Dari Selendang ke Ra-Lungit

Probo Harjanti

 

Saya penyuka selendang, sebagian orang sering menyebutnya pashmina, tapi tetap saja selendang bagi saya…. Di setiap tempat yang mendisplay selendang, pasti saya hampiri, untuk sekedar megelus, memegang, atau kadang mencobanya, mematut-matutnya di depan kaca.  Tak selalu membeli, mengingat kantong juga. Selain itu, nggak enak sama anak dan suami, soalnya koleksi selendangku sudah lumayan banyak. Dari yang beli sendiri, hadiah dari suami dan anak, mahasiswa yang KKN-PPL di sekolah saya, malak Pak Dj, serta yang terakhir dari murid yang sudah lulus. Dia dan 4 orang temannya mendapat beasiswa, karena juara I tari kreasi baru kelompok se kabupaten. Tarian yang dibawakan adalah tari Upadi (http://baltyra.com/2012/01/09/seling-selangkah-meniti-langkah-saling-melangkah/).

Beasiswa itu turun saat mereka sudah lulus, dan lanjut sekolah di SMA dan SMK. Mereka saya telepon agar ke sekolah, lalu saya beri tau tentang beasiswa dan persyaratan pengambilannya di bank yang ditunjuk. Satu dari mereka mengingat saya, dan memberi 2 buah selendang. Saya terharu karenanya, apalagi saat ketemu ibunya, yang mengatakan bahwa itu adalah ide si anak, bukan karena disuruh ibunya.

Dari  kesukaan  saya terhadap selendang,  tercipta sebuah tarian yang berjudul Ra-Lungit. Tarian yang mengekploitasi gerakan selendang, diputar, direntang, dilempar dan sebagainya. Untuk lebih jelasnya silakan lihat di: http://www.youtube.com/watch?v=G-tecB0TSsQ

Kata  Ra-Lungit  artinya tidak runcing/tajam,   terdiri atas dua kata, Ra dari kata ora (bahasa Jawa, artinya tidak), dan Lungit berarti runcing/tajam/lancip, jadilah  Ra-Lungit . Maksudnya gerak yang ada di dalam tari Ra-Lungit adalah gerak yang lentur melengkung, melingkar, bukan gerak yang tajam dan lurus. Kata Lungit sendiri sudah menjadi  judul tarian saya yang saya buat athun 1997, untuk lomba cipta tari kreasi baru. Saat itu saya sedang hamil alm putri ke 2. Jadi harap maklum, kalau tarian tersebut hilang tak berbekas, karena lupa. Setelah  festival, saya sibuk mengurus bayi dan balita, jadi tarian tidak saya tuangkan lagi kepada orang lain. Kebetulan meski masuk 5 besar (tanpa rangking) tidak ada kuwajiban untuk menyebarkan tarian tersebut. Berbeda dengan lomba cipta tari kreasi baru untuk guru, juara I dan II wajib mengimbaskan tarian tersebut untuk guru-guru se –DIY, jadi sampai sekarang saya masih ingat, meskipun tarian saya buat tahun 1993. Sayangnya  saya belum ada rekaman videonya.

Kata Lungit saya ambil dan abadikan, untuk mengenang almarhum guru saya, Ida Manutranggana, sulung Bagong Kussudiardja. Guru yang hebat, yang membuat saya berani ikut lomba cipta tari, guru yang menumbuhkan  rasa percaya diri,  bahwa saya bisa melakukan sesuatu (membuat karya tari). Meski awalnya ikut lomba karena dipaksa, tapi  efeknya sungguh  luar biasa (bagsaya pribadi). Di luar tarian tersebut menjadi juara I, yang sangat saya syukuri adalah bahwa saya jadi sangat suka membuat tarian, meski yang benar-benar berujud hanya beberapa, karena yang lain hanya untuk senang-senang saja. Saat ini, tari Ra-Lungit kembali saya jadikan materi ajar, untuk anak didik saya. Rata-r ata mereka seneng tarian ini, apalgi saat tahu bahwa tarian tersebut karya gurunya, makin semangatalah merek.

selendang (1)

Menari sendiri

 

selendang (2)

Ini selendangku…mana selendangmu?

 

selendang (3)

selendang (6)

Dibawakan bertiga

 

selendang (4)

selendang (7)

selendang (6)

Selendang direntang

 

selendang (5)

selendang (8)

Selendang dikibaskan

selendang (9)

 

Foto-foto Effy WP

 

31 Comments to "Dari Selendang ke Ra-Lungit"

  1. probo  26 March, 2013 at 14:52

    March 23rd, 2013 at 17:59

    Indriati See,

    Terus terang kalau kita memerlukan individu2 yang berprestasi dan berdedikasi seperti Mbak Probo dalam kebudayaan Indonesia, agar warisan leluhur ini tetap hidup tuk selamanya
    Terima kasih Mbak, saya banyak belajar dari artikel diatas … Salam bahagia selalu.

    Terima kasih apresiasinya Indri……hanya sebisanya ini…..
    Sudah terlanjur nyebur……semoga menginspirasi anak didik saya…..
    Salam bahagia juga….

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.