“Matinya” Transportasi Massal di Kota Solo

Joko Prayitno

 

Mungkin judul tulisan ini berlebihan, tapi memang itu yang terasa saat ini di tengah menggeliatnya kota Surakarta dengan berbagai sebutan dan slogan. Mulai kota pariwisata, Spirit of Java, Solo Berseri, Kota Bengawan, dan masih banyak lagi yang membuat masyarakatnya begitu bangga. Belum lagi ditambah dengan semakin gencarnya laju pembangunan berbagai infrastruktur kota yang membuat kota Solo semakin dinamis.

Saya masih teringat ketika pertama kali datang ke kota ini. Kota kecil, tetapi sangat hidup. Kota yang merupakan jalur mobilitas masyarakat Jawa dari barat ke timur, utara ke selatan dan sebaliknya membuat kota ini hidup dari pagi hingga malam dengan berbagai aktivitas masyarakatnya. Jalur transportasi sebagai urat nadi mobilitas masyarakat juga terbilang lengkap dengan berbagai moda transportasi massal yang beragam. Kota Solo memiliki transportasi mulai dari transportasi tradisional hingga transportasi modern. Becak, andong, delman, angkutan kota (angkot), angkutan pedesaan (angkudes), bus kota, bus antar kota dan kereta api. Semuanya mengisi hiruk pikuknya kota Solo di tengah kendaraan pribadi berupa mobil dan motor yang lebih favorit dan menunjukkan status sosial masyarakatnya.

jokowi-di-halte-bandara-adi-sumarmo

Jokowi di Halte Bandara Adi Sumarmo

Seiring berjalannya waktu, lambat laun semua kendaraan angkutan massal tersebut menghilang dari pandangan mata. Hanya satu dua saja yang masih terlihat bahkan untuk bus kota wilayah utara Solo sudah tidak terlihat sama sekali. Rencana pemerintah kota Solo yang ingin menggantikan semua bus kota dengan Batik Solo Trans (BST) dalam satu manajemen sejak beberapa tahun lalu, hingga kini hanya sebagian yang terealisasi. Pembangunan halte BST pun terkesan asal-asalan, hanya beberapa halte di Jalan Slamet Riyadi saja yang cukup baik. Sisanya hanya bangunan berkaca yang sempit dan ada juga hanya sebuah tangga untuk menunggu BST tersebut datang.

Transportasi di kota Solo telah berkembang sejak pemerintah kolonial Belanda membuka jalur transportasi kereta api. Pembuatan jaringan transportasi kereta api di Surakarta dilaksanakan pada tahun 1862 atas desakan van de Putte dengan jalan kereta api yang menghubungkan kota Semarang dengan Vorstenlanden, dibuat dan dikerjakan oleh pihak swasta Belanda, yaitu NIS (Nederlandsch Indische Spoorwegmaatschapij). Pembangunan jalur kereta api ini menggunakan upah tenaga dari daerah Blora, Rembang, dan Jepara.

Jalur kereta api Semarang-Vorstenlanden terbagi menjadi empat bagian, pertama, rute Semarang-Kedungjati dibagi dua yaitu Semarang-Tanggung dan Tanggung-Kedungjati dimulai tahun 1864-1867. Kedua, dari Kedungjati-Surakarta, ketiga, dari Surakarta ke Yogyakarta dan terakhir dari Kedungjati ke Ambarawa. Perkembangan selanjutnya, pengangkutan massal selain kereta api juga bus, yang pada masa Orde Baru terlihat di kota Solo memiliki jalur bus tingkat yang cukup digemari masyarakat dan juga bus kota dengan trayek yang mampu mengcover seluruh wilayah kota Solo. Khusus untuk bus tingkat, kadang untuk melepaskan suntuk kita bisa naik bus tingkat ini pulang-pergi berkeliling kota Solo. Sekarang yang tinggal adalah bus tingkat gaya Singapura untuk melayani pariwisata dan hanya dua buah bus tingkat saja.

Ketidakseriusan pemerintah kota Solo dalam bidang transportasi ini, membuat kota Solo dipadati oleh kendaraan pribadi dan menjadikan kota Solo semakin sumpek dan dibeberapa titik mengalami kemacetan. Mungkin yang lebih utama bagi anggota DPRD kota Solo adalah Calon Wakil Walikota yang baru, daripada kebutuhan masyarakat untuk mendapatkan transportasi massal yang murah, nyaman dan aman. Bagaimana bisa mewujudkan slogan-slogan kota bila untuk masalah transportasi massal kota saja tidak dapat mewujudkannya???

 

Bisa juga dibaca di: http://phesolo.wordpress.com/2013/03/10/matinya-transportasi-massal-di-kota-solo/

 

8 Comments to "“Matinya” Transportasi Massal di Kota Solo"

  1. Evi Irons  14 March, 2013 at 04:37

    Di AS kalau mau naik bis telp Dulu, booking karcis via Internet. Saat ini di salah satu Kota sdg meningkatkan layanan bis krn harga bensin terus melonjak, kalau punya Mobil pribadi pun hrs rajin memelihara,mbayar asuransi, state inspeksion, ganti NO Pol setahun sekali, byk pengeluarannya.

  2. juwandi ahmad  13 March, 2013 at 20:12

    wah..terimaksih tulisannya yang peinting. tapi sayang segala hampir segala mode trasportasi membuat saya trauma…..he he he

  3. Yuli Duryat  13 March, 2013 at 18:03

    Saya setuju dengan Mas Handoko Widagdo, benar menunggunya terlalu lama. Menanggapi tulisan ini; ‘Ketidakseriusan pemerintah kota Solo dalam bidang transportasi ini’, saya rasa tidak hanya di kota Solo, kalau saja transportasi di Indonesia mudah, banyak sekali tempat wisata yang bagus untuk dikunjungi, jadi tidak hanya tempat-tempat tertentu di Indonesia yang dikenal dunia.

  4. Jl  12 March, 2013 at 21:26

    Diamond itu di jl slamet riyadi om dj, iki cenil yg orang solo kok meneng ae

  5. Dj. 813  12 March, 2013 at 13:46

    Mas Joko P.
    Terimakasih untuk informasi yang bagus….
    Dj. taunya, kalau ke Solo,hanya ke pasar Klewer.
    Susi senang blusukan di pasar Klewer…
    Setelah itu baru makan siang di Diamond Restaurant ( entah itu dimana ).

  6. Handoko Widagdo  12 March, 2013 at 07:54

    Maksud saya dari Bandara Solo Adi Sumarmo

  7. Handoko Widagdo  12 March, 2013 at 07:50

    Saya beberapa kali memanfaatkan bus dari Bandara. Namun menunggunya terlalu lama.

  8. J C  12 March, 2013 at 07:31

    Transportasi massal di Indonesia masih sangat primitive dan tidak manusiawi. Masih jauuuuuhhh sekali dari harapan. Selama mata rantai korupsi masih terus berlangsung, lupakan saja harapan kita untuk memiliki transportasi yang genah dan nguwongke…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.