Komitmen

Handoko Widagdo – Solo

 

Teman saya (perempuan) mendapat tilpon dari seorang doktor dari sebuah perguruan tinggi terkenal. Sang doktor menawarkan (dengan setengah mendesak) supaya teman saya ini mau menjadi Calon Legislatif Nasional dari sebuah partai. “Mbak Dewi (bukan nama sebenarnya) kan punya komitmen. Selama ini Mbak Dewi telah berjuang untuk anak-anak. Sekarang saatnya Mbak Dewi berjuang dari dalam. Saya tahu Mbak Dewi punya KOMITMEN”, demikian rayuan dari sang Doktor. “Ini Partai baru yang bebas korupsi lho Mbak”, tambahnya. Teman saya bilang bahwa dia tidak berminat, “lagi pula saya tidak punya modal.” Kata tidak punya modal ini segera saja disambar oleh Sang Doktor. “Partai yang akan membiayai Mbak”, rayunya. Teman saya bersikukuh bahwa dia tidak mau. Ketika saya tanyakan alasannya, dia bilang: “saya tidak mau menjadi sapi perahnya partai. Kalau saya sudah jadi anggota dewan atas biaya mereka, pasti mereka memeras saya, paling tidak untuk mengembalikan modal kampanye. “ Komitmen.

Pengalaman teman saya itu sama persis dengan pengalaman saya 5 tahun yang lalu. Suatu sore hp saya berbunyi. Di seberang sana, seseorang (mengaku dari sebuah dinas provinsi) mengundang saya untuk bertemu di sebuah hotel di Solo. Karena saat itu saya sedang menangani proyek yang berhubungan dengan dinas tersebut, saya menyetujui untuk bertemu. Saya mengira bahwa dia akan mengajak saya untuk mendiskusikan pelaksanaan proyek.

“Pak Han mau makan dimana?” Sebuah pertanyaan yang agak aneh bagi saya. Sebab, biasanya kalau bertemu pejabat, kami tidak pernah diawali dengan makan-makan. Tetapi langsung membahas isu/topik program. Saya sampaikan bahwa saya sudah makan. Akhirnya kami berbincang di loby hotel sambil minum kopi. “Pak Han selama ini kan punya KOMITMEN. Pak Han selalu memperjuangkan petani dan masyarakat pedesaan. Bagaimana kalau Pak Han bergabung dengan kami? Kami berencana mencalonkan Pak Han sebagai anggota legislatif nasional.”

anggota-dpr

roy-suryo

Saya kaget dengan tawaran tersebut. Sebab selama ini saya sama sekali tidak tertarik dengan dunia politik. “Wah saya kira anda salah orang”, jawab saya. “Saya ini hanya pekerja pembangunan. Tidak cocok menjadi pejabat, apalagi DPR Pusat”, sambung saya. “Tidak apa-apa Pak. Pak Han punya jaringan yang luas. Pak Han dikenal oleh grass root dan pejabat di daerah. Lagi pula kami akan mencalonkan Pak Han dari Dapil tempat kelahiran Pak Han kok.” Saya menjawab bahwa saya tidak berminat dan seandainya maupun, saya tidak punya modal. Dia segera saja menyergap pernyataan saya bahwa saya tidak punya modal dengan antusias. “Partai yang akan membiayai Pak. Kami siapkan 10M untuk kampanye. Jaringan Pak Han itu modal yang tak ternilai.” Saya tetap saja menolak karena saya memang sama sekali tidak berminat.

Ketika saya ceritakan pengalaman yang sama ini dengan teman saya tadi, dia menyambut: “Bagaimana orang bisa berkomitmen pada tujuan awalnya, jika setelah jadi dia harus mengembalikan modal.” Betul juga. Jika modal (dari siapapun) sudah keluar, maka KOMITMEN pada legislatif adalah kepada pemberi modal. Tugas utama yang harus segera dilakukan adalah mengembalikan modal. Kalau modalnya 10M, maka dia harus bisa mengembalikan 2M setiap tahunnya.

Arifianto buka video porno

arifinto-anggota-dewan-sedang-asyik-khusyuk

Hari ini, tanggal 7 Maret 2013, di KOMPAS ditulis, Partai XXX sedang menjaring legislator yang berkualitas yang memiliki komitmen. “Prinsip the right man on the right place dan the right woman on the right place semakin kita wujudkan dalam rekruitmen ini.” Orang yang menyampaikan kalimat tersebut adalah mantan anggota legislatif yang tertangkap kamera sedang mengisi absen rapat tapi tidak ikut rapat, dan telah mengundurkan diri dengan alasan ingin lebih konsentrasi mengurus partai dan keluarganya beberapa minggu yang lalu, dan saat ini (yang saya dengar) sedang mencalonkan diri kembali sebagai calon legislator. KOMITMEN?

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

31 Comments to "Komitmen"

  1. Handoko Widagdo  20 March, 2013 at 07:42

    Sylvi, sayangnya Mustahil juga tidak berminat mencalonkan diri jadi anggota legislatif.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.