Bicara Baik-baik

Ida Cholisa

 

Mungkin bisa benar atau salah jika saya mengatakan bahwa saya termasuk tipe orang yang selalu berusaha menepati janji. Jika pun janji itu kemudian bergeser atau tidak tepat waktu, itu pun bukan karena saya menyengaja atau melalaikan, tetapi karena kesibukan yang kadang membuat saya susah berkompromi dengan waktu.

Begitulah, karena saya selalu berusaha memegang janji, maka saya akan sedikit kesal manakala menjumpai seseorang yang banyak berjanji tetapi acap mengingkari. Satu dua kali saya masih bisa menerima, tetapi berikutnya saya akan menyampaikan sikap yang sebenarnya.

Banyak kasus di mana seseorang melupakan atau melalaikan janji dengan saya. Salah satunya adalah seseorang yang tinggal di rumah kontrakan saya.

Kebiasaan saya saat tiba penghuni kontrakan baru, saya akan membersihkan rumah sebersih dan serapi mungkin. Bersama suami saya bahu-membahu mengepel dan membersihkan semuanya.

Tetapi tabiat manusia kadang tak mengerti. Dipancing kebaikan tetapi malah mengencingi. Pengontrak itu tidak menunjukkan itikad baik. Ia melalaikan pembayaran, dengan banyak alasan. Hingga pengontrak berikutnya datang, kejadian itu terus berulang.

Saya harus mengambil sikap tegas, demikian pikir saya. Salah satu pengontrak kembali melalaikan kewajiban. Menempati rumah tipe 21 dengan sewa kontrak sangat murah seharusnya merupakan keringanan buat mereka. Semua anggota keluarga dari nenek, ayah, ibu sampai anak-anak, semua berada dalam satu rumah. Hak penuh mereka dapatkan, tetapi kewajiban mereka lalaikan. Hingga kemudian kejadian terus berulang sampai berbulan-bulan, saya mulai berpikir untuk mengambil sikap tegas.

Saya mungkin termasuk orang yang tidak gampang kejam bila berhadapan dengan orang yang jelas-jelas telah mengecewakan. Sekesal apa pun saya, selalu saja saya menampakkan muka ramah pada mereka. Berbeda dengan di dunia maya, jika saya kesal maka saya akan langsung mendelete kawan saya, hehehe….

Puncaknya, kerika ia kembali mendatang rumah saya dan mengatakan keterlambatan lagi, saya seolah menemukan waktu yang tepat. Saya harus menyampaikan ganjalan yang menggumpal di hati saya. Tak banyak yang saya katakan, selain ucapan pelan; “Besok lagi jangan telat terus ya Mbak? Usahakan tepat waktu, ya?”

bunga-mawar

Rupanya kalimat halus saya mengena di hati pengontrak tersebut. Esok harinya ia mendatangi rumah saya sambil menyerahkan uang kontrakan bulan sebelumnya yang selama ini menjadi tunggakan.

Seperti biasa, kata ‘maaf’ dan ‘terima kasih’ meluncur dari bibir saya. Menjaga perasaan, itu yang saya lakukan agar sang pengontrak tidak kecewa atau sakit hati terhadap ucapan saya. Alhamdulillah ternyata ia mengerti dan menyadari kesalahannya.

Bicara dengan baik sesungguhnya memberikan banyak kebaikan. Bicara dengan cara yang baik akan lebih meresap di hati yang mendengarkan. Jika saya mengeluarkan omelan kepada pengontrak tersebut, bisa jadi ia segera angkat kaki dari rumah saya. Untunglah saya tidak.

Berkaca pada pengontrak tersebut, maka saya harus berhati-hati pula ketika berinteraksi dengan banyak orang. Menepati janji, menjaga ucapan agar tidak menyakitkan, sebuah hal yang harus dipegang dan diutamakan, di mana pun dan kapan pun…

***

 

Cileungsi, Pebr 2013

 

11 Comments to "Bicara Baik-baik"

  1. Alvina VB  22 March, 2013 at 02:29

    Cuma mau sharing ya mbak Ida, soalnya selaras dgn tulisannya di sini:
    “Say what you mean and mean what you say without being mean when you say it.”

  2. Dewi Aichi  21 March, 2013 at 19:56

    Bicara baik baik memang bikin adem…yang diajak bicara juga akan mendengarkan dan menghormati…tapi kalau sudah emosi kadang kadang lupa…pengen misuh he he…tapi aku ngga ding….aku misuh tanda sayang kok.

  3. juwandi ahmad  20 March, 2013 at 19:58

    “Bicara dengan baik sesungguhnya memberikan banyak kebaikan. Bicara dengan cara yang baik akan lebih meresap di hati yang mendengarkan. Jika saya mengeluarkan omelan kepada pengontrak tersebut, bisa jadi ia segera angkat kaki dari rumah saya. Untunglah saya tidak.” Kebenaran seringkali tumbang karena cara yang digunakan unutuk menyatakannya.

  4. Hennie Triana Oberst  18 March, 2013 at 16:14

    Mbak Ida, memang kadang walaupun kesal harus memilih kata-kata yang tepat untuk mengutarakannya. Beda di dunia maya ya, langsung delete hehehe… sama aku juga begitu.

  5. Dj. 813  18 March, 2013 at 15:15

    Yuuup…!!! Setuju sekali.
    Numpang nanya, punya rumah di Jimbaran Bali, yang akan di kontrakan atau dijual…???
    Kami ingin tau harga kalau kontrak untuk rumah di Jimbaran Bali, walau tidak tepat di pinggir pantai.
    Tapi ya yang tidak terlalu jauh dari pantai.
    Siapa tau mbak Ida punya, dan mungkin bahkan murah…??? Hahahahaha….!!!
    Terimakasih dan salam.

  6. Lani  18 March, 2013 at 14:47

    berpikir positif…….berbicara positif…..mmg sdh selayaknya………drpd yg sebaliknya

  7. Handoko Widagdo  18 March, 2013 at 12:44

    Bu Ida Cholisa, begitulah seharusnya seni bertutur wicara.

  8. Linda Cheang  18 March, 2013 at 11:37

    makin tambah umur, memang harus makin bijak dalam memilih kata-kata.

    tapi yang saya lihat, ada beberapa orang tua yang saya temui, makin tambah umur, malah makin jadi, caci-makinya…

    ampun, dah… nggak heran mereka kehilangan respek dari orang-orang yang dikasihinya

  9. J C  18 March, 2013 at 09:32

    The power of positive word memang lebih menguntungkan dibandingkan dengan kata-kata yang negatif dan bermuatan energi negatif juga…

  10. Dewi Aichi  18 March, 2013 at 09:12

    Sepakat BU Ida, sebisa mungkin saya tidak akan berbuat atau berkata yang bisa melukai orang lain, menyakiti orang lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.