Menunda Kebaikan

Ida Cholisa

 

Saya belajar dari banyak hal beberapa hari ini. Utamanya adalah pentingnya bersegera dalam  berbuat kebaikan. Tidak menundanya karena alasan yang tak masuk akal. Sebab ketika waktu untuk berbuat kebaikan itu telah lenyap, maka yang tersisa adalah penyesalan yang terus menghinggap.

Pembelajaran pertama adalah ketika Ibu mertua dan kakak ipar berencana menginap di rumah saya. Saat itu kakak ipar menelepon saya dan mengatakan tentang masakan yang diinginkan ibu mertua. Kondisi saya saat itu sedang sangat repot. Pekerjaan rumah membludak, pekerjaan sekolah menggunung, tugas kampus pun bejibun. Apalagi saat itu saya sedang ‘tak enak hati’ dengan suami. Ditambah rumah yang sedang sangat berantakan, hati saya menjadi kelimpungan tak karuan.

Telepon tentang rencana kedatangan ibu mertua dan kakak ipar datang mendadak. Dalam dua jam mereka akan tiba di rumah saya. Olala… saya blingsatan tak karuan. Membereskan rumah, menyapu, mengepel, mempersiapkan kamar mereka, memasak, menyiapkan menu makan sesuai pesanan dan sebagainya. Kebiasaan saya adalah saya ingin melayani setiap tamu yang datang ke rumah saya dengan sangat baik. Apalagi ibu mertua saya.

Alhamdulilah, ibu mertua tiba saat rumah telah kinclong dan rapi. Jamuan makan pun telah tersedia di atas meja. Beliau terlihat sangat menikmati masakan saya.  Beliau sempat berguman “makan di rumah Ida sangat sedap”.  Hingga jamuan makan malam dan makan keesokan harinya, beliau terlihat sangat lahap menikmati masakan saya. Demikian juga dengan kakak ipar saya.

Ibu mertua kembali ke Padang setelah lebih dari sebulan berada di Jakarta untuk keperluan haji. Di usia menjelang 87 tahun, beliau mampu melaksanakan haji dengan baik, sehat wal afiat hingga tiba di Jakarta. Sebagai istri tentara yang puluhan tahun menetap di Padang, hatinya telah membumi dengan ranah Minang hingga ia enggan kembali ke Yogya, kampung halaman. Kebetulan makam bapak mertua berada persis di area rumah ibu mertua, dan itu salah satu alasan kuat yang membuat beliau enggan meninggalkan Padang.

Beberapa minggu setelah beliau tiba di Padang, saya dikejutkan dengan telepon adik ipar. Ibu mertua mengalami kecelakaan, tertabrak motor yang dikendarai diua ABG yang ugal-ugalan. Kepala ibu mertua cedera, tulang kakinya patah. Hingga dua minggu lamanya beliau tak sadarkan diri.

Saya menyusul suami yang telah dua minggu menunggui ibu mertua di rumah sakit. Selama dua minggu itu saya hanya mampu menelepon atau mengirim SMS. Menurut suami saya, ibu mertua terlihat meneteskan air mata saat handphone yang berisi suara saya didekatkan di telinganya. Begitu juga saat adik ipar membacakan SMS saya, air mata keluar dari mata beliau yang terpejam.

Saya tiba di Padang setelah menempuh perjalanan darat dua hari dua malam. Pertimbangan mobilitas di tanah rantau, itu yang membuat saudara -saudara ipar memutuskan untuk membawa kendaraan. Meski memakan waktu sangat panjang, rasa lelah itu terbayar dengan hamparan panorama indah sepanjang jalan. Saya tiba di rumah sakit Sabtu sore, menginap di rumah sakit semalam, untuk kemudian Minggu siang saya kembali ke Jakarta. Ketika saya menjenguk ibu mertua di ruang ICU, saya mendapati ibu mertua dengan keadaan yang mempihatinkan. Diam terbujur kaku, hanya nafasnya yang naik turun. Saya meletakkan tangan saya di atas telapak tangannya.

Kindness

“Ibu, saya Ida…” saya berbisik di telinga beliau.

Tiba-tiba tangan ibu mertua meremas tangan saya. Cukup lama, hingga kemudian tangannya melemah.

 

6 Comments to "Menunda Kebaikan"

  1. juwandi ahmad  26 March, 2013 at 20:32

    orang jogja bilang: “Wes gek ndang mangkat dab, ditulong, mesakne…..”

  2. Dj. 813  26 March, 2013 at 20:26

    Orang Jerman mengatakan….

    **** Was du heute kannst besorgen das verschiebe nicht auf morgen. ***

    (( Apa yang bisa kamu kerjakan ( selesaikan ) hari ini, jangan tunda sampai besok ))

    Salam,

  3. juwandi ahmad  26 March, 2013 at 20:25

    Artikel yang menyentuh dan sarat pelajaran….terima kasih..terimaksih sekali mbak Ida

  4. Dewi Aichi  26 March, 2013 at 17:54

    Seperti disadarkan, terima kasih bu Ida, satu pelajaran untuk hari ini, agar jangan menunda kebaikan, apalagi untuk alasan yang tidak penting.

  5. J C  26 March, 2013 at 15:06

    Renungan yang apik, Ida Cholisa…

  6. James  26 March, 2013 at 11:18

    SATOE, Kebaikan

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *