Nyasar

Yuni Astuti

 

Serpih lain dalam hidupku, yang kutemukan dalam suatu perjalanan. Suatu hari di bulan Juli, sehabis UAS, mudik ke kampung halaman. Hari Selasa yang panjang bagiku. Berjanji untuk bertemu dengan seorang sahabat dari dunia “maya” yang kebetulan kuliah di kota itu. Kami sepakat untuk bertemu di depan perpustakaan nasional Malioboro. Maka, dari depan jalan raya rumah simbah, saya menuju Jokteng. Tak ada yang istimewa selain semakin banyak bangunan setelah setahun lalu kota ini hancur karena gempa. Namun saat melanjutkan naik bus menuju Malioboro, kondektur bus yang bertubuh tinggi besar dan bertatto meminta ongkos pada saya.

Hm..saya teringat kondektur bus di Serang, yang kadang bikin senewen gara-gara ongkosnya kurang dan dia akan meminta lebih dengan galak. Saya pikir kondektur ini akan galak juga. Maka tanpa banyak bicara saya kasih aja tuh tiga ribu. Ternyata dia memanggil saya, waduh nih kondektur mau minta lebihan apa yak!! Gumam saya sambil menoleh padanya. Tapi…yang dilakukannya adalah mengembalikan lima ratusan pada saya. Saya terkejut… subhanallah…

Saya telah berburuk sangka padanya! Ya Allah, ternyata dia jujur… Saya telah menghakimi “buku dari sampulnya”. Astaghfirullah al-adzim… Ini mengingatkan saya pada kejadian setahun lalu ketika turun di RingRoad selatan hendak meluncur ke Magelang. Seorang Bapak memakai jaket hitam bertampang seram yang terus mengikuti saya. Saya sampai memeluk erat ransel saya. Ternyata dia hanya penumpang yang kebetulan searah dengan saya. Rabbi, saya mengakui betapa susah untuk berbaik sangka pada manusia.

Namun aku yakin itu bukan sesuatu yang mustahil untuk dilakukan. Ok, saya sekarang melewati jalan Mataram. Seharusnya saya turun di sini untuk kemudian berbelok ke arah Malioboro. Tapi saya keasyikan merenung (atau melamun?) hingga sampai di jembatan. Saya baru sadar kalau saya sudah terlalu jauh. Maka saya turun dan berjalan. Hm…jarang pulang jadi lupa jalan deh! Patokannya Tugu aja yah Yun! Kata saya dalam hati. Memang benar, saya melihat Tugu. Tapi… entah mengapa saya berjalan lurus dengan santainya tanpa melihat kiri kanan. Pokoke mlaku wae lah! J Teman saya kirim pesan lewat YM, “yun udah sampe malioboro ya?” Glodakkk!! Saya tersesat nih….!! Ada di jalan Jlagran!

tersesat

Dia tidak tahu itu daerah mana, dan saya terus berjalan lurus dengan percaya diri bahwa nanti di ujung sana saya akan temukan Malioboro. Yeah… insya Allah! Dan saya enggan bertanya karena saya ingin mengetahui banyak tempat. Ingin menelusuri jalan ini akan ke mana.

Namun saya belum juga temukan tempat yang saya tuju. Di mana Malioboro? Bagaimana kalau saya terlambat? Dan memang saya sudah terlambat beberapa menit dari waktu yang dijanjikan. Kalau nggak nyasar gini, pasti gak akan telat. Capek. Akhirnya saya bertanya pada seseorang yang saya temui.Jawaban Mbak itu adalah… Malioboro ada di sana….! Sambil menunjuk arah ketika saya datang tadi. Ow…berarti saya harus kembali ke pangkal jalan. Hm… setelah mengucapkan terima kasih, saya pun kembali meniti jalan yang tadi sudah saya tempuh. Lumayan nih, dua kilo ada kali? Ditambah sekarang jadi empat kilo.

Hohoho… Akhirnya saya temukan stasiun Tugu, tapi… mana Malioboro? Ya Allah… saya sudah lelah sekali tersesat begini? Tunjukkan padaku jalan yang benar….!! Tiba-tiba, beberapa orang akhwat yang sepertinya sedang tour itu bertanya pada saya, “Mbak, kalau mau naik busway jalur 2 ke mana ya?” Pertanyaan itu saya rasakan seperti sebuah hentakan. Bagaimana saya bisa menunjukkan kalian jalan yang benar, sedangkan saya sendiri tersesat ukhty… Maka mereka bertanya pada orang lain. Yah, semoga orang lain lebih tahu jalan yang benar ya…. Di tengah kebingungan itu, saya hendak berjalan lagi tapi…. Subhanallah! Itu Tugu! Di samping saya!! Dan persis memang itulah jalan Malioboro terpampang dalam huruf Hanacaraka. Saya tersenyum sendiri. Melupakan kelelahan yang tercipta. Saya susuri jalan itu dengan ringan. Alhamdulillah…akhirnya Engkau tunjukkan padaku sebuah jalan yang benar. Dan saya duduk di sebuah kursi di seberang perpusnas. Yang kini ada busway, hehe, gimana ya rasanya naik Trans Jogja? Tak lama setelah itu, saya lihat sahabat saya itu datang naik motor dan saya langsung mengenalinya. Maka seharian itu kami berdua, tapi saya gak perlu cerita ya? Hehe…

Yah, ketika langkah tersesat, maka yang harus kita lakukan adalah bertanya pada orang yang lebih mengetahui jalan yang benar dan kembali ke pangkal jalan. Memulai hidup baru seperti ketika kita membuka lembar baru sebuah buku yang akan kita tulisi dengan tinta emas. Meski ragamu terasa lelah, jangan kita mengeluh dan jangan berburuk sangka pada Allah sebab di setiap yang terjadi pada diri kita, pasti memiliki arti dan tak ada yang sia-sia. Kitalah yang harus pandai memetik hikmah dan tetaplah tersenyum….!!!

Jogja, 1 Juli 2008

 

6 Comments to "Nyasar"

  1. Dewi Aichi  15 March, 2013 at 17:52

    O..iya Yun….bukan berburuk sangka kok Yun…..tapi lebih ke waspada….namanya juga wanita, sendirian, jadi harus waspada tingkat tinggi….

  2. Dewi Aichi  15 March, 2013 at 17:50

    Mba Yuni, wah kalau sudah di Tugu…tinggal ngidul sithik, lewat Mangkubumi he he..trus nyebrangin rel….nyampe deh….ntar janjian ama aku ya..kalau aku ke Jogja…

  3. Handoko Widagdo  15 March, 2013 at 11:39

    Malu ditanya sesat berjalan

  4. juwandi ahmad  14 March, 2013 at 22:08

    Pepatah: “malu bertanya, tidak usah bertanya” ha ha ha ha ha ha….ra urus..!

  5. Dj. 813  12 March, 2013 at 14:00

    Di Mainz, saat ini banyak turun salju.
    Jadi malas keluar dan kalau tinggal dirumah, pasti tidak akan tersesat.

    Kalau tersesat di jalan, ingat….!!!
    Yesus berkata :,, Akulah JALAN , KEBENARAN DAN HIDUP . . . ! ! !
    Tidak seorangpun sampai kapada Allah Bapa, kecuali melalui Aku.

    Nah,molailah dengan

    *** Memulai hidup baru seperti ketika kita membuka lembar baru sebuah buku yang akan kita tulisi dengan tinta emas. ***

    Salam,

  6. J C  12 March, 2013 at 07:30

    Pepatah: “malu bertanya, tidak usah bertanya”

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.