Melepas Gabriel Pergi ke Sekolah

Juwandi Ahmad

 

Dua hari yang lalu, saya membaca tulisan Mbak Dewi, “Ke Sekolah Jalan Kaki” yang tayang di Baltyra 9 November 2011. Apa yang saya rasakan ketika membaca tulisan itu, persis seperti yang dikatakan Mbak Dewi dalam tulisannya, “Sepertinya sederhana saja, tetapi ada nilai yang sangat luar biasa di sana. Sehingga dengan demikian, bagi saya maupun anak saya, itu adalah pelajaran yang sangat berharga.” Dan saya kira, dengan sedikit saja pemenungan, kita sudah dapat menangkap cinta seorang ibu yang hebat yang muncul dalam peristiwa sederhana namun penuh makna.

Ada keharuan, keindahan, keunikan, dan penghiburan atas kehidupan yang seringkali tampak begitu kompleks. Bayangkan, betapa menyenangkannya melihat anak-anak berangkat dan pulang sekolah dengan bergerombol, berbaris, riang gembira. Dan cukup jauh. Dua kilo meter. Saya sering mengatakan bahwa sesungguhnya anak-anak telah menjadi imam tanpa mahjab, menjadi sufi tanpa tarekat, dan bertuhan dengan Tuhan yang tidak ada dalam kepala orang-orang dewasa. Anak-anak senang main hujan-hujanan, bergumul dengan lumpur. Dan orang tua mereka menganggap ada masuk angin di bawah hujan. Ada penyakit di dalam lumpur.

Sisi kasih sayang seorang ibu seringkali muncul dalam situasi yang sesungguhnya tak diperlukan. Namun begitulah, seorang ibu seringkali tidak dapat membebaskan diri dari kecintaan dan kasih sayangnya kepada anak. Lihat apa yang dikatakan Mbak Dewi: “Jarak dari tempat tinggal saya sampai sekolah kira-kira dua kilo meter. Rasa iba saya sebagai ibu sering muncul ketika melepas anak yang tubuhnya begitu kecil, berjalan kaki sejauh hampir dua kilo meter. Membawa beban berat di punggung. Masih ditambah ketika musim dingin, turun salju, ataupun ketika hujan deras disertai angin. Anak saya dan juga anak-anak Jepang lainnya tetap berjalan kaki dalam basah, memakai jas hujan, dan tambahan sepatu sebagai ganti.”

Cinta dan kasih sayang seringkali justru menjadi penghambat bagi anak-anak untuk tumbuh. Dan terutama, menghapus kesempatan bagi anak-anak untuk menyelami dunianya. Dan Mbak Dewi memahami benar akan hal itu. Ia berkata, “Sayapun berpikir, apakah ini pendidikan Jepang? Dari usia dini sudah digembleng secara fisik dan mental. Begitu disiplin dan teratur. Tahan banting. Tidak cengeng dan tidak manja. Tidak berbeda dari anak yang orang tuanya kaya, dan anak yang orang tuanya miskin. Semua jalan kaki. Itulah mungkin salah satu sebab cepatnya anak bisa mandiri.” Yap! Begitulah yang juga saya kira, suatu cara terbaik dalam mengungkapkan cinta kepada anak, menanamkan kemandirian pada mereka. Cinta dan kasih sayang adakalanya perlu tampil dengan wajah yang tampak keras, sampai pada waktunya, seseorang merasakan kelembutan dan hakikatnya. Ada banyak orang yang kemudian sangat bersyukur atas didikan keras orang tuanya.

Dan saya sungguh terharu, tersentuh dengan penuturan Mak Dewi di akhir tulisannya, “Begitulah setiap harinya. Dan sekelumit pengalaman, mudah-mudahan akan terukir dalam hidup saya, anak saya, dan pelajaran sangat berharga.” Terlihat bahwa sesuatu yang tampak remeh itu, menjadi begitu penting baginya.

Dan terlebih lagi yang ini, “Sambil berjalan kaki saya sering mengamati hal-hal yang sebenarnya klasik dan simple tapi sering luput dan terlupakan dari pengamatan kita. Sambil berjalan kaki saya sering menjumpai hal-hal baru yang tak pernah terduga sebelumnya. Sambil berjalan kaki saya banyak menemukan sisi kehidupan dan suasana jalanan dengan segala hiruk-pikuknya.”

Ini adalah penangkapan akan makna yang berdimensi spiritual. Butuh keheningan tertentu untuk dapat mengalaminya, merasakannya. Setiap orang dapat belajar, namun tidak semuanya dapat dengan mudah mengambil pelajaran. Mengambil pelajaran dari yang sederhana, yang tampak biasa, yang tersembunyi, yang diabaikan banyak orang. Disitulah segala bentuk kearifan berada. Thank you Dewi Pao. Dan untuk semua itu, kita sungguh perlu belajar dari Jepang.

 

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

33 Comments to "Melepas Gabriel Pergi ke Sekolah"

  1. juwandi ahmad  3 April, 2013 at 01:35

    Sik sik to…. beberapa kali kok aku mencatat pujian Gus Wan pada DEWI PAO ya….

    Hmmmmm ada apa ini ?????? (Cari tau di infotainment ah…..hahahaha) ha ha ha ha yu mberok sampean ki lo….

  2. Nur Mberok  1 April, 2013 at 16:27

    Sik sik to…. beberapa kali kok aku mencatat pujian Gus Wan pada DEWI PAO ya….

    Hmmmmm ada apa ini ?????? (Cari tau di infotainment ah…..hahahaha)

  3. juwandi ahmad  29 March, 2013 at 20:17

    Mbak alviva, Mas Josh, Mbak Hennei, Mas Handoko: he he he..ya begitulah…aku ki yo agi ajar karo sing sepuh sepuh kuwi, ooo….ngono kuwi to nek nduwe anak.., tak rasak rasakke, ben mengko nek nduwe anak rak kaget he he he….nuwon ya para tetua…… Ning tenan, tulisane mbak dewi kuwi simple, ning gimana gitu, dirasak rasakke…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *