Tembak di Tempat (20)

Endah Raharjo

 

Rasa takutku berteriak-teriak mengajakku pulang, namun sekuat tenaga ia kukendalikan. Aku bertekad menuntaskan semua urusanku di sini.

Kami mengikuti perintah darurat Tim: tidak menelepon siapapun kecuali menyangkut hidup dan mati. Orangtuaku tidak kuberi tahu nomor baruku. Melalui SMS yang kukirim dengan ponsel bernomor Indonesia kusampaikan kalau 5 hari ke depan aku hanya bisa dihubungi lewat surel atau nomor Indonesia. Mereka tak bakal telepon bila tak ada hal darurat sebab dua pihak terkena roaming mahal sekali. Mereka sudah terbiasa, bila aku tugas ke luar negeri sesekali ada situasi darurat meskipun yang seperti ini baru sekali kualami. Jangka waktu 5 hari itu hanya perkiraanku sendiri.

coordination

Begitu Tim meninggalkan kamar, aku langsung sibuk menyelesaikan laporan. Demikian pula Rudi. Semua keperluannya kuambilkan. Kabel power kucolokkan dan laptop kutaruh di pangkuannya. Supaya tidak membuat kesalahan kuhubungi dulu perawat jaga di ujung koridor – dengan intercom – untuk minta sarannya. Ia menyuruhku menaruh bantal di bawah lutut kiri Rudi agar kakinya yang luka tidak terbebani.

Di sela-sela bekerja Rudi cerita kalau Tim bilang bahwa Ronn itu kakaknya. Kutanggapi dengan biasa-biasa saja. Kukatakan kalau aku juga sudah diberi tahu oleh Ronn. Kami tidak membahasnya, masing-masing ingin merampungkan pekerjaan secepatnya.

Pukul 6 sore Fat membuka pintu, dua perawat muncul di belakangnya, mengantar makan malam untuk Rudi. Liurku meleleh melihat menunya. Rudi sehat, hanya kakinya yang terluka, jadi tak ada pantangan sama sekali.

“Tega kamu!” gerutuku, melihatnya memindah laptop dari pangkuan ke kasur, dan meraih nampan itu. Ia mengedipkan mata. “Kakimu harus kutembak dulu sebelum makan ini,” ledeknya, menyendok nasi yang wanginya tersebar memenuhi kamar.

“Aku harus ke bawah. Aku nggak mau makan sandwhich lagi!”

Rudi tertawa melihatku berkecak pinggang. Kulongokkan kepala keluar pintu. Fat langsung mengalihkan matanya dari halaman buku. Ia menunggu di luar kamar. Banyak kursi – beserta meja – ditata berselang-seling sepanjang lorong. Ia duduk di kursi yang berseberangan dengan kamar, jadi bisa langsung tahu bila pintunya terbuka.

“Ada yang bisa kubantu, Miss?” Ia tak pernah menyebut nama. Mungkin itu ada dalam SOP-nya. Tubuh ramping-liatnya itu berdiri tegak.

“Saya ingin ke bawah. Lapar.”

“Saya bisa membelikan untuk Anda.” Ia mendekat.

“Saya ingin makan nasi.”

Wonder Woman itu jelas-jelas menahan geli. “Nasi apa? Di ground floor ada restoran Rice Bowl, ada macam-macam nasi.”

“Apa saja, yang penting nasi, banyak sayurnya, jangan pakai daging sapi atau babi. Ini uangnya. Terima kasih, Fat. Kalau kamu mau, sekalian beli saja.”

“Terima kasih. Jangan kuatirkan saya,” katanya, menerima uangku, lalu berbalik. Dari belakang kuamati langkahnya yang tak menimbulkan suara. Aku ingin tahu apa merk sepatunya.

Sembari menutup pintu kudengar tawa Rudi. “Kamu kayak suruhan office boy aja, pakai mau membelikan segala.”

Selepas makan malam dokter datang untuk memeriksa kondisi Rudi. Ia demam, mungkin kelelahan. Dokter menegurnya. Katanya meskipun terasa sehat Rudi masih perlu istirahat. Begitu dokter dan perawat keluar, semua peralatannya segera kukemasi agar tidak mengganggunya.

Rudi sudah lama terlelap ketika draft laporanku selesai.

Menjelang pukul 11 Tim muncul dengan tangan kanan dan kiri masing-masing menggeret koper.

“Terima kasih, Bos,” sambutku, meraih koperku. “Sendirian?”

“Ya. Hommer dan Fat kusuruh pulang. Ada seseorang yang menggantikan meskipun aku yakin kita aman.”

“Kamu nginap di sini juga?”

“Kamu keberatan?”

Aku buru-buru menggeleng.

“Malam ini aku butuh teman, tidak ingin sendirian.”

“Kedengarannya seperti syair lagu,” sahutku.

Kami menahan tawa agar tidak membangunkan Rudi. Aku permisi untuk mandi.

*****

Kukenakan T-shirt longgar dan celana training. Aku menghindari baju tidur feminin bila sedang bekerja di lapangan, antisipasi bila muncul keadaan darurat yang mengharuskanku berbagi kamar dengan teman kerja.

Rudi mendengkur halus. Pasti ia diberi obat tidur dan pain killer. Tim membaca draft laporanku langsung dari laptopku.

“Hey. Sudah kamu lihat apa isinya?” Tim mengingatkanku akan titipan yang belum kubuka.

“Oh. Ya. Di mana, ya? Ah. Itu dia.”

Tas kertas ungu cattleya itu ada di bawah meja, di atas tumpukan dokumen. Simpul pitanya kutarik. Di dalamnya ada kantung beludru merah. Tali keemasan yang mengikatnya kubuka, kukeluarkan isinya: sebuah gelang giok. Kelihatannya kualitas terbaik. Pasti dari Ronn, batinku.

Kutimang-timang benda indah itu: hijau-lembut, cemerlang nyaris transparan, sejernih embun di ujung daun. Ukurannya pas untuk tanganku. Kukenakan gelang itu di tangan kanan. Luka di tangan kiriku sudah membaik, sebagian parutnya mulai menipis, gelnya bekerja sempurna meskipun akan perlu waktu lama untuk pulih.

“Ini terlalu mahal. Ini harus kukembalikan.” Kupandang Tim. Kulolos gelang giok dari tanganku. “Aku tidak bisa menerima pemberian ini.”

“Bagi Ronn itu suvenir kecil, seperti sebuah buku dari Faith untuk kamu.” Tim menyebut nama istrinya yang sering memberiku buku-buku bekas yang sudah tak dicetak lagi. “Jangan pikirkan harganya.”

Gelang itu kusimpan kembali ke dalam kantung beludru, kumasukkan ke dalam tas seperti semula.

“Rudi said you’ve told him that Ronn’s your half-brother.”

“Yes.”

“What made you change your mind? Decided to meet Ronn?”

“I don’t know… an irresistible impulse…. I didn’t want to analyze.”

“Bagaimana rasanya setelah ketemu?”

“Hhh… ini salah satu hari teraneh dalam hidupku. Tapi aku lega. Ya. Lega.”

“Kamu ingin membicarakannya?”

“Soal apa?”

“Kamu dan Ronn.”

“Tidak. Justru aku mau tanya rahasia apa yang kamu bagi dengannya.” Sorot matanya sarat pertanyaan. “Ronn akan menemuimu besok siang. Katanya ia punya hutang,” tambahnya, menyelidik dengan tatapannya.

“Aku akan cerita. Tapi tidak sekarang.”

“Cerita apa? Rahasiamu atau sesuatu tentang Ronn?”

“Dua-duanya,” jawabku. “Draft laporanku bagaimana?”

“Sudah cukup. Untuk sementara proyek kita dianggap selesai.”

“Untuk sementara?”

Rudi menggeliat, mengerang. “Tim sudah datang? Jam berapa ini?”

“Hampir tengah malam,” jawab Tim.

Buru-buru kubantu ia meraih botol air minum. “Tidur lagi saja,” kataku, menyerahkan botol itu. “Kamu butuh istirahat.”

“Aku sudah tidak demam,” gumamnya. “Tidurku nyenyak sekali. Aku merasa lebih segar. Ada kabar apa, Tim?” Rudi berusaha menegakkan tubuhnya. Tim segera mengatur kemiringan bednya, juga membenahi posisi bantal di bawah kaki kiri Rudi.

“Aku baru mau cerita,” jawab Tim. “Tadi Carl menelepon,” Tim menyebut nama direktur Center for Research in Peace Building, Conflict and Negotiation, Carl Peterson. “Paling lambat Sabtu ini kita semua harus keluar dari Thailand. Kalau aku tetap berkeras tinggal, semua risikonya kutanggung sendiri. Aku belum memutuskan untuk diriku sendiri. Tapi kalian harus pulang. Bila masih ada yang kurang, kalian akan kuhubungi. Ini masih Selasa. Semoga Rudi sudah cukup kuat dua-tiga hari lagi.”

“Aku bisa pulang besok,” sela Rudi.

“Sebaiknya aku bareng Rudi. Bisa….”

“Mia. Jangan kuatirkan aku.”

Look, guys… let’s do it right. I want you to go home safely. But we don’t have to rush,” ujar Tim. “Rudi, kamu sebaiknya menunggu dua-tiga hari lagi sampai kuat dan lukamu membaik.”

“Aku tidak mau jadi beban.”

“Kamu anak buahku. Aku akan bertanggungjawab penuh. Aku minta maaf keamanan kita bobol di hotel itu. Kalau orang yang mengancam Naing Naing itu menguntit sampai ke hotel, dia bisa membayar siapa saja untuk mencari info nomor kamar dan kantor kita. Aku bodoh sekali mengajak Naing Naing bergabung di hotel. Mestinya ia kubiarkan cari tempat sendiri seperti sebelumnya.”

“Hey… sudahlah,” kata Rudi sambil mengusap wajahnya dengan tisu basah.

“Aku menyesali tindakanku yang gegabah, tidak hati-hati. Aku belum bisa berpikir lurus bahkan sampai saat ini. Seharusnya aku curiga. Aku tahu Naing Naing kerja untuk siapa saja. Mungkin ia sudah biasa menjual informasi sana-sini.” Tim tampak loyo.

“Kita semua kebingungan, Tim. Ini bukan salah siapa-siapa. Menurutku, kalau ada yang disalahkan, ya Tong Rang dan Naing Naing….”

“Aku banyak mengeluh, ya….” Tim mendengus, melepas kacamata, mengusap-usap batang hidung dengan tangan kiri.

“Kalau boleh tahu, apa sudah ada info tentang orang yang menyerang kita?” tanya Rudi, hati-hati.

Aku berdebar-debar menunggu jawaban Tim. Ia bangkit dari kursi, membuka kulkas, meraih sebotol air, membukanya, lalu melewati tempat tidur Rudi, menuju sofa.

“Anggota regu lain dari kelompok Tong Rang,” jawab Tim sehabis meneguk separuh isi botol.

“Jadi Tong Rang sendiri yang….”

“Bukan. Mungkin Tong Rang malah tidak tahu kalau kita diserang. Seperti yang dibilang Naing Naing, ada banyak regu di kelompok Tong Rang. Dia ketua regu, bukan pemimpin kelompok. Masing-masing regu mengeksekusi operasi yang berbeda. Ada yang curiga kita punya informasi tentang kelompok mereka karena kita menyimpan barang-barang Tong Rang. Tapi semua barangnya sudah diurus. Jadi, untuk sementara, mungkin kita aman.”

Aku tidak suka dengan kata ‘untuk sementara’ dan ‘mungkin’ itu. Jantungku masih berdebar-debar.

Look… kita aman,” tegas Tim, menatapku bulat-bulat. “Setelah menjalankan aksinya, Tong Rang otomatis memasuki dunia yang sama sekali berbeda. Dia tak bisa mundur lagi. Sepanjang sisa hidupnya dia harus sembunyi. Atau berganti identitas sama sekali, meskipun itu bukan jaminan.”

“Apakah kita dalam bahaya? Apa ada orang yang mengincar kita?”

“Tidak. Tidak ada, Mia,” jawab Tim. Tatapannya meyakinkan.

“Tapi mereka menyerang kita dan menembak Rudi.”

“Apa kamu ingat bagaimana awalnya? Apa mereka membuka pintu duluan? Dari luar?” tanyanya pada Rudi.

“Ya. Aku baru mau buka pintu ketika pintu dibuka dari luar. Mereka dua orang. Kami sama-sama kaget. Itu cuma sepersekian detik tapi aku sadar kalau mereka berniat buruk. Reflek pintu kudorong… selanjutnya kita semua sudah tahu.”

“Mungkin… ini menurut analisa orang yang ditugasi Ronn mengurus perkara ini… mungkin mereka mengira kantor kita kosong. Menyaru petugas housekeeping, memencet bel, seharusnya mereka menunggu sebentar, tapi mereka tidak sabar, lalu masuk. Ternyata ada orang. Tembakan itu mungkin tidak diniatkan untuk membunuh, mungkin kecelakaan atau sekedar menghambat perlawanan kita, atau mereka melihat Fat dan Hommer muncul. Kalau mereka berniat menghabisi kita, pasti sudah dilakukan.”

Kami saling memandang.

“Jaringan mereka seperti hantu. Kalau mereka ingin kita mati, pasti sudah dari kemarin-kemarin. Tapi jangan kuatir. Ronn punya koneksi tinggat tinggi. Dia bilang semua sedang ditangani. Apa kita perlu membahas ini? Kalau itu akan melegakan, bisa saja. Tapi ini sudah lewat tengah malam.” Tim menatap Rudi dan aku bergantian.

“Aku ingin membicarakannya, meskipun itu tidak mengubah apapun. Paling tidak aku bisa mengeluarkan rasa takutku,” kataku.

 

*******

 

4 Comments to "Tembak di Tempat (20)"

  1. endah raharjo  20 March, 2013 at 10:25

    @Dewi: bentaaaar lagi tamat… lg kojel2 iki arep namatke
    @Yu Lani: tegang… meregang… mekangkang… deg-degan… nyos2an… empot2an…
    @JC: Kang Anoew jangan dipanggil2, nanti nggak selesai lho… lagi nanggung….

  2. J C  19 March, 2013 at 21:10

    Kukenakan T-shirt longgar dan celana training. Aku menghindari baju tidur feminin bila sedang bekerja di lapangan, antisipasi bila muncul keadaan darurat

    Memahami dan menyadari keahlian Kang Anoew, aku haqul yaqin, kalimat ini akan menggelitiknya dan akan dibahasnya nanti…kita tunggu…

    Hhhhmmm…jangan-jangan Rudi ikutan sekalian memperebutkan hati Mia…

  3. Lani  19 March, 2013 at 14:34

    ER : semakin menarik……….tegang, deg2-an………..lanjoooooot………

  4. Dewi Aichi  19 March, 2013 at 10:24

    Waduhhhhh….malah tegang aku , tamatnya masih jauh he he he…?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.