Tembak di Tempat (19)

Endah Raharjo

 

Mulutku mencangah melihat pemandangan langka di depanku. Tim dan Ronn saling berhadapan, seperti dua ekor serigala jantan yang masing-masing siap menyerang. Mungkin mereka telah bicara lewat telepon ribuan kali, namun baru kali ini mata mereka saling menatap. Sepasang telinga Tim seolah melebar, sementara rambut sebahu Ronn meregang.

Tanpa disilakan aku duduk di kursi terdekat dengan pintu. Ronn bahkan tak melihat kalau ada aku. Ia maju beberapa langkah. Tim diam dan tubuhnya kaku. Tarung energi dari sorot mata mereka menyedot bebunyian, sesaat dunia kedap suara.

“Hello, Tim.” Serak suara Ronn, dua lengannya terbuka. “Pertemuan ini sudah kuimpikan sepanjang hidupku. Kupikir sebuah pelukan tidak akan berlebihan. Bagaimana menurutmu?”

Aku tak bisa melihat wajah bosku karena aku di belakangnya. Namun wajah Ronn bisa kulihat jelas. Matanya berkilau, senyumnya melengkung halus, nyaris tak bisa dilihat, hanya bisa dirasakan.

“Hello, Ronn….”

Belum pernah kudengar suara Tim seberat dan setenang itu. Saat mereka berpelukan, aku menyelinap ke luar. Aku tak ingin mengganggu kakak beradik satu ibu yang baru pertama kali bertemu selama 40 tahun itu.

Di kanan-kiri pintu ada dua lelaki berjaga. Masing-masing bertubuh tinggi-tegap dan berjas warna gelap.

“Miss, ada yang bisa kubantu?” tanya salah satunya, yang berdasi biru neon dan berkepala gundul.

“Saya mau ke ruang tunggu emergency.”

“Akan saya antar,” tangannya menyilakanku berjalan duluan. Suite room ada di lantai lima dan Rudi dioperasi di lantai dasar. Kubilang aku ingin menggunakan tangga. “Baik, Miss,” katanya, berjalan menjajariku.

Segalanya berlangsung seperti mimpi. Aku menunggu-nunggu deringan alarm yang akan membangunkanku dari tidur panjang ini.

*****

Rudi ditempatkan di single deluxe room, di lantai empat. Sebuah kamar dengan bed standar internasional – untuk pasien – yang bisa diatur ketinggian dan kemiringannya, dilengkapi sofa panjang menempel pada jendela yang bisa untuk tidur, satu set meja makan bundar dengan empat kursi, sebuah meja untuk obat dan menaruh kebutuhan pasien, kulkas yang setiap hari diisi 6 botol air mineral, pantry dengan peralatan dasar makan-minum, sebuah almari satu pintu menempel pada dinding, dan tentu saja kamar mandi. Ada wifi juga. Interiornya dirancang serupa kamar hotel berbintang.

Tarifnya – seperti yang kubaca di brosur – sebesar USD 305 semalam termasuk tiga kali makan untuk pasien. Semua dibiayai asuransi.

Rudi masih belum sepenuhnya sadar ketika dipindah ke kamar. Kata perawat kondisinya stabil. Hommer meninggalkan kamar berbarengan dengan perawat, diikuti Fat yang berkata mereka akan menunggu di luar kamar dan siap membantu apapun yang kami butuhkan.

Kusisir rambut Rudi dengan jemariku. Kuseka wajah pucatnya dengan tisu basah. Bertahun-tahun mengenalnya, baru sekali itu aku benar-benar menyentuhnya. Setahuku ia selalu ada untuk Mbak Nia bila kakakku itu sedang kesulitan. Pernah terpikir – dan aku yakin aku benar – ia dulu mencintai Mbak Nia namun tak berani menyampaikannya; entah apa alasannya.

crisis

Dua cuping hidung mancungnya kembang-kempis dan sesekali alisnya berkedut. Kutarik selembar tisu dari kotaknya, kubasahi dengan air minum, kuoleskan ke bibirnya yang kering. Ia sesekali meracau, pertanda pengaruh biusnya masih tersisa.

“Rudi,” bisikku tak jauh dari telinganya, “kamu sudah dipindah ke kamar. Kita aman. Operasimu berjalan lancar. Kamu baik-baik saja.”

“Kamu siapa?” Kelopak matanya sedikit membuka.

“Ini Mia,” jawabku, memperbaiki selimutnya. “Kamu baik-baik saja.” Kupandangi kaki kirinya yang dibuntal tebal sampai ke tengah betis.

Ia menyebut beberapa hal soal foto-fotonya dan deadline untuk liputan Stella. Ia masih mengigau, mungkin perlu setengah jam lagi sampai ia benar-benar sadar. Kupastikan ia nyaman. Kuatur AC agar tak terlalu dingin, kubenahi selimutnya, kututup gorden untuk mengurangi silau matahari pukul 1 siang. Kurebahkan tubuhku di sofa dengan dua bantal menyangga kepala.

Aku merasa lapar, ingat punya dua batang granola di dalam ransel. Di atas pantry ada kotak berisi beberapa kantung teh celup, kopi, creamer, dan gula. Nanti saja, pikirku, aku ingin memejamkan mata sejenak.

*****

Rupanya aku ketiduran. Begitu membuka mata kudengar suara dua orang berbincang: Tim dan Rudi.

“Sang Putri sudah sadar.” Suara Tim. Bila ia mulai bercanda, itu pertanda baik. Ia duduk di salah satu kursi makan yang didekatkan ke tempat tidur Rudi.

Aku mendengus sambil mengucek-ucek mata.

“Hai, Mia,” sapa Rudi.

Aku berusaha duduk. Tengkukku kaku. “Berapa lama aku tidur?”

“Sehari semalam,” goda Rudi.

Teman-temanku sudah kembali mengolokku, artinya badai sudah reda. Aku bangkit dari sofa, melihat arloji, dan menata bantal ke posisi semula. “Merasa lebih baik, Rudi?”

“Biusnya udah habis. Mulai nyeri. Perih sekali. Pegal dan panasnya sampai pinggul…. Ah… udahlah. Namanya juga tertembak. Sakit pastinya….” Rudi menyeringai. “Tapi masih tertahankan.”

“Waktu kejadian tadi kamu takut?” tanyaku bodoh namun benar-benar ingin tahu.

Rudi menunduk. Lelaki sebaya kakakku itu jarang membagikan perasaannya. “Pastinya. Kejadiannya kelewat cepat. Aku nggak lihat pistolnya, tahu-tahu aja dengar letusan dan kakiku panas, terus perih, terus seperti beku. Justru sekarang ini kalau diingat-ingat rasanya miris.”

“Jangan diingat-ingat. Kamu mau membicarakannya?” tanya Tim.

Rudi menggeleng lalu mengubah topik, menjelaskan beberapa hal tentang perawatan yang akan ia terima. Ia disarankan tinggal di rumah sakit tiga malam, tapi boleh kurang kalau ia merasa nyaman dan tubuhnya kuat untuk berjalan dengan kurk. Tim bilang kalau campur tangan Ronn memperlancar semuanya. Rudi bisa dipindahkan ke royal family room bila mau. Namun sahabat kakakku itu sudah merasa beruntung berada di kamar ini dan mendapat fasilitas premium.

“Ada sandwich tuna. Kalau kamu lapar,” kata Tim, kepalanya mengarah ke pantry.

Selain lapar, sekujur tubuhku pegal semua, seperti habis berjalan mengitari kota. Aku tadi pasti mengalami stress luar biasa sampai otot-ototku menanggung akibatnya.

“Kita perlu bicara,” kata Tim, pindah ke sofa, berselonjor, bersandar ke tembok yang memungkinkannya melihat Rudi.

“Siap mendengarkan,” kata Rudi. Wajahnya masih pucat namun ia bersemangat.

“Mulai saja,” kataku, menjerang air dengan teko listrik untuk menyeduh kopi. Kubuka kardus tempat kue, kupungut sandwich yang masing-masing potongannya ditancapi tusuk gigi berbendera. Kutaruh 3 potong di cawan.

“Aku sudah bicara dengan Ruth,” Tim mengawali. Aku mendengarkan sambil makan. “Dia bilang 75% dana sudah ditransfer. Sisanya nanti kalau semuanya sudah jelas. Paling tidak secara finansial aku aman. Aku diminta memberesi persoalan kita dulu. Honormu belum sempat kutransfer. Besok pagi, ya.” Ia menatapku. “Kalau kamu masih bisa konsentrasi, laporanmu tolong diselesaikan, nanti aku gabung dengan draft yang sudah kukirim.”

“Untuk Rudi, foto-fotomu sudah kuterima lengkap, tinggal merapikan filenya dan memisah-misah dalam folder-folder sesuai lokasi, tanggal, dan tema lalu menyimpannya ke DVD.”

“Aku bisa mengerjakan di sini. Sekarang juga bisa. Yang sakit cuma kakiku,” potong Rudi.

“Itu bagus sekali, tapi jangan memaksa diri. Laptop, kamera, dokumen, dan semua peralatan kita sudah di sini. Itu.” Tim menunjuk container plastik di dekat almari. Pasti aku tidur nyenyak sekali sampai tidak mendengar ia memasukkan barang seberat itu ke kamar ini.

“Barang-barang lain, printer, scanner, dan buku-buku disimpan pihak hotel. Diberesi staff Ronn begitu ruangan kita dikosongkan sehabis kejadian. Barang-barang pribadi kita masih di kamar. Kita tidak kembali ke hotel.” Tim mamandangku. “Ronn menawarkan rumahnya….” Ia menelan ludah, mengalihkan matanya ke jendela kaca yang gordennya sudah ia buka. Kulihat langit sore semburat kekuningan.

“So?” tanyaku, menunggu kelanjutannya.

“Aku berniat menerima tawarannya, kalau kamu mau.”

“Tentu saja aku mau.”

“Di sana dijamin aman. Ronn tidak tinggal di situ. Itu rumah khusus untuk tamu-tamunya,” jelas Tim. “Kalau begitu aku akan segera membereskan semuanya. Sekalian mengangkut barang-barang kita ke rumah Ronn. Kamu di sini saja.” Ia melihatku.

crisis-management-social-media

“Kamu tidak sendirian, kan?” tanyaku, waswas.

“Aku tidak pernah sendirian.” Ia menyeringai.

“Yang tahu Rudi di sini selain kita hanya Ronn, Hommer, dan Fat. Bodyguard Ronn yang lain tidak tahu siapa kita dan apa hubungannya dengan Ronn. Ini salah satu rumah sakit favorit di Asia, standar internasional. Dua tahun ini sudah mengalahkan rumah sakit di Singapura. Teman-teman Ronn dari berbagai negara sering berobat di sini. Pengawalnya biasa mengantar tamu-tamu penting. Kalian tidak perlu kuatir, juga dengan berita. Besok pagi pasti akan muncul di Bangkok Post, tapi ceritanya sama sekali beda. Tidak akan ada nama kita. Aku juga tidak tahu akan seperti apa jadinya.”

“Bayar berapa itu?” tanyaku berseloroh.

“Ah… sudahlah. Untuk Ronn itu masalah sehari-hari,” respon Tim serius.

“Selama kamu pergi, Fat atau Hommer tetap di sini?” tanyaku.

“Ya. Fat tetap di sini. Hommer sama aku. Kalau kamu merasa kuat dan sehat kamu juga bisa pindah ke rumah Ronn besok pagi. Akan disiapkan perawat.” Tim melihat kaki kiri Rudi.

“Aku lihat nanti,” kata Rudi. “Kamu nggak perlu nunggu aku, Mia. Kalau kamu mau ke rumah Ronn….”

“Malam ini aku mau di sini. Kamu sudah menghubungi ibumu?”

Rudi menggeleng. “Nanti saja kalau sudah mau pulang. Aku nggak mau Ibu dan mbakyu-mbakyuku kuatir. Mbak Rahmi bisa langsung terbang ke sini kalau tahu. Gawat. Nambah urusan pastinya….”

“Tepat sekali,” sahut Tim. “Jangan sampai ada keluarga yang datang ke sini. Kalau kalian benar-benar takut, sebaiknya pulang besok saja. Semua bisa diatur. Dari sini ada pelayanan pasien langsung ke bandara.”

“Tidak, Tim. Aku tidak apa-apa. Akan kubereskan dulu pekerjaanku. Malam ini. Setelah itu baru kuputuskan.”

“Kerjaanku juga mau kuselesaikan malam ini,” tambahku.

“Di ground floor ada café, restoran, 7-11, macam-macam. Nanti koper kalian aku bawa ke sini saja, ya.” ujar Tim.

“Oke. Terima kasih. Ummm… di kamar mandi ada beberapa barangku yang bisa ditinggal kalau kamu risih….” Aku teringat dua potong celana dalam dan sepotong bra yang pagi tadi kucuci dan kugantung di rak handuk.

Tim dan Rudi tertawa bersamaan. Mereka pasti bisa membayangkan apa yang kumaksudkan.

“Jangan kuatir. Nanti aku akan pakai sarung tangan,” canda Tim.

Sebelum Tim pergi, ada beberapa hal lagi yang kami bicarakan. Katanya polisi tidak menerapkan prosedur biasa dalam menangani kasus ini; berkat campur tangan Ronn. Mereka juga tidak akan menanyai kami. Rencana bertemu Arianne dan Larry Sanders batal. Ronn melarang mereka menghubungi kami. Ia menugaskan anak buahnya untuk menjadi penghubung antara Tim dengan orang tua Tong Rang itu.

Aku dan Rudi diberi nomor telepon baru – lengkap dengan handsetnya yang sederhana – dan harus membuang nomor telepon lokal yang lama. Nomor baru kami hanya diketahui 6 orang: kami bertiga, Ronn, Hommer, dan Fat.

Tong Rang dipastikan selamat namun tidak diketahui keberadaannya; disinyalir ia sudah sampai Malayisa guna diselundupkan dengan kapal ke Eropa.

Barang-barang Tong Rang sudah diamankan anak buah Ronn untuk diselesaikan dengan ‘pihak-pihak terkait di level atas’, begitu kata Tim tanpa merinci siapa saja mereka. Meskipun penasaran, untuk sementara aku tidak ingin bertanya.

“Ah. Ini, ada titipan untukmu. Hampir lupa,” ujar Tim.

“Apa? Dari siapa?” tanyaku, menerima tas kertas mungil warna ungu cattleya dari tangan Tim. Tas itu sejak tadi sudah ada di atas lekukan tembok yang memisahkan punggung sofa dengan jendela, namun aku tidak memerhatikannya.

“Dari penggemarmu,” ledeknya, memberesi ransel, bersiap pergi. “Aku kembali ke sini agak malam. Banyak yang harus kuurus. Kalian di sini aman,” tegasnya untuk kesekian kali.

*******

 

5 Comments to "Tembak di Tempat (19)"

  1. endah raharjo  13 March, 2013 at 17:26

    Pak DJ: terima kasih sdh mengikuti kisah ini

    JC, Yu Lani, dan Pampres: kayaknya pada ngarepin Mia beroman-ria dengan salah satu: Tim atau Ronn. Mestinya poin itu dikembangkan sejak awal ya… hahahahaaa…

    Yu Lani + JC: kalo soal mak greng, mak senut, mak jenggirat, mak sengkring… itu tergantung imajinasi… hihihihiiii

    Pampres: antara ‘sAru dan tegang’ dengan ‘sEru dan tegang’ memang sering kepleset

  2. [email protected]  13 March, 2013 at 09:56

    MWEHEHEHE…. dari seru… tegang (tembak2an lho… jangan mikir ke yang lain) hingga ke romantis….

  3. Lani  13 March, 2013 at 04:01

    ER : ini aku copy kan :“Apa? Dari siapa?” tanyaku, menerima tas kertas mungil warna ungu cattleya dari tangan Tim. Tas itu sejak tadi sudah ada di atas lekukan tembok yang memisahkan punggung sofa dengan jendela, namun aku tidak memerhatikannya. Dari penggemarmu,” ledeknya, memberesi ransel, bersiap pergi. “Aku kembali ke sini agak malam. Banyak yang harus kuurus. Kalian di sini aman,” tegasnya untuk kesekian kali.

    ++++++++++++

    aku melu fenasaran………sapa yg dikatakan “dari penggemarmu”??????? dugaanku pasti RONN?????? benerkah????

    AKI BUTO : halah……..yo mmg bener sing plg ahli dan cepat mak grenk kuwi kang Anuuuuuuuu, dan Pam-Pam……..tp aku tdk percaya nek dikau ora iso mak grenkkkkkkkk………karo keduten wakakakak………..

  4. Dj. 813  12 March, 2013 at 15:24

    Mbak Endah…
    Terimakasih…
    Ini cerita, makin lama makin seru…!!!
    Bagaimana bisa bikin cerita seperti ini, seolah yang baca ikut didalamnya.
    Salam,

  5. J C  12 March, 2013 at 07:33

    Hhhhmmm…sepertinya si Mia akan bertambah bingung menghadapi Tim dan Ronn yang sama-sama membuatnya mak-greng. Sepertinya si Ronn lebih mak-greng untuk Mia, karena setrum Tim kurang ciamik. Lebih seru lagi karena seluruh team malah tinggal di tempat Ronn.

    (kalau urusan greng-greng’an, tetap Kang Anoew ahlinya, sudah terbukti, teruji dan diakui khalayak ramai)

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.