Pulang, Menziarahi Kenangan

Bunda Riga Magistra

 

Aku pulang karena merindukan kampung; merindukan ayah dan ibu, saudara-saudara, dan para sahabat. Bagai sebuah kaleidoskop, berbagai kilasan kenangan berlompatan seperti ingin disuburkan kembali. Setelah dua tahun lebih tidak berkunjung ke sana, mendapat undangan pernikahan adalah satu alasan yang tepat untuk pulang kampung memenuhi rasa rinduku. Seorang saudaraku melaksanakan acara “ngunduh mantu” karena anaknya baru saja beberapa hari menikah. Aku berharap di pesta pernikahan nanti akan bertemu dengan saudara dan teman-teman lama. Kunikmati perjalanan Bandung – Majalengka ini, hanya berdua dengan suamiku, seperti sedang mengobati setiap goresan luka, perihnya mengembun di kelopak mata…

Di daerah Sumedang, sepanjang jalan mulai dari Jatinangor, Tanjungsari, Cimalaka, hingga Sumedang kota, akan banyak ditemukan pedagang makanan khas kota kecil itu, seperti ubi bakar Cilembu yang manis seperti mengandung madu. Di daerah Cimalaka selalu kita temukan para “WTS” …Wanita Tukang Salak dan Wanita Tukang Sawo kecik yang besar-besar…:) Sawo kecik rasanya unik seperti ubi rebus dengan warna kuning keemasan. Jika sudah mendekati arah kota Sumedang, akan banyak dijual tahu goreng yang dimakan dengan saus kecap disertai ulekan cabe rawit dan sedikit asam. Dulu ayah suka pesan tahu Sumedang kalau kami pulang ke Kadipaten, atau membeli beberapa potong saja untuk camilan agar tidak mengantuk di jalan.

Kurang lebih dua setengah jam perjalanan, kami sampai di Kadipaten. Kadipaten, yang dulu kota kecil ini pernah dijuluki “Singapur yang tak pernah tidur”, karena orang-orangnya selalu sibuk dalam aktivitas mencari penghidupan. Di sini masa kecilku tumbuh dalam lingkungan yang hiruk pikuk suara Pabrik Gula dan jalan raya utama. Udara Kadipaten sangat panas dan berdebu, terutama rumah kami yang kena polusi dari PG dan jalan raya. Tetapi kami betah berada di sini karena memiliki keluarga yang hangat dan penuh kasih sayang.

memories01

Persis di sini, di depan pintu gerbang Pabrik Gula, adalah rumah sederhana tempat kami sekeluarga berjuang, bercanda, menangis dalam suka dan duka. Kini, rumah itu sudah berubah total. Ooh…di mana kerimbunan bunga-bunga yang ditanam ayah, bougenvile ungu, melati putih, bunga gladiol merah….Pohon sarikaya dan belimbing yang melindungi rumah dari keramaian jalan?? Di mana suara teriakan ibu yang memanggil anak-anaknya untuk belajar? Ke mana suara ramai anak-anak yang bertengkar untuk memperebutkan perhatian ibu? Semua jejak itu hilang bagai angin lalu…

Pabrik gula sudah berganti rupa. Kesibukan orang-orang telah berganti wajah. Tak ada lagi suara sirine yang memanggil para pekerja, ataupun suara kereta setum pengangkut tebu. Melainkan suara-suara digital dari game komputer dan lalu lalang orang-orang yang berbelanja di sebuah swalayan besar. Bahkan rumah-rumah di depan pabrik merubah wujudnya menjadi tempat perdagangan produk atau jasa, seperti restoran, tambal ban, pembuat kusen, pembuat mebel, makanan kecil atau minuman seperti “air legen” atau sadapan daun lontar yang manis.

Oh…, Kadipatenku kini! Kurangkai serpih-serpih kenangan yang hanya berputar di dalam benak saja. Karena di tempat ini sudah tak kutemukan jejak yang bisa menyambungkan memoriku dengan masa-masa indah itu. Kurasakan ada ruang yang tiba-tiba kosong…, menjadi tempat beresonansi dari gaung kerinduan yang terus berdenting dalam kenangan.

Sedikit menanjak, kami berbelok ke arah kanan memasuki jalan kecil yang hanya cukup untuk sebuah badan mobil saja. Di sebelah kanan ada sebuah rumah bercat hijau tua, mengingatkanku kepada seorang guru bahasa Sunda di SMP, Bu Ipun. Berbicara dengannya harus selalu berhati-hati dengan undak-usuk bahasa Sunda yang sangat teratur. Darinyalah aku belajar berbahasa dengan lemah lembut dan sopan santun. Tetapi kini rumah hijau itu sepi…hanya bayangan bu Ipun yang bermain dalam ingatanku.

Di sebelah kiri aku tertegun pada sebuah rumah yang diteduhi berbagai tanaman hias dan bunga warna warni. Rumah ini mengingatkanku akan keramahan seorang guru TK, ibu Bandiyah, yang dulu selalu menyapa lebih dulu kalau kami bertemu di manapun dengan keramahan seorang ibu. Hhmm…aku sangat merindukannya! Tetapi di manakah engkau sekarang, guruku sayang?

memories_will_never_fade_away__by_franzeyfragility

Mobil berhenti di sebuah jalan buntu yang ujungnya adalah halaman rumah yang luas ditumbuhi beberapa pohon mangga. Kemudian berjalan melalui jalan setapak menuju pemakaman umum di bawah kerimbunan pohon bambu dan pohon kiara. Dua batu nisan yang berdampingan seolah sedang menunggu kedatangan kami penuh rindu…

“Ibu….ini aku datang membawa sekedar do’a dan kembang!” Kukirim al Fatihah, al Ikhlas, dan Falaq bi Nas yang berbungkus kerinduan yang mendesak di dada. Lalu puncak rindu itu membentuk butir-butir airmata yang paling bening mengalir di pipi.

“Ayah…, kadang aku tak percaya bahwa dirimu begitu tegar terbaring di bawah naungan batu nisan berpeluk gundukan tanah merah tanpa lentera. Hanya inikah rumahmu sekarang? Bukan lagi rumah yang benderang dengan canda dan gelak tawa… Apakah do’aku cukup menjadi penerang bagimu di sana, Yah?”. Kekhusuan do’a kami disambut oleh suara-suara gemerisik daunan bambu yang ditiup angin dan lengkingan burung incuing yang mengiba di pohon kiara. Betapa sunyi tempat istirahatmu kini, ibu…ayah…

Pikiranku mengembara dalam keheningan suasana itu. Mesin waktu mengajakku kembali ke masa-masa bahagia kami sekeluarga. Kerinduan ini selalu membawa ingatanku ke masa-masa kecil dulu. Masa-masa bahagia keluarga, ketika ibu merupakan energi yang menggerakkan kehidupan keluarga. Tangan-tangannya adalah mesin penggerak agar segala sesuatu berjalan sebagaimana mestinya. Makanan sederhana yang selalu siap saji, pakaian yang selalu siap pakai…bahkan senyumannya adalah do’a yang mengantar keberangkatan suami dan anak-anaknya. Jika tiba hari libur, kami semua berbagi kerja dan ibu membuatkan makanan dari singkong atau ubi yang membuat kami ceria dalam kemesraan keluarga yang sesungguhnya.

Ayah meninggal 16 tahun lebih dulu daripada ibu. Ayah sering sakit sesak nafas, tetapi beliau paling anti berobat ke dokter. Ayah lebih suka mengobati sakitnya dengan jamu-jamuan daripada obat dari dokter. Karena sudah semakin tua dan penyakitnya tak sembuh juga, maka ibu memaksanya berobat ke dokter terbaik di Kadipaten. Dengan rasa enggan akhirnya ayah mau juga ke dokter. Namun malang sekali, baru saja sekali minum obatnya, ayah seperti mengalami keracunan obat. Tengah malam tubuhnya menggigil hebat dan berkeringat dingin hingga kuyup bajunya. Nafasnya tampak sangat sesak seperti sedang menyeret beban yang amat berat, ditambah debaran jantungnya keras dan tak beraturan. Seluruh tubuhnya tak bisa menahan rasa dingin yang luar biasa hingga terdengar suara gemelutuk giginya. Diberi kompres panaspun tetap tak mengurangi penderitaannya. Seperti mendapat hidayah, ibu tiba-tiba terilhami untuk memberinya segelas susu hangat. Barulah secara perlahan semua penderitaan itu berangsur ringan.

Keesokan harinya beliau sudah beraktifitas lagi seperti tidak terjadi apa-apa. Hanya sejak saat itu ayah tampak lebih banyak merenung dan lebih religius. Kami merasakan itu bukan kebiasaan ayah yang sebenarnya. Seperti ada sesuatu yang hilang dari ayah, entah apa. Apalagi ketika melihat wajahnya, ayah sepertinya sangat tampan dan bercahaya. Dari hatiku yang paling dalam, aku merasa sangat khawatir, bahkan lebih cenderung ada ketakutan yang tak bisa digambarkan. Dalam setiap sholat aku mendo’akan kesembuhan untuknya, tetapi tetap rasa ketakutan itu menyergapku. Aku tak punya pilihan, rasa khawatir itu harus disisihkan, meskipun ayah masih kangen kepada ketiga cucunya, kami harus kembali ke Bandung, karena anak-anakku harus masuk sekolah.

Seminggu kemudian, kami bagai disambar petir, datanglah berita itu. Ayah meninggal…! Ternyata diam-diam ayah meminum kembali obat yang diberikan dokter itu, dan kali ini benar-benar tidak tertolong. Seperti sebuah jawaban yang menggelegar dari semua ketakutanku selama ini. Apalagi bagi ibu, yang sudah bersama selama 33 tahun. Ibu pasti sudah merasakan segala macam perasaan itu sejak jauh hari, karenanya ibu ingin mengobati ayah ke dokter. Tetapi justru itulah jalan yang ditunjukkan Tuhan menuju kepastian takdir, kematian… Tak ada yang perlu disesali ketika Tuhan sudah menentukan jalan seseorang, selain membiarkan tangan-tangan takdir yang basah dengan do’a merengkuh tubuh sang nasib ke dalam pelukanmu, karena di situlah letak keberpasrahanmu kepada-Nya.

Dulu, ibuku hampir tak pernah sakit. Kesehatannya luar biasa terjaga hanya dengan melakukan hal-hal sederhana. Seperti bangun pagi sebelum didahului terbitnya matahari. Melakukan pekerjaan rumah tangga dengan rasa suka, tanpa rasa “aral” ataupun amarah. Sehingga apapun yang dikerjakannya selalu menghasilkan yang terbaik. Makanan yang dimasaknya selalu enak. Pakaian yang dijahitnya selalu rapi dan pas dipakai pemiliknya. Barangkali itu pulalah yang membuat ibuku selalu tampak segar dan awet muda.

Sampai pada suatu saat ibu benar-benar sakit dan harus dioperasi. Kami membawanya ke sebuah rumah sakit yang bagus di Bandung agar bisa ditunggui setiap hari selama masa perawatannya. Operasi berjalan lancar, tetapi karena kondisi yang sudah tua, 67 tahun, maka fungsi organ-organ tubuhnya sudah banyak berkurang. Akibat operasi itu fungsi jantung, paru-paru, pangkreas dan ginjal terganggu. Selama empatpuluhdua hari dirawat di ICU dengan berbagai alat penyambung hidup dipasang ke tubuhnya. Di hidung ada selang oksigen dan selang penyalur makanan hingga ke lambung; di bahunya dibuat lubang yang dimasuki berbagai macam selang obat lassic; di pinggang dan bawah perut ada pula selang untuk urin dan entah apa lagi….ahh…menyedihkan sekali melihatnya seperti manusia setengah robot!

Kematian ibu adalah pembebasannya dari segala penderitaan di tubuhnya. Kami memiliki tubuhnya. Kami berusaha sekuat tenaga agar ibu tetap nyaman dengan segala peralatan itu, agar semua organ tubuhnya tetap aktif memompakan udara segar, keadaan darah yang stabil, dan rasa sakit akibat efek samping dari pasca operasi itu. Namun sang tubuh tetap tak bisa mengikat ruhnya agar menetap di sana, tidak pula peralatan itu. Kematianlah yang lebih berkuasa memisahkan tubuh dan ruh kemudian mengembalikannya kepada Sang Pemiliknya…

“Ayuuk, sayang…kita lanjutkan perjalanan!” sapaan dan sentuhan lembut di pundak membuyarkanku dari lamunan. Kuusap airmata yang tiba-tiba deras mengalir di pipi sambil kembali ke mobil. Ketika ada orang yang memperhatikan, kami baru sadar bahwa kami ziarah ke kuburan dengan berpakaian batik dan kebaya, karena kami mau menghadiri pesta pernikahan keponakan di Majalengka…atau juga barangkali dia melihat make up yang berantakan di wajahku sehabis menangis…..Hiikkss jadi maluuu! Sesampainya di mobil kuperbaiki dengan menambahkan sedikit bedak di sekitar mata dan pipi.

Upacara adat nikah baru saja usai, sang pengantin sedang melakukan upacara sungkeman kepada orangtuanya. Beberapa orang saudara langsung menyambut kedatangan kami dengan wajah sumringah. Sejenak kami menjadi pusat perhatian para anggota keluarga. Tiba-tiba di antara mereka ada seorang wanita cantik berkulit putih yang ikut menyambutku dengan sangat ramah dan akrab.

“Haiiii…ini Rini, khaann?? Aduuhh..senangnya bisa ketemu di sini…pangling lho Rin!” sapanya dengan gembira.

“Eehh…maaf sebentar, saya ingat sekali dengan wajahmu, tapi maaf kalau saya lupa nama…maklum sudah tigapuluh tahun gak ketemu…,” aku mencairkan rasa bersalahku sambil ketawa.

“Ayoo…coba tebak, siapa aku?” Katanya dengan wajah bercanda. Aahh…ingin sekali kuingat namanya! Memoriku bekerja keras mengaduk-aduk ingatan untuk mengklopkan wajah cantik itu dengan sebuah nama yang sesuai. Namun tetap tak kutemukan, barangkali ingatanku terlalu buruk akibat faktor “U” (usia). Tapi untunglah, seorang teman lain datang menemui kami. Tiga tahun yang lalu kami pernah bertemu dan sekarang kami saling menyapa di Facebook.

“Haaiii…Rien! Waah…hebat euy…sekarang lebih langsing daripada tiga tahun lalu. Diapain tuuh..?” Aku menyambutnya dengan pelukan hangat.

“Idiihh…teh Manti bisa aja!” bukannya merasa bangga dikatakan seperti itu, aku malah merasa tersindir karena setelah ini berat badanku tak bisa lebih turun lagi. Angkanya menetap di situ saja setelah turun lima kilogram.

“Teh Manti, yang saya tahu dia dulu kan tubuhnya “jangkis” alias jangkung ipis.” kata si cantik.

“Jiaaahhh…Ati! Itu mah zaman SMA dulu atuuh… Masa siih disamakan dengan masa remaja… Waktu kami ketemu tiga tahun yang lalu, dia gemuk beneran….sama dengan aku sekarang! Ehh.., ternyata dia bisa lebih kecil…bikin aku iri iihh!” Kami ketawa mendengar celotehnya. Dan fokusku bukan itu…, ternyata dia bernama ATI..! Benar, perempuan cantik itu Ati yang rumahnya dekat Girilawungan itu! Ahhaa…I got it! Si cantik itu dulu termasuk bunga kampus yang langsung dipetik oleh pecintanya. Kloopp….pikiranku mulai nyambung dengan kenangan-kenangan tentang si cantik Ati.

Obrolan kami bertiga semakin akrab, sedangkan suamiku sedang asik bercanda dengan saudara-saudaranya. Beberapa lama kemudian keduanya menghilang ditelan kerumunan para undangan. Kutemui para bibi dan saudara-saudaraku yang berpakaian batik dan kebaya yang serupa sebagai tanda panitia hajatan. Maka meluncurlah obrolan yang khas keluarga, seperti basa basi yang sebenarnya menumpahkan kerinduan setelah lama tak bertemu.

Aku tertegun sejenak di tengah obrolan, karena sekilas aku melihat dua orang teman lamaku juga datang. Kutemui mereka dan kuperkenalkan kepada suamiku: kang Yudi dan istrinya. Aku baru ingat bahwa tuan rumah ini adalah teman seangkatan dengan kang Yudi, dua tahun di atas angkatanku. Kami ngobrol sebentar dan kemudian merekapun menghilang dalam kerumunan dan suara bising penyanyi organ tunggal yang menyanyikan lagu Alamat Palsu-nya Ayu Tingting: “ke manaaa…ke manaaa…ke manaa!”

“Waahh…Mamah beruntung sekali bisa ketemu beberapa teman lama ya… Ayo, kita cari teman Papah barangkali bisa ketemu juga barang satu atau dua orang…,” suamiku beranjak dari duduknya dan aku mengikuti sambil berpegangan tangan takut hilang dalam keramaian di berbagai sudut gedung. Di dekat meja es krim seseorang memanggil nama suamiku, ternyata dia adalah seorang temannya di STM dulu. Mereka sama-sama gembira mengobrol sambil bercanda. Aku hanya sesekali nimbrung obrolannya sambil menikmati eskrim.

Sebenarnya alumni SMANSA sepertiku nasibnya lebih baik daripada mereka yang lulusan STM. Karena alumni SMA sudah banyak yang menjadi “orang” dan berpikiran maju dibandingkan mereka yang alumni STM, jadi internetlah yang menjadi alat komunikasi yang paling efektif untuk menemukan teman yang hilang, khususnya di email dan Facebook. Dengan mudah kami saling bertukar informasi untuk mengabarkan berita suka maupun duka, atau tentang kabar teman idola dulu. Dengan cara itulah kami lebih sering mengadakan acara reuni dan membina kekompakan kembali di antara teman-teman.

Sedangkan bagi teman-teman suamiku yang lulusan STM, internet masih dianggap barang eksklusif yang hanya dimiliki oleh orang-orang mampu. Karena lulusan STM zaman itu tidak banyak yang melanjutkan ke perguruan tinggi, karena pada dasarnya mereka masuk ke sekolah itu dengan tujuan untuk mendapatkan keterampilan agar setelah lulus bisa bekerja. Belum lagi bangunan sekolah mereka yang dulu sudah tidak ada. Malah sudah berganti nama menjadi Sekolah Menengah Kejuruan, yang beralamat di sebuah tempat lain dengan manajemen yang berbeda pula, jadi, di manakah tempat pijakan kenangan mereka yang indah itu?

Sebuah sekolah atau kampus, bukan hanya sebuah wadah tempat mematangkan harapan dan cita-cita para siswa, melainkan juga tempat tumbuhnya kenangan indah masa remaja. Masa-masa penuh cinta, idealisme, dan semangat tinggi. Di sinilah kita pancangkan identitas diri di antara teman, sahabat dan para guru yang kita percayai. Kemudian pada masa-masa jaya atau menua, kita merindukan kembali kenangan-kenangan itu untuk mengembalikan motivasi atau sebagai alat ukur untuk mempertanyakan apakah semua cita-cita dan idealisme masa muda itu sudah tercapai, ataukah arah kita melenceng dari arah semula? Apakah pribadi kita lebih baik dari masa muda? Ataukah sebaliknya, karena pengalaman bertambah, maka bertambah hitam pula catatan perilaku kita? Ini adalah renungan dari menziarahi kenangan…

“Ke mana….ke mana…ke manaaaaa. Ku harus mencari ke manaa?” Ayu Tingting ikut mencari alamat kenangan para alumni yang sedang merasa kehilangan jejak…

 

Catatan akhir tahun 2011

By: Riga

 

Note Redaksi:

Selamat datang dan selamat bergabung, Bunda Riga Magistra! Make yourself at home dan ditunggu artikel-artikel lainnya ya… Terima kasih Dewi Aichi yang mengenalkan Baltyra ke Bunda Riga Magistra.

 

 

8 Comments to "Pulang, Menziarahi Kenangan"

  1. Garini Darsodo  7 April, 2013 at 00:08

    Kang Prabu Sawentar: Amin…makasiih ya…

    mbak Alvina VB: bukan, mbak… Riga= rini garini…. Magistra itu nama sekolah kami..

  2. Alvina VB  5 April, 2013 at 00:21

    Satu lagi yg dpt sponsor dari si Dewi (Dew minta hadiahnya sama redaksi)….selamat gabung di sini Bunda Riga Magistra; namanya bagus euy….lahir di Riga kah?

  3. prabu sawentar  3 April, 2013 at 01:19

    sukses sll, sampe bisa membuka lembar kenangan yg sudah berdebu dan tertutup waktu….

  4. Dewi Aichi  2 April, 2013 at 17:51

    Wahhh……senengnya….Bunda sudah mau hadir di sini…

  5. Garini Darsodo  2 April, 2013 at 14:17

    Terimakasih banyak, Baltyra
    Sudah memuat tulisan sederhana ini. Semoga bermanfaat..
    Mbak Dewi Aichi.., thank you so much!

  6. Dewi Aichi  2 April, 2013 at 09:41

    Tulisannya apik Bunda…menghanyutkan jiwa, membawa ke masa lalu…menciptakan rasa rindu yang sangat besar….

  7. J C  1 April, 2013 at 16:02

    Bisa ikut merasakan kerinduan yang membuncah dan kenangan yang mengalir dari dalam memori…terkadang memang indah, tapi juga sering tidak seindah yang kita ingat.

    Pengalamanku sendiri, duluuuu sekali waktu baca komik Si Buta dari Goa Hantu, Reo Manusia Srigala, Si Mata Setan, Mandala, dsb, sepertinya asik sekali. Kenangan yang indah sekali. Belakangan, berburu komik-komik tsb, waktu mendapatkannya, ternyata malah rasa “kecewa” yang muncul, karena yang didapati tidaklah seindah yang ada di dalam kenangan…hehehe…

  8. probo  1 April, 2013 at 09:19

    salam kenal….

    sawo kecik, mengingatkan ‘kenakalan’ Pak Bagong Kussudiardja, di Dalem Kemitbumen tiap pagi mendahului memungut sawo kecik, diiris/ belah jadi 2, diolesi telek lencung…..lalu dikembalikan lagi di bawah pohon sawo kecik………

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.