Tebu

Sokanindya Pratiwi Wening

 

Ini tebu, ya, ini tebu.

Waktu aku kecil, aku suka sekali makan tebu. Tebu adalah pilihan saat lelah bermain dengan teman-teman.

Ada sensasi dan terasa lebih nikmat jika kulit tebu tidak dikupas dengan pisau sebelum di makan.

Aku punya cara asyik menikmati tebu manis yang ditanam ibu. Tebu yang panjang kurebahkan lalu kupatahkan dengan kaki dan untuk memotongnya menjadi beberapa bagian, kugunakan lututku buat memotongnya. Tebu yang sudah menjadi beberapa bagian itu kukuliti dengan gigiku. Srek…srek…srek… Begitu suaranya. Lalu, pletaaak… Terpisahlah sepotong tebu yang langsung bersuara sret…sret…sret di mulutku.

Duhai demikian seksi.

Setelah kenyang dan haus pun hilang, sepah tebu di mulut tak langsung dibuang, melainkan dijadikan ‘susur’ buat membersihkan gigi.

Ritual ini diakhiri dengan suara, ‘theh…theh…theh’, saat bibir membersihkan serpihan sepah di mulut.

Sekarang, cara itu hampir tak kulakukan lagi, bukan karena gigiku sudah ngga ‘tedas’ melainkan aku ingin menikmatinya dengan cara ‘yang lebih sopan saja’. :D

Tulisan ini lahir karena iseng saja. Saat membersihkan halaman pagi ini, aku melihat tebu sudah sangat panjang-panjang. Anak-anakku tak tertarik buat menikmatinya. Kalau ingin air tebu, mereka tinggal beli. Langsung dapat air tebu yang dingin, begitu kata mereka.

tebu

Ah, aku tak tahu, apa aku yang ‘primitif’, cuma di dalam hatiku menyayangkan, sungguh anak-anakku dan mungkin juga anak-anak zaman sekarang telah kehilangan satu momen seksi yang begitu dekat dengan alam…!

Entahlah….

 

25 Comments to "Tebu"

  1. sokanindya pratiwi wening  27 March, 2013 at 18:42

    @All: Ahaaa…. Ngga nyangka saya, tulisan sederhana ini bisa membangkitkan kenangan masa kecil.

    Saya tulis karena saat selesai membersihkan batang-batang tebu yang sudah tinggi-tinggi dan ‘tak tersentuh’. Jangan tanya waktu saya kecil dulu, tebu setinggi yang saya bersihkan itu ngga dijamin selamat. Hahahaha…

    Buat sahabat yang mau nyicip air tebu dingin, di Medan ada dijual air tebu asal Berastagi, Tanah Karo. Tebu yang berasal dari Berastagi ini rasanya manis sekali dan aromanya menggoda (Henny pasti tahu).
    Uniknya, jenis tebu Berastagi ini kalau kita tanam di Medan, rasanya tidak lagi manis, malah batangnya terasa ‘kapes’.

    Terima kasih buat semua komentator yang telah berbagi pengalaman.

    Salam sayang.

  2. Reca Ence AR  26 March, 2013 at 21:46

    ahaaayyy
    biasanya kalau saya , tebu buat bekal kalau perang-perangan
    rehat sambil emut emuuuutttt
    hahahahaha

    kisah indah mba Wening

  3. juwandi ahmad  24 March, 2013 at 22:21

    kuwi yo warung tebu pak dj…

  4. Dj. 813  24 March, 2013 at 22:13

    2012

  5. juwandi ahmad  24 March, 2013 at 22:00

    wah jebul kabeh anak juragan tebu……

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.