BB dan Galau

Nyai EQ – di tengah kesiur angin malam

 

Ngobrol dengan teman di sebuah kantin sebuah sekolah dasar elit, nyruput jus jambu yang kental dan segar di tengah-tengah udara panas menyengat karena langit menyimpan kumparan-kumparan listrik ribuan kilowatt yang siap dimuntahkan sewaktu-waktu, sambil memandang anak-anak berseragam lalu-lalang, dan para orang tua yang sibuk dengan kegiatan masing-masing, aku juga sibuk. Mengaduk-aduk jus, mendengarkan temanku curhat sambil sesekali mencet-mencet handphone-nya, memandang kiri-kanan dan mengumpulkan lintasan-lintasan kalimat yang berseliweran di otakku.

Lalu, muncul tiga anak perempuan manis-manis. Ketiga gadis cilik ini sepertinya sahabat kental sekelas. Usianya sekitar 9 tahun. Perawakannya hampir sama. Tidak terlalu kurus, tapi juga tidak terlalu berisi. Mereka bertiga berhasil menarik perhatianku karena gaya khasnya.

Yang satu berkucir dengan pita warna ungu muda, menggenggam handphone yang kelihatannya adalah BB, dengan cashing warna ungu. Si gadis kecil rupanya penyuka warna ungu, karena sepatunya juga berwarna ungu. Entah dia penyukanya, atau ibunya yang membuat dia menyukainya, karena aku melihat ibunya yang keren itu juga full ungu.

Gadis kecil satunya berambut pendek di atas telinga dengan bando bermotif bunga-bunga kecil. Dia punya senyum yang manis dan suara yang renyah. Giginya diikat dengan kawat gigi berwarna merah muda. Warna sepatunya hitam. Kaos kaki hitam panjang dan, lagi-lagi, di tangannya memegang handphone yang bentuk dan ukurannya hampir sama dengan milik si gadis ungu.

Gadis cilik ketiga lebih kemripik lagi suaranya. Sepatunya warna merah dengan kaos kaki putih. Tidak hanya handphone yang ada di tangannya, tapi juga dompet dari kulit imitasi bergambar “Princess” warna biru muda.

Mereka bertiga masuk ke kantin, langsung menuju tempat pemesanan dan memesan apapun yang mereka inginkan. Lalu tanpa tergesa mereka duduk di bangku panjang dekat tempatku duduk. Sehingga, dengan tanpa maksud untuk menguping, aku bisa mendengar dengan jelas apa yang mereka obrolkan.

“Galau nih”, Kata si gadis cilik berambut pendek, yang ternyata bernama Dimmy. Nama yang tidak biasa. Aku melihat sekilas pada badge nama yang terpasang rapi di dada seragamnya.

“Kenapa galau?”, Tanya si gadis ungu. Namanya Riza. Lagi-lagi aku melihat sekilas pada badge nama.

“Mamaku gak suka dengan baju yang semalam kamu BB-kan ke aku. Katanya warnanya gak cocok denganku. Padahal aku suka. Khan jadi galau”, Suara renyahnya terdengar kesal. Galau katanya. Aku tersenyum dalam hati, dan mendengarkan obrolan selanjutnya.

“Wah, padahal Janice sudah oke lho. Iya khan Jan?”, Tanya Riza si gadis ungu pada temannya yang membawa dompet bergambar “Princess”. Yang ditanya nyengir lebar dengan muka riang.

“Iya Dim….bilang sama mama kamu doong. Mamaku udah ok lho. Baju itu khan bagus buat kita. Lagian harganya gak mahal. Jadi kita bisa kembaran. Lucu juga buat jalan-jalan ke mall minggu depan”, Jawab si Princess yang bernama Janice dengan tanpa jeda.

“Ah, kalian bikin aku tambah galau aja deh”, Sahut Dimmy tanpa semangat.

“Eh…lihat!”, Tiba-tiba si ungu Riza memperlihatkan sesuatu dari BB yang ada di tangannya. Kedua temannya buru-buru melihat dengan sepenuh semangat.

“Kalau yang ini gimana? Aku yakin mamanya Dimmy pasti ok. Dia khan suka warna putih. Lagian ini masih ada gambar bunga-bunga pink-nya. Yang bunga-bunganya warna ungu juga ada. Gimana?”, Tanya Riza dengan gaya yang begitu terampil seperti seorang sales asuransi yang tempo hari membujukku untuk membeli produknya. Mukanya begitu riang. Senyumnya lebar. Pupil matanya melebar. Suaranya begitu ceria tapi penuh dengan nada penekanan yang khas. Serta merta kedua gadis cilik temannya saling berpandangan dengan muka yang sama-sama ceria.

Aaaaa…..aku baru mengerti. Rupanya ketiga gadis kecil ini sedang mengadakan trading. Jual beli baju melalui internet. Kata temanku, yang duduk di sebelahku, ibu si ungu Riza memang terkenal kaya karena berjualan baju, tas dan sepatu secara online. Teman-teman putrinya adalah konsumen yang potensial. Dan hebatnya, sang anak yang usianya masih 9 tahun itu pun sudah sangat lihai menawarkan barang dagangan ibundanya. Good team work !!

“Ya, jadi kita bisa tetep kembaran, tapi warna bunga-bunganya beda-beda, sesuai dengan yang kita sukai”, Begitu kata Janice sambil menyeruput es jus buahnya.

“Betul banget! Malah gak ngebosenin liatnya, jadi variatif”, Timpal Riza senang. Ah hahahha…anak ini memang ciamik, kata batinku setengah heran setengah kagum dengan kepiawaiannya.

“Ya…jadi gak galau lagi”, Sambung Dimmy yang rupanya memang sedang sangat senang mengucapkan kata “galau”. Seperti orang dewasa.

“Tar aku share gambarnya ke BB kalian deh”, Lanjut Riza cekatan, tangannya sibuk mencet-mencet tuts BBnya. Persis seperti yang dilakukan ibunya, yang duduk di bangku lain bersama ibu-ibu keren lainnya.

Sejenak kemudian ketiga anak itu sibuk dengan BB masing-masing. Makanan dan jus buah di depan mereka terlupakan beberapa saat.

Aku seperti diingatkan, pada waktu usiaku seperti mereka. Di kisaran 9 tahun. Bertahun-tahun yang lalu. Rasanya bahkan seperti ratusan yang lalu. Ahaha..aku tahu ini berlebihan, tapi aku memang menjadi merasa seperti itu. Masa kanak-kanakku terasa tertinggal jauh sekali. Harus menggunakan mesin waktu untuk mengingatnya kembali.

Saat aku kecil, jarang sekali aku memilih baju yang akan aku beli, kecuali jika memang diajak ke toko untuk memilihnya. Dan tentu saja aku tidak pernah mengajukan pilihanku berdasarkan tawaran yang diajukan oleh kawan, karena memang tidak ada kawan yang seperti itu. Kami, aku dan teman-teman, lebih seringnya membicarakan soal PR, tentang sesama kawan, tentang anak baru yang pindah dari kota kecil. Atau merencanakan permainan-permainan yang asyik di lapangan. Paling banter merencanakan acara tamu-tamuan. Di mana seorang teman, dan aku juga kadang-kadang, mengundang teman lain untuk bermain di rumahnya. Kami membaca buku bersama, lalu membuat kue-kue dari lilin warna-warni. Mengeluarkan pot teh dan cangkir-cangkir kecil, piring-piring kecil, lalu mengisinya dengan kue-kue buatan nenek atau mama. Kami makan bersama dan ngobrol. Obrolan kanak-kanak yang tidak ada hubungan dengan pekerjaan orang tua kami. Ngobrol dengan menggunakan mulut dan suara yang keluar dari tenggorokan. Bukan ngobrol dengan jari dan suara dari ketak-ketik tuts.

Kadang, jika langit terang, udara cerah dan libur baru mulai, kami akan bermain di halaman atau lapangan. Bola yang ditendang dengan kaki, bukan bola yang ditendang dengan jari-jari di atas tuts. Main sembunyi-sembunyian. Main kelereng, dengan kelereng dari kaca berwarna-warni. Atau main dakon dengan biji-biji dakon yang kami kumpulkan dari biji sawo atau buah tanjung dari halaman sekolah adikku. Pohon tanjung tua yang begitu besar dan teduh.

Jika hari-hari berangin cukup, kami akan menaikkan layang-layang yang diberi ekor panjang dan warna macam-macam dengan lukisan beraneka warna. Menyenangkan ! Tak jarang juga kami bersepeda mencari dedaunan dan bunga-bungaan serta bahan-bahan lain untuk bermain pasar-pasaran. Ya, ya, kami juga melakukan itu. Jual beli. Trading. Tapi hanya main-main. Uangnya yang digunakan adalah bungkus permen dengan kesepakatana nominal. Yang kami jual juga bermacam-macam. Mulai dari bakmi goreng, tahu, sayur-mayur, sampai pada baju dan sepatu. Juga tas. Tapi tentu saja barang-barang luxury itu hanya berupa gambar yang kami gunting dari majalah lama yang sudah tidak dibaca lagi oleh orang tua kami.

Tak jarang kami juga memainkan rumah-rumahan. Kami membuat maket sederhana dari kotak-kotak bekas. Kotak susu, kotak bekas pasta gigi, bungkus sabun mandi, kotak bekas rokok dan lain sebagainya.

Tidak ada istilah galau. Anak-anak tidak pernah galau. Anak-anak selalu punya cara untuk mengatasi kekecewaan dengan bermain.

Oh ya, tentu saja ada juga ibu-ibu keren yang mendandani anak-anaknya sesuai dengan kesukaan mereka. Ibu-ibu gaul yang membawa tas-tas besar yang bagus dan mengkilat. Anak-anak sekolah yang membawa tas koper dengan troli. Berisi buku pelajaran, seolah-olah mereka para eksekutif muda yang berjalan tergesa di Wall Street. Tasku sendiri adalah tas punggung warna pink bergambar Daisy Duck, itu yang kuingat. Ada majalah anak-anak terbaru atau buku cerita anak-anak, kelereng dan kartu kwartet seri Disney bersama dengan buku-buku di tasku. Aku memakai sepatu boot warna kuning jika musim semi karena banyak hujan, atau sepatu boot kulit ketika musim dingin. Tidak pernah memakai sepatu warna-warni, seperti sepatu model croc jaman sekarang. Tidak pernah membicarakan PR dengan telpon, eyang dan orang-orang tua kami yang akan saling bicara di telpon, bahkan jika itu menyangkut PR kami.

Aku masih ingat, jika musim panas tiba, liburan datang, aku di bawa menemui saudara-saudaraku di Jogja, maka saat-saat itulah saat-saat yang menyenangkan karena aku boleh bermain-main di pematang sawah, mencari kacang panjang segar, main di kali dan ya main pasar-pasaran, kejar-kejaran, bersepeda dengan teman-teman.

Jaman bergulir dengan begitu cepat. Waktu seperti punya sayap yang bisa terbang berlalu dengan begitu cepat. Kebudayaan tergerus oleh mesin dan gadget yang nyaris seperti sihir.

Budaya BB dan Tab merambah ke segala penjuru. Seperti banjir yang sering melanda jakarta. Bahkan sampai ke hal-hal sepele. Anak-anak kecil tak lagi mengenal betapa asyiknya bermain pasaran. Bahkan Boneka Barbie yang mahal itu hanya merupakan pajangan yang dikoleksi oleh orang-orang kaya. Tak ada lagi anak-anak kecil yang bermain rumah-rumahan, tamu-tamu’an.

Seperti ketiga gadis cilik tersebut, keponakan saya yang masih berumur 6 tahun sudah dengan canggih memainkan iPad di tangannya, seperti jaman dulu saya canggih menerbangkan layang-layang di lapangan dekat rumah nenek.

Anak-anak jadi rentan terhadap gejala stress. Anak-anak jadi mudah galau. Anak-anak yang lahir dalam budaya instan jadi tidak sabaran, tidak menikmati sebuah proses pencapaian. Mereka jadi tua sebelum masanya. Matang sebelum waktunya.

blackberry-dan-anak

Tapi itulah jaman. Tak ada yang bisa mencegah kemajuan teknologi. Kita hanya bisa memanfaatkan sebaik mungkin dan mencoba untuk tidak terhanyut di dalamnya.  Hanya saja, kadang-kadang saya merasa kagum sekaligus kasihan melihat anak-anak jaman sekarang, meskipun mereka tidak pernah menyadari itu….tapi mereka tidak akan pernah tahu betapa senangnya bisa mengembangkan imajinasi bersama alam semesta, bukan bersama mesin. Tinggal menunggu titik jenuh, untuk kembali pada kenyamanan yang bisa dirasakan melalui indera nyata, bukan indera virtual.

Semoga…

 

25 Comments to "BB dan Galau"

  1. Dj. 813  31 March, 2013 at 02:53

    probo Says:
    March 30th, 2013 at 20:44

    pak DJ, la itu lo…ditembangke malah ngarani kumat……awas lo..aku wis rada malati eh…meleti dhing

    ——————————————————————-

    Bu Gucan…
    Mas Anoew mabok, kokehan ngabung CD bu GuCan sing dicolong wingi kae….

    Hahahahahahaha….!!!

  2. Dj. 813  31 March, 2013 at 02:51

    Mas Anoew ki ngomong opo tho mas Juwandi…???
    Kok Dj. ora mudeng…. Hahahahahahaha…!!!
    Iki sing jarene nyolong CD ne bu GuCan, dadi mabuk….
    Hahahahahahahahaha….!!!

  3. anoew  30 March, 2013 at 23:57

    Lho Yu, itu pengarangnya Pakdhe Dj. Aku cuma inget wae kalau beliau pernah mengajarkan lagu itu..

  4. Lani  30 March, 2013 at 23:26

    21 KANG ANU : hahahah…..kemekelen membaca nyanyianmu kuwi………..sandale njengat………

  5. anoew  30 March, 2013 at 23:18

    Atau main dakon dengan biji-biji dakon yang kami kumpulkan dari biji sawo atau buah tanjung dari halaman sekolah

    naaaaaah…! Kalau urusan main dakon, pakdhe Dj paling mahir bahkan, palig hafal syair lagu tentangnya:
    Ayo dolanan Dakon..
    Watu item..
    Cacahe pitu..
    Mbok Mugijem..
    Sandale njengat..
     

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.