Kedai Kopi Kok Tong

Handoko Widagdo – Solo

 

Perjalanan dari Medan ke Pematangsiantar tidak ada enaknya. Juga tidak ada uniknya. Jalanan memang sudah mulus, tapi truk dan bus bercampur becak motor yang berjejal sungguh menghancurkan kenyamanan berkendara. Apalagi jika perjalanan dilakukan saat terik matahari. Suhu yang menyengat dan kelembaban yang tinggi menambah siksaan perjalanan semacam ini.

kok-tiong01

Kami masuk Kota Siantar menjelang pukul 4 sore. Awalnya kami berencana segera saja ke hotel dan istirahat. Tapi seorang teman mengusulkan untuk ngopi sejenak di kedai kopi yang sangat terkenal di Kota Pematangsiantar. Meski sudah beberapa kali ke kota ini, saya belum pernah mampir ke kedai kopi yang katanya merupakan icon kota Siantar. Sebagai penggemar kopi, saya segera saja menyetujui rencana baik ini. Apalagi kopi bisa menghilangkan segala penat yang diakibatkan oleh perjalanan yang menyesakkan.

Tempatnya di Jalan Wahidin, di tengah-tengah Kota Siantar. Tepat di pojok jalan. Karena ramainya pengunjung, kami agak kesulitan untuk mencari tempat parkir. Jadilah kami bertiga turun di depan Kedai Kopi Kok Tong, sementara sopir mencari tempat parkir.

Saya memesan kopi pahit. Kopi disajikan dalam cangkir porselin. Di cangkir tergambar merek “Kopi Kok Tong Since 1925”. Kopi Kok Tong menggunakan kopi robusta yang di tanam di dataran tinggi Simalungun. Ciri khas kopi robusta yang ditanam di dataran agak tinggi adalah rasa pahitnya nendang. Saat dicurah dengan air panas, kopi menghasilkan buih putih kecoklatan. Kopi robusta Simalungun adalah salah satu kopi berkualitas tinggi. Tapi entah mengapa namanya belum bisa tenar, seperti kopi Sidikalang dan kopi Gayo tetangganya.

kok-tiong02

Kedai Kopi Kok Tong berdiri tahun 1925. Konon nama aslinya adalah Kok Tong Kopi Tiam. Namun, sejak Kopi Tiam dipatenkan, maka namanya berubah menjadi Kedai Kopi Kok Tong. Saya berdiskusi dengan teman saya mengapa namanya harus diubah. Bukankan Tiam itu artinya juga kedai dari Bahasa Hokkian? Sedangkan kedai sendiri (Bahasa Tamil) artinya adalah warung? Bagaimana mungkin sebuah kata bisa dipatenkan? Teman saya menimpali, “yang bodoh adalah yang memberikan paten.” Sayang sekali saya tidak bisa berbincang dengan pemiliknya untuk bisa menggali sejarah panjang Kopi Kok Tong.

Meski namanya sudah berganti, namun kualitas kopinya tetap terjaga. Kopinya tetap nendang.

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

72 Comments to "Kedai Kopi Kok Tong"

  1. Rismapurnamaa  7 May, 2013 at 10:17

    eh, par siantar do hape

    ada lagi yang baru namanya cafe Ebony di jalan sutomo, atau di kedai kopi sedap, sampin roti ganda…ah jadi kangen mulak tu huta

  2. Handoko Widagdo  8 April, 2013 at 13:09

    Ratna Elnino, Kopsusnya ukuran berapa ya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.