Nun Mati dan Tanwin Kehidupan

El Hida

 

Nun Mati dan Tanwin Kehidupan (Tajwid Hidup)

Ilmu tajwid adalah salah satu ilmu yang harus dipelajari oleh umat Islam agar dapat membaca Alqur-an dengan tartil atau sesuai dengan kaidah, selain Makhorijul-huruf dan shifatul-huruf. Tapi kali ini saya tidak akan membahas Tajwid untuk membaca Alqur-an, melainkan untuk mencobanya menyesuaikan dengan kehidupan yang merupakan hasil tafakur dari diri saya pribadi. Oleh karena itu, jika ada kekeliruan, itu semata dari kesalahan saya yang masih awam dalam kurung bodoh. Dan kebenarannya mutlak hanya dari Alloh SWT.

Dalam Ilmu Tajwid, yang paling pertama dibahas adalah mengenai tatacara membaca ketika ada Nun mati atau Tanwin yang terbagi ke dalam beberapa bagian. Ada juga tatacara membaca alif-lam dan lain-lain, yang saya pelajari di masjid dari ketika berumur enam tahun sampai sekarang (pun saya masih mempelajarinya bersama anak-anak di masjid)

Untuk pertama kali saya akan mencoba membahas Hukum Nun Mati dan Tanwin yang tentu saja bukan tatacara membacanya, melainkan akan saya aplikasikan dalam kehidupan.

Hukum Nun Mati dan Tanwin itu terbagi ke dalam empat bagian car abaca; Idzhar, Idghom, Iqlab dan Ikhfa.S

Idzhar berasal dari bahasa Arab yang berarti jelas. Dalam ilmu tajwid, idzhar mempunyai enam hurup yaitu Alif atau hamzah, Ha (besar), ‘ain, Ha (kecil), Ghin dan Kha. Maka ketika Nun Mati dan Tanwin berhadapan dengan hurup-hurup di atas maka harus dibaca Jelas. Nun Mati dan Tanwin itu diibaratkan kehidupan. Kehidupan yang saya maksud di sini adalah proses kita hidup di dunia ini akan menghadapi Nun Mati dan Tanwin. Nun Mati dan Tanwin ini adalah sesuatu yang tidak bisa disatukan. Jika ada Nun Mati berarti Tanwin tidak ada, dan sebaliknya. Namun Nun Mati dan Tanwin itu adalah dua hal-satu kesatuan yang tidak dapat disatukan.

Seringkali adalah kehidupan ini kita menghadapi hal yang semacam itu, dilematis. Maka langkah yang harus kita jalani yang pertama adalah harus Idzhar, harus jelas. Jelas mau kemana arah, jelas dari mana berasal kita memulai.

Jelas kemana arah berarti jelas arah tujuan kita hidup agar kita melangkah tidak sia-sia. Jelas dari mana berasal memulai berarti Jelas kita tahu persis dari mana kita asal, yaitu dari ketiadaan yang membuat kita ada. Sehingga kita menjadi tahu diri dan tidak sombong sebab kita akan sadar bahwa kita ada karena ada Yang Meng-adakan, sehingga akan timbul rasa syukur kepada Yang Maha Ada.

Idghom berasal dari bahasa Arab yang berarti “idkholu syai:in fii syai:in” (memasukkan satu perkara ke perkara yang lain). Dalam ilmu tajwi hurupnya terdiri dari enam yaitu Ya, Ra, Mim, Lam, Wau dan Nun. Dalam kehidupan kita, setelah Idzhar kitapun harus Idghom. Maksud saya memasukkan satu perkara ke perkara lain di sini adalah memasukkan satu kejadian dengan kejadian yang lain, mengambil pelajaran dari kejadian yang lain untuk kejadian yang sekarang dan lain-lain. Bisa juga diartikan dapat mengambil hikmah dari segala kejadian, agar kita tidak menjadi orang yang kalau dalam bahasa sunda ngarasula atau menyalahkan Tuhan. Intinya adalah jika kita melakukan kebaikan maka akan kita dapatkan pula kebaikan. Orang tua kita bilang, jika kita menanam jagung, maka jagung akan kita tuai, tidak mungkin (secara adat atau kebiasaan) kita tuai buah cabe dari benih jagung yang kita tanam.

Iqlab berasal dari bahasa Arab yang berarti menggantikan atau membalikkan. Dalam ilmu trajwid hurupnya ada satu yaitu Ba. Coba baca sekali lagi seccara bersama-sama, “Ba….”. Iya, bagus. Hehe. Ketika Nun mati dan Tanwin bertemu hurup Bam aka dibacanya harus digantikan dari bunyi N menjadi M, digantikan dari Nun Mati dan Tanwin menjadi Mim. Digantikan dari berbuat jelek, buruk dan jahat menjadi baik, sehingga kita benar-benar menjadi orang yang bertaubat.

tajwid

Ikhfa adalah yang terakhir dari pembagian hukum Nun Mati dan Tanwin. Ikhfa berasala dari bahasa Arab yang berarti Samar, yaitu dengan cara menyamarkan bunyi Nun Mati dan Tanwin menjadi seperti terdengar mendengung. Maksud samar jika dimasukkan ke dalam kehidupan adalah, kita harus selalu menyamarkan perbuatan baik kita sehingga tidak terlihat oleh orang lain, atau biasa kita sebut Riya. Riya adalah perbuatan yang ingin selalu dilihat oleh orang lain, agar dinilai baik oleh orang lain. Maka jika kita menjauhkan diri dari perbuatan Riya berarti kita telah meninggalkan perbuatan munafik. Sebab Riya adalah salah satu cirri dari banyak cirri orang yang munafik.

Wallohua’lam Bisshowab, semoga dapat manfaat. Mohon maaf untuk penuturan yang masih jauh dari sempurna.

 

10 Comments to "Nun Mati dan Tanwin Kehidupan"

  1. el hida  13 November, 2017 at 13:16

    udah lama gak tulas-tulis. ternyata ada PR yg harus ditulis lagi

  2. el hida  25 March, 2013 at 21:26

    salam malam semuanya smg selalu sehat semuanya . aamiin

    *ngakak bc bonbin, asli

  3. Chandra Sasadara  25 March, 2013 at 14:23

    luar biasa… tajwid kehidupan…tks El HIda

  4. juwandi ahmad  24 March, 2013 at 22:59

    wah pengalaman kita sama mas iwan……ngajiku yo ngono kok….

  5. juwandi ahmad  24 March, 2013 at 22:58

    wah nuwon sanget pak guru…ringan ning jero

  6. J C  24 March, 2013 at 19:33

    Menambah sedikit pengetahuan tentang Qur’an…

  7. Dj. 813  24 March, 2013 at 00:32

    El Hida….
    Dj. jadi ingat masa kanak-kanak dulu, dimana rumah kami juga untuk belajar membaca Quran.
    Dj. anak yang paling nakal dan saat belajar malah sering guyonan…
    Satu saat Ibu berkata, kalau hari ini berajar dengan baik, maka nanti akan diajak ke Kebon Binatang ( BoBin ).
    Nah saat semangat baca.. Ba taba tawin Ban, Ba nduma tawin bin, Ba kasro, tawin bun…
    Ban Bin Bun… dari belakan, adik menambang Bon Bin….!!!
    Jadi lah Ban, Bin Bun… Bon Bin…!!!
    Samapi selesai , diluar rumah masih sering ledek-ledekan… Ban..,Bin…Bun… Bon Bin…!!!
    Salam,

  8. IWAN SATYANEGARA KAMAH  23 March, 2013 at 22:09

    Wah…saya lebih memahami tentang sebuah pelajaran mengaji ketika saya masih 12 tahun. Sayangnya saya belajar mengaji dari budaya Betawi yang tidak memakai bahasa Arab.

    Jadi bila ada huruf /alif/ diatasnya ada tanda strip, dibacanya alif diatas /a/. Bahasa Arabnya /alif/ fatha /a/.

    Bila huruf /alif/ dibawahnya ada tanda strip, dibacanya alif dibawah /i/. Bahasanya Arabnya /alif/ kasroh /i/.

    Dan bila huruf /alif/ diatasnya ada tanda mirip angka sembilan, dibacanya alif depan /u/. Bahasa Arabnya /alif/ domma /u/.

    Begitulah oranh Betawi membumikan bahasa dan cara belajar bahasa Arab (Quran).

    Sama dengan tulisan ini, ternyata alfabet Arab ternyata sama dengan semua alfabet dunia. Setidaknya mempunyai akar yang sama.

    Alif – Alpha
    Ba – Betha
    Ta – Gamma

    Dal – Delta
    Kap – Kappa
    Lam – Lambda
    Mim – Mu

    dst

    Ternyata sama semuanya. Artinya kita sesama manusia berasal dari satu titik. Bukan Titik Sandhora tentunya?

  9. Indriati See  23 March, 2013 at 17:53

    Luar biasa ! baru pertama kali ini saya membaca ulasan yang apik tentang Ilmu Tajwid. Terima kasih Mas El Hida, bermanfaat

  10. Handoko Widagdo  23 March, 2013 at 16:07

    Terima kasih El Hida, teks memang selalu ada artinya dalam konteks.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.