Tembak di Tempat (21)

Endah Raharjo

 

Bila Tong Rang tidak melakukan aksinya, seharusnya kami berempat sedang sibuk kerja lembur, menyiapkan seminar untuk mengkaji interim report di depan mitra-mitra. Proposal yang kususun untuk Angel’s Hand juga akan ikut dibahas, siapa tahu ada lembaga donor yang tertarik membantu.

Namun rencana itu rondah-randih. Kami hanya bertiga, sulit memejamkan mata di dalam kamar sebuah rumah sakit termegah dan termewah di Bangkok, saling bertukar cerita sebagai sahabat, bukan rekan kerja.

Tim duduk di ujung sofa dan aku di ujung satunya, sama-sama mengganjal punggung dengan bantal, menghadap tempat tidur pasien. Rudi tampak nyaman dengan bed disetel agar ia bisa setengah rebahan dengan kepala disangga dua bantal.

Rudi tidak banyak bicara. Ia tekun menyimak sambil sesekali membidikkan kameranya ke arah kami berdua yang mengenang kejadian-kejadian lucu, termasuk polah kekanak-kanakan Tong Rang.

Entah disadari atau tidak, setelah bertemu Ronn, Tim jadi sering bicara tentang kakaknya itu, juga peranannya dalam pemindahan pengungsi di kamp-kamp di perbatasan Thailand-Burma ke negara ketiga.

“Dulu aku sering bertanya-tanya, bagaimana kamu bisa memindahkan pengungsi dengan mudah. Aku tidak menduga kalau koneksimu ternyata kakakmu sendiri. Semuanya jadi tampak terang benderang sekarang.”

“Prosesnya tidak semudah kelihatannya. Juga tidak selalu berhasil, apalagi kalau orang-orang yang mau dipindahkan tidak kooperatif. Pernah ada suami istri dengan dua anak, tapi kami hanya dapat jatah dua. Mereka berkeras minta dipindah bersamaan. Jadinya gagal semua. Ada juga yang pilih-pilih negara walaupun sama sekali tidak ada kerabat di negara yang dituju itu. Belum lagi kalau mereka berbohong atau terlibat kegiatan ilegal seperti menyelundupkan narkoba atau senjata. Tidak semua pengungsi mudah diatur. Banyak juga yang tidak sabar, padahal dibandingkan dengan tahunan tinggal di kamp, atau gubuk-gubuk di hutan, masa tunggu beberapa bulan tidak ada artinya,” cerita Tim.

“Aku juga pernah menyelundupkan orang dengan pesawat kargo. Jelas-jelas ilegal. Dua laki-laki. Mereka kami masukkan ke dalam peti bersama puluhan peti lain berisi pakaian buatan China. Tapi itu dulu. Waktu aku belum menikah, masih kuliah….” Tim tertawa pelan.

“Siapa yang menentukan orang-orang yang dibantu?” tanyaku.

“Sepenuhnya koneksi dan rekomendasi. Dari Father Sap dan para tetua di kamp-kamp. Mereka kami seleksi. Ya, itu tadi, ada yang minta bantuan tapi tidak jujur. Kami tidak mau bantu orang seperti itu. Kami utamakan yang masih muda. Kalau anak-anak harus dengan salah satu orang tua, kalau ada yang mengadopsi lain lagi. Banyak yang seperti itu, malah lebih mudah.”

“Seperti Tong Rang.” cetus Rudi.

“Ya. Tapi Tong Rang prosesnya beda, aku tidak tahu. Yang seperti itu juga masih banyak dilakukan orang. Tong Rang itu dibawa ke Amerika sebelum tragedi 9-11, segala sesuatunya masih lebih mudah. Sebenarnya banyak pihak yang bersedia memindahkan pengungsi tapi bayar mahal. Tidak termasuk human trafficking. Itu beda lagi. Yang kuurus ini gratis, melanjutkan yang dulu dilakukan ibuku. Setiap orang yang kami bantu punya kisah sendiri. Stella dan Aron ini termasuk yang istimewa. Ruben, ayah Aron, kerabat jauh ibuku.”

“Ya. Kamu sudah cerita,” potongku.

“Dulu kisah-kisah pemindahan pengungsi ini jadi cerita pengantar tidurku. Usiaku 12 tahun saat ibuku bilang kalau aku punya kakak di Thailand. Ronn. Waktu itu dia mulai diliput koran nasional karena sering mewakili urusan bisnis ayahnya, Shakrit Suwanmongkol.”

“Oooh! Jadi itu ayah Ronn?” celetukku.

Heran, sewaktu Ronn bercerita tentang ayahnya yang bernama Shakrit, aku sama sekali tak mengaitkannya dengan lelaki yang disebut Tim itu. Ia dijuluki ‘Shak the Shark’ karena kegemarannya mencaplok perusahaan-perusahaan di penjuru Asia. Ia pula yang dituding berada di balik eksploitasi tambang giok di Hpakant, wilayah Kachin, Burma. Kawasan di daerah aliran sungai Uyu yang sebagian besar masih liar dan perawan itu kaya akan giok kualitas terbaik. Namun sumber daya alam itu menjadi sumber malapetaka bagi penduduknya. Puluhan-ribu penduduk lokal diusir atau terusir – dan dibantai – oleh pihak-pihak yang serakah ingin merampok perhiasan ibu bumi itu. Kekejian terhadap kemanusiaan dan alam serupa itu juga terjadi di Indonesia, di negara-negara Afrika, di mana-mana.

Hatiku menciut teringat gelang giok pemberian Ronn. “Apakah berita tentang peranan Shakrit dalam konflik di Hpakant itu benar?” tanyaku.

“Itulah alasan utama mengapa aku tidak mau berurusan secara pribadi dengan Ronn. Sudah 20 tahun ini dia mengendalikan bisnis giok keluarga.” Mata Tim seperti nyala lampu saat daya listrik turun tiba-tiba. “Untung ibuku bisa mengerti. Sejak aku lulus kuliah dan serius menekuni pekerjaan di Asia, dia berhenti mencoba jadi penengah.”

jati-diri

Aku dan Rudi bertatapan.

“Tapi dia kakakmu,” ujarku, jelas-jelas tanpa pertimbangan.

“Kalian pasti tahu, sejarah ditulis dengan kucuran darah kakak-beradik dan anak-beranak yang saling bunuh, saling berperang, sejak Qabil dan Habil,” tukas Tim.

“Ronn membantu pengungsi mendapatkan hidup mereka kembali, memberi mereka masa depan. Agak sulit dimengerti kalau dia terlibat langsung dalam konflik di kawasan pertambangan giok itu,” tambahku.

“Memang ironis.” Tim membenahi letak kacamatanya. “Yang kita alami saat ini juga ironis. Tong Rang bersusah payah ingin membunuh pembunuh orang tua dan adiknya dengan cara menolong para pengungsi. Ia menghabiskan masa depannya untuk membalas dendam masa lalunya. Aku membenci cara kakakku memperoleh uang tetapi aku menerima uangnya untuk menyelamatkan orang yang di antaranya adalah korban perbuatannya.”

Telingaku menangkap kegetiran dalam suara Tim. Tiba-tiba dengung kulkas dan AC bisa kudengar, juga gesekan selimut Rudi yang ia tarik hingga ke dada.

“Mengapa kamu sekarang memutuskan menemuinya?” kutanyakan untuk kedua kali. Aku siap dipelototi.

Untuk beberapa detik dengungan kulkas dan AC kembali terdengar. Juga suara ‘klik’ saat Rudi menutup lensa kameranya.

“Kamu tadi sudah tanya. Jawabanku sama. Aku tidak tahu. Aku tidak yakin. Kita sering melakukan sesuatu begitu saja, tanpa tahu alasannya. Ya, kan?”

“Ya. Aku sering seperti itu.”

“Aku juga sering.” Rudi bersuara.

“Menurutku Ronn juga punya sisi baik. Dan dia tidak menutupi perbuatan buruknya. Dia banyak cerita saat kuwawancarai.”

“Apa dia cerita kalau dia memekerjakan anak-anak di perkebunannya?”

“Ya. Apa salahnya? Dengan begitu mereka terhindar dari ancaman yang lebih keji, dijadikan serdadu di garis depan, dijual, dilacurkan, disuruh kerja paksa. Di perkebunan mereka bekerja sepulang sekolah, dan dibayar.”

“Kamu pikir itu baik?”

“Tidak penting apa yang kupikir. Faktanya, apa mereka punya pilihan lebih baik? Tidak, kan? Bukannya kita juga sering dihadapkan pada pilihan yang serba tidak baik dan harus memilih yang terbaik dari yang buruk? Kalau menurutmu?”

“Apa yang kupikirkan penting?” Tim mendengus. “Menurutku dia jangan tanggung-tanggung kalau mau menebus dosa. Sekolahkan saja anak-anak itu tanpa menyuruh mereka kerja.”

“Soal menebus dosa itu, apa dia juga cerita?” tanyaku. Akhir-akhir ini aku tolol sekali.

Tim tertawa. “Tidak perlu cerita. Semua orang bisa melihatnya….”

“Dia cerita ke aku. Dia tahu kalau punya banyak dosa dan berusaha menebusnya.”

“Kamu dan Ronn tampaknya cocok,” sinis Tim. “Apa yang kamu ceritakan ke dia?”

Aku tungkap sesaat.

“Aku tidak bermaksud….”

“Tidak apa-apa. Aku juga sering mendesakmu akhir-akhir ini,” potongku. “Kamu ingat kira-kira 6 tahun lalu? Tahun 2004, waktu kita baru kenal dan aku sering ikut Ken… Profesor Young… ke community center di kampung imigran itu?”

“Ya. Tentu saja.”

“Sore itu, ada perempuan El Savador mengadu karena diperkosa. Aku lari, sembunyi di toilet. Baru muncul setelah Ken kebingungan mencari-cari. Kamu ingat?”

“Tidak secara spesifik. Maksudmu?”

Aku diam, mengumpulkan kekuatanku. Rasanya seperti ada bandul besi diikat ke pangkal lidahku turun hingga ke lambungku, jadi berat untuk bicara. “Delapan bulan sebelumnya, aku mengalami hal yang sama. Pemerkosaku memang gagal, tapi aku tertabrak sepeda motor dan harus dirawat di rumah sakit beberapa hari.”

Kudengar seruan Tim dan Rudi.

I’m sorry. I never would’ve guessed,” bisik Tim, menggeser tubuhnya mendekat, mengulurkan lengannya, menyentuh pundakku. “Kamu mau membicarakannya?”

Aku menggeleng. “Sudah lama sekali. Aku yakin Rudi… sebenarnya tahu.”

Tim menatap Rudi. Yang ditatap mengangguk sekali. “Kamu yakin tidak mau membahasnya?” Tim mencondongkan tubuhnya ke arahku.

Aku menggeleng lagi. “Ini sudah membuatku lega.”

Kami bertiga saling memandang. Mata Tim cukup lama menatapku sebelum dia berkata, “Semua orang punya masa lalu yang ingin dilupakan. Jangan sampai masa lalumu merampas masa depanmu, Mia.”

Aku tertawa kecil. Semua orang mengatakan hal yang sama dan aku yakin semua orang sering – sadar atau tidak sadar – membiarkan masa lalu merampas masa depan mereka.

You know… kita sering merasa telah benar-benar mengenal seseorang. Ternyata kita keliru. Sering muncul hal-hal baik dan buruk, yang tidak kita duga pernah ia alami atau lakukan. Kita harus siap, bahwa orang-orang yang kita cintai mungkin tidak seperti kelihatannya. Terima kasih, Mia. Rasa bersalah atas peristiwa Tong Rang jadi sedikit berkurang.”

“Apa yang kulakukan? Apa aku membuatmu kecewa?”

“Tidak ada apapun yang kamu lakukan yang membuatku kecewa. Rahasiamu itu, yang sekarang bukan rahasia lagi, merupakan jawaban. Selama ini kamu bersikap tertutup, ternyata kamu punya alasan.”

“Mungkin kamu juga punya rahasia.”

For sure!” Tim menyeringai, mengibaskan tangannya. “Sudah lewat pukul satu. Sebaiknya kita tidur.” Tim bangkit. “Kamu di sofa, aku akan minta airbed.” Berkata begitu ia berjalan menuju pantry, menghubungi perawat jaga lewat telepon intercom, minta diantarkan airbed.

Sambil merebahkan tubuh aku membatin, jadi Tim – dan mungkin orang lain – melihatku sebagai pribadi yang tertutup. Kukira aku tidak pernah sengaja menutup diriku dari orang lain, apalagi teman-teman dekat dan rekan kerja. Namun pendapat seorang sahabat adalah cermin terjernih yang membantu seseorang melihat sosok sejatinya.

*******

 

10 Comments to "Tembak di Tempat (21)"

  1. endah raharjo  3 April, 2013 at 15:06

    Kang Anoew: dalangnya lupa naruh script yg ada adegan seks-nya…

  2. anoew  30 March, 2013 at 23:42

    Hadoooooh, ini kapan adegan nge-seks-nya?? Tiwas..

  3. endah raharjo  28 March, 2013 at 10:30

    James: DELAPAN…. Dooooooorrr!!!

    JC: kalau tegang terus2-an bisa meledak… jebol nggak kuat nahan

    Pak DJ: iya, Pak. Serupa dgn David dan Daud, Ibrahim dan Abraham… terima kasih.

    Lani: udah saling buka-bukaan tp krn nggak transparan dan nggak kempling2-kinyis2 jadinya Juragan JC dan Pampres nggak puassss…

    Pampres: ini banyak kerjaan di Merapi, ngeduk2 pasir, kalau punya belasan truk bisa jadi berlian lhooo…

  4. [email protected]  27 March, 2013 at 16:42

    nggak ada yang kemplink dan kinyis2…. ada juga kumisan dan rokokan terus….

    sedang berusaha mengaet klien di indonesia…. sukur2 dapet kerjaan di tangerang, surabaya dan medan…
    semoga….

    bwahehehehehhe….

  5. Lani  27 March, 2013 at 14:17

    5 PAM-PAM : husssssshhhhhh…….busyetttt……jgn treak2 nanti aku bs dikrutuk-i tetangga……….yg lama ndak mencungul dirimu lo yauwwwwwwww…….kemana aja? mmgnya ada kesibukan baru yg berhubungan dgn kemplink……..kinyis2? hehe

  6. [email protected]  27 March, 2013 at 10:02

    CI LANI!!!!!!!!!!…………………….. apa kabar…. lama tak berjumpa…. kirain lagi cari suaka… ternyata…

  7. Lani  26 March, 2013 at 23:04

    ER : semuanya sdh saling membuka diri, saling mencritakan masa lalu masing2………dan tuh komentar no 2 ternyata o ternyata……….mmg bener banget lurah kita yg sll mengarahkan yg sengkring2……grank…….grenk……..hahaha……

  8. Dj. 813  26 March, 2013 at 22:40

    Tidak setegang yang lalu, tapi tetap menarik.

    *** “Kalian pasti tahu, sejarah ditulis dengan kucuran darah kakak-beradik dan anak-beranak yang saling bunuh, saling berperang, sejak Qabil dan Habil,” tukas Tim. ***

    Kalau di Alkitab kami, bukan ” Qabil dan Habil ”
    Tapi ” Kain dan Habil ”

    Terimakasih….!!!
    Salam,

  9. J C  26 March, 2013 at 15:07

    Tegangan cerita sedikit menurun lagi…tidak ada mak-sengkring dan mak-greng antara Mia, Tim dan Ronn lagi… kita tunggu nomer berikutnya, akan kah mak-greng berlanjut?

  10. James  26 March, 2013 at 11:16

    SATOE, Kosong

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.