Di Balik Pesta Kawin Adat Pariaman

Ary Hana

 

Mirip keberuntungan menjadi saksi ritual adat pernikahan di Pariaman tahun 2010 lalu. Selain cerita yang dibukukan, ada sisa foto simpanan untuk mendokumentasikan acara. Bukan foto bagus, tapi cukuplah untuk mengisahkan apa yang terjadi (kebetulan waktu itu saya belum mendalami fotografi secara serius).

Perlu diketahui, Pariaman adalah satu dari sedikit daerah di ranah Minangkabau yang mempertahankan adat ‘membeli lelaki’ dalam pernikahan. Membeli dengan sejumlah uang ini kerap disebut ‘uang jemputan’ yang besarnya ditentukan berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak. Adat ini hanya dianut Pariaman dan Padang, sedang di daerah lain seperti Payakumbuh, Bukittinggi, dan Solok, tak menganut adat ini. Uang jemputan ini bukanlah mahar macam pernikahan di India sana. Tapi bea yang dikeluarkan pihak perempuan untuk membawa lelaki itu tinggal di keluarga perempuan.

Pesta ini digelar 3 bulan paska bencana gempa bumi yang meluluhlantakkan daerah Padang Pariaman. Sebelumnya, warga setempat dilarang menggelar pesta karena masih dalam suasana duka cita. Jadi, walau sederhana, pesta ini disambut antusiame warga yang haus akan hiburan. Saya sempat mendokumentasikan pesta, sejak persiapan hingga dua hari setelahnya. Tak seperti pesta pernikahan biasa yang berlangsung hanya beberapa jam atau paling lama semalam, pesta adat ini berlangsung tiga hari. Panjang dan cukup melelahkan.

Keterangan foto:

Jajanan 1-4. Jenis-jenis makanan tradisional yang ada di Kampung Mangur, Pariaman.

jajanan1

jajanan2

jajanan3

jajanan4

 

 

Membuat jodah. Di jawa disebut wajik, di Pariaman jodah namanya. Jodah merupakan salah satu pelengkap sahnya acara. Jodah yang dibuat keluarga mempelai perempuan akan dihantar ke rumah mempelai lelaki.

membuat jodah

 

 

Goreng mie. Mie goreng, sebagaimana juga rendang, jadi pelengkap sajian pesta dan sangat khas rasanya.

goreng mie

 

Memasak. Dapur tempat memasak sangat tradisional bentuknya. Umumnya hanya halaman samping rumah. Memasak dilakukan berbahan kayu bakar. Tukang masaknya adalah semua perempuan tetangga. Tak ada lelakinya.

memasak

 

Dirias. Pengantin dirias sebelum akad nikah.

dirias

 

 

Rajah. Rajah di telapak tangan dan kaki pengantian perempuan dilakukan malam menjelang akad nikah, sebagai penanda kesucian pengantin perempuan.

rajah

 

 

Mencoba gaun. Ada beberapa busana pengantin yang wajib dikenakan mempelai perempuan, di antaranya gaun model Eropa dalam acara resepsi pernikahan.

mencoba gaun

 

 

Akad nikah. Inilah satu-satunya acara di mana kedua mempelai dipertemukan. Setelah akad nikah, masing-masing mempelai akan duduk di singgasana  sendirian di rumah masing-masing selama 3 hari pesta.

akad nikah

 

 

Dekorasi ruangan. Ruang tempat pesta pernikahan hingga ruang tidur pengantin didominasi dengan warna merah jingga, warna khas Pariaman.

dekorasi ruangan

 

 

Makan bersama. Usai akad nikah, diadakan acara makan bersama. Umumnya ruang makan dibagi dua, satu khusus untuk tamu perempuan, sisanya tamu lelaki.

makan bersama

 

 

Pengantin perempuan. Mempelai perempuan mengenakan pakaian adat Pariaman lengkap bersama hiasan kepala atau suntiang seberat lebih 10 kg. Setiap hari, selama tiga hari, 8 jam sehari minimal, pengantin perempuan akan menyunggi suntiang di kepalanya. Bayangkan!

pengantin perempuan

 

 

Pengiring rias. Pengiring pengantin perempuan dalam acara menjalang (mengunjungi rumah mempelai lelaki tengah malam di akhir malam pesta) harus mengenakan busana berwarna merah jingga.

pengiring rias

 

 

Para penonton. Para kerabat dan tetangga yang menonton prosesi akad nikah dari balik pintu.

para penonton

 

 

Ruang acara. Ruang resepsi pernikahan terletak di halaman depan rumah mempelai perempuan. Dekorasi berwarna merah jingga mendominasi ruangan.

ruang acara

 

 

Semua perempuan. Keluarga mempelai perempuan di rumah mempelai lelaki dalam acara menjalang. Sama sekali tak ada lelaki di sana. Tak jua mempelai lelaki. Kentara begitu kuatnya otoritas matrilineal di sini.

semua perempuan

 

 

Organ tunggal. Penyanyi yang diiringi organ tunggal menghibur tamu hingga larut malam.

organ tunggal

 

31 Comments to "Di Balik Pesta Kawin Adat Pariaman"

  1. indi  27 December, 2017 at 14:58

    Seorang dengan status duda atau janda tentunya masih boleh dan berhak menikah kembali selama atas ijin Allah SWT bukan
    1. apakah seseorang dengan status tersebut diatas boleh menikah dengan yang berstatus dara/jejaka?
    2. apakah aturan adatnya sama seperti aturan adat pernikahan jejaka/dara yang salah satunya seperti tidak boleh menikahi perempuan diluar suku minang bagi lelaki ? (mengingat dalam Islam kita memahami bahwa jodoh setiap manusia sudah diatur Allah SWT juga, dan itu hak setiap manusia apapun status pernikahannya baik duda/janda maupun status sosial, suku, dan usia nya)

    Mohon Maaf sebesar2nya bagi masyarakat minang dan bagi masyarakat pariaman khususnya, Pertanyaan ini tertulis atas ketidaktahuan dan ketidakpahaman semata saya saja. Terima kasih banyak atas penjelasannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.