Kekasih yang Jauh

Lala Purwono

 

“Apa artinya kekasih yang tak bisa kamu kecup bibirnya setiap kali kamu mau?”

Aku diam saja.

“Apa artinya kekasih yang tak melihat warna lipstick terbarumu dan mengomentari flat shoes warna kesukaannya saat pertama kali kamu memakainya?”

Masih, aku diam.

“Apa artinya kemana-mana sendiri, dengan jari-jemarimu yang tak terangkum mesra oleh jari-jemari kekasih?”

Aku tak bisa bicara apapun juga.

“Apa artinya kekasih yang tak bisa kamu peluk sewaktu-waktu kamu butuh, karena hanya pelukannya yang mampu menumbuhkan keberanianmu?”

Perlahan, hatiku mulai ngilu.

“Apa artinya kekasih yang baru akan memelukmu setelah repot mengatur jadwal untuk bertemu, membeli tiket pesawat, menempuh ratusan kilometer dan berjam-jam perjalanan untuk bisa menenangkanmu?”

Hatiku makin ngilu.

“Apa artinya punya kekasih kalau kamu selalu sendiri, hampir setiap waktu?”

“…”

“Kalau ada lelaki lain yang bisa memberikan semua yang bisa diberikan oleh lelakimu itu?”

Aku menghela nafas.

Kilometer yang membentang di antara kamu dan aku memang tak semudah menempuh lima belas menit perjalanan lelaki itu untuk sampai ke kantorku, menjemputku pulang, untuk makan lalu menghabiskan malam.

Berjam-jam jauhnya jarak tempuh antara kamu dan aku memang tak sedekat jarak tempuh rumahnya dengan rumahku, sehingga ia bebas datang menjemputku, bertemu denganku, tanpa perlu memesan tiket pesawat atau mengemas kopernya demi bertemu aku.

Memang, kamu tak semudah lelaki itu, yang bisa bebas pulang ke kotaku, dan tinggal lebih dari dua minggu.

Memang, kamu tak semudah lelaki itu, yang bisa meneleponku sekarang, lalu ada di hadapanku kurang dari satu jam.

Memang, jarak yang terentang jauh membuatmu tak bisa mengecup bibirku, memeluk pundakku, memuji penampilanku, atau bahkan memilihkan sepatu apa yang cocok aku pakai dengan rok yang baru kubeli itu.

Kamu, yang jauh, memang seperti tak mampu melakukan apa yang seharusnya seorang kekasih lakukan pada kekasihnya.

Tapi…

Mereka perlu tahu.

Masa depan yang sedang kita pintal berdua adalah harga yang ingin aku bayar untuk setiap perpisahan kita di pagi buta. Masa depan yang sedang kita rancang adalah harga yang ingin aku bayar untuk setiap tangisan dan rasa sedih yang menghujam hati setiap kamu berpamitan pergi.

Aku tidak perlu lelaki lain untuk membuatku menjadi kekasih yang dicintai kekasihnya.

Aku sudah memilihmu.

Dan tak peduli setampan dan sebaik apapun lelaki yang ingin menggantikanmu, aku hanya akan mencintaimu.

Kekasih

Menunggumu dengan setia.

Sampai salah satu dari kita menyerah.

Yang pasti bukan aku.

Dan semoga pula bukan kamu.

 

9 Comments to "Kekasih yang Jauh"

  1. Alvina VB  5 April, 2013 at 00:26

    LDR, gak single lagi, tapi kelihatannya masih single dan mahal diongkos euy…tapi seru memang…. he..he….

  2. Phie  3 April, 2013 at 08:47

    Nangis euy yang baca

  3. Mawar09  2 April, 2013 at 06:58

    LDR …….. ngga sanggup deh, sudah pernah mengalami.

  4. Sasayu  2 April, 2013 at 01:46

    Mengena bangetttt artikelnya….Long Distance Relationship=Locally Single…hahahahahaha.

  5. J C  1 April, 2013 at 16:10

    Untuk Kang Anoew, jauh dekat sami mawon…yang penting KUPU…

  6. [email protected]  1 April, 2013 at 11:20

    LDR (Long Distance Relationship)…

    sulit…
    tapi bukan berarti tak mungkin

  7. Dewi Aichi  1 April, 2013 at 05:01

    Hubungan jarak jauh disebabkan oleh banyak hal, dan butuh pengertian serta kepercayaan tingkat tinggi. Tak mengapa hubungan jarak jauh, asal saling menerima dan saling mengerti. Banyak juga kok yang setiap hari berdekatan, tapi kosong, tak ada maknanya.

    Hubungan jarak jauh juga banyak yang terpaksa, karena mata pencaharian, sungguh sesuatu yang berat, harus terpisah jarak, harus berjauhan dengan orang-orang tercinta, tapi jika itu memang harus dilakukan, maka tak ada pilihan. Karena tidak semua orang beruntung……

  8. Asianerata  1 April, 2013 at 01:43

    Hm hubungan jarak jauh….kesabaran dan self control (kuasa diri) kuncinya…sebab kita manusia tak pernah luput dari godaan. Good Luck!

  9. Dj. 813  31 March, 2013 at 15:53

    Lala….
    Terimakasih, kata-kata yang sangat bagus untuk ddirenungkan…..
    Jadi ingat saat mau menikah 38 tahun yang lalu, dalalm hati Dj. janji
    tidak akan meninggalkan istri sendiri, kalau bukan sesuatu yang harus.
    Pernah bahkan mendapat tawaran kerja dengan upah yang sangat menggiurkan.
    Tapi Dj. tolak, karena waktu untuk istri dan anak-anak akan berkurang.
    Dj.juga heran kalau ada yang menjah dari keluarga, hanya karena uang.
    Tapi itu juga hak masing-masing, ada barang, ada harga….
    Hanya Dj. tidak mau beli dengan harga mahal, meningalkan keluarga, karena harta.
    Salam manis dari Mainz.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.