[Serial Rara] Di Kereta Senja Jogja

Sugiyarti Ugie

 

Hups.. Akhirnya ia sampai juga di kursi nomor 11A, 11B, 12A. Rara menata beberapa tas bawaannya. Karena ia berangkat bertiga, selain Lili ada  Aldo  anak kakaknya yang ingin ikut ke Jogja liburan dan menengok Nenek.   Ia  ingin kursi nomor 11 dan 12 saling berhadapan agar ia bisa mengawasi anak-anak itu.

“Bolehkah kursi ini menghadap ke belakang, eeemm.. agar  saya  bisa   mengawasi anak saya?” kata Rara minta ijin ketika seorang anak muda yang rupanya memegang tiket nomor 12 B masuk ke lintasan kursinya. “Maaf, kami bertiga, jadi… ” lanjut Rara  memberi penjelasan.

“Oh.. iya gak pa pa. Silahkan. , “katanya setengah acuh  sambil duduk di sebelah Aldo, setelah menaruh satu tas di bagasi.

“Terimakasih ya, Mas. Maaf jadi gak nyaman.” lanjut  Rara mengucap terimakasih.

Kereta melaju meninggalkan stasiun Senen. Lili  duduk di sebelah Rara, asyik membaca  komik sementara  Aldo kakaknya yang duduk di samping laki-laki muda di depan Rara  asyik main game dari hpnya. Rara mengambil  buku “Rumah Kopi Singa Tertawa”  dari dalam tas gembloknya dan  mulai membaca. Ia ingin menyelesaikan buku  yang belum juga selesai ia baca, walaupun sudah  ia beli 3 bulan yang lalu. Beberapa bulan ini rasanya ia sulit bisa menikmati buku-buku atau novel yang menyenangkan hatinya, karena banyak pekerjaan yang meminta harus diselesaikannya, dari entri  data yang bejibun, seminar, mengedit administrasi, ujian dan tugas -tugas pendampingan  lain  yang  membabat habis waktunya dalam seminggu.

“Suka baca novel ya, mbak? ” tanya anak muda  berkaca mata sambil menelisik buku  yang dibaca Rara. “Saya punya buku ini.. ” katanya lagi.

“Oh ya?” Rara menanggapi sekedarnya, bahkan terlihat agak malas mengalihkan sebentar  pandangannya dari buku. Hanya untuk sopan santun.

Terlihat anak muda nampak bersemangat membuka obrolan.

“Turun di mana, Mbak?” anak muda itu bertanya lagi.

“Jogja,” jawab Rara pendek.

“Hemmm..sudah saya duga, ” lanjut anak muda itu lagi.

“Maksudnya? “Rara mendongak kaget.

“Apa Mbak tinggal di Jalan Magelang? Dekat SMA 4.. 4B? “

“Ya, betul? Apa dulu kita kenal ya? “Rara terbengong sambil mengernyitkan dahinya seperti mengingat-ingat.

“Mbak Rara, ya? Kakaknya Radit?” lanjut anak muda itu mengejutkan Rara.

Rara mengangguk, “Temannya Radit? “

“Nah, benar kan, dari tadi saya mikir kaya pernah kenal. Dulu saya kan suka main ke rumah. Suka bareng sepedaan dengan Radit.”

“Oh..Apa yang suka pakai topi itu ya? ” tanya Rara.

“Yap. Betul, “ada nada girang dalam suara anak muda itu, mungkin senang diingat Rara, perempuan manis-cantik  usai tiga puluhan berambut lurus kecoklatan yang berpenampilan sederhana, namun  menawan. “Saya Dewo, ingat nggak? “

“Mbak Rara dulu sudah kuliah. Tomboy banget,” lanjut anak muda itu lagi.

“Dulu  suka manjat pohon jambu air depan rumah kan. Pernah jatuh? Trus keseleo.. “

“Oh.. kamu yang menolong ya  waktu itu?” Rara agak malu -malu, ingat waktu itu ia memang pernah jatuh karena angin agak kencang sehingga ia hilang keseimbangan, terlepas tangannya dari dahan karena menjangkau buah yang  di ujung.

Akhirnya mereka terlibat pembicaran yang seru dari masa – ke masa di Jogja walaupun Rara belum sepenuhnya  ingat siapa anak muda yang ada di depannya  yang bernama  Dewo ini, tapi apa yang diceritakan Dewo semua benar, bahkan juga kejadian-kejadian istimewa semua itu memang  ada. Dan akhirnya, Rara melepas ‘jaim‘nya, mereka terlihat akrab.

“Papanya Lili gak ikut liburan? ” tanya Dewo

“Papa Lili sudah lima  tahun menghadap Tuhan. Tuhan lebih mencintainya,” sahut Rara dengan sedikit bergetar.

“Mmaaf,” kata Dewo merasa  bersalah. “Saya tak bermaksud……, ” lanjut Dewo.

“Gak papa, Dewo, tiap orang punya cerita hidup sendiri. Ada rencana Tuhan  yang pasti lebih indah.” sahut Rara meredakan rasa bersalah Dewo.

beginning-of-life

Dewo terkenang  masa lalunya. Sejak SMP  Dewo tinggal di Jogja bersama Eyang dan mamanya untuk memudahkan sekolah  karena  Papanya yang pegawai salah satu BUMN  sering berpindah tugas dari satu kota ke kota lain. Ketika itu Dewo bersahabat dengan Raditya, seorang temannya yang kalem dari keluarga sederhana tapi sangat mengesankan baginya. Tetapi  setelah naik kelas 3   SMA ia pindah  Australia ikut kakaknya. Sejak itu  ia putus komunikasi dengan Radit. Waktu itu memang agak terburu-buru, karena  papa Dewo meninggal sehingga  dengan  berbagai alasan kakaknya menjemput  untuk tinggal di sana, bahkan tanpa menunggu Dewo lulus SMA!

Beberapa bulan kemudian setelah  pertemuan mereka  di kereta  Senja Utama,  Dewo gencar mendekati Rara. Dewo seperti disengat cinta luar biasa. Baginya dulu, waktu ia SMA  Rara adalah perempuan yang amat ia idolakan, bahkan mungkin ia telah jatuh cinta. Salah satu alasan  ia rajin main ke tempat Radit  dulu antara lain adalah Rara! Bagi Dewo  Rara gadis dewasa tomboy yang memikat, cerdas  dan manis! Bisa di bilang Dewo memiliki cinta terpendam pada perempuan yang  kini ia tahu telah  menjanda di usia tigapuluhan.

Pertemuan tak sengaja di kereta setelah 9  tahun itu, bagi Dewo sepertinya  Tuhan memberi jalan untuk mewujudkan cinta terpendam yang tak pernah terlupakan, cinta yang  selalu ada dalam bawah sadar ingatan Dewo. Gadis dewasa ini  selalu jadi pembanding cewek-cewek yang mendekatinya. Akhirnya tak ada cewek yang benar-benar jadi pacarnya selama  ini.

Semula Rara menolak uluran cinta Dewo. Rara merasa tak pantas dengan umurnya yang lebih tua, janda dengan satu anak lagi. Menurut Rara; Dewo yang masih lajang, muda, mapan tentu lebih cocok berdampingan dengan gadis  kinyis-kinyis,  segar dan menggairahkan, bukan seperti dirinya.

Memang diakui Rara, hatinya  tergetar dengan cara  Dewo yang kadang   mengejutkan saat  menaklukan  dan merebut hatinya. Ada yang tak biasa dari anak muda ini bagi Rara. Sifatnya yang humoris, manis dan terbuka  seperti menumbuhkan  tunas-tunas keceriaan dan geliat hidupnya.

Akhirnya setelah serangan bertubi-tubi Dewo selama 6 bulan,   Rara tak kuasa menyingkirkan rasa hatinya, ia terima cinta kasih Dewo, laki-laki muda seusia adiknya!

Hari-hari menjadi indah bagi Rara, banyak tawa dalam setiap waktunya. Wajahnya  bersinar, membuatnya  semakin manis dalam aura kedewasaannya. Rara merasa mekar  kembali! Seperti taman dengan aneka bunga yang berwarna- warni di musim semi di negeri empat musim. Elok dan mempesona. Berpendar-pendar membagi suka cita keindahan ke seluruh penjuru alam. Indah  dan menakjubkan!

“Horeee… kita sampai  stasiun Tugu. Mii…. kita turun sini kan?” suara bening Lili membuyarkan lamunan indah Rara.

“Ya, Li. kita turun,” sahut Rara sambil menurunkan   tas dari  bagasi.

Rara berdebar, bergetar. Selalu Jogja membuncahkan sejuta rasa baginya.  Jogja yang  romantis. Jogja yang selalu membuat kangen. Jogja yang penuh cinta.  Jogja…… yang tak kan pernah  pupus dari hidupnya!

Mungkin Tuhan memang  memilihkan Jogja sebagai wadah  cerita cintanya…

Digandengnya Lili dengan erat, semua rasa cinta seolah berebut memenuhi bola mata dan hatinya…

 

***** (cerita ini ada sebelum ” Di  Jogja Bimbang Itu Masih Ada”) *****

 

Jakarta, 15 November 2012

( Terkenang  Pelukis Cinta  -Jogja… hmmmm..)

 

14 Comments to "[Serial Rara] Di Kereta Senja Jogja"

  1. ugie  23 March, 2013 at 23:51

    @ Mbakyu Lani : Muahhh … Suwun banget , ngapurane mbalese suweee … , Wa kalo nangis entek kacu piro ki ? Cup cup … .. Ayo senyum lagi ya .. Yang indah selalu melekat di hati
    Salam dari jakarta ..

  2. ugie  23 March, 2013 at 23:49

    @ DA : Makasih koreksinya … Pak Candra , maaf ya ….. hahhaa ke-sok tau-an yg bikin ngakak.

    @ Pak Candra .. sekali lagi maaf … * sambil malu , ungkep2 di meja )

  3. ugie  23 March, 2013 at 23:46

    @JC : hehe iya , dulu ada yang nanyain , gimana Rara ketemu Dewo ., jadi di buat deh ..

  4. Lani  21 March, 2013 at 04:34

    GIE : aku telat moco artikelmu ini…………..tp begitu moco, malah ambyaaaaar ber-keping2 tumpahlah ayer mataku……..hatiku mengharu biru………..alamak!!!!!

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.