Kisah Suatu Masa (3): Stempel Desa

Anastasia Yuliantari

 

Saat kegiatan pengabdian kepada masyarakat sudah harus mulai dilakukan, kami membuat proposal kegiatan. Tak terlalu sulit karena telah ada juklak dan juknisnya atau kalau jaman sekarang namanya SOP (Standard Operating Procedures). Apapun itu, kami sangat dimudahkan karenanya, hanya tinggal memikirkan program yang sesuai dengan jurusan masing-masing.

Kebetulan aku berasal dari jurusan sejarah, jadi apa yang harus dicantumkan dalam program? “Memberi kesadaran membaca, aja.” Kata Dwi.

“Wah, ya ngga mungkin.” Jawabku. “Buku-buku aja di sini engga ada. Kan dalam pedoman dikatakan harus realistis, sesuai dengan keadaan masyarakat.”

“Kalau begitu program penyuluhan kesehatan aja.” Usul Sekar. Kami kan tidak ada yang berasal dari bidang kesehatan, jadi hal itu termasuk bidang umum tetapi diperlukan oleh masyarakat.”

“Emang boleh?” jawabku ragu.

“Boleh ajaaaa.” Jawab yang lain hampir bersamaan.

Weh….weh….kuwi programku.” Sahut Maman yang berasal dari jurusan pendidikan bahasa Inggris.

Halaaahh, mbok kowe nggawe program liya.” Teman-teman perempuanku mendesaknya membuat program lain. “Kan kamu, tuh guru. Mengajar baca-tulis anak-anak SD, tuh.”

Wohhh….dasar! Ini kan program untuk penyuluhan, masa sama dengan program pemberantasan buta huruf.” Dia ngotot sekali mempertahankan programnya. “Kalau program pemberantasan buta huruf,  kan merupakan program kelompok, bukan program individu.”

Kami saling pandang. Memang ada program kelompok dan program individu. Masing-masing harus dilaporkan tanggal pelaksanaannya dan siapa yang menjadi target program alias orang-orang yang diundang untuk acara itu.

Mbok awakmu ngajari kegunaan apotek hidup wae.” Kubujuk Maman agar dia memberi penyuluhan tentang apotek hidup. “Kamu kan pinter masak, tahu bumbu-bumbu dapur dan kegunaannya bagi kesehatan. Kalau aku, kan engga tahu yang begituan.” Tambahku sedikit memujinya agar bersedia menerima usul itu.

Ho’oh….awakmu bagian apotek hidup wae.” Ujar teman-temanku, bahkan yang lelaki pun turut mendukung agar dia memberikan penyuluhan tentang apotek hidup.

Walau awalnya agak alot, namun akhirnya dia menerima juga. Kebetulan Maman walaupun seorang  lelaki namun sangat terampil dalam urusan dapur. Plus pengetahuannya tentang empon-empon cukup lumayan. Paling tidak itu yang kami tangkap selama seminggu bersama. Bahkan kami yang perempuan pun demikian kagum pada kemampuannya itu.

Setelah beres mendefinisikan program masing-masing dan membuatnya menjadi program yang nyata, kami mulai menuliskannya dalam kolom-kolom yang diberikan oleh pihak universitas sebelum membuatnya menjadi proposal.

Kesulitan berikutnya adalah mengetik proposal itu. Komputer jaman dahulu masih termasuk barang langka. Jika pun ada bukan merupakan barang yang bisa sembarangan dipinjamkan pada orang lain. Maklum, saat itu hanya orang-orang berada yang memilikinya, atau perkantoran. Di kampus pasti tersedia, namun tak mungkin dipinjamkan. Soalnya computer juga tak banyak jumlahnya, hanya khusus untuk mengakses data saja. Tapi sebenarnya hal paling utama adalah kami tak tahu cara mengoperasikannya. Komputer jaman itu belum memakai program Windows yang tinggal clack-click kiri-kanan, tapi harus ingat “pencet tuts apa untuk perintah apa”. Kata-kata guru komputerku di SMA yang sampai hendak lulus kuliah pun belum kupahami maksudnya.

“Besok kita pinjam mesin ketik kepunyaan desa saja.” Usul Ridwan.

“Kalau begitu, besok pagi langsung kita ke sebelah.” Jawab Budi.

Kantor desa memang terletak di sebelah tempat kost kami, para perempuan. Kantor itu tak seberapa menonjol kecuali halamannya yang luas dengan pepohonan besar di depannya. Pagarnya terbuat dari bambu yang dibelah-belah dan dilabur dengan kapur. Kantor itu seingatku tak mempunyai jam kerja yang teratur. Maksudnya, jam buka dan tutupnya tak jelas. Asal Pak Sekdes yang bernama Pak Is dan Pak  Kaur something, yang aku tak ingat pasti, berkehendak untuk ngantor, barulah tempat itu akan dibuka.

Bagaimana dengan Pak Kepala Desa yang biasa dipanggil dengan Pak Kepala saja? Tampaknya beliau sangat sibuk atau mengesankan sibuk. Tak setiap hari lelaki pertengahan empat puluhan itu muncul di kantor desa. Beliau lebih sering hanya lewat saja di depannya dengan sepeda motornya yang berwarna merah hati.

“Saya ada pertemuan di kecamatan, dik.” Ujarnya suatu hari. “Pak Camat memanggil kami semua para Kepala Desa.”

“Jadi surat kami ini bagaimana, Pak?” Tanya Budi yang menjadi ketua kelompok KKN.

“Nanti malam adik ke rumah saya saja, sama adik-adik yang lain juga.” Ujarnya sambil memandang kami satu-persatu. “Minum kopi sambil makan kacang rebus. Kami baru saja panen kacang.” Undangnya.

Pak Kepala Desa memang seorang petani. Dia termasuk orang kaya di kampungnya karena menjadi satu-satunya orang yang memiliki kendaraan bermotor. Bila bukan tukang ojek yang mengantarkan penumpang, maka hanya deru motornyalah yang mewarnai suasana hening kampung.

Suatu hari, Budi lupa meminta stempel setelah beliau membubuhkan tanda tangan. Padahal proposal harus segera dikumpulkan ke universitas atau diserahkan pada orang-orang yang diharapkan memberi kami bantuan.

“Cepat ke sebelah, Bud. Sebentar lagi Pak Is akan segera pulang makan siang, nih.”

“Lho, masa makan siang jam segini?” Dwi menengok arloji di tangannya yang belum menunjukkan angka dua belas.

“Asal matahari telah tinggi begini, dianggapnya jam makan siang sudah dekat, kan tidak ada jam dinding di kantor desa.” Jawab Putu.

Memang tak banyak pernak-pernik terdapat di kantor itu. Hanya beberapa buah lemari kayu, mungkin untuk menyimpan arsip, sebuah papan data yang berisi struktur organisasi desa dengan cat dan tulisan yang sederhana, mungkin saat menuliskannya tanpa diukur atau digaris lebih dahulu, seperangkat kursi panjang dan meja yang diletakkan di tengah pendopo, juga seperangkat meja kerja untuk Pak Kepala. Mesin ketik sifatnya benar-benar portable, alias dijinjing ke sana-ke mari antara rumah Pak Kepala dan Kantor Desa.

Tak berapa lama Budi kembali dengan wajah lesu. “Kenapa?” tanya kami bersamaan.

“Pak Kepala engga berada di tempat.”

Lho, memang beliau kan sedikit sibuk, untuk tak mengatakan angin-anginan.

“Siapa suruh kamu meminta padanya,” Ujar Maman. “Minta saja sama Pak Is atau Pak Kaur.”

“Stempel itu dibawa Pak Kades. Dia selalu menaruhnya dalam tas.”

Waaahhh….kalau begitu kami harus ke rumahnya lagi untuk meminta  stempel desa.

Maka pergilah kami beramai-ramai ke rumahnya. Kali ini bukan untuk bertamu dan makan kacang seperti beberapa saat silam. Saat itu sehabis Maghrib, suara jengkrik sudah terdengar nyaring di antara rimbunnya  kebun-kebun jagung.

“Assalamualaikum. Permisi, Pak.” Kami mengucap salam begitu sampai di depan rumahnya yang kali ini tak mengalakan lampu tekan. Mungkin karena tak menyambut tamu seperti saat kami datang untuk makan kacang dan minum kopi atas undangannya.

Suara langkah kaki terdengar ringan dari dalam rumah. Tak berapa lama pintu terbuka menghantarkan bias kekuningan lampu teplok dan sesosok tubuh perempuan dengan anak kecil dalam gendongan.

“Walaikumsalam.” Perempuan itu menyambut salam kami sambil memperhatikan wajah-wajah yang bermunculan dari balik pintu dengan penuh rasa ingin tahu.

“Selamat malam, Bu.” Hari mengangguk padanya.

“Oh, adik-adik KKN. Mari masuk.” Undangnya.

“Bapak ada di rumah, Bu?” Tanya Budi setelah kami duduk mengelilingi meja di ruang tamu.

“Bapak sedang menghadiri undangan pernikahan saudara kami di desa lain.” Jawabnya ramah.

Kami saling pandang. Setelah berjalan menembus malam cukup jauh, tak ingin rasanya pulang dengan tangan hampa.

“Biar tak bertemu Bapak tak mengapa, Bu. Kami hanya mau minta stempel untuk surat-surat yang esok pagi akan kami bawa kembali ke Jember.” Kata Budi.

stempel

“Stempel?” Perempuan itu mengerutkan kening.

“Cap.” Kami berucap hampir bersamaan.

“Iya, Bu seperti ini.” Budi menunjukkan surat dalam map yang sudah ditandatangani oleh Kepala Desa dengan stempel desa tertera di atasnya.

“Iya, saya tahu, dik.” Perempuan itu berkata. “Tapi cap itu tak ada di sini.”

Berarti kami harus kembali ke Kantor Desa. Padahal tadi siang perangkat desa yang lain mengatakan bahwa  stempel itu selalu dibawa Pak Kepala Desa.

“Kata Pak Is, stempelnya selalu dibawa Pak Kepala.” Ujarku mengkonfirmasi pernyataan perangkat desa yang kami temui tadi siang.

“Benar, dik. Makanya tunggu Pak Kepala pulang.”

Hah? Kami saling pandang. Jadi…???

“Masa pergi kondangan aja bawa stempel desa, sih?” Ridwan menggerutu saat kami kembali menyusuri jalan setapak di tengah ramainya suara jengkerik dan hembusan angin musim kemarau.

“Emangnya untuk nyetempel apa?” Maman menambahi.

“Barangkali takut buat main-main anaknya.” Sekar berkata sambil menyorotkan senter ke arah bunyi kerosakan dari kebun yang kami lewati. Seekor kelelawar terbang melintas. Makhluk itu pasti baru saja menggasak papaya ranum yang tergantung di pohon.

“Atau diselewengkan para perangkat desa lain.” Ujarku. “Kan stempel desa dibutuhkan untuk berbagai urusan.”

“Ya, tapi engga segitunya, deh.” Ridwan masih menggerutu. “Sama istri sendiri masa tidak percaya?”

Wah, perkara itu kami tidak tahu, yang jelas esok pagi-pagi benar kami harus kembali ke rumah Pak Kepala untuk meminta stempel bagi surat-surat ini sebelum beliau kembali menghilang, seperti burung-burung malam yang beterbangan di atas kepala kami.

 

29 Comments to "Kisah Suatu Masa (3): Stempel Desa"

  1. Anastasia Yuliantari  17 March, 2013 at 10:09

    JC…wah rada angel nggoleki Anoew saiki, jare jik ngebor nang alas, hehehe.

  2. Anastasia Yuliantari  17 March, 2013 at 10:04

    Mas Juwandi, ben ngrasakke digebyur ayat…..(padakke dhemit njuk dirapalke ayat2) Hehehehe.

  3. juwandi ahmad  14 March, 2013 at 22:06

    ha ha ha ha…..

  4. J C  14 March, 2013 at 15:15

    Lho urusan nganu jelas harus nanya Kang Anoew lah…

    Gus Wan? Walah…dengkule langsung ndredek pasti…

  5. Hennie Triana Oberst  13 March, 2013 at 21:43

    Ayla, wah pak kepala rajin ya bawa stempel ke mana-mana

  6. juwandi ahmad  13 March, 2013 at 21:32

    ha ha ha ha ha………wedi di gebyor ayat..!

  7. Anastasia Yuliantari  13 March, 2013 at 21:24

    @Dewi, Wikkk…Mas Juwandi kan tampang alim, biar ga pakai stempel tetep aja cewe ga berani mendekat, takut dikasih petuah kalo berani nyenggol, hahaha.

  8. Anastasia Yuliantari  13 March, 2013 at 21:21

    Mbak Elnino, lha yg ditulis ini yg msh keinget. Banyak juga yg udah lupa. Hanya karena kapan hari diajakin ke Bondowoso mendadak aku inget saat KKN. Ya, udah aku tulis aja sekalian nostalgia, hehehe.

  9. Anastasia Yuliantari  13 March, 2013 at 21:19

    Mas Juwandi, pdhl udah ngarep salaman sama yg cantik2, ya? Hehehehe….tp malah bagus, tuh biar engga ada gangguan cinlok segala.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.