton modern dance
    Ah, apa aku yang kuno ya? hehehehehe….

  4. probo  19 March, 2013 at 12:46

    nek anakku….soale wadhahe apik…..

  5. probo  19 March, 2013 at 12:46

    sapa dhimas? aku? aku pancen (dudu) Dewi Suprobo kok……
    hahaha ngaco…lagi stress iki….

  6. Handoko Widagdo  19 March, 2013 at 12:43

    Pancen ayu kaya widodari

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *