Bukan Aku (1)

Yang Mulia Enief Adhara

 

Aku seorang ibu rumah tangga yang juga bekerja. Anakku 2 orang, pria dan wanita. Si Sulung kini berusia 17 tahun dan si Bungsu berusia 13 tahun. Namaku Ina dan usiaku 35 tahun. Aku bekerja sebagai kasir di pasar swalayan dan belakangan beralih profesi menjadi pengusaha toko kue juga restoran kecil-kecilan. Sejak si Bungsu berusia 2 tahun, aku sudah hidup menjanda, dan sejak itu aku tak ada keinginan menikah lagi, hatiku sudah kututup rapat-rapat. Hanya kedua buah hatiku yang menjadi cahaya hidupku.

*****

 

ibu-rumah-tangga

Aku menikah muda, lelaki yang memenangkan hatiku bernama Yusman dan dia laki-laki paling sempurna di mataku. Kami berpacaran sejak aku kelas 2 SMA yaitu saat usiaku 17 tahun. Yusman waktu itu sudah lulus kuliah. Di usianya yang 23 tahun dia sudah bekerja di sebuah perusahaan perminyakan. Kecerdasan otaknya membuat Yusman begitu cepat menapaki posisi-posisi strategis di kantornya bekerja.

Kami satu tahun berpacaran dan 5 bulan setelah aku lulus SMA, kami menikah. Tidak ada pesta besar, hanya sederhana namun aku sungguh bahagia. Setelah menikah kami tinggal di sebuah kontrakan kecil namun nyaman. Kami menempati rumah itu hingga si Sulung lahir.

Saat si Sulung berusia 8 bulan, Yusman membeli rumah untuk kami. Tepat di hari ulang tahunku, aku diberi kejutan yang sangat luar biasa. Sebuah rumah di lahan 180 meter, berlantai dua menjadi tempat kami merajut keluarga yang bahagia.

Rumah dengan ruangan yang serba terbuka hingga kesan lapang dan menyatu tiba-tiba menjadi milikku, semua persis seperti yang aku dambakan. Yusman sudah hafal impianku, yang kudengungkan tiap malam menjelang kami tidur. Biasanya Yusman hanya menjawab “Insya Allah” atau “Amin” atau “ohhh gitu ?” Tentu saja dilengkapi wajahnya yang sudah mengantuk. Namun siapa kira dia hafal semua ucapanku? Rumah yang kubayangkan dan kuanggap hanya khayalan tiba-tiba benar-benar ada.

 

*****

 

Di usia pernikahan kami yang kedua, aku memutuskan memakai jilbab. Dan untuk mengisi waktu Yusman juga memberikan aku modal untuk membeli peralatan dapur agar aku dapat puas menyalurkan hobi memasakku. Dan aku juga ‘menjual’ keahlianku dengan menerima pesanan. Aku sering diam di depan kaca panjang di dekat pantry, kutatap bayangan di balik kaca, aku pun selalu bergumam pada bayangan itu, “Kamu wanita paling beruntung”.

Kehidupan rumah tangga yang aku jalani memang bukan paling sempurna, namun aku merasa menjadi salah satu wanita paling berbahagia di planet ini. Aku semenjak gadis hanya senang urusan dapur dan rumah, tidak tertarik menapaki jenjang pendidikan setinggi langit untuk kemudian berkarier di perkantoran. Seperti Ibuku, aku ingin mengurus Suami, Anak dan rumah dengan tanganku sendiri.

 

*****

 

Sahabat dekatku dari masa SMA, Dwi dan Sekar rajin mengunjungiku, keduanya selalu berceloteh betapa aku ini wanita yang harusnya hanya berada dalam dongeng, cantik, bersuamikan orang sukses dan baik hati juga memiliki buah hati yang tampan dan sehat. Keduanya masih bergelut dengan dunia perkuliahan dan aku bergelut dengan dunia rumah tangga.

“Na, kamu ini beneran bikin iri, kapan ya aku dilamar cowok seperti suamimu ?” Ujar Dwi sambil menggendong Zakaria buah hatiku.

Aku mengangkat bahu sambil sibuk mengaduk adonan bakwan jagung. Aku sibuk konsentrasi menyiapkan hidangan makan siang. Bakwan jagung, balado terong teri, sayur bening dan ayam goreng.

Sekar yang sibuk memetik bayam ikut menimpali, “Bener lho Na, kita berdua suka bayangin betapa beruntungnya dinikahi laki laki seperti suamimu”

Wajahku memerah, antara merasa tersanjung sekaligus merasa berlimpah berkah. Andai saja bisa kulukiskan kebahagiaanku, entar berapa luas ukuran kanvas yang harus kusiapkan. “Sabar dong, kalian pasti akan bertemu laki laki yang tepat, yang tidak mencari pacar namun mencari istri, yang tidak sekedar menikah namun ingin membawa anak istrinya ke dalam surga” Ujarku berusaha bijak.

 

******

 

Anak keduaku lahir, seorang bayi perempuan montok yang cantik. Dan aku tidak pernah menghadirkan figur seorang pengasuh, semua kewajiban istri aku lakukan sendirian. Mulai merawat anak, suami juga rumah. Aku meletakkan kepentinganku paling akhir karena bagiku kebahagiaan anak-anak dan suamiku adalah segalanya.

Namun aku bukanlah istri yang kumuh, aku selalu ingin terlihat bersih dan sehat. Walau aku selalu memakai jilbab bukan berarti rambutku ku biarkan berminyak, berketombe atau kusam. Aku juga rajin melulur tubuhku, memoles wajah agar terlihat segar dan muda. Kebetulan tetanggaku berprofesi sebagai perawat kecantikan khusus wanita dan bersifat panggilan ke rumah. Nisa memang terampil, dia pernah sekolah kecantikan dan perawatan tubuh. Aku melakukan creambath, facial, lulur cukup di dalam rumahku tanpa harus membuang waktu ke salon.

Sambil mengawasi anak anak, aku melakukan perawatan sekaligus menjadi teman ngobrol bagi Nisa yang cekatan. Sebagai wanita, aku beruntung dikaruniai wajah cantik alami, aku tidak suka berdandan menor, alisku sudah tebal hanya perlu dirapikan sesekali, bibirku sudah merah merona cukup dipoles sedikit lip gloss, paling di saat keluar rumah aku menambahkan sedikit bedak tabur dan seoles tipis mascara.

 

*****

 

Waktu bagaikan terbang …. Aku tenggelam dalam kebahagiaan, hingga suatu malam, Yusman suamiku mengajakku bicara serius. Saat itu Zakaria berusia 5 tahun, dan Nadya berusia 1 tahun. Wajah Yusman nampak kusut, aku sebenarnya sudah sebulan terakhir melihat raut wajah kusut itu. Yusman lebih sering diam dan pulang malam. Katanya dia wajib lembur karena proyek di kantor sedang ‘membanjir’.

 

*****

 

Ku siapkan secangkir kopi rempah dan kami duduk berdua di pantry. Yusman nampak bingung untuk membuka percakapan. Percakapan yang sulit kucerna karena ibarat peluru yang langsung menembus jantungku dan di saat aku harusnya terluka, aku harus tetap tersenyum seolah semua baik-baik saja.

“Yus … Ada apa? Aku istrimu, ceritalah apapun yang mengganggu pikiranmu? Aku selalu ada untukmu cintaku”, Ujarku lembut sambil menyentuh lengan Yusman yang berotot padat.

Yusman menyeruput kopi-nya, dia tersenyum tipis kemudian berbicara sambil menatap wajahku dengan sayu, “Sayang, aku ada masalah di kantor, aku salah kalkulasi dan perusahaan rugi tiga ratus lima puluh juta rupiah, aku harus mengganti semua itu atau aku akan dipecat dan dibawa ke meja hijau”.

Aku terbelalak, tiga ratus lima puluh juta? Besar sekali? Namun kutarik nafas sejenak, aku harus tenang, supaya suamiku tidak merasa dipojokkan, “Kok kamu bisa seteledor itu Yus ? Tapi sudahlah, bukan saatnya saling menyalahkan. Kita jual saja perhiasanku, toh aku tidak memakainya dan sisanya kita ambil dari tabungan”, Ku teguk air es yang ada di hadapanku namun rasanya seolah pahit sekali.

Yusman menghisap rokoknya dalam-dalam, wajahnya nampak depresi. “Aku tidak seharusnya menyeretmu ke dalam kesedihan ini sayang, sungguh aku suami jahanam”.

“Heiii!!! Bicara apa sih? Aku ini istrimu, deritamu adalah deritaku, 5 tahun kamu menabur kebahagiaan untukku, ini hanya cobaan dari Allah, kita harus hadapi bersama, kita hitung saja asset perhiasan dan tabungan, aku rasa cukup kok”, Aku bicara lembut namun tegas.

Suasana hening sejenak, tak lama suara Yusman kembali terdengar, “Sayangku, hitungan kasar, kita memiliki tabungan 250 juta, kalau perhiasan aku rasa tak lebih tiga puluh juta rupiah. Kalau kamu setuju, tabungan saja aku pakai, dan juga menjual rumah ini, itu kalau kamu setuju ….”.

 

*****

 

Aku tercenung, menjual rumah ini? Menjual ‘istana’ cintaku? Bukankah uang yang harus dibayar sebesar tiga ratus lima puluh juta? Dari tabungan saja hampir lunas? Lantas kenapa tidak menjual mobil saja? Kenapa harus rumah ini?

 

Yusman membuka suara lagi, “Pasti kamu keberatan ya sayang? Jadi gini … Kebetulan teman masa kuliah dulu mengajak aku berbisnis perkebunan sawit, dia sudah sukses lho, mobilnya saja Jaguar, nah itu sudah kami bahas beberapa bulan lalu, dan tiba-tiba aku malah kena masalah gini, maksudku ya sekalian saja …. aku bereskan urusan perusahaan dan sekaligus memulai usaha baru”. Yusman menyalakan lagi rokoknya, entah yang keberapa.

“Ohhh aku ikut saja keputusanmu, tapi kalau rumah ini dijual, dimana kita akan tinggal??? Berat bagiku meninggalkan rumah ini”, Ujarku dengan mata berkaca-kaca.

Yusman membelai rambutku, dia tersenyum dipaksakan, “Sebenarnya aku sudah menyiapkan, setahun lalu aku membangun rumah di daerah Bogor, jauh lebih kecil tapi lumayanlah, itu tadinya mau aku jadikan kejutan untukmu, tadinya mau aku jadikan rumah peristirahatan”.

Aku diam mematung, aku bingung, semua ini terlalu tiba tiba. Di tempat tinggalku sekarang memang di kawasan yang ramai, sebidang lahan yang disulap menjadi town house. Dari 15 unit rumah, sekitar 7 pernghuni tidak bersosialisasi, mereka pasangan bekerja. Sisanya cukup aku kenal baik. Namun Yusman hampir tak bersosialisasi sama sekali, dia selalu pergi pagi dan pulang malam.

Daerah ini sudah sangat ‘hidup’ dan serba dekat. Lalu tak terbayang aku tiba-tiba harus berada di Bogor, bahkan lokasi pastinya pun aku tak paham. Namun sebagai seorang istri, aku harus turut kemanapun suamiku pergi. Aku berfikir tak apalah sementara menjauh dari Jakarta, demi menutup uang perusahaan dan memulai bisnis baru. Toh kalau kelak berjaya, aku dan anak-anak juga yang menikmati.

 

*****

 

Aku tak bercerita pada siapapun, juga keluargaku perihal musibah yang menimpa suamiku dan rencana menjual rumah. Aku hanya bercerita pada dua sahabatku, Dwi dan Sekar. Keduanya nampak prihatin, kami bertiga berpelukan sambil menangis.

Sekian minggu aku belagak tegar namun di depan Dwi dan Sekar aku tak sanggup berdusta, aku hancur, aku sedih, aku terpaksa ….

Namun bukankah aku istri yang baik? Yang menyandarkan hidupku pada suamiku? Mungkin ini sudah takdir dan aku percaya semua ini kelak akan berbuah manis. Aku harus ‘membunuh’ rasa terpaksa yang menghiasi hatiku, aku harus yakin semua tak seburuk bayanganku.

“Masyaallah Na …. Kenapa berat banget cobaan yang dilimpahkan Allah kepada orang sebaik kamu?”, Dwi bicara sambil terisak-isak.

Sekar juga menangis dengan Nadya di gendongannya, sementara Zakaria sibuk menarik narik lengan bajuku sambil berceloteh, “Mama … Mama ..”

Aku berusaha menenangkan diri, “Allah menimpakan cobaan bukan karena kita jahat atau penuh dosa, ini justru ujian kesabaran. Walau hatiku masih tak rela rumah ini dijual namun aku harus mau merelakan dengan ikhlas, toh kelak aku bisa membeli rumah di Jakarta lagi bila usaha perkebunan Yusman sudah berjalan lancar”.

 

*****

 

Dan saat aku melihat rumah ‘baru’ kami sejujurnya aku ingin berteriak. Rumah itu ada di daerah yang masih agak sepi, bisa dibilang cenderung perkampungan yang masyarakatnya masih sangat lugu dan rata-rata kegiatannya berkebun.

Rumah yang dikatakan Yusman sebagai rumah peristirahatan terlihat lebih ke rumah pengasingan. Ukurannya tidak terlalu besar berdiri di lahan sekitar 200 meter. Di bagian depan dan belakang terdapat halaman yang kosong dengan di beberapa sudut masih terdapat pohon pisang. Rumah ini dibangun dengan material biasa. Sejujurnya aku tidak suka rumah ini, sama sekali bukan rumah impianku namun aku menghibur diri, mungkin nantinya bisa pelan-pelan dibenahi, agar menjadi cantik dan nyaman bagi kami.

 

11 Comments to "Bukan Aku (1)"

  1. juwandi ahmad  20 March, 2013 at 19:55

    he he he……sip sip…..tak nunggu seri keduanya sik, ben rodo akeh komentku he he he. Terimaksih Yang Mulia…..

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.