Absolutely Truth about Awan Tenggara

Awan Tenggara

 

Sepertinya beberapa bulan lalu, seorang sahabat di facebook ini menantang, atau lebih tepatnya mengajak saya untuk berani menceritakan kejadian konyol dan mengesankan yang tak terlupakan yang pernah terjadi dalam hidup saya setelah dia juga menceritakan kisah hidupnya dalam catatannya. Maka setelah saya kumpulkan, kejadian2 itu adalah seperti apa yang saya tuliskan di dalam catatan ini. dan Khoer, sekarang kamu bisa menyimaknya dengan ngemil kacang, karena ternyata catatan ini cukup panjang.  yuk mareee…

 

truth

*Menulis naskah drama

Pernah dalam satu malam saya merombak total sebuah naskah drama yang akan dipentaskan esok harinya, para lakonnya kewalahan karena naskah sebelumnya sangat tidak relevan dengan tema yang diberikan panitia (sepertinya). Alhasil merekapun memanggil saya yang terkenal gila dalam berimajinasi (Anne of Green Gable banget nggak tuh), ini pertama kalinya ada orang yang mau melirik bakat saya! Dan gila, dalam semalam itu saya bisa membuatnya secara spontan, memilih lagu dari bejibun jenis kaset mp3, memotong-motongnya, dan membuat sedikit dialog-dialog nggak jelas buat para “dramawan”-nya. Dan siapa sangka, drama itu sukses dipentaskan dengan saya juga bermain di dalamnya—yang ketika itu saya memilih berperan—sebagai “background” Gitaris.

Saat-saat itu menjadi kenangan tak terlupakan dalam hidup saya pada khususnya, dan kami pada umumnya : PENTAS 17 AGUSTUS 2005 DI KELURAHAN KUNINGAN, SEMARANG.  ANJRoS ‘kan?! :D

 

*Kenangan Pohon Jambu

TKP                       : Got di bawah pohon jambu, pojok kampung.

Korban                  : Awan Tenggara

Waktu Kejadian   : nggak penting buat diinget!

Saat masih duduk di bangku kelas 4 SD saya pernah jatuh dari pohon jambu, kepala saya terbentur tanggul got dan—katanya—pingsan dalam got itu selama 1 jam dan ditemukan seorang tukang jahit Reffa Taylor! Kejadiannya bermula saat saya ngambek karena nggak mau disuruh ibu untuk meminjam cobek di tetangga dan lebih memilih memanjat pohon jambu untuk tempat melarikan diri, banyaknya jambu yang matang dan saya makan ketika itu membuat saya kekenyangan dan tertidur di dahan yang tepat berada di atas got. Dan terjadilah tragedi itu.

Setelah kejadian itu saya tidak masuk sekolah sehari. Ibu saya cuma berkomentar, “Itu ganjaran buat Malin Kundang!” yeee, ini mah namanya bonus! Kata saya dalam hati. :’D

 

*Saya Rocker, bukan tukang palak!

Pertama kali datang ke Jakarta, saya langsung mencari sebuah tempat bernama Kwitang, sebab yang saya lihat di film AADC, atmosphere tempat belanja buku-buku bekas itu sepertinya asyik.

Hari itu saya bercelana jin dengan potongan rambut ala John Lennon di album The Beatles berjudul Strawberry Field Forever dan memakai atasan jamper bergambar cover album-nya My Chemical Romance yang Tree Cheers For Sweet Revenge (‘kan berdarah-darah tuh), Naasnya orang yang saya tanya arah yang ketika itu berdiri tepat di bawah jembatan layang depan Plaza Atrium itu adalah seorang ibu-ibu. “Permisi, Bu. Mau tanya.” Kata saya. Tapi begitu melihat saya, ibu itu malah lari terbirit-birit menyebrang jalan! Sialan, emang tampang saya ini tampang tukang palak apa? Gumam saya dalam hati. Saya menyesal dengan tampang saya.

Padahal setelah tahu, ternyata Kwitang itu terletak di seberang jalan tempat saya bertanya tadi. Hampir semua orang Jakarta sepertinya menderita sejenis penyakit bernama Paranoid, pada setiap orang asing yang mereka tatap, hati mereka langsung memberi sugesti “Dia itu penjahat!.” Yah, wajar kalau ibu tadi lari. tapi sayapun akhirnya tak jadi kecewa dengan diri saya setelah tahu penjelasan dari tukang ketoprak kalau penjahat di Jakarta itu tampangnya malah ganteng-ganteng dan keren-keren.

Nah! Rasanya beruntung sekali karena di Jakarta ketika itu saya disamakan dengan penjahat, itu tandanya saya ini ganteng dan keren. (catet!)

 

*Tersesat di gunung

Tahun 2004 saya pernah mendaki gunung Merbabu berdua bersama seorang teman saya, hari itu adalah pertama kalinya saya menaklukkan puncaknya. Begitu turun, saya bermaksud pura-pura hilang dari pandangan teman saya itu dengan memasuki hutan. Eh sialnya saya malah hilang beneran! Saya tersesat, tak ada jalan setapak, mau jalan ke atas lagi tanggung. Maklum, begini-begini saya ini type orang perfeksionis. Alhasil sayapun menelusuri hutan itu dengan mengandalkan insting, saya mencoba mencari dan mengikuti jalan setapak yang sepertinya memang sudah tidak lagi dipakai karena tertutup rerumputan. Boleh dibilang, sudah hampir tak terlihat. lalu sayapun menemukan pralon air dengan panjang sekitar 2 km dan timbul tenggelam di tanah, pralon itulah yang mengantarkan saya pada perkampungan penduduk. Begitu sampai, sayapun bertanya pada seorang ibu-ibu yang ketika itu sedang mencuci hasil panen ladangnya di sebuah tandon air.

“Permisi, Bu. Jalan raya berapa jauh lagi ya, dari sini?”

“Oh, kalau jalan kaki pasti cuman satu jam, Nak.”

Wah, satu jamnya ibu-ibu pasti deket banget nih, pikir saya. Sayapun bertanya lebih detail lagi.

“Satu jam kalau dijadikan dalam hitungan jarak kira-kira berapa meter, Bu?”

“Ya, paling-paling cuma 4 Kilometer.”

GUBRAK!

Barangkali orang-orang gunung ini keturunan Road Runner yak?

 

*The Rock Star?

Menginjak usia 16 tahun, dari musik klasik selera musik saya berubah menjadi musik  rock. Ya, saya jadi mendadak rocker. Saya jadi gemar memakai kaus hitam dan mendengarkan musik yang menghentak-hentak dengan vocal serak setelah dipaksa jatuh cinta saat pertama mendengarkan lagu Eagle Fly Free-nya Helloween. Entah kesambet setan mana, akhirnya saya juga suka sekali jika melihat orang-orang yang pakaiannya serba hitam, apalagi kalau rambutnya gondrong. Mereka pasti juga rocker—teman saya.

Saat itu saya juga hobi makan bubur kacang ijo (baca:pengakuan seorang rocker). Kedai kacang ijo yang paling saya suka adalah yang letaknya ada di pasar Perbalan, deket banget sama rumahnya Tukul Arwana. Nggak penting banget ding.

Di kedai kacang ijo ini suatu hari saya melihat seorang lelaki dengan pakaian serba hitam. Ia duduk di sebrang meja, pantatnya yang serambut, eh, salah, rambutnya yang sepantat membuat saya begitu mengaguminya. gila, keren! Alirannya pasti Under Ground! batin saya. Namun usai lelaki itu membayar dan keluar kedai, saya jadi melongo, bukan karena kagum lagi, tapi karena jijay melihat gayanya yang mirip Ruben Onsu saat berjalan dan ngobrol bersama temennya, ah, bukan Ruben Onsu lagi, tapi Irvan Gunawan!! Gelo, rupanya “manusia ½ siluman”! kalau istilah jawanya saya ini keblondrok—alias tertipu mentah-mentah.

Bubur kacang ijo yang saya telan ketika itu mendadak berasa pahit. Hah?!

 

The End

Sarang Angin, 13.01.2010

 

9 Comments to "Absolutely Truth about Awan Tenggara"

  1. Handoko Widagdo  23 March, 2013 at 10:37

    Membaca artikel Awan Tenggara adalah salah satu peristiwa kebetulan yang direncanakan.

  2. Dewi Aichi  22 March, 2013 at 20:48

    ha ha..Hennie..tuh kan mas Juwandi langsung error…wong cuma bilang pedih kok….curiga lho…emang apa coba?

  3. juwandi ahmad  22 March, 2013 at 20:42

    he he he he..awan awan……sing sabar yo le he he he…kemekelam boco koment mbak dewi dan mbak hennie: Terasa pedih nggak? ha ha ha ha..

  4. Hennie Triana Oberst  22 March, 2013 at 20:12

    Dewi hahaha… Terasa pedih nggak?
    Kalau iya mungkin itu air bekas cuci piring (Tapi ini hanya “kata orang” lho, bukan pengalamanku) hehe…

  5. Dewi Aichi  22 March, 2013 at 18:08

    Ha ha ha…kerennnnn…..pengalaman lucu…ayo siapa lagi…aku juga mau cerita ahh..pengalaman lucu…

    TKP:Lor Tugu

    Korban: dewi dan Sekar

    Waktu kejadian: di hari pertama tahun ini

    Saat itu sudah malam, setelah beberapa menit berdiri menunggu kehadiran Sekar, cape lah pasti…rasanya pengen buru buru duduk, akhirnya datang juga yang ditunggu, langsung kami(Anoew, BU Probo, mas Juwandi, saya, Sekar), mencari tempat duduk, nggelar kloso. Dengan santainya langsung duduk…sambil cerita sana..sini…tau tau, aku sama Sekar meraba raba sesuatu, Sekar meraba celananya, aku meraba rokku…basahhhhh….haduh, langsung njingkat…berdiri….protes sama si mas yang nggelar kloso…gimana sih mas….kok ada genangan air, dikasih tiker, ngga dilihat dulu…terlanjur basah…mau gimana lagi..

    Mikir terus, apakah itu air comberan, air bekas cuci piring wuihhhh….

  6. Lani  22 March, 2013 at 14:15

    2 AKI BUTO : wadooooooh, aku dadi ngekel moco komentarmu…….krn ingat, jg ttg tukang tambal ban, mana yg plg dekat…….dijawab cm sak udutan jebule woadooooooooh tenan, sampai lempe2 le nuntun brompit ediaaaan wes…….

  7. Linda Cheang  22 March, 2013 at 14:00

    hehehehehe….. AT bisa konyol juga, ya?

  8. J C  22 March, 2013 at 12:03

    Hahaha…aku jadi ingat waktu salah satu kemah bakti aku ikut jadi panitia. Bareng teman boncengan GL Pro. Di dekat lokasi kemah bakti (dekat Salatiga), ban brompit bocor. Kami tuntun dan ketemu penduduk setempat nanya tempat tambal ban. Dijawabnya: “itu di depan, tidak jauh kok”. Setelah dijalani, sekitar 45 menit jalan kaki, keringeten basah kuyup siang hari, jauhnya lumayan…

  9. Awan Tenggara  22 March, 2013 at 11:35

    lhaaaaah??? kok ada tulisan jadul saya ini di mari???? *kaget* :’D

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.