Pertemuan 2012 – 2013 (3)

Dewi Aichi

 

Pertemuan Ketiga (Solo – The Spirit Of Java)

Sejak masih di Jakarta, saya sudah medapatkan undangan kehormatan dari pak Handoko untuk mengunjungi rumah beliau di Kota Solo, dengan ketentuan tanggal 15-16, karena pak Handoko akan berada di kota Solo pada tanggal itu. Dengan senang hati undangan itu saya terima. Maka, atas kesepakatan dan mungkin sekalian waktunya, saling mengontak Wesiati dan Bambang Priantono yang tadinya mau bertemu saya di Jogja, tapi berubah halauan untuk sekalian ke rumah Pak Handoko di Solo.

Senang sekali dengan persetujuan dari Wesiati dan Bambang untuk bersama-sama ke Solo, jadi sekali bertemu dalam satu waktu. Wah..tidak menyangka bahwa mas Mastok ikutan ke Solo, ini tanpa diduga. Saat itu mas Mastok sedang berada di Semarang, lalu menilpon saya, untuk bareng ke Solo. Maka kami bertiga, pagi-pagi dari saya , nyamperin Tia Yuliantari, menuju stasiun Lempuyangan, sebelum jam 7 kami sudah berada di Stasiun. Menunggu tak berapa lama, mas Mastok muncul dari kejauhan.

Bertiga, eh berempat dengan anak saya, menuju loket, membeli tiket KA untuk ke Solo, petugas loket mengatakan bahwa kereta paling awal adalah jam 9, maka saya langsung memberi kabar kepada pak Handoko, bahwa kami tidak bisa tiba di Solo jam 9. Pak Handoko mengerti dan bilang oke. Akhirnya kami menunggu Jam keberangkatan sambil menikmati sarapan di pinggiran stasiun. Menyeruput teh panas, dan mas Tok menikmati kopinya.

Keretapun tiba, kami masuk. Nyaman, karena kereta ber-AC, Sriwedari. Tiket hanya Rp.20,000,00, tapi sudah sangat nyaman. Kami duduk berhadapan, saya berdampingan dengan anak saya, sedang mas Tok dan Tia, duduk di hadapan kami. Tiba-tiba ada penjual tahu yang menawarkan dagangannya kepada penumpang di sebelah kami. Mas Tok iseng mencet mencet tahu Sumedang, kirain mau beli karena lapar, ngga taunya mas Tok memberi tau bahwa tahu itu mengandung formalin. Hebat juga ya, mencet-mencet tahu, kalau kenyal, berarti ada formalinnya ya he he he….

pertemuan (12)

Dengan obrolan sepanjang jalan, tak terasa sampai sudah di stasiun Purwasari. Saat keluar dari stasiun, pak Handoko sudah melihat duluan kehadiran kami, dan segera memanggil. Ternyata mas Bambang Priantono sudah datang duluan, padahal dari Semarang. Ada juga mas Joko Prayitno yang menunggu bersama pak Handoko. Tidak lupa, mba Indra (istri pak Handoko) bersama putranya Hagai yang usia tidak terpaut jauh dengan anak saya.

Kami bersalam-salaman, menanyakan kabar, mengungkapkan rasa bahagianya sudah bisa saling bertemu. Tidak pakai lama, kami menuju móbil pak Handoko, sebelumnya mas Joko Prayitno memberi bingkisan kepada kami semua. Lukisan di atas kanvas, karya mas Joko Prayitno. Sungguh kenang-kenangan yang sangat berharga, lukisan itu sudah sampai di Brasil, terima kasih mas Joko. Sangat disayangkan bahwa mas Joko tidak bisa ikut bersama kami untuk menuju Sangiran.

Kami segera menuju situs bersejarah, Sangiran. Ramai sekali saat itu karena berbarengan dengan liburan sekolah. Atau menjelang liburan sekolah. Banyak pengunjung berseragam sekolah, rombongan dari berbagai sekolah, menambah meriah . Pertama kali yang kami masuki adalah mini bioskop yang menayangkan tentang manusia purba di Sangiran. Selesai menonton, kami langsung menuju ruangan-ruangan, dimana di sana banyak sekali menampilkan berbagai jenis manusia purba, situs-situs, dan sejarah lainnya.

pertemuan (13)

pertemuan (14)

Berterima kasih sekali kepada pak Handoko yang telah membawa kami ke Sangiran, dan terima kasih atas segalanya. Langsung siang yang terik itu, kami menuju ke rumah pak Handoko. Sengaja melalui jalan-jalan persawahan yang hijau, tanaman padi, baik yang sudah siap panen maupun yang masa tanam. Semuanya menyejukkan pemandangan. Di pertengahan jalan, masih sempat berhenti beberapa menit saja, menuruti keinginan mas Tok, maka pak Handoko turun dari mobil dan menjepret tanaman jati, atau jenis bamboo, entahlah, saya kurang tau.

Sampai di rumah pak Handoko, kami segera beristirahat sejenak, mas Tok rupanya sangat ngantuk. Mungkin juga karena perjalanan yang akan segera ditempuh. Mas Tok satu-satunya tamu pak Handoko yang tidak sempat menginap. Sorenya mas Tok segera menuju ke stasiun, untuk selanjutnya ke Bandung. Di sinilah cerita terjadi. Tanpa diduga, mau tidak mau, saya dan Tia mengejar-ngejar Alfred Tuname untuk menemui Mas Tok di stasiun Tugu. Entah bagaimana ceritanya, biarkan saja kisah ini diceritakan oleh yang bersangkutan. Confidential he he..amplopnya masih disegel.

Pak Handoko membawa kami untuk makan malam, diundang pula pasangan seleb Baltyra yaitu Lembayung dan Octavero. Lembayung yang kenes dan ramah, bersama suaminya yang juga cepat akrab dengan kami. Wesiati saat itu juga sudah sampai di rumah pak Handoko dan makan malam bersama, walau dengan wajah amat jutek…eh bukan jutek, tapi wajah kelelahan dan ngantuk setelah perjalanan dari Semarang menuju Solo. Capek karena perjalanan tidak lancer alias macet.

pertemuan (15)

pertemuan (16)

pertemuan (17)

Suasana makan malam kembali meriah, pak Handoko sekeluarga, saya dan anak, Tia, Lembayung beserta suami, Bambang Priantono, dan Wesiati beserta anak. Tiba-tiba, tanpa dinyana, mas Joko ikut hadir dan makan malam bersama, duduk di antara saya dan Tia. Pilih-pilih menu dan foto-foto untuk diabadikan, karena moment ini tidak bisa terulang, maka foto adalah hal yang wajib diadakan, wajib dilakukan.

Malam minggu sudah dibawa oleh pak Handoko makan malam, enak dan meriah. Maka pada hari Minggu pagi, kami diumbar (dibiarkan), berkeliaran di jl. Slamet Riyadi, yang merupakan jantung kota Solo. Kebetulan saat itu car free day, kami leluasa di jalan raya tersebut, yang biasanya padat lalu lintas. Minggu yang cerah, secerah hati kami yang bertemu teman-teman, sungguh menyenangkan. Hunting sarapan di sepanjang jalan, menu apa saja ada. Mau yang pakai piring atau pincuk, sama-sama enak, karena hati kami bisa menikmati suasana.

pertemuan (18)

Setelah sarapan, Wesiati, dan anak-anak mengayuh sepeda, mungkin untuk membuang lemak-lemak yang barusan disantap ya. Wesiati yang enak-enak duduk, sedang anak-anak di bawah usia dipaksa mengayuh sepeda, sungguh terlaluuuu. Ini perlu dilaporkan ke komnas ham, eh salah, komnas anak, karena Wesiati memperkerjakan anak di bawah usia. He he…tapi saya ngga jadi lapor, karena hati anak-anak bahagia, dan sangat menikmati, menggenjot sepeda bolak-balik, dan masih kurang lho..kurang puas.

pertemuan (19)

Lihatlah ini, salah satu tamu pak Handoko yang mendadak ber”taici” di tengah jalan, ngga sadar lho…diketawain sama orang berbaju merah itu he he he. Mas Bambang termasuk orang yang banyak ngomong, menyenangkan, bikin segar suasana. Banyak hal yang bisa diceritakan, tentang apa saja, selalu menarik.

pertemuan (20)

Setelah puas menguasai jalan Slamet Riyadi, kami menjemput mba Indra dan Hagai di gereja. Dari gereja, kami dibawa ke pasar Minggu(bukan pasar Minggu Jakarta), tapi semacam pasar kaget yang ada hanya setiap hari Minggu pagi. Di pasar itu kami menikmati suasana, tanpa belanja. Hanya anak saya saja yang maruk beli burung emprit 2 ekor, pong-pongan, Dan hamster. Anak saya sangat senang sampai berkali-kali bilang te amo mae, te amo di telinga saya saking berterima kasihnya sudah dibeliin.

pertemuan (21)

Cuaca panas, kami sepakat menikmati rujak degan, atau ES kelapa muda. Wuih…seger sekali. Hagai dan Gabriel sibuk dengan mainannya, bahkan sempat menggoda kucing hitam milik pemilik warung. Puas sudah kami menikmati kota Solo bersama tuan rumah pak Handoko Widagdo beserta istri yang menyambut hangat kedatangan kami. Pulang ke rumah pak Handoko sejenak, istirahat. Sedangkan pak Handoko harus mengantar mas Bambang ke stasiun duluan. Tinggal saya, Gabriel, Tia, Wesiati dan anak manisnya Izza.

pertemuan (22)

Menjelang senja, kami kembali diantar pak Han dan istri untuk membeli srabi Notosuman. Kemudian menuju ke terminal bus, mengantar Wesiati duluan. Baru mengantar saya dan Tia ke stasiun Balapan. Masih sekitar 1 jam lebih menunggu kedatangan kereta tujuan Jogjakarta. Dan ketika petugas keamanan yang berdiri di sebelah loket melihat anak saya membawa tentengan burung emprit, pong-pongan dan hamster, maka petugas segera menyapa dan memberi penjelasan bahwa ada larangan membawa binatang apapun masuk ke KA.

pertemuan (23)

pertemuan (24)

Wah..bingung saya. Antara melas dengan anak saya dan mentaati aturan. Tapi ya sudah, saya dan Tia mereka-reka, mengakali (ingat peristiwa itu saya nulis sambil ngakak) bagaimana belanjaan anak saya itu bisa sampai terbawa ke Jogjakarta. Biarlah itu menjadi kenangan indah antara saya, Tia dan Gabriel (mbrebes mili), terharu.

 

About Dewi Aichi

Berasal dari Sleman Jogjakarta, saya blasteran (antar kelurahan maksudnya), happily married to a Brazilian guy. Dari Jogja merambah dunia. Pernikahan lintas benua adalah pilihannya. Setelah beberapa tahun di Distrik Aichi, Jepang, sekarang tinggal di Brazil bersama keluarga tercintanya. Tingkat sudrunnya setara dengan saudara-saudara sepersudrunannya seperti Nur Mberok, Elnino, Fire dan jelas Lani van Kona. Di sini saya bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa, saya hanya sekedar menulis apa yang saya rasakan, apa yang saya alami, dan apa yang menarik buat saya untuk ditulis. Jika ini bermanfaat untuk diri saya sendiri dan juga untuk teman-teman, saya sangat bersyukur

My Facebook Arsip Artikel Website

77 Comments to "Pertemuan 2012 – 2013 (3)"

  1. Dewi Aichi  27 March, 2013 at 09:44

    Semoga ya Nev, yang penting semua saling mendoakan, semoga semuanya baik baik saja..

  2. nevergiveupyo  26 March, 2013 at 12:44

    sama lah semangatnya tanDA.. lha jauh-jauh dan juarang ada kesempatan.. pula krn saya bisa cuti rada lama.. tapi ya itu tadi, krn memang belum berjodoh ya… (padahal saya dah kontak2 sama kang anung juga..minta kalo bisa sebelum tgl itu… lha pas hari-H, kang anung bilang ndak usah dipaksain, krn pasti macet _walopun jogja – magelang cuman sak nyuk.an..tapi kalo macet ya macet aja…hehehe . masalah terbesarnya krn pagi2 hrs ke Tangerang itu, plus uda dapat jatah/shift nyupir… makanya kang anung bilang ga usah.. ya sudah, sebagai anak baik ya manut lah say…hehehehe)

    okai, moga bisa lbh beruntung dalam kesempatan berikutnya (yg semoga msh ada… mungkin pas subo sudrun van kona mudik yaaa)

    makasih salamnya, nanti disampaikan
    selamat asyik2 yaaa……

  3. Dewi Aichi  22 March, 2013 at 17:59

    I miss u Nev…lha piye toooo….aku udah semangat banget waktu itu, satu satunya yang susah ketemu, eh malah ngga jadi, padahal kami nongkrong di angkringan lor tugu itu karena tempat yang kau pilih. He he…ya sudah yang penting baik baik saja, salam hangat untuk istri ya….tentang lor tugu nanti ada kisahnya juga…

  4. Dewi Aichi  22 March, 2013 at 17:57

    Laniiii…..kalau soal burung sudah ada ahlinya lho ya ha ha ha…jadi dia lebih tau cara menyimpan, memelihara, dan cara mengasih makanan burung pun sudah ahli…

  5. nevergiveupyo  22 March, 2013 at 14:07

    telat belum ya??

    karena sudah terlalu asyik “off” saya…

    karena suratan takdir juga, saya tidak sedetikpun sempet menyambut tamu agung ini…
    *padahal dah siap2 mau nyusul ngangkring di lor tugu.. tapi berhubung pagi2 subuh hrs ke Jkt ya urung…

  6. probo  19 March, 2013 at 12:57

    mbak Lani…mundur karo nguwasi kok……

  7. Lani  19 March, 2013 at 03:34

    DA, HANDOKO : halah ini malah membicarakan cara menyimpan “burung”, tergantung burung apa? dan punya siapa duooooonk……….ngakak aku…….heheh

    MBAK PROBO, DA : mmg kita2 sdh apal banget sama lurahe………jd ora kagetan, koyok manggan di karbit biar cepet mateng……….mmg gitulah…….ngasih umpan, klu dimakan, dia langsung undur teratur……..trs menggunakan senjata pamungkasnya………..

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *