Tiga Sahabat (3): Buku Harian

Wesiati Setyaningsih

 

“Tadi di sekolah lucu banget, “Aji memulai perbincangan.

Makan malam selalu menjadi ajang laporan kegiatan sehari keluarga Handoko. Pak Handoko yang duda bersama dua anaknya, Aji dan Sekar. Istrinya sudah meninggal beberapa tahun lalu.

“Kenapa?” tanya pak Handoko yang selalu berusaha perhatian kepada kedua anaknya.

“Anung nyontek pas ulangan bahasa Inggris,” kata Anung.

“Nggak heran,” Sekar menimpali.

Pak Handoko tertawa kecil.

“Ketauan?”

“Iya.”

Jawaban Aji segera mendapat sambutan tawa dari pak Handoko dan Sekar.

“Bego banget sih?” Sekar terbahak.

Pak Handoko juga tertawa.

“Gimana ceritanya sih?”

“Kan dia diajakin belajar malamnya tuh nggak niat gitu. Na besoknya jadi nggak bisa ngerjain. Maksudnya dia mau nyontek dari buku. Eh, malah bukunya jatuh. Disuruh keluar deh…”

“Bego…bego banget! Huahaha…” Sekar tertawa sampai berurai air mata.

“Memang bego banget dia,” Aji menggumam.

“Itu pelajaran buat dia. Besok kamu tinggal mengingatkan kejadian ini kalo dia lagi males belajar, “ nasehat pak Han kepada anak lelakinya.

“Iya, pasti deh. Tapi gitu-gitu disuruh keluar enggak ada nyesel-nyeselnya. Malah dia ngecengin pelayan kantin yang seksi. Minta ampun dah!”

“Hah? Hahaha…..” pak Handoko tertawa, “dasar anak muda.”

“Iyem, makannya sudah nih, “ Sekar bangkit sambil menumpuk piring-piring kotor.

“Bawa ke tempat cucian dulu mbak Sekar, Iyem lagi bikin PR.”

“Hah? PR?” Aji mengerutkan dahi.

“PR apa sih Yem?” Sekar penasaran.

Dia membawa piring kotor ke dapur dan mampir ke kamar Iyem. Dia melihat Iyem sedang menulis di sebuah buku tulis Banteng.

“Apaan sih Yem?”

Iyem tersenyum malu sambil menutup bukunya.

“Buku harian mbak, “ Iyem lalu meringis dan bangkit ke luar kamar.

buku-banteng

Sekar menggeleng-gelengkan kepalanya. Diliriknya buku tulis dengan sampul biru yang dibilang Iyem buku harian. Sama sekali tidak tampak seperti buku harian yang biasanya dipakai anak remaja seusianya. Itu buku tulis biasa yang mungkin ditemukan Iyem di gudang, bekas bukunya dulu. Tapi mungkin isinya curahan hati Iyem.

“Hayo, mbak Sekar nggak boleh buka buku harian saya, lho.”

Iyem tiba-tiba sudah lewat dengan membawa dua mangkok sayur di tangannya menuju dapur. Sekar yang merasa tertangkap basah berpikir ingin membuka buku harian Iyem jadi malu.

“Idih. Buat apa, coba buka buku harian kamu? Enggak seru. Mending buku harian mas Aji.”

“Memangnya mas Aji punya buku harian?” Iyem terhenti karena penasaran.

Sebagai penguasa tunggal kediaman Handoko secara de facto, dia punya akses tak terbatas. Dia tahu semuanya di mana letak benda yang dicari pak Han, Aji maupun Sekar.

Sekar berlalu sambil mengangkat bahu.

“Meneketehe… “

“Huh!” Iyem gemas pada majikan kecilnya. Tapi dia tak bisa mencubit pantat Sekar karena kedua tangannya masing-masing membawa mangkok.

“Iyem punya PR apa sih?”

“Alah, dasar kecentilan dia. Nulis buku harian, katanya.”

“Hah?” seru pak Handoko dan Aji hampir berbarengan.

“Iya. Pake buku tulis dia. Nggak tau buku nemu di mana.”

“Oalah… Besok aku kasi hadiah buku harian deh, si Iyem. Eh, tapi ulang tahun Iyem kapan ya?” kata Aji.

Pak Handoko yang masih duduk di kursi makan tersenyum mendengar kalimat Aji. Dalam hati dia bangga punya ada yang pedulian.

“Tanya tuh orangnya.”

“Iyeem! Kamu ulang tahunnya kapan?”

“Apa mas Aji? Ulang tahun? Wah, ya nggak tahu.”

“Na kamu lahirnya kapan?”

Iyem terdiam.

“Lama amat mikirnya..!”

“Lha kata emak saya, saya lahirnya pas jembatan di desa saya keterjang banjir. Cuma gitu aja kok mas..”

“Haduh. Repot ini.”

Pak Handoko terbahak.

“Sudah, kalo mau ngasi ya ngasi aja. Nggak usah nunggu ulang tahun segala. Wong Iyem itu nongol dari telor kadal kok. Pake ulang tahun segala,” canda pak Handoko.

“Wah, pak Han ini kok ya begitu lho sama saya.”

Iyem cemberut sambil mengelap meja makan. Pak Han, Aji dan Sekar tertawa seraya meninggalkan meja makan. Tiba-tiba pak Han memegangi pinggangnya.

“Adduuuhh..!” serunya kesakitan.

“Kenapa pa?” Aji mendekati papanya.

“Nggak tau ini. Sakit.”

“Bawa ke kamar mas,” kata Sekar.

Aji membawa papanya ke kamar. Iyem menyelesaikan pekerjaannya hingga tuntas. Selesai mencuci piring dia menengok pak Handoko.

“Gimana papa mas Aji?”

Aji yang mengurut pelan pingganng pak Handoko melihat Iyem di pintu lalu bertanya pada papanya, “udah enakan pa?”

Meski masih sedikit meringis pak Handoko berkata, “sudah mendingan. Nggak pa-pa.”

“Ya sudah, Iyem tinggal ya. Mau nerusin bikin PR.”

“Iya, sana! PR mulu. Gaya banget dah.”

Tinggal pak Handoko dan Aji di kamar.

“Kamu nggak belajar?” tanya pak Han pada anaknya.

“Belajar lah. Tapi besok nggak ada ulangan, nggak ada PR. Paling buka-buka buku bentar aja. Habis itu mau nonton film di tivi kabel.”

“Ya sudah, sana. Papa sudah baikan kok.”

“Bentar aku mau tanya.”

“Apa?”

“Papa nggak ingin nikah lagi?”

“Kenapa tanya begitu?”

“Cuma tanya. Papa jawabnya apa?”

“Nggak tahu. Dikira mudah apa menikah lagi? Buat yang belum pernah menikah saja pertimbangannya banyak banget. Apalagi papa yang sudah punya dua anak begini. Mikirnya panjang.”

“Nggak usah mikirin kami pa. Kami nggak papa kok.”

“Nggak papa gimana? Ya tetep harus dipikirin lah. Sudahlah. Sementara ini semua sudah ditangani dengan baik sama Iyem ya sudah. Itu aja dulu. Yang lain-lain kan kita bisa jalani sendiri.”

“Tapi kebutuhan biologis papa?”

Pak Handoko tersentak anak lelakinya mengatakan sesuatu yang tidak dia sangka akan dikatakannya.

“Tau apa kamu?”

“Taulah pa. Aku sudah besar.”

“Papa bisa jalani kok. Tenang saja.”

“Iyem sekalian dinikah aja pa…”

“Hush! Gila kamu!”

Aji terbahak.

“Iyem kan cantik pa. Mana seksi lagi. Bisa ngurus rumah, sudah tahu gimana ngurus aku sama Sekar. Perempuan lain belum tentu bisa ngurus kami sebaik Iyem.”

“Aji, pernikahan itu sakral. Bukan cuma masalah disuruh ngurus ini itu. Lagian juga nggak mungkin mau papa nikahi.”

“Kok bisa? Papa kan keren..”

“Lha kalo jadi istri kan enggak digaji lagi,” pak Handoko bercanda.

“Ah, papa nih.”

“Besok tolong tanyain teman kamu ya. Kali ada tukang pijit yang enak. Papa mungkin kecapekan. Butuh dipijit.”

“Laki apa perempuan pa?”

“Ah, apa aja. Yang penting pijet beneran. Bukan pijit-pijitan.”

Aji mengerling paham.

“Sudah, kamu belajar sana.”

Aji beranjak ke luar kamar. Dia sudah akan menuju kamarnya ketika kemudian dia ingin tahu apa yang dilakukan Iyem di kamarnya. Sampai di kamar Iyem dia melihat kamar itu kosong. Dia mencari Iyem ke dapur, tidak ada.

“Yem..” Aji memanggil Iyem.

Tak ada suara.

“Yem..”

Tetap tak ada suara.

“Yem..” Aji kembali melangkah ke kamar Iyem.

Dilihatnya sebuah buku tulis banteng dengan sampul biru tua. Dengan penasaran dia buka.

“Buku harian?” Aji menggumam.

Dengan matanya dia melihat tulisan-tulisan Iyem. Kalimat dalam pararaf-paragraf diselipi dialog, membuat Aji tercengang.

“Ini kan cerpen?”

Wajahnya begitu takjub hingga dia tidak tahu Iyem sudah di belakangnya.

“Mas Aji? Mas Aji ngapain?”

“Hah?” segera Aji membalikkan badan.

“Kamu dari mana aja sih Yem? Dicariin ke mana-mana nggak ada.”

“Saya kan tadi beli sabun cuci. Tadi habis. Besok kalo mau nyuci gimana?”

“Nggak bilang-bilang. Pamit kek,” Aji pura-pura marah.

“Mbak Sekar lagi asyik nelpon di kamar. Mas Aji lagi sama papa. Saya nggak berani ganggu. Ya sudah saya pergi aja. Kan cuma sebentar.”

“Ya sudah.”

Aji berlalu. Iyem segera ke mejanya, mengambil buku tulis banteng miliknya dan meletakkannya di laci, kemudian menguncinya rapat-rapat. Dia letakkan kunci lacinya di bawah koran alas baju di lemari.

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

24 Comments to "Tiga Sahabat (3): Buku Harian"

  1. Dewi Aichi  4 April, 2013 at 00:57

    Ohh..Pak Han naksir mba Ratna? Kirain Pak Han itu naksir Lik Mah..

  2. probo  3 April, 2013 at 23:19

    untung mbak Ratna tertarik Guswandi…kalau tertarik Aji kan jadi bersaing tuh..ayah anak

  3. elnino  3 April, 2013 at 21:59

    Pak Han itu naksirnya sama mbak Ratna.. Sayang mbak Ratna lebih tertarik sama Guswandi.

  4. wesiati  3 April, 2013 at 10:28

    distributore pinter promosi. hehehehe…. tapi senang juga tulisanku ada penggemarnya….

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *