Hijab: Kewajiban atau Mode?

Yuni Astuti

 

Hijab saat ini menjadi sangat populer, baik di kalangan selebritis maupun kalangan rakyat. Hijab sudah menjadi trend mode yang selalu berkembang setiap detik. Ada banyak macamnya, yang sangat jauh berbeda dengan hijab pada masa lalu.

Masa sebelum reformasi, hijab dilarang di sekolah-sekolah. Gaya berhijab saat itu pun biasa saja, tidak banyak mode mungkin dikarenakan banyaknya pelarangan akan pemakaian kerudung saat itu.

Hijab adalah proteksi yang akan melindungi pemakainya (para muslimah) dari banyak gangguan berupa tindakan asusila dari lelaki jahat, hijab juga menjaga kehormatan muslimah dan tentu saja bernilai pahala bagi yang mengenakannya.

Akan tetapi, seiring semakin sadarnya muslimah akan kewajiban berhijab, justru semakin menimbulkan mode yang sangat beragam. Terkenal pula istilah kerudung gaul, yakni kerudung yang sekadar dipakai untuk membungkus kepala, tetapi tidak sesuai syariat.

Fenomena sadarnya para muslimah ini tentu harus diapresiasi, karena berarti mereka sadar bahwa menutup aurat memang sebuah kewajiban yang tidak bisa ditawar lagi. Tetapi yang amat disayangkan adalah ketika menutup aurat hanya sekadar membungkus aurat dan tidak sesuai standar hukum syaria.

Kita mengenal ada hijab Syahrini, hijab Ashanti, hijab hoodie, yang hampir setiap tahunnya selalu saja mode jilbab dan kerudung itu disandarkan kepada selebritis. Hanya karena mereka pernah memakai hijab model begitu, lalu industri pakaian melirik peluang itu untuk menciptakan mode yang akhirnya menjadi terkenal dan tentu saja keuntungan mereka berlipat-lipat. Sasaran mereka pun banyak, mulai dari ibu-ibu, remaja sampai anak-anak. Hijab menjadi trend yang terbukti mampu mendongkrak pasar.

Kesan bahwa jilbab dan kerudung itu kuno pun tersingkirkan dengan sendirinya, sebab sudah terbukti bahwa hijab adalah pakaian yang bisa juga dimodifikasi sedemikian rupa agar tampak modis dan tidak kampungan.

hijab_poster

 

Hijab dalam Syariat Islam

Makna hijab dalam Islam adalah sesuai dengan yang disyariatkan dalam al-Qur’an yakni surat al-Ahzab: 59

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Juga di surat an-Nuur: 31

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.

Dari kedua ayat di atas, sebenarnya batasan hijab itu jelas. Yakni mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh, lalu kerudung yang menutup dada. Jilbab adalah pakaian panjang (yang tidak berpotongan) mulai dari leher hingga menyentuh tanah. Selain itu, hijab yang dipakai pun tidak boleh transparan, tidak boleh membentuk tubuh sehingga tampak lekuk tubuh muslimah. Sehingga bukan menjaga kehormatan tetapi mengumbar aurat. Inilah yang disebut berpakaian tapi telanjang. Menutup aurat tapi mata yang memandangnya bisa menembus apa yang ada di balik hijab tersebut.

Hijab, masa lalu dan masa kini tetaplah merupakan kewajiban. Meski di suatu masa hijab menjadi trend mode yang dikagumi banyak orang, hijab tidak boleh menyalahi aturan agar sesuai dengan syariat Islam. Karena hijab, adalah bentuk kasih sayang Allah kepada para muslimah untuk menjaga dirinya dan tidak diganggu. Hijab akan membedakan wanita muslimah dan bukan muslimah.

Kita berhijab bukan karena mengikuti mode, bukan karena mengikuti selebritis. Bukan karena ingin tampil lebih cantik atau untuk menutupi cacat diri. Tetapi kita memakai hijab sebagai identitas diri sebagai muslimah yang wajib menutup aurat dengan sempurna, tanpa paksaan dari pihak manapun dan atas kesadaran diri sendiri.

Berhijab juga bukan persoalan kita suci dari segala dosa. Bukan berarti kita tak pernah melakukan kesalahan. Tak lantas menjadikan diri kita sempurna. Tetapi dengan berhijab, berarti kita telah melaksanakan salah satu hukum Allah. Kita telah taat pada salah satu perintah-Nya. Dan itu akan menjadi motivasi bagi diri kita untuk menjadi pribadi yang jauh lebih baik dari sebelumnya.

 

Bolehkah Kita Berhijab Modis?

Fungsi pakaian sejatinya adalah untuk melindungi pemakainya dari panas dan dingin serta dari berbagai gangguan. Maka, seharusnya pakaian dibuat senyaman mungkin. Sebagai wanita, yang notabene adalah makhluk paling indah dan menarik tentu akan menimbulkan ketertarikan pada lelaki bila mereka bertemu. Lelaki normal pastinya suka akan keindahan bentuk tubuh wanita. Hanya, masalahnya adalah pada menundukkan pandangan sang lelaki, dan penjagaan diri wanita.

Islam mengatur dengan jelas bahwa wanita dan lelaki hendaklah saling menundukkan pandangan. Menjaga pandangan dari hal-hal yang tidak halal baginya. Bila muslimah menutup auratnya dengan sempurna, dan lelaki menundukkan pandangan maka mungkinkah akan terjadi tindak asusila?

Kita tidak dilarang untuk memakai pakaian yang indah, selama itu tidak memunculkan kesombongan dalam diri. Hanya, keindahan yang dimaksud adalah keindahan yang tidak keluar dari batasan syariat. Jangan karena ingin tampak modis lalu memakai hijab yang tidak syar’i.

Allah itu indah dan mencintai keindahan. Tetapi bagi muslimah sejati, ia hanya menampilkan keindahan yang seindah-indahnya penampilan hanya kepada suaminya. Bukan kepada publik, yang tidak halal baginya. Maka, tetaplah kesederhanaan menjadi nomor satu. Sederhana, sebagaimana Rasulullah saw tidak pernah bermewah-mewahan. Hal itu pulalah yang diikuti oleh para shahabat Nabi untuk hidup sederhana, termasuk dalam hal berpakaian.

Hijab yang syar’i bukanlah hijab yang harganya jutaan, bukan pakaian bertabur perhiasan. Tetapi hijab yang dipakai dengan penuh ketundukan dan keikhlasan untuk berbakti kepada Allah, bukan untuk memamerkan keindahan bentuk lahiriah kepada sesama manusia belaka.

Wallahu a’lam

 

39 Comments to "Hijab: Kewajiban atau Mode?"

  1. probo  26 March, 2013 at 14:56

    Dewi Aichi Says:
    March 21st, 2013 at 19:53

    Tanggalnya hampir mirip BU…20 Maret, saya 2 Mei…bulannya sama ya…pakai M, trus anak anak BU Probo juga inisialnya A, namaku juga inisialnya A, kalau dewi murni itu nama di tengah…

    A-nya apa Mbak?
    Amugiyem ta?

  2. nevergiveupyo  26 March, 2013 at 14:25

    waktu kuliah, saya punya teman, yang ber-kerudung… kemudian, somehow dilepas… karena masalah sensitif (menurut saya) maka saya ga tanya knp dilepas… trus sekarang (kabarnya) sudah pakai lagi…
    yang saya tau, memakai ataupun tidak, teman saya itu tetap bersikap sama baiknya dan (syukurnya) tetap terlihat sama cantiknya (bagi saya dan tmn2 saya)

    dan ada tmn yg satunya lagi…sampai sekarang tidak berjilbab lagi (tapi dia tetap rajin ibadah/sholat 5 waktu dll) sama seperti waktu dia berjilbab…

    bagi saya (laki-laki) mau berjilbab atau tidak, kalau pikiran saya sudah membayangkan yang iya-iya ya tetap tidak ngaruh.. jujur aja, saya bukan tidak pernah begitu kok..

  3. nia  25 March, 2013 at 12:27

    halo mb Yuni Astuti… anda dmn ya? ini lho banyak yg tanya kok gak ada komentar balasan?

  4. Anwari Doel Arnowo  24 March, 2013 at 21:23

    Sudah tau kan ada yang amat luas tersebar cerita: Seorang anak sedih setengah mati, menangis mengeluh ke sana ke sini setelah minta ijin orang tuanya, guru sekolahnya serta ke ustad di kampungnya, hasilnya TIDAK diijinkan menmakai jilbab.Ketika sekali lagi dia menhadap kedua orang tuanya sambil menangis bersuara tinggi dan keras. Ibunya membentak dan berteriak: “KAMU TIDAK BOLEH, BAMBAAAANGNG………… semua orang kan tau bahwa KAMU ITU LAKI-LAKI !!

    Anwari – 2013/03/24

  5. Dewi Aichi  21 March, 2013 at 19:53

    Tanggalnya hampir mirip BU…20 Maret, saya 2 Mei…bulannya sama ya…pakai M, trus anak anak BU Probo juga inisialnya A, namaku juga inisialnya A, kalau dewi murni itu nama di tengah…

  6. Dewi Aichi  21 March, 2013 at 19:51

    Bu Probo….aku nanti sebulan lagi, eh 5 Minggu lagi he he….

  7. probo  21 March, 2013 at 19:45

    mbak Dewi, aku wis hijab (nganggo huruf Jawa)…tgal 20 maret 1994

  8. Dewi Aichi  21 March, 2013 at 19:25

    Walahhhh…..mba Yuli…njaluk salak kok neng kene…salakku tak tinggal neng Sleman….sana ambil…..

  9. Yuli Duryat  21 March, 2013 at 11:24

    Mbak Dewi, saya pesen salak wae yo, ndek kapan kae kok aku gak kebagian kie hehehehhe

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.