Eutanasia

Anwari Doel Arnowo

 

Tulisan ini mengutip apa yang tercantum mengenai pokok pembicaraan penting, tetapi sering dihindari orang untuk dibicarakan, dari Wikipedia berbahasa Indonesia. Jangan takut, atau malah takutlah, karena Indonesia masih akan lama sekali mau terikut dalam masalah penting ini. Sudah saya singgung sedikit di dalam tulisan di: http://baltyra.com/2013/03/04/palliative-care-dan-hospice/   

 

euthanasia-killing-or-caring

Eutanasia

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Mesin eutanasia yang digunakan untuk menyuntikkan obat-obatan mematikan dalam dosis tinggi. Layar komputer jinjing memandu pengguna melalui beberapa tahapan dan pertanyaan guna memastikan bahwa si pengguna telah benar-benar siap untuk dalam keputusannya tersebut. Suntikan terakhir kemudian dilakukan dengan bantuan mesin yang diatur dari komputer.

mesin-eutanasia

Eutanasia (Bahasa Yunani: ευθανασία –ευ, eu yang artinya “baik”, dan θάνατος, thanatos yang berarti kematian) adalah praktik pencabutan kehidupan manusia atau hewan melalui cara yang dianggap tidak menimbulkan rasa sakit atau menimbulkan rasa sakit yang minimal, biasanya dilakukan dengan cara memberikan suntikan yang mematikan.

Aturan hukum mengenai masalah ini berbeda-beda di tiap negara dan seringkali berubah seiring dengan perubahan norma-norma budaya maupun ketersediaan perawatan atau tindakan medis. Di beberapa negara, eutanasia dianggap legal, sedangkan di negara-negara lainnya dianggap melanggar hukum. Oleh karena sensitifnya isu ini, pembatasan dan prosedur yang ketat selalu diterapkan tanpa memandang status hukumnya.

 

Ini tempat pertama yang secara resmi membuat berlakunya Eutabasia, meski telah dicabut lagi oleh Senat pada tahun 1997.

Australia

Negara bagian Australia, Northern Territory, menjadi tempat pertama di dunia dengan UU yang mengizinkan euthanasia dan bunuh diri berbantuan, meski reputasi ini tidak bertahan lama. Pada tahun 1995 Northern Territory menerima UU yang disebut “Right of the terminally ill bill” (UU tentang hak pasien terminal). Undang-undang baru ini beberapa kali dipraktikkan, tetapi bulan Maret 1997 ditiadakan oleh keputusan Senat Australia, sehingga harus ditarik kembali.

Memang belanda adalah negara pertama yang melegalkan Eutanasia.

Belanda

Pada tanggal 10 April 2001 Belanda menerbitkan undang-undang yang mengizinkan eutanasia. Undang-undang ini dinyatakan efektif berlaku sejak tanggal 1 April 2002 [6], yang menjadikan Belanda menjadi negara pertama di dunia yang melegalisasi praktik eutanasia. Pasien-pasien yang mengalami sakit menahun dan tak tersembuhkan, diberi hak untuk mengakhiri penderitaannya.

Tetapi perlu ditekankan, bahwa dalam Kitab Hukum Pidana Belanda secara formal euthanasia dan bunuh diri berbantuan masih dipertahankan sebagai perbuatan kriminal.

Sebuah karangan berjudul “The Slippery Slope of Dutch Euthanasia” dalam majalah Human Life International Special Report Nomor 67, November 1998, halaman 3 melaporkan bahwa sejak tahun 1994 setiap dokter di Belanda dimungkinkan melakukan eutanasia dan tidak akan dituntut di pengadilan asalkan mengikuti beberapa prosedur yang telah ditetapkan. Prosedur tersebut adalah mengadakan konsultasi dengan rekan sejawat (tidak harus seorang spesialis) dan membuat laporan dengan menjawab sekitar 50 pertanyaan.

Sejak akhir tahun 1993, Belanda secara hukum mengatur kewajiban para dokter untuk melapor semua kasus eutanasia dan bunuh diri berbantuan. Instansi kehakiman selalu akan menilai betul tidaknya prosedurnya. Pada tahun 2002, sebuah konvensi yang berusia 20 tahun telah dikodifikasi oleh undang-undang belanda, dimana seorang dokter yang melakukan eutanasia pada suatu kasus tertentu tidak akan dihukum.

Saya merasa bahwa undang-undang yang kita anut itu adalah sebuah produk yang akan selalu mengalami perubahan dari waktu ke waktu,  Buktinya Undang-Undang Dasar 1945 itu sudah beberapa kali mengalami amandemen dan masih dinyatakan belum sempurna berkali-kali.. Sebaiknya kita siapkan mental bahwa pada suatu saat nanti, mungkin saja akan terjadi perubahan. Semua ini untuk bisa ikut  mencegah rasa terkejut yang  berlebihan, bila waktunya datang nanti.. Meskipun saya tidak menyetujui Undang-Undang yang ada , tidak berarti saya berbuat sesuatu yang bertentangan dengan nya. Menyatakan pendapat adalah hak azasi, sepanjang tidak bertindak yang bertentangan dengan undang-undang.

 

13 Comments to "Eutanasia"

  1. Anwari Doel Arnowo  30 March, 2013 at 23:52

    Mas Iwan,
    Saya ucapkan terima kasih atas pemuatan berita di link mengenai eithanasia ekstreme seperti ini, mezkipun yang seperti ini mungkin bukan kejadian yang pertama kali. Tanpa senjata pun bisa dilakukan orang.
    Salam,
    Anwari — 2013/04/01

  2. Anwari Doel Arnowo  16 March, 2013 at 23:16

    JC,
    Saya pikir mati itu bisa menjadi pilihan caranya, karena mati adalah keharusan, bukan bisa dihindari..
    Sudah saya saksikan seseorang usia 80an yang tulang pahanya sudah diganti dengan metal, terjatuh lagi oleh perbedaan tinggi lantai yang hanya 3 centimeter saja. Dioperasi selama 10 jam dengan hasil kesakitan yang terus menerus. Pada setelah tiga bulan, saya menengoknya, saya melihat dia bertriak sekuat-kuatnya karena rasa sakitnya.Yang begitu terjadi erkali-kali dalam seharinya. Dokter sudah angkat tangan.
    Kakak saya yang pertama sudah selama delapan tahun menderita stroke. setiap kali ada yang meninggal yakni suaminya, adiknya yang kakak saya, dan menantunya, dia selalu bilang: “Mengapa bukan saya saja?”

    Anwari Doel Arnowo – 2013/03/16

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.