Nafkah

Anwari Doel Arnowo

 

Pernah saya kisahkan, seorang muda menemui saya di kantor saya. Dia laki-laki yang cukup tampan dan masih sekitar 25 tahunan umurnya. Saya tanya anda siapa dan mengapa menemui saya?

Jawabnya: “Ini masalah pribadi, Pak. Saya disuruh ayah saya, pak R yang adalah teman Pak Anwari waktu belajar di Institute tiga puluhan tahun yang lalu. Ayah minta agar saya menemui Bapak untuk bisa diikut-sertakan bekerja di dalam lingkungan kerja Bapak di sini.”

Saya tanyakan kepada dia apakah pernah bekerja sebelumnya. Dia jawab denga muka bersinar, sudah.

Lalu mengapa berhenti? “Diperintahkan berhenti oleh ayah saya!!” Saya terkejut dan bertanya mengapa?

“Ayah saya tidak menyukai tempat di mana saya bekerja, dan setelah lebih dari setahun, saya diperintah oleh beliau agar meninggalkan pekerjaan saya secepatnya dan segera menemui Bapak!” Atas pertanyaan saya selanjutnya, apa kerjanya dan di mana, dia menjawab dengan terbata-bata:

“Saya bekerja sebagai akuntan di sebuah PT (Perseroan Terbatas) yang mengimport dan menjadi agen penjualan di Indonesia. Yang diimport adalah minuman keras Whiskey merk Johnny Walker. Kata ayah saya minuman tersebut adalah haram dalam agama keluarga kami dan saya tidak boleh memiliki penghasilan dari barang haram seperti whiskey ini.” Bukan main apa yang saya dengar ini; rasa seperti tersengat lebah saja.

Setau saya selama saya berkumpul dan tinggal bersama berdua sekamar dengan R dalam asrama di Galangan Kapal besar berkaryawan sebanyak 15 ribu orang, tempat kami belajar dalam program praktek di negara Jepang, saya tidak melihat dia bersembahyang. Ini suatu kejutan bahwa dia sudah berubah seratus persen, karena selama ini saya bertemu dengan dia adalah sekitar lima belas tahun sebelumnya.

Saya tidak pernah mengira-ngira sama sekali bahwa R bisa bertindak seperti ini, meskipun itu adalah haknya seratus persen.

Sebenarnya saya sudah mempunyai sikap di dalam hati untuk menyuruh anak ini pergi saja ke tempat lain dan tidak mencari kerja di lingkungan saya, hanya karena saya tidak sependapat dengan ayahnya.

Tetapi baiklah saya coba menolong demi mengingat hubungan pertemanan saya selama belajar bertahun-tahun bersama R dan pernah tinggal selama enam bulan lamanya dalam satu kamar. Saya katakan bahwa saya bisa menolongnya bekerja di dalam  lingkungan saya dan tempat bekerjanya adalah di Kalimantan Barat di dekat kota Putussibau di sebuah tempat di dataran agak tinggi yang sejuk udaranya, bernama Bunut. Letaknya di tengah hutan dan semua fasilitas hidup dijamin perusahaan termasuk makanan dan pemeliharaan kesehatan serta biaya pergi ke lokasi pekerjaan.  Cuti diberikan satu tahun satu kali dan biaya cuti diberikan juga satu bulan uang ekstra gaji khusus cuti, biaya perjalanan cuti ke tempat asal penerimaan pegawai di Jakarta menggunakan pesawat terbang, perjalanan darat dan helicopter ke lokasi di hutan, ditanggung perusahaan. Gaji khusus cuti bukanlah sama dengan hadiah THR untuk Lebaran”

Sengaja saya nyerocos panjang lebar inti persyaratan yang biasa seperti itu, yang juga biasa saya beritaukan kepada siapa saja yang bisa diterima bekerja. Tetapi terkejut lagi saya mendengar pertanyannya: “Di Kalimantan, pak?”

“Iya, kenapa?”

“Wah itu jauh sekali dan saya terpaksa harus hidup terpisah dari keluarga ayah!!”

“Terserahlah, itu yang sesuai dengan kebisaan kamu dan itu adanya di sana, karena camp-camp kita yang lain-lain sudah memiliki tenaga akunting seperti kamu, di Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah dan juga di Kalimantan Timur. Kalau kamu mau dan berani hidup seperti itu segeralah kamu datang lagi untuk dites sesuai dengan bidang pengetauan yang kamu kuasai. Berundinglah baik-baik dengan keluarga”

Saya sudah sedikit muak menghadapi nyali kecil dari seorang muda seperti ini.

anak-manja

Benar demikianlah kejadian berikutnya sekitar satu minggu kemudian, ketika dia datang lagi menemui saya, dia bilang: “Kata ayah saya minta tolonglah kepada Pak Anwari untuk bisa ditempatkan di Jakarta saja, mengingat Kalimantan Barat itu jauh sekali dari Jakarta.”

“Sejak kamu datang kemari yang saya dengar adalah ayah saya, ayah saya terus dari kalimat-kalimatmu. Apa sebenarnya kata di hatimu sendiri? Bukankah kamu sudah dewasa dan seharusnya bisa memutuskan sendiri masalah seperti ini, kalau memang ini kamu anggap masalah. Di Bunut sana, sudah ada seratus karyawan yang sudah beberapa bulan berada di sana. Malah ada saya tunjuk juga seorang berkebangsaan asing yang sudah berkeluarga dan memiliki anak-anak yang di tinggal di negerinya sana, di Queensland Australia, ada yang datang dari Dabo Singkep dan Tapanuli, dari Jawa Tengah bagian Selatan dan bahkan dari Jawa Barat Selatan, di mana ayahmu berasal. Mereka semua bisa melaksanakan tugasnya dengan baik. Komunikasi dengan keluarga bisa dibantu kalau memang perlu. Apalagi yang kamu takutkan? Makanan dijamin pasti lebih baik dari yang kamu biasa konsumsi di Jakarta selama ini. Ada parabola televisi maupun VCD serta listrik menyala 24 jam.”

Dia tunduk dalam-dalam, saya bersuara agak keras, menyuruhnya duduk tegak dan menatap mata saya. “Jangan bersikap macam begitu kalau mencari pekerjaan, biarpun mengecewakan hatimu, dengan bersikap begitu maka kamu tidak akan tertolong!!”

Tahap selanjutnya masih saya alihkan dia untuk pergi ke relasi-relasi saya untuk melamar pekerjaan, dan ini memang masih memenuhi kaidah KKN saya yang ada di dalam N – Nepotisme dengan R.

Apa yang saya dengar tiga bulan kemudian?? Dia masih luntang-lantung dalam keadaan menganggur.

Saya lupakan dia sampai hari ini, apalagi saya tidak pernah bertemu dia sama sekali. Ayahnyapun meninggal dunia ketika saya berada di Toronto dua tahun yang lalu.

Pemuda cengeng, maafkan saya, seperti ini bertebaran dan amat banyak ada di Jakarta dan di Indonesia. Mereka hanya bisa merasa aman kalau memenuhi pemeo atau kebiasaan orang Jawa Deles atau Totok: Mangan Ora Mangan Asal Kumpul – Makan atau Tidak Makan Asal Kumpul. Yang seperti ini sering saya patahkan dengan Kumpul Yo Kumpul Tapi Mangan – Kumpul Boleh Saja Asal Makan.

Itulah mengapa yang maju berusaha di luar Jawa itu bukan orang Jawa. Mereka ada, biasanya dari kalangan para pegawai pemerintah Negara yang dimutasikan atau ditransmigrasikan. Yang menjadi besar dalam usahanya di luar Pulau Jawa tidak banyak. Berkumpul adalah simbol kebersamaan dan simbol kebesaran yang hampa, tidak berani keluar dari lingkungannya dan hidupnya selalu berkelompok. Karena sifat yang begini inilah, maka sering terjadi konflik intern dan penyelesaiannya adalah kekeluargaan, sehingga tidak tuntas. Apa yang dialami oleh sang pemuda, yang adalah anak teman saya itu, sungguh membekas di dalam kalbu saya, karena saya memandangnya dengan negatip pendapat dan kepercayaan yang dianut sang ayah. Menurut hemat saya pribadi, maka seseorang boleh saja bekerja di mana saja sesuai dengan suara hati nuraninya. Masalah kepercayaan dan agama adalah masalah pribadi masing-masing dan saya harapkan agar tidak saling mempengaruhi atau malah menekan orang lain, meskipun keluarga dekatnya sekalipun.

Bekaitan dengan hal itu, saya baca hari ini di salah satu media berita yang terbit di Singapura mengenai dibolehkannya seorang Muslim bekerja di tempat yang juga selama ini disebut sebagai tempat haram. Silakan klik link berikut:  http://www.straitstimes.com/Breaking%2BNews/Singapore/Story/STIStory_324868.html

Di dalam berita ini dinyatakan bahwa seorang Muslim sebaiknya boleh bekerja di IR- Integrated Resort (atau di Indonesia dikenal dengan istilah Kawasan Terpadu). IR di sini dimaksudkan adalah sebuah kawasan yang ada di sebagian daerah di sekitar Marina, Singapura. Kata seorang Menteri yang menangani masalah Agama Islam bernama Yaacob Ibrahim dalam sebuah diskusi pada hari Minggu yang lalu di Punggol East yang dihadiri oleh para penghuni dan penduduk asli kawasan itu: ‘We must not also push ourselves in a corner. The integrated resort is huge. There are other facilities in the IR: convention (centre), hotels. The gaming part is only a small portion.’  – Janganlah kami memojokkan diri sendiri ke suatu sudut. Integrated Resort itu amat luar biasa sekali besarannya. Ada fasilitas-fasilitas di dalam IR: pusat-pusat konvensi dan hotel-hotel. Bagian-bagian yang merupakan tempat-tempat berjudi itu, bagiannya teramat kecil. Ditambahkan juga olehnya, bahwa kalau ada ummat Muslim yang tidak merasa nyaman dalam bekerja di sana, kalau dirasakan perlu untuk pindah ke tempat lain, itu disilakan saja menjalaninya dengan bebas. Juga disinggungnya: itu semua juga mengingat kondisi ekonomi berada di masa-masa sulit yang sekarang sedang melanda dunia.

Sudah lama saya mengimbau kepada siapapun bahwa pengertian dan penafsiran terhadap dogma-dogma yang selama ini dipercayai sebagai baku dan tidak dapat diubah, diganti ataupun direvisi apalagi direformasi, malah justru akan banyak dipindai dengan banyaknya penggantian pengertian yang telah masuk ke dalam alam pikiran masing-masing manusia. Maklum, diakui atau tidak, manusia tahun 2009 itu sudah pasti lebih pandai daripada manusia yang hidup pada tahun 1909, seratus tahun yang lalu. Ingat, pada tahun itu Boedi Oetomo masih dalam tahap pembentukan, belum ada televisi dan belum ada kapal terbang. Tetapi apa yang anda lihat saat ini?? Di tengah-tengah hutan belantara di Kalimantan Tengah, seseorang akan pasti bisa berhubungan dengan menggunakan alat komunikasi canggih, bahkan video conference call, saling melihat berhadap-hadapan, dengan lawan bicaranya yang sedang berada di Yogyakarta atau di Vancouver Kanada, bahkan dengan yang sedang berada di hutan tetangganya yang jaraknya lima kilometer satu sama lain. Jadi benar sekali kata pak Yaacob Ibrahim ini ketika mengumpamakan dengan kata-kata “memojokkan diri sendiri ke suatu sudut”.

Dalam masa yang lalu, kita masih ingat kata-kata Bang Ali sang Gubernur DKI yang dijuluki sebagai “GUBERNUR JUDI”, beliau berkata: Jangan keluar rumah kalau terlalu mengaharamkan semua hal. Apa sebab? Itu aspal yang dilapiskan di atas jalan, telah dibeli dengan uang hasil judi Hwa Hwee. Baru-baru ini, dalam menanggapi Sutiyoso yang dikatakan telah berhasil memberantas judi, Bang Ali Sadikin mengatakan tegas: “Biar saja Sutiyoso nanti kan masuk surga dan saya akan masuk neraka!!!”

Kita semua harus berani menerobos/mengganti pikiran bahwa seorang anggota Satuan Pengaman di sebuah Casino itu, tidak diperkenankan bagi yang menganut kepercayaan atau agama yang menganggap judi itu haram. Gaji yang diterimanya adalah hasil kerjanya sebagai satpam adalah sah, dan dia tidak ikut berjudi. Demikian juga kalau dia seorang akuntan, seorang petugas kebersihan dan mereka yang bertanggung jawab terhadap pengadaan makanan dan minuman. Kalau yang begini juga dinyatakan tidak boleh karena haram, bagaimanakah nasib mereka yang harus bekerja di Hotel-Hotel, yang jelas-jelas tidak hirau serta membiarkan praktek terselubung dari pelacuran, mendapat nafkah atau pendapatan berupa uang dari hasil upaya penjualan makanan yang mengandung babi dan minuman keras dalam sehari-seharinya?

 

Anwari Doel Arnowo

 Minggu, 11 Januari 2009 – 23:38:26

 

11 Comments to "Nafkah"

  1. Dewi Aichi  13 March, 2013 at 09:57

    Terima kasih Pak Anwari, dan alinea yang saya copy di bawah ini menjadi tulisan favorite saya minggu ini :

    “Dalam masa yang lalu, kita masih ingat kata-kata Bang Ali sang Gubernur DKI yang dijuluki sebagai “GUBERNUR JUDI”, beliau berkata: Jangan keluar rumah kalau terlalu mengaharamkan semua hal. Apa sebab? Itu aspal yang dilapiskan di atas jalan, telah dibeli dengan uang hasil judi Hwa Hwee. Baru-baru ini, dalam menanggapi Sutiyoso yang dikatakan telah berhasil memberantas judi, Bang Ali Sadikin mengatakan tegas: “Biar saja Sutiyoso nanti kan masuk surga dan saya akan masuk neraka!!!”

    Selalu ada bagian tulisan dari Pak Anwari yang saya simpan menjadi tulisan favorite saya he he…yang nanti bisa saya wariskan untuk anak saya, teman, saudara…dan siapa saja…sebagai pelajaran hidup.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.