Pahlawan dan Penjarah

Anastasia Yuliantari

 

Aku teringat ragam kisah perjuangan ini saat duduk bertiga dengan adik perempuanku dan Dinda, anak bungsunya, beberapa waktu lalu. Saat itu kami bercerita tentang Jogja, mendadak Dinda bertanya, yang sebetulnya sebentuk konfirmasi, padaku: “Te, apa benar dulu Eyang Buyut akan diangkut ke Suriname oleh Belanda?”

Tak tahu apakah benar ke Suriname, namun Eyang memang sudah dijajarkan di tengah jalan oleh tentara Belanda yang menduduki Jogja setelah clash ke dua, untuk menyebut agresi militer ke dua di Jogja, dibelakang truk-truk yang sudah menunggu perintah untuk diberangkatkan segera sebelum jam penarikan yang telah disepakati habis.

“Lalu kenapa dibatalkan, Te?” Dinda tampak ingin tahu kisahnya, walau aku percaya mamanya telah mengisahkan hal yang sama berulang kali.

“Kata Eyang Buyut, tentara Belanda sibuk memetik buah jambu air yang sedang ranum milik Eyang Gondo di ujung jalan tempat rumah kami berada dulu. Sampai sirine penarikan Belanda dari bumi Jogja berbunyi, mereka masih sibuk mengambil jambu itu, makanya para warga kampung batal dinaikkan dalam truk.” Jelasku.

Lagu campursari yang terdengar  dari kamar adikku membuat pembicaraan kami teralih pada Didi Kempot yang pernah show di Suriname, katanya pertunjukan itu dilakukan di sebuah stadion dan penontonnya penuh sesak. Pasti ketenaran lagu-lagu Jawa di salah satu negara Amerika itu setara dengan ketenaran lagu rock papan atas dunia bila melihat antusiasme penontonnya.

Setelah basa-basi musik selesai percakapan dilanjutkan tentang Budhe Pri, puteri tertua dari eyang. “Kamu, koq engga mau belajar bahasa Belanda padanya, to?” Kata adikku. “Kamu kan tinggal lama sama beliau, mana talent bahasamu, tuh lumayan.” Sejak kecil aku memang jadi “anak bungsu” Budhe Pri.

“Emang Eyang Pri sekolah apa, sih Ma?” Tanya Dinda.

“Semacam SMP gitu, engga tahu apa namanya di jaman Belanda.”

Tapi yang lebih membuat Dinda tertarik adalah heroiknya Budhe Pri yang waktu itu masih gadis dengan nama Supirah menghadang pasukan Belanda yang mau menggeledah rumah Eyang. Dengan penguasaan bahasa Belandanya yang nyaris sempurna, kepala pasukan Belanda dibuat terpesona saat adu argumen dengan beliau. Lelaki yang katanya tinggi besar dengan kumis yang menyeramkan itu akhirnya melewati rumah kami untuk memeriksa rumah-rumah lainnya. Padahal dalam rumah itu terdapat ratusan peluru yang disimpan oleh Oom No, sebutan buat Suparno, anak ketiga dari Eyang yang menjadi salah satu tentara pelajar. Oom No menyediakan rumah kami sebagai tempat penyimpanan perbekalan tentara pelajar.

“Kalau ketahuan gimana, Te?” Tanya Dinda.

“Kata Eyang, seluruh warga kampung bisa dihabisi. Ratusan peluru itu kan seharga ratusan nyawa orang Belanda.”

Dinda menatap dengan bermacam ekspresi. Entah apa yang ada dalam benaknya saat itu, namun dia kemudian beralih menanyakan Oom No atau Eyang No yang tak pernah dikenalnya karena telah meninggal ketika kami masih kecil.

“Tentara pelajar, tuh perang juga ya Te?” Sebuah pertanyaan yang patut dimaklumi. Mungkin dia membayangkan “pelajar” sepantaran dengan teman-temannya saat ini yang sibuk ngefans sama boyband atau girlband, heboh ingin beli tiket konsernya, merengek pada orangtua untuk beli CDnya, atau memikirkan hang out ke pertokoan di hari libur. Setiap jaman pasti berbeda situasi, namun agaknya jarak yang semakin jauh tersebut membuat pembayangan sulit dilakukan. Bagi Dinda yang sudah setinggi diriku walau masih kelas enam sekolah dasar, menjadi tentara di saat usia belia adalah sesuatu yang absurd. Baginya tentara adalah para bapak yang gagah perkasa dengan pakaian seragam dan sikap tegas berani seperti dalam TV.

“Tentu saja. Adik kan tahu titik nol kota Jogja to? Itu lho, persimpangan Kantor Pos Besar? Di depan kantor itu kan ada Gedung Agung? Istana Presiden bila berkunjung ke Jogja.”

“Ah, adik tahu. Kata Mama dulu Eyang No ditahan Belanda di sana, ya?”

“Bukan ditahan, tapi ditangkap Belanda.”

“Ya, tapi kan namanya ditahan juga.” Sergah adikku. Kiranya dia tak suka kata-katanya dikoreksi. Aku dan Dinda saling tersenyum melihat reaksinya.

Lalu kisah lainnya meluncur. Oom No ditangkap oleh Belanda suatu saat. Para tentara dan tentara pelajar itu disuruh berjongkok di halaman Gedung Agung. Mereka dipukuli dan dianiaya oleh para penjajah. Dalam situasi gawat tersebut hukuman tak lagi melalui proses panjang. Saling berjuang memperthankan hidup menjadi pilihan yang tak terhindarkan.

Kepala Oom No berdarah dihantam popor pasukan Belanda. Badannya biru lebam oleh tendangan dan hantaman para penjajah. Namun keinginan mempertahankan hidup tersebut membuat tekadnya meloloskan diri demikian tinggi. Saat para penjaga lengah, Oom No dan seorang temannya nekad melompati pagar Gedung Agung. Oom No berhasil lolos, namun temannya tertembak dan kata-kata yang begitu membekas di dalam diri kami para keponakannya sampai sekarang adalah, “Awake semampir neng pager (Badannya tersampir di pagar).”

Kiranya hal itu masih mampu memberi kesan mendalam karena Dinda menatap kami dengan wajah setengah melongo. Dia pasti membayangkan betapa heroiknya Oom No saat meloloskan diri dari sebuah tempat yang diduduki Belanda dengan melompati pagar.

Tak hanya sekali Oom No membahayakan jiwanya sendiri dan keluarga karena aktif dalam tentara pelajar. Setelah Budhe Pri berhasil mengusir Belanda yang akan menggeledah rumah, dia kembali mengulangi aksinya menyimpan peluru di rumah. Suatu hari pemeriksaan kembali dilakukan. Tak ada Budhe yang berdiplomasi dengan Belanda. Eyang yang tak tahu bahasa Belanda hanya menggeleng-geleng kepala saja saat mereka bertanya.

Salah satu tentara memeriksa laci-laci meja dan lemari. Di salah satu laci terdapat tembakau yang ditata memenuhi laci, di atasnya ditaruh kelereng. Bekali-kali si serdadu menarik laci itu, dan suara kelereng yang beradu memecah kesenyapan rumah. Tak berapa lama mereka pergi. Eyang rasanya mau pingsan karena di bawah tembakau tersebut tersimpan puluhan peluru. Bunyi denting logam disamarkan oleh bunyi detakan kelereng yang saling beradu.

“Wah, kalau disingkap lembaran tembakaunya….” Dinda menghentikan kata-katanya.

“Kita semua tak ada di sini.” Pikirku, karena ayahku anak bungsu, dan kala itu beliau belum hadir ke dunia.

Dari wajah Dinda, aku tahu bila esok dirinya akan menceritakan pengalaman kepahlawanan para leluhurnya pada teman-temannya. Bila dia membaca dalam buku sejarah tentang kisah perjuangan para kusuma bangsa, pasti dia teringat kembali kisah-kisah dalam keluarganya sendiri.

Lalu adikku menyalakan TV untuk melihat berita siang hari ini. Tampak di layar beberapa kasus perampokan harta kekayaan negara dalam wujud kasus-kasus korupsi. Lalu terbayang di kepalaku, bagaimana kiranya hal tersebut akan diceritakan pada generasi berikutnya? Melihat seri kebanggaan di wajah Dinda aku seakan melihat sebuah pagar mulai dibangun, selembar peringatan disodorkan di depan mataku. Paling tidak aku harus membuat anak-anakku kelak nyaman melihat kembali sejarah orangtuanya. Mungkin tidak heroik dan membanggakan seperti para pendahuluku berjuang melawan penjajah, namun paling tidak mereka bangga karena aku telah menjadi warga negara yang baik dan tidak mencederai negara tempat aku hidup.

pahlawan-penjarah

 

*Saat teringat Eyang, Budhe Pri, dan Oom No*

 

14 Comments to "Pahlawan dan Penjarah"

  1. Anastasia Yuliantari  17 March, 2013 at 09:53

    Pak Anwari, terima kasih banyak komennya. Kami yang lahir tahun 1970-an hanya bisa mendengar kisah2 itu dari orang2 tua kami. Saat itu nuansanya msh dpt kami rasakan krn pemerintah memang sering menayangkan film2 perjuangan, tetapi bagi anak jaman sekarang seperti keponakan2 saya, rasanya semakin sulit menangkap nuansa perjuangan para leluhurnya.

  2. Anastasia Yuliantari  17 March, 2013 at 09:50

    JC, dulu pernah ada pembuatan film dokumenter ttg Jugun Ianfu. Para perempuan yg sdh sepuh itu sampai kedarang2 ke Ibukota demi meminta penyataan permintaan maaf dr Jepang, tp kelihatannya sampai akhir hayat mrk tdk memperolehnya. Perjuangan ini juga dilakukan oleh perempuan Korea dan Cina. Tp itu tadi, sampai sekarang kayaknya Jepang tdk pernah merasa bersalah melakukan invasi ke negara2 Asia Tenggara dan menorehkan luka pada orang2 di negeri yg didudukinya.

  3. Anwari Doel Arnowo  16 March, 2013 at 23:38

    Ah, sebagian saya juga mengalami sendiri. Ayah saya dijatuhi hukuman penjara dua tahun lebih dalam dua kasus dan ditangkap Jepang serta dipukul kepala beliau deng palu serta ditawan sekali lagi oleh belanda pada agressi kedua, waktu itu jabatan beliau Wakil Gubernur Jawa Timur.Saya juga sempat melihat ketika umur 8 tahun pra dan sesudah Proklamasi darah mengalir dan pejuang berjuang menyabung nyawa tanpa memikir soal makan atau kenyamanan badan. Darah berceceran di mana-mana darah leher yang dipotong oleh pejuang kita, darah pasukan Gurkha dan darah serdadu Inggris dan belanda.
    Di masa yang akan datang saya tidak bisa banyak mengenai korupsi yang dilakukan oleh sanak saudara saya, karena memang tidak ada. Ingat sejarah itu di dalam bahasa Inggris adalah HISTORY bukan HIS STORY !!
    Anwari Doel Arnowo – 201`3/03/16

  4. J C  16 March, 2013 at 21:36

    Setuju dengan komentar Dewi Aichi. Pahlawan kita, dianggap penjahat atau pemberontak pihak lawan, dan demikian juga sebaliknya.

    Walaupun semua itu subjektif dan relatif, tapi ada satu yang aku paling tidak suka adalah Jepang tidak pernah mengakui agresi militer dan invasi serta kekejamannya di masa PD II. Masalah jugun ianfu juga masih kontroversi. Dunia mencatat bahwa Jepang dengan agresi militer mereka yang ganas, menebar teror dan kekejaman dimana mereka mendarat, tapi tidak pernah mengakuinya. Lebih parah lagi, tidak pernah disebutkan dalam pelajaran sejarah di sekolah-sekolah di Jepang (itu yang aku dengar).

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.